
Selepas Fiona berada di luar ruang kebangsaan Presiden Direktur itu, di balik pintu ia terdiam sejenak.
Wajahnya tertunduk menatap lembar kertas berisikan tentang pemutusan hubungannya dengan sang tunangan yang di raihnya sebelumnya dari atasannya.
Kedua tangan yang menggenggam erat kertas itu gemetaran menahan rasa pedihnya atas keputusan hidupnya membuat matanya mulai berkaca-kaca, namun sebisa mungkin ia menahannya agar tidak terjatuh barang setetespun.
Setelah jiwanya merasa lebih tenang, ia mulai mengayunkan kakinya menuju ruang kebangsaan milik Pengacara perusahaan.
Sesampainya di tempat tujuannya, ia melihat sang pemilik ruangan telah bersibuk ria dengan pekerjaannya hingga kehadiran dirinya terabaikan tanpa sambutan.
Namun tetap saja, ia melangkah menuju arah sang atasan yang membisu di atas kursi kebangsaannya, masih dalam keraguannya ia menyerahkan kertas itu kepada sang pria.
Ia masih merasa berat hati untuk memutuskan hubungannya, namun keputusan sudah di ambilnya, mau bagaimanapun ia mengira ini lebih baik dari pada ia harus selalu tersakiti.
Tanpa berkata dan tanpa di cerna terlebih dahulu, Hanson segera meraih lembar kertas itu tak lantas menyiratkan tanda tangannya pada kolom yang tersedia, lantas mengulurkan penanya pada Fiona.
Fiona geram dengan tingkah itu hingga ia meraih pena dari tangan Hanson dengan gaya kasarnya lantas menyiratkan tanda tangannya pada kolom yang tersedia.
Seusainya ia kembali menuju meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya tanpa ingin melihat wajah tampan yang selalu membuatnya frustasi itu.
Hening mengambil alih situasi tegang itu lantaran dari masing-masingnya saling memendam hawa nafsunya, hingga pukul 10:50 tiba suasana masih seperti sedia kala.
Kring.. kringg..
Suara panggilan dari alat media yang terletak di atas meja kerja Fiona berdering nyaring, segera ia meraih gagang telpon itu, melekatkannya pada telinganya.
"Assistant peng__"
"Fi ke ruang gue sekarang."
Tanpa menjawab, Fiona segera menutup panggilannya lantas melangkahkan kakinya tanpa pamit pada mantan tunangannya.
Untuk seseorang yang memanggilnya melalui alat media itu tidak lagi di pertanyakannya setelah ia mengetahui dengan pasti pemilik suara pria di balik panggilan itu.
Sesaat kemudian, tibalah ia di hadapan Jackson yang langsung duduk pada kursi besebrangan dengan kursi kebangsaan sang pemilik ruang.
"Udah kelar urusan sama si Hans?" sapa Jackson tanpa mengalihkan arah pandangnya ke atas meja kerjanya di mana lembaran dokumen menumpuk di sana.
"Udah."
"Jam satu ini lo ikut gue ke Bogor." Masih Jackson berucap tanpa memandang wajah jelita yang telah menatapnya penuh picingan itu.
"Ke Bogor?"
"Yap, ke rumah bokap lo."
"Ngapain?"
"Ngomongin narik saham lo dari si Hans."
__ADS_1
"Jack gue udah ngomong jangan, dia nanti mikir gue tambah jelek!" tolak Fiona pekat hingga ia bangkit dari duduknya dan berdiri di tempat.
Jackson melepas pandangannya dari lembaran kertas itu, kini tatapannya menuju wajah Fiona di sertai aura bengisnya yang tersirat membuat Fiona membeku melihat tatapan asing itu, bahkan membuat hatinya meluluh seketika.
"Oke lo bisa tarik saham gue dari si Hans, gue kasih lo kalo lo mau tunangan sama gue."
Dan tatapan bengis itu melirih, ia menunduk seraya memejamkan kedua matanya. Hawa emosi terhempas seketika dari dalam asanya mendapat ucapan yang entah mengapa membuatnya kesal.
"Fiona__"
"Sorry gue juga punya hak kan?" tanya Fiona menepis.
Secepat kilat Jackson mengangkat wajahnya, menatap kembali Fiona di sana, namun kini aura bengis itu tengah sirna membuat Fiona melega hingga duduk kembali pada tempat semula.
"Oke gue setuju, tapi lo jangan ribut dulu sama keluarga gue." pinta Jackson merajuk setengah hati.
Sesungguhnya ia tidak enak hati jika memberikan permintaannya yang di yakininya akan membuat hati wanita itu tergores luka batinnya.
"Lah gimana caranya, kalo gue nyari persiapan acaranya pasti nanya mami lo!" ucap Fiona di sambut helaan napas lega oleh Jackson.
Beruntunglah ia jika Fiona tidak bersedih kembali atas perintah yang selalu di berikannya.
