
Secercah harapan kehidupan menuju sebuah impian dalam kebahagiaan, adalah barisan kalimat do'a yang terpanjat dari Tara setelah berpikir keras atas keputusan yang telah dipilihnya untuk menjalani kehidupan tanpa kepastian yang akan dilaluinya mulai detik ini, entah untuk berapa tahun kemudian.
Penyesalan bukanlah sesuatu yang akan memperbaikinya, telanjur sudah ia mengambil keputusan tanpa pilihan yang lebih baik untuknya.
Kini, ia telah resmi menjadi seorang istri dari pria bernama Sammuel Nate Charington setelah mengucap perjanjian suci satu jam yang lalu.
Apartemen Laseason ruang bernomor 2202 adalah tempat yang menjadi saksi bisu pengikat janji pernikahan mereka. Nicky Alrich Revaldi adalah satu-satunya saksi hidup yang menyaksikan penyatuan hati mereka. Tak ada sanak saudara dan kerabat, tak ada rekan dan teman yang menyaksikan hari –yang seharunya adalah hari membahagiakan baginya. Pernikahan memang selalu menjadi salah satu hari yang membahagiakan bagi setiap pasangan, sayang sekali Tara tak dapat merasakan sensasi dan perasaan semacam itu, begitu juga dengan Sammuel.
Tidak ada kebahagiaan yang tersirat dari kedua mempelai, lantaran pernikahan hanya berjalan dengan pengucapan janji suci tanpa pesta yang meriah, bahkan benda tanda pengikat yang akan melekat pada jari mereka pun tidak ada tertera di dalamnya.
Hanya sebuah benda pipih berbentuk kotak sebagai pengganti alat transaksi yang berisikan uang senilai dua ratus lima puluh juta rupiah sebagai tanda pergaulan kedua mempelai akan dimulai.
Petang itu, ketika mentari baru saja menyusut meninggalkan sinarnya, menggantikan dengan cahaya rembulan yang bersinar tinggal separuhnya, Sammuel tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di mana tempat tersebut kini menjadi milik istrinya, meski belum resmi dikatakannya kepada sang istri.
Sementara Tara baru saja menyelesaikan ritual mandinya setelah beberapa lama mendekam di dalam kamar mandi, ia keluar dari ruang untuknya membersihkan diri itu dengan tubuh yang hanya terbalut handuk menggait pada dadanya saja, tak ada apa-apa lagi selain itu yang ada pada tubuhnya.
Sammuel jelas akan melihat keberadaan istrinya lantaran ruang tempat membersihkan diri berada di dalam ruang tidurnya, hal itu membuat tatap matanya enggan berpaling sedikit pun pada tubuh molek itu.
Kulit putih wanita itu yang terekspose membuat gairah Sammuel bergejolak di dalam asmanya hingga menyentuh sanubarinya, lantas tanpa menunggu apa-apa lagi, ia bangkit membawa sang istri dalam pangkuannya.
Setelahnya ia mengempas tubuh itu ke atas tempat tidurnya. Tidak cukup puas dengan demikian, Sammuel merangkak mengukung tubuh molek itu di bawah kendalinya, memandangi wanita itu dengan rasa lapar yang susah untuk dienyahkan.
"Ga ada waktu besok apa?" protes Tara bersungut riang, berbalik dengan tubuhnya yang tidak menyangkal sama sekali tatkala sang hati menginginkan hal demikian.
Sammuel membeku, pasalnya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya lebih dari sekadar cumbuan. Hampir saja ia akan melanggar hal itu karena disebabkan oleh pemandangan yang memancing dan menarik keinginannya untuk merasakan sentuhan itu.
__ADS_1
Akhirnya ia mengempaskan tubuhnya di samping wanita itu, menggulung rasa kecewanya, sungguh membuatnya frustrasi bahkan gejolak hasrat gairahnya terlempar jauh seketika.
"Pake baju lo sana!" ujar Sammuel yang memerintahkan dengan nada yang ketus ketika emosi berhasil merangkak dari asmanya. Ia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, memendam rasa frustrasinya dengan helaan napas dalamnya.
Tara pun beranjak dari atas tempat tidur itu, ia melangkahkan kakinya menuju tempat di mana busananya tertata rapi di dalam lemarinya. Tak ada pertanyaan kenapa pria ini patuh dan menghentikan aktivitasnya, menghentikan sesuatu yang akan dia lakukan pada dirinya.
"Art, soal kerjaan lo, kayaknya lo baru bisa mulai sepuluh hari lagi," ungkap Sammuel mencari bahan penenang untuk gairahnya, ia beranjak mencari bungkusan rokoknya.
"Kerja di mana? Kerjanya apa?" balas Tara tak sarat. Dengan santainya ia melepas handuk dari tubuhnya untuk mengenakan pembalut tubuh bagian dalamnya tanpa menghiraukan wajah belingsatan suaminya. Entah tak peduli, tak sengaja, tak tahu atau ini adalah pancingan darinya, intinya Sammuel tak bisa mengelak, bagaimanapun dia adalah pria normal yang akan terpengaruh dengan daya tarik semacam itu. Sammuel menatap lekat tubuh itu yang hanya terbalut pakaian dalam saja, sejenak ia menahan gejolaknya hingga menelan ludah kasarnya.
Bagaimana Sammuel dapat berpaling jika menatap keadaan itu. Ini adalah pancingan yang terang-terangan dan disengaja. Kesabaran dan sumpahnya langsung diuji saat itu juga.
Lekuk tubuh yang terbentuk seperti biola. Dada yang menonjol, namun tidak berlebihan bahkan dirasanya pas dalam genggaman tangannya, kulit putih yang bersih tanpa noda sedikit pun, bibir mungil yang bergigi rapi menampakkan kesempurnaannya, semua itu mampu menggugah hasratnya.
"Sam?" Tidak ada suara, Tara kembali menyapa suaminya. "Kok diem?" Kaos polos putih berukuran besar itu kini telah berhasil membalut tubuhnya, membuat Sammuel tersadar dari bayangan liarnya.
"Sesuai janji awal gue, receptionist di ZhanaZ," jawab Sammuel menggerutu.
Rupanya ia sudah berhasil menggapai bungkusan rokoknya di atas meja yang masih terdapat di ruang tidurnya itu. Biarkanlah sepuntung rokok yang akan membantunya mengempas gairahnya.
"Gajinya sesuai yang kamu bilang juga kan?" seru Tara cemas jika saja pria yang kini menikmati batang rokoknya melupakan janjinya. "Bukan maksud gimana, aku cuma ....” Ucapannya terpenggal saat ia bersibuk mengenakan kaos over size yang menutupi tubuh, dari bahu hingga setengah pahanya yang membalut tubuhnya kini membuat sang suami kian frustrasi. "Aku butuh uang itu."
"Nanti bagian HRD yang ngasih tau lo! Lagian lo udah dapet duit banyak dari gue, ngapain juga masih ributin gaji, sih?" Gusar sudah batinnya hingga ia berkata penuh emosi dari nadanya.
Tara sadar dengan nada kesal itu, lantas ia mencoba merajuk, mendaratkan tubuhnya di samping suaminya yang sudah duduk terlebih dahulu di atas sofa tersedia. "Hasil keringat sendiri itu beda tau."
__ADS_1
Sammuel enggan menyambut tingkah manja yang akan membuat gejolak hasratnya kian meningkat hingga ia memalingkan arah pandangnya lurus ke depannya. "Di sana kita ga saling kenal! Bukan cuma di sana, tapi di mana pun!" ujar Sammuel dengan tegas, namun kini aura dingin tersebar dari nada bicaranya.
"Ga jadi masalah." Tara melihat pergerakan sang suami yang membuat rasa takut itu menyeruak hingga ia berinisiatif mendekap erat tubuh suaminya untuk meredakan emosi itu. Ia mengira, luapan emosi itu berasal dari penolakannya sesaat lalu.
Namun, bagi Sammuel kian geram atas perlakuan itu, bagaimana ia mampu mencegah hasratnya agar tidak bergejolak jika sang wanita selalu memancingnya.
Sammuel mengisap keras rokoknya lantas menyemburkan asapnya pada wajah jelita yang masih menatapnya lekat-lekat membuat rangkulan itu terlepas begitu saja. "Jam delapan nyampe jam satu lo kerja di sana, sore lo kuliah di universitas Taruna Wiyata jurusan bisnis."
"Kenapa harus kuliah?" tanya Tara yang merasa heran dengan apa yang dikatakan pria itu. Rasanya dia sudah terlalu lama meninggalkan pendidikan, isi kepalanya pasti sudah tumpul dan karatan jika harus dihadapkan dengan pelajaran yang sudah lama dilupakan.
"Ga bisa apa lo cukup bilang makasih?" balas Sammuel bersahut ketus tatkala sang nafsu enggan enyah dari asmanya. Jawaban yang sama sekali tak memuaskan.
Tara merasakan kejanggalan dari nada bicara Sammuel, memang sebelumnya Sammuel selalu berkata dalam nada bicara seperti demikian. Namun kali ini ia merasakan nada bicara itu tidak lain memendam emosi, hingga ia meredam menyiratkan senyuman manisnya seraya beringsut untuk mengecup mesra bibir suaminya.
"Terima kasih, sayang," rajuk Tara dalam nada manjanya menebar rayuan mautnya.
Rupanya siasat Tara semakin membuat Sammuel geram, ia segera menyodokkan rokoknya ke atas asbak hingga memadamkan baranya. Lantas ia bergegas menuju kasur empuknya untuk memejamkan matanya di sana.
Tara merasa tak mengerti dan sangat heran dengan apa yang terjadi. Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa pria itu bersikap sedemikian rupa padanya? Pasalnya, Sammuel yang selalu menyosornya pada hari-hari sebelumnya, pria itu yang selalu berinisiatif pertama kali. Namun kini, mengapa menghindarinya setelah ikatan resmi dimilikinya? Setelah Tara sendiri yang mengajukan dirinya. Enggan menjadi beban, Tara hanya bergumam lebih baik demikian.
•
•
•
__ADS_1