Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 29


__ADS_3

Mentari menyingsing, menghangatkan kota yang telah kehilangan sinar ultravioletnya.


Tara melepas rekatan kelopak matanya seperti waktu-waktu sebelumnya. Memusuhi sinar ultraviolet yang tak pernah digapai tubuhnya.


Baru saja jiwanya terkumpul, suara ketukan pintu kamarnya terdengar nyaring hingga menyayat indra pendengarannya.


Dalam keadaan berantakan yang tidak karuan, belum sempat membersihkan dirinya bahkan belum sempat menyisir rambutnya, Tara membuka pintu kamar tidurnya. Sudut bibirnya terangkat menyiratkan sebuah senyuman sapaan saat mendapati di balik pintu itu menampakkan seorang lelaki muda berparas imut. Itu adalah Nicky yang sebelumnya sudah diinformasikan jika dirinya akan datang ke tempat kontrakan Tara untuk menjemput dirinya.


Awal sekali dia datang, atau mungkin Tara sendiri yang bangun terlalu siang. Intinya, pria itu sudah ada di sini.


"Ya ampun Kak Nicky. Maaf ya, aku belum siap-siap," ujar Tara tidak enak hati, namun ia masih memegang handle pintu kamarnya. "Tunggu bentar ya, aku mandi dulu," imbuhnya yang langsung dibalas gelengan kepala oleh tamunya.


“Sebelumnya maaf jika saya lancang, Tuan Nate tidak suka menunggu, jadi lebih baik jika Nyonya tidak usah mandi," saran Nicky dalam nada lembutnya yang terdengar lebih sopan oleh lawan bicaranya. Usulan yang bagus, urusan wanita bisa memakan waktu lebih dari setengah jam, mungkin jika sedang fokus dan teliti, wanita bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam berada di kamar mandi. Sesuatu yang wajar, dan wajib dimaklumi, tak boleh diganggu-gugat oleh siapa pun.


"Baiklah, bisa tunggunya di luar aja?" pinta Tara yang dibalas anggukan keras oleh Nicky.


"No problem," balas Nicky segan, tak lantas menyiratkan senyuman manisnya.


Tara segera menutup pintu kamarnya dan bergegas mempersiapkan dirinya dengan hanya menggosok gigi serta mencuci wajahnya.


Seusai ia mengganti pakaiannya, ia segera membuka kembali pintu kamarnya yang menampakkan pemandangan serupa dengan sebelumnya di mana Nicky berdiri di baliknya masih menjadi sorotan matanya.


"Maaf lama," ujar Tara dengan lembut tidak ingin mengecewakan sang penjemput.


"Ga apa-apa, Nyonya, hanya 15 menit masih bisa dimaklumi Tuan Nate." Senyum manis selalu tersirat dari bibirnya di akhir kalimatnya membuat Tara lega untuk penjelasannya.


Tanpa ada suara terlontar kembali, atas tuntunan Nicky yang membawa kendaraan roda empat milik atasannya untuk menjemput dirinya, akhirnya Tara tiba di dalam sebuah bangunan apartemen bergengsi yang terletak di pusat kota Jakarta itu.


Bergengsi? Tentu saja, itu adalah salah satu bangunan di antara bangunan terbaik yang menonjol dan memiliki suasana dan pemandangan yang cantik, ditata rapi dan pastinya memiliki harga yang tak akan tertafsir oleh orang awam, properti dan segala hiasan disusun sedemikian rupa untuk mempercantik keadaan, memanjakan mata untuk mengaguminya.


Kakinya mengayun dalam langkah ragunya setelah memikirkan tentang status pernikahannya, suatu hal yang akan membuatnya menghadapi situasi serupa seperti sebelumnya, di mana ia akan menjalani kehidupan di luar batas normal akan terulang kembali.


Namun, mengingat hubungannya dengan lintah darat yang masih terhubung dengannya , serta mengingat sifat serakah ibunya, yang mengharuskannya menanggung beban biaya hidup untuk kedua adik kandung serta satu adik iparnya, ia mengeluhkan kesah kepada-Nya di dalam benaknya.


Mungkin ini jalan terbaik yang mengharuskannya mendapat cobaan dalam status hubungannya dengan seorang pria. Mungkin seperti ini seharusnya takdir yang harus dia jalani, seperti inilah jalan hidupnya.


Dengan Nicky yang memimpin jalan, Tara berjalan mengekornya.


Hingga pada akhirnya,


Pintu ruang yang bertuliskan angka 2202 di baliknya, adalah sasaran tangan Nicky untuk menekan tombol bel yang tersedia di sana, itu sebagai isyarat untuk memberitahukan seseorang akan memasuki ruang tersebut. Tanpa ada sapaan atau sambutan, ia menekan tombol menyiratkan 6 angka sebagai akses kunci tersebut.


Akhirnya pintu ruang pun terbuka lebar. Nicky pun menuntun wanita yang masih setia membuntuti gerakannya hingga menepi di dalam ruang tamu di sana.