"Gue yang atur, lo duduk manis aja,” putus Jackson.
Fiona menatap lirih wajah Jackson, ia menjanggal dengan hal itu, mengapa harus Jackson menyembunyikannya?
Mungkinkah benar adanya semua karna paksaan kehendaknya yang telah memaksa sang pria agar menjadi pendampingnya.
"Seberesnya urusan gue lah." Tak acuh Jackson menimpal mengabaikan lirihan itu hingga membuat emosi Fiona tersulut begitu saja.
Brak..
Fiona menggebrak keras meja itu dengan kedua telapak tangannya hingga menimbulkan suara nyaring membuat seluruh penghuni menatapnya penuh kejut.
"Lo mau gantung gue?" Fiona mengeratkan rahangnya seraya menatap kejam wajah Jackson membuat pria itu kehilangan kendali jika harus menepis keinginan sang wanita.
"Oke oke, akhir bulan depan oke?" ujar Jackson merajuk.
Fiona membisu masih dalam tatapan kejamnya, namun batinnya bergumam untuk mempertimbangkannya.
"Tengah bulan, sisa 48 harian lagi kan?" Seolah tau pertanyaan benak Fiona, Jackson segera menjawabnya agar tatapan itu enyah dari hadapannya.
Akhirnya Fiona menyiratkan senyuman manisnya, bahkan tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh riang.
Lantas tanpa pamit kepada penghuni ruangan ia melangkahkan kakinya berlalu begitu saja dari hadapan Jackson.
Jackson hanya mampu menatap punggung wanita itu dalam tatapan herannya hingga punggung itu hilang di balik pintu masuk ruang kebangsaannya.
Setelah Fiona hilang sepenuhnya dari dalam ruang itu, Kelvin kini mengambil alih tempat Fiona menumpukkan tubuhnya sebelumnya.
__ADS_1
"Lo yakin mau tunangan sama dia?" tanya Kelvin.
"Anggap aja nebus kesalahan gue, lo tau si Hans sekarang jadi benci banget sama dia kan?"
"Gue udah ngomong lo berhenti ngurusin mereka!” ujar Kelvin memperingati dengan kerasnya hingga nada bicaranya melenting nyaring.
Rupanya Kelvin masih berusaha keras untuk mengubah kehidupan atasan sekaligus sahabatnya itu, terlalu rumit baginya jika sang sahabat masih memantau kehidupan orang lain tanpa mengkhawatirkan beban dirinya sendiri.
"Ga bisa Vin, lo tau sendiri bokap gue selengean gitu. Kalo bukan gue, siapa yang mau ngurus anak-anak sialan itu?" ujar Jackson berteguh hati dalam senda guraunya.
"Serah lo sih, asal lo jangan ngeluh soal si Fiona."
Sejenak Jackson meresapi peringatan sahabatnya, ia yakin jika suatu saat ia akan mengeluh dengan itu. Namun apa boleh di kata, ia bukan pria kemayu yang akan mengabaikan tanggung jawab atas kesalahannya.
"Gue juga ragu, masalahnya gue ga demen sama tuh anak, tapi kasian juga." sahut Jackson di iringi helaan napas rancunya.
"Jangan bikin dia tambah sakit kadal."
"Gue udah ngomong juga sama dia, dianya yang mau." Jackson mulai frustasi, ia meraih bungkusan rokok yang tergeletak di atas meja hingga berhasil menyulutnya untuk mencari bahan pelampiasan kerancuannya.
"Gue rasa juga dia ga demen sama lo, dia cuma nyari pelampiasan doang," ujar Kelvin membuat bibir Jackson terangkat pekat memberikan senyuman kemenangannya.
"Kalo gitu gue lebih tenang."
Jackson menyenggal perbincangannya meraih alat panggilan jarak jauhnya yang tergeletak di atas meja itu, lantas ia pun melakukan panggilannya terhadap seseorang.
"Di mana kamu?" sapanya setelah panggilan terhubung.
"Aku lagi ngurusin tender."
"Tender Villa?" Jackson mulai melirih seraya menghisap keras batang rokoknya mengingat jika lawan bicaranya tengah bergembira dengan orang lain.
Keinginan hatinya adalah dirinya yang mendapatkan waktu untuk bersenda gurau dengan wanita itu.
"Kamu tau juga soal itu?"
"Nicky yang ngasih tau, kenapa kamu ga ngomong sama aku, kamu lupa kamu cewe aku?"
"Jack sorry nanti aku jelasin sekarang aku lagi liat tanah sama pemiliknya."
Tidak ada yang bisa di perbuatnya lagi, hanya helaan napas panjangnya saja yang dapat menepis debaran jantung tanpa iramanya lantaran api cemburu telah membakar angannya.
Dan Jacksonpun memutuskan panggilannya tanpa mengucap salam terakhirnya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc