Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 119


__ADS_3

Malam itu, Fiona sudah berada di dalam sebuah bangunan club malam. Tujuan awalnya ia hanya ingin melancarkan siasat atas perintah pria bernama Jackson Jordan Charington.


Dalam ruang khusus wanita yang terdapat di sebuah club bernama The Views itu, kini ia telah merapihkan riasan wajahnya di hadapan cermin.


Sebuah alat media telah melekat pada telinganya kala ia melakukan panggilan jarak jauh pada seseorang dari benda tersebut.


"Sam, lo bisa ke sini ga sekarang?" ucap Fiona menyapa pada lawan bicara di balik panggilan selulernya setelah panggilan terhubung.


"Ke mana?"


"The Views!" jawab Fiona singkat kala ia menatap wajahnya di balik cermin ruang khusus wanita itu.


Ia bertanya pada bayangan cermin itu, haruskah ia berlaku hingga sejauh ini hanya untuk meraih cintanya?


"Ngapain?"


"Gue ajak si Tara ke sini, si Jack lagi sibuk nge Dj, lu urus deh tuh anak. Gue ga bisa larang dia berhenti minum," pinta Fiona penuh penekanan di sela kegiatan mengoles lips creamnya meski kesulitan lantaran telinganya menjepit benda panggilan itu dengan bahunya.


"Lo ngapain nyuruh gue? Suruh aja tuh tunangan lo."


"Udah ga jadi tunangan gue, makanya gue ga bisa minta bantuan dia," sahut Fiona tak acuh, yang ia pikirkan hanyalah ajakannya di terima lawan bicaranya.


"Ya udah tunggu gue di sana!” Balasnya sebagai penutup perbincangan.


Di balik tembok ruang itu rupanya Hanson menguping perbincangan tunangannya dengan seseorang di balik alat medianya meski tidak mendengar jawaban dari balik phone cellnya, namun atas perkataan Fiona yang terlontar, ia mampu menyibak suatu makna besar.


Bahkan ia menyibak jika sang tubangan sudah menyerah untuk menggapai cinta kasihnya.


Kembali pada keadaan Fiona, ia rupanya kembali melangkahkan kakinya menuju ruang bising dengan degupan musik itu. Di daratkannya tubuhnya di atas kursi di samping Tara.


"Ra sorry lama ya?" sapa Fiona menyambut dengan tatapan penuh penyesalan pada wajah sahabatnya.


"Ga juga!" balas Tara, ia menyiratkan senyum manisnya di akhir kalimatnya.


Kala itu, Daniel sang tamu undangan menghampiri mereka tanpa sambutan.


"Lo ngapain di sini?" ujar Daniel berseru geram pada adiknya hingga ia menyentil gemas kening adiknya itu.


"Emangnya lo doang yang bisa ke sini?" protes Fiona bersungut kesal seraya menghapus jejak sentilan itu.


Daniel berdecak sesaat, lantas mengalihkan arah pandangannya menuju wajah Tara. "Lo, Vara cewenya si Sam kan?"


"Hah?!" sahut Tara memekik kejut mendapat pernyataan itu.


"Lo inget di room dulu si Sam yang nyosor lo terus?" imbuh Daniel memperjelas membuat Tara tersenyum lega.


Tara yakin jika kakak dari sahabatnya tidak mengetahui status hubungan sesungguhnya dengan pria bernama Sammuel itu.


"Ingatan kamu bagus juga." Tara tersenyum ledek dalam helaan napas leganya menyambut ucapan lawan bicaranya.


Senyuman itu berubah menjadi kejutan saat dua tangan berhasil melingkar pada perutnya, ia menolehkan arah pandangnya ke belakangnya di mana pemilik tangan itu berada.


"Jack kamu bukannya harus nge Dj?" Tara meronta, berusaha melepas dekapan itu meski tidak membuahkan hasil sedikitpun untuk melerai kesalah fahaman pada pria asing di hadapannya.


"Belom waktunya." Seolah sengaja, Jackson mengecup puncak kepala kekasihnya.


"Bang*e lo! Cewe ade lo masih lo embat?" tepis Daniel menyenggal dalam gelengan kepalanya.


Jackson hanya terkekeh menyikapinya, lantas melepas dekapannya begitu saja.


Lain dengan Jackson, Tara kian menggundah takut jika saja kakak dari sahabatnya mengiri ia wanita murahan yang mampu menggait hati dua pria.


"Kamu balik lagi gawe di sini?" bisik Hanson tepat pada telinga Tara membuat empunya menolehkan arah pandangnya ke belakangnya.


"Kamu ke sini juga Hans?" sapa Tara di sertai senyuman manisnya.


Hanson hanya mengangguk menjawabnya kala ia berhasil mendaratkan tubuhnya di atas kursi di hadapan Tara, bersama seorang wanita di sampingnya. "Kenalin__" Ia melirik ke sampingnya di mana wanita yang menjadi pasangannya berada.


"Akhhhhh!!!!!"


Teriakan histeris itu berasal dari dua wanita yang sudah saling memendam rasa rindunya untuk enam bulan ke belakang, kini mereka mencurahkannya dengan saling merangkul.


"Kapan lo balik? Kok ga ngomong-ngomong?" tanya Tara tanpa melepas rangkulannya.

__ADS_1


"Sorry gue sekarang jadi wanita karier, lo sendiri juga sibuk kan?"


Dan rangkulan itu terlepas begitu saja setelah mereka berpuas diri melepas rindunya.


"Lumayan. Lo gabung di sini aja," ajak Tara bukan basa basi kala ia bertegas diri menginginkan sahabatnya berlama bersamanya.


"Emang niatnya gue mau gabung di sini," ujar Triana berucap tanpa menatap sahabatnya kala pasang matanya menangkap bayangan wajah tampan yang berada di samping sahabatnya.


Ia menatap kagum wajah Jackson, sedang Jackson sendiri menepis pandangannya ke samping belakangnya seraya menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali.


Ia mulai belingsatan, enggan sang kekasih mengetahui status hubungannya dengan wanita bernama Triana itu.


Pandangan Triana terhempas kala seorang pelayan lelaki datang menghampirinya.


"Kamu mau minum apa sweaty?" tanya Jackson penuh kelembutan hingga mengusap sayang puncak kepala kekasihnya.


Sedang Tara termenung mencari sesuatu yang di inginkannya sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya.


Namun, belum sempat ia mengucap keinginannya, suara seorang pria tengah menginterupsi ucapannya.


"Tequila 1 botol, spr*te 1 peatcher, kasih garem, lemon, alas gelas 2, Marl**ro putih 1, gelasnya lebihin 3."


"Sam!" ujar Tara berseru lirih kala tatapannya menangkap kehadiran sang suami telah berdiri di sampingnya.


"Lo mau ngeracik Sam?" tanya Jackson mencibir untuk memancing namun membuat Fiona memahami sesuatu dari tingkahnya.


Sammuel mengabaikan ucapan kakaknya, enggan menyambut ucapan yang akan membuat ingatannya membayang pada kenangan silam bersama istrinya.


Lantas ia menarik kursi agar duduk tepat di samping istrinya, kini Tara duduk di apit oleh dua pria pengisi hatinya.


"Aku ngerasa kaya punya dua selir gini." gurau Tara menghangatkan suasana canggungnya kala ia sendiri bergerak kikuk di sana hingga menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali.


Jackson terkekeh membalas lelucon kekasihnya. "Mau duduk di sini?" tawar Jackson menepuk pahanya.


Rupanya ia kembali memancing adiknya yang telah mendapat keberhasilan kala wajah sang adik memerah seolah menahan amarahnya.


"Kalo kesemutan aku ga tanggung jawab ya." Tara menolak dengan gurauannya membuat Jackson tersenyum manis.


Namun nampaknya Sammuel berdecak ngeri mendengar gurauan yang membuat api cemburu membara di dalam angannya.


"Anak kecil kamu ngapain ke sini?" ucap Tara meledek hingga menatap sadis wajah Gea.


"Datengin acara ultah abang aku lah," sahut Gea dengan gaya imutnya membuat Devand tersenyum gemas.


Setelah mendapat penjelasan dari Sammuel tentang Gea saat lalu, akhirnya Devand menerima kembali wanita pengganti Tara di hatinya.


"Kamu mau bayar hadiah jadiannya di sini?" Kembali Tara meledek adik angkatnya.


"Minta aja nih sama ade ipar kamu," sahut Gea seraya merangkul lengan Devand dengan kedua tangannya membuat Tara tertegun di sana.


Tara menjanggal, entah untuk siapa Gea menyebutkan status Devand sebagai adik iparnya.


Jackson ataukah Sammuel yang di maksudkan wanita itu? Namun janggalannya bersemayam lekat di dalam benaknya tanpa ia mengutarakannya.


"Tunggu tunggu, jadian apaan?" Triana yang baru saja menyadarinya, ia menjanggal hingga menatap wajah adiknya penuh picingan.


"Ah lo kudet, makanya gaul dong,” ujar Gea berseru sewot.


"Lo yang ga ngomong dodol." Gemas sudah Triana di buatnya hingga ia menyentil manja kening adiknya.


Geapun dengan segera menghapus jejak sentilan itu. "Lo aja ga pernah ngomong soal__" ucapnya terpenggal kala ia mengarahkan pandangannya menuju arah Hanson. "Dia!” Lantas, menunjuk Hanson dengan dagunya.


"Dia pengacara gue sengklek,” balas Triana berseru ledek membuat kedua kakak dari kekasih adiknya tertawa kecil menyikapinya.


"Lo ga cape berdiri apa?" ujar Devand


segera ia mengambil posisinya duduk di sebrang Tara di samping Hanson dan Triana, dan Geapun duduk di sampingnya di mana kursi tersedia di sana.


Akhirnya sang pelayanpun tiba membawa minuman yang di pesan Sammuel saat lalu, lantas menyerahkan seluruh minuman itu pada pemesannya.