__ADS_1


Nampaklah Sammuel di dalamnya yang sudah duduk santai berselonjor kaki di atas sofa di sana, dengan didampingi sebatang rokok menyala yang berada pada jepitan jemari tangannya.


Sammuel menatap ke arah dua orang yang masih berjalan menghampirinya, lantas melambaikan tangannya pertanda wanita itu diharuskan mendaratkan tubuhnya tepat di sampingnya. "Lama banget. Ga macet kan?" gerutunya.


Tara membisu mengumpat dalam benaknya atas ucapan Sammuel yang selalu saja memerintah seenak hatinya, lantas memenuhi perintah lelaki yang berada di hadapannya. Segera ia mendaratkan tubuhnya tepat di samping Sammuel.


Sedang Nicky meraih sebuah map yang tersedia di atas meja, lantas berdiri tegak di samping sahabatnya. Sebuah map berisikan kertas bertuliskan data diri Tara, kini berada pada genggaman Nicky.


Pria itu membuka lebar-lebar data itu dan segera saja membacakannya dengan nada yang formal dan santai.


"Nama : Art Tara Biancasandra, bekerja sebagai LC di tempat karaoke The Views, usia dua puluh sembilan tahun. Dua puluh enam bulan lalu baru bercerai dengan suami sirihnya, seorang pengusaha properti di Bandung. Orangtua bercerai, ia hidup dengan seorang ibu yang tinggal di sebuah perumahan elite di kota Bandung. Karena mantan suaminya kikir, ia terlibat dengan lintah darat akibat harus membayar sebagian kontrakan rumah untuk ibunya tanpa sepengetahuan suaminya dan juga sem ....”


"Cukup!" potong Sammuel sambil mengacungkan tangannya pertanda mempertegas perintahnya. Ia menghentikan perkataan Nicky saat melihat wanita di sampingnya terperangah dalam bola mata membelalak akibat mendapat kejutannya. Sammuel takut dikira terlalu ikut campur dan teramat sangat lancang mengorek informasi pribadinya tanpa seizin dari wanita itu sendiri.


Nicky langsung bungkam mulut dan menutup lembaran itu, menunduk dan hening, tak mengeluarkan sepatah kata lagi.


Sementara di sisi wanita itu, hanya sejenak Tara memasang eskpresi itu dan sesaat kemudian mengakhiri kejutannya, harusnya itu adalah hal wajar dan normal slaja mengingat sang pria yang berada di sampingnya telah diketahuinya mampu melacak data dirinya dengan amat mudah. Itu terbukti dari semalam lalu yang telah diketahuinya bahwa Sammuel mengetahui siapa ayah serta ibunya. Hal semacam ini seharunya bukan sesuatu yang bisa dianggap sulit bagi orang yang memiliki kedudukan dan harta yang tinggi. Seharusnya dia sudah dapat menduganya sejak awal.


Terlepas dari ekspresi dan gelagat wanita itu, Nicky tetap harus melaksanakan sesuatu yang menjadi keharusan dan kewajibannya.


"Nyonya, sebenarnya Tuan Nate akan melaksanakan pernikahan ini secara rahasia," jelas Nicky yang masih berdiri di sekitar sepasang insan itu, ucapannya membuat wanita satu-satunya yang berada di sana melirih hingga menatap pria di sampingnya penuh picingan. Tatapannya meminta klarifikasi dari pria itu.


“Sesuai perjanjian!” seru Sammuel menjawab tatapan wanita itu. Ini seperti diktator yang menindas rakyat, Tara seperti diatur dan dikekang hingga dia tak memiliki pilihan apa-apa selain mesti patuh dan tunduk, tidak sampai seperti itu juga sebenarnya. Hanya saja ini memang memberi kejutan baginya, tak lama kemudian Nicky menyerahkan selembar kertas kepada wanita yang menjadi buruan dekapan sebelah tangan Sammuel itu.


Tara pun mengulurkan tangannya untuk meraih selembar kertas yang diserahkan kepadanya itu. Kesepakatan adalah kesepakatan, mau tak mau dan harus mau, dia mesti melakukannya. Dengan saksama, Tara mencerna setiap barisan kata yang terukir di atas kertas yang kini sudah berpindah tangan dan berada pada genggamannya.


Setelah membaca semua itu, ia mengalihkan pandangannya dari sana menuju Sammuel. Ia telah mendapat kejutan hingga mengutarakannya. "Bukannya lima ratus juta buat sepuluh bulan?" ujar Tara dengan sebal hingga menatap jengah wajah pria itu.


“Kenapa sekarang jadi banyak gini?" protesnya kesal, ia kira ini berkembang menjadi terlalu banyak cabang, tak sesederhana seperti yang dia pikirkan, tak seperti kesepakatan yang sebelumnya, semua disusun dan terencana dengan lebih rapi dan lebih mendetail lagi. Tapi perkataannya membuahkan gelak tawa dari pria di sampingnya.