Setelah minuman terhidang di hadapannya, dengan gesit Sammuel segera melakukan aksinya untuk meracik minuman itu.


Kegiatan Sammuel rupanya membuat senyuman Tara tersirat lekat mengingat kisah cintanya dengan sang suami saat pertama kali mereka bertemu.

__ADS_1


"Ini minuman andalan keluarga gue," ucap Jackson yang tertuju pada Tara namun tatapannya menuju ke arah adiknya yang sudah bersibuk ria dengan kegiatannya.


Tara membungkam mulutnya, mengabaikan pernyataan itu, namun tangannya berhasil meraih bungkusan rokok yang tersedia di atas meja.


"Kok gue baru tau?" Fiona menjanggal.


Seharusnya ia mengetahuinya dari Hanson pikirnya, namun nyatanya hubungannya yang rumit dengan pria itu membuatnya sulit mencari tau tentang kehidupan rinci pria itu.


"Cowo lo ga pernah ngasih tau apa? Gue aja tau," ucap Daniel membuat Fiona mendengus sebal di sana.


Plak!


Hanson memukul tungkak kepala Daniel tanpa perasaan. "Lo kakaknya kalo tau kenapa ga ngasih tau dia?"


"Bangke lo!" Daniel pun menghapus jejak itu dalam ringisannya. "Gue kira lo tunangannya yang bakal ngasih tau dia."


"Gue bukan tunangannya lagi," cetus Hanson berseru ketus membuat Daniel terperangah menerima kejutannya, begitupun dengan Gea serta kakaknya.


"What? Why?" sahut Daniel berseru melenting.


"Tanya aja ade lo, tadi di telpon dia ngomong sama orang katanya gitu."


Daniel membisu, namun sorotan matanya menatap harap penuh pertanyaan menuju wajah adiknya.


"Serah yang dia bilang lah!" ketus Fiona kesal membalas tatapan kakaknya dengan tatapan jengahnya.


Sedang Triana di sana masih meresapi tatapannya pada Jackson, membuat Tara menyibak sesuatu makna yakni sahabatnya menyukai kekasihnya.


Sementara Gea tertegun merasa bersalah atas ucapannya saat lalu yang telah keliru menebak jika kakaknya adalah kekasih Hanson.


Melihat lirihan Gea, Devand segera merangkul pinggang kekasihnya yang baru di akuinya itu lantas mengecup puncak kepalanya. "Lo ga salah, lo ga tau apa-apa." Hiburnya yang berhasil membuat bibir Gea terangkat menyiratkan senyuman manisnya.


Trak!


Suara gelas yang bersentuhan dengan meja itu atas berhasilnya Sammuel mencapai tahap akhir peracikannya telah di tempuhnya melerai suasana canggung sesaat.


Sammuel menyerahkan gelas itu kepada istrinya sebagai orang pertama yang menerima hasil kerajinan tangannya.


Dengan gesit Tara meraihnya lantas meneguk isinya hingga habis tak bersisa. Seusainya, Tara segera menyulut rokoknya dalam matanya yang memejam menahan rasa asam di lidahnya.


Kali ini ringisan dari rasa itu bukan hanya terlihat menggemaskan oleh Sammuel, namun Jackson pun merasakan hal yang serupa hingga ia membiarkan tatapannya berlama pada wajah kekasihnya itu.


Jelas hal ini membuat emosi Sammuel kembali menyebar hingga mengeratkan rahangnya dalam wajahnya yang sudah memerah.


"Kamu tau cara minumnya?" tanya Jackson.


Sejenak Tara terkejut melupakan sandiwaranya. "Emang biasa aku minum kaya gitu kali." Lantas ia menghisap kembali rokoknya dengan rakusnya membuat Jackson merampas batang itu.


Kini Sammuel mempersiapkan tiga gelas untuk racikannya, sebelumnya ia meraih bungkusan rokok itu dari atas meja sana. Lantas mengambilnya sebatang, lalu menyulutnya dan membenamkannya pada bibirnya.


Maksud hati Sammuel, ia ingin sang istri melakukan pelayanannya seperti dahulu kala untuk mengingatkannya pada awalnya bertemu.


Percayalah, ingin sekali Tara meraih rokok itu untuknya menyuapinya, namun apalah dayanya kini ia hanya mampu memperhatikan gerakan suaminya.


Trak!


Trak!


Trak!


Tiga gelas yang berhasil mencapai tahap akhir itu, segera di serahkan Sammuel pada sang istri yang di sambutnya dengan lahapnya meneguknya tanpa menawarkan kepada orang lain.


"Kamu mau mabok apa?" ujar Jackson memekik cemas.


Tara mengabaikan ucapan itu, dengan tergesa ia merampas batang rokok yang berada dalam jepitan bibir suaminya, lantas di hisapnya dengan rakusnya membuat Jackson menyiratkan senyum lirihannya.


Jackson tidak mengira jika kekasihnya berani menghisap batang rokok yang telah mendapat bekas bibir adiknya di sana.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2