Sammuel gemas dengan pertanyaan itu, hingga ia mengulurkan tangannya untuk menyentil gemas kening wanita itu membuat sahabatnya melipat bibirnya menahan senyumannya.


"Biasanya orang komplain karena lebih sedikit hasilnya. Cewek **** ini malah kebalikannya," ucap Sammuel penuh ledekan tatkala tawanya sulit dihentikan.


Tara meredam amarahnya, merasa malu dengan tingkahnya setelah mendengar pernyataan pria yang masih menertawainya dengan riangnya itu, dia kaget dan refleks mengatakan itu.


"Baca dulu sampe beres, upahnya sesuai sama persyaratannya kok!" ungkap Sammuel jelas setelah tawa itu enyah darinya. "Jangan setengah-setengah kalo mau komplain!" imbuhnya gemas saat ia melihat wajah jelita yang telah merona hingga ia menepuk kening itu dengan gemasnya. "Ceroboh juga lo."


Tanpa bicara, Tara kembali membaca barisan kata dalam bentuk tulisan yang tertera pada selembar kertas yang masih berada dalam genggamannya.


Dari bait keduanya Tara mampu melihat nama asli dari calon suaminya yang dinyatakan sebagai pihak pertama bernama Sammuel Nate Charington.


Entah ini merupakan suatu kebetulan atau bukan, jika ia menganggap bahwa calon suaminya berkaitan dengan seorang yang selalu menjadi rasa penasarannya ketika melihat nama belakang pria itu.

__ADS_1


Sudahlah, ia enggan memikirkan hal itu yang akan membuat pikirannya kacau balau. Ia pun melanjutkan membaca tulisan itu.


Untuk selanjutnya, ia mulai membaca setiap bait persyaratannya. Yakni:


• Pernikahan dirahasiakan.


• Pihak kedua harus patuh terhadap perintah pihak pertama.


• Pihak kedua tidak berhak meminta hati pihak pertama.


• Jangka waktu pernikahan tidak ditentukan.


Hingga poin itu yang dibaca Tara untuk perjanjian pernikahannya, ia hanya mengabaikannya saja. Kembali ia melanjutkannya membaca persyaratan selanjutnya.


• Pihak kedua tidak berhak melarang pihak pertama berselingkuh.


Pada poin ini, dia mengabaikannya dan sama sekali tak mengambil pusing, bisa dibilang dia sama sekali tak peduli.


• Pihak pertama tidak akan memperlihatkan batang hidungnya kepada keluarga pihak kedua.


Hatinya sedikit tergores ketika sampai pada bagian ini. Namun, lebih baik demikian, hal seperti ini akan menjadi masalah dan pertikaian jika diketahui terlalu banyak kepala. Kemudian dia melanjutkan.


• Pihak pertama tidak akan menginjakkan kaki pada kediaman keluarga pihak kedua.


Dan pada bagian ini, hatinya lagi-lagi mendapat goresan kecil menyikapi keluarga yang dimaksudkan adalah sepupu serta anaknya. Ini benar-benar pernikahan yang rahasia sehingga orang-orang dekatnya –kemungkinan besarnya—benar-benar tak akan tahu.


• Pihak kedua harus selalu memberi laporan kegiatan pada pihak pertama.


Sudah seharusnya. Meski suka atau tidak, hal itu memang perlu dilakukan. Maka ia melanjutkan dan membaca bagian terakhir dari rentetan poin dari persyaratan pernikahan ini.


• Pihak kedua dilarang berselingkuh kecuali kepada dua pria bernama Jackson Jordan Charington serta Hanson Mike Charington.


Pernyataan terakhir inilah yang membuat Tara terkejut hebat, hingga menyibak makna bahwa pria calon suaminya itu ingin menikahinya secara rahasia dengan alasan ingin mendekatkan hubungannya kepada dua pria yang disebutnya di dalam perjanjian pernikahannya itu.


Poin-poin dari atas memang merugikan bagi pihaknya, sulit untuk diterima, tapi dia lebih memilih tak peduli dan mengabaikannya saja, ini bukan rumah tangga di mana ada cinta di dalamnya, anggap saja ini adalah pernikahan kontrak –yang dilihat dari sisi mana pun memang tampak seperti itu. Tapi ketika menyikapi poin terakhir, inilah yang benar-benar berbeda dan bisa dibilang ada tujuan tertentu dari ini, bahkan wanita terpolos dan awam pun harus bisa menduganya.


Bahkan dari sanalah ia membenarkan tebakannya jika sang pria calon suaminya memiliki hubungan dengan orang yang disebutkannya sesaat tadi apalagi ada nama yang sama tergantung pada bagian ujung nama-nama mereka.


Tebakannya ini terbenam dalam benaknya tanpa menyerukannya kepada Sammuel. Namun, ada satu hal yang membuatnya mengutarakan kecurigaannya.


Yaitu,


__ADS_1




__ADS_2