Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 145


__ADS_3

Jum'at selalu di sebutkan sebagai hari yang memiliki keberkahan bagi sebagian insan yang mempercayai hal tersebut, namun kenyataannya tidak sedemikian adanya ketika melihat sebuah kisah dramatis dari keluarga rumit yang terlihat harmonis ini.


Senja yang sudah membayang menghiasi langit sore itu, Natalie sudah berdiri di halaman rumah berdesign kerajaan dubai milik mantan mertuanua.


Di sekelilingnya, Hanson, Jackson, Tara, Sammuel, Devand serta Celia berdiri mendampinginya untuk menyambut kehadirannya meski tidak di inginkan Celia sama sekali.


Sedang Erick tidak berada di tempat, entah ke mana ia pergi tidak ada yang mempedulikannya kala mereka sudah mengetahui sikap arogan yang enggan melihat kejadian naas itu.


"Queen ikut mama Natalie ya sayang," bujuk Celia kepada si gadis cilik yang berada dalam pangkuannya.


"Ga mau!" Menggemaskan suara itu, namun menjadi lirihan bagi Celia.


Queena menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Celia seolah ia menolak keras bujukan nenek mudanya yang telah mengusap puncak kepalanya.


Celia menghempas napas rancunya kala ia kesulitan mencari cara untuk merayu si gadis cilik yang memiliki kepintaran di atas rata-rata itu.


Sementara Tara yang berdiri di samping Celia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak menetes setitik pun.


"Nanti mama beliin es krim buat Queen." Tara pun mengelus puncak kepala mungil itu penuh lirihan, seolah mengucap salam perpisahannya.


"Ga mau.." sahut Queena berterus terang dengan nada lantang yang manja, wajahnya semakin menelusup ke dalam ceruk leher Celia seolah mempertegas penolakannya.


Jackson tidak sabar hati melihat tingkah anak angkatnya, lantas ia mengambil alih paksa si gadis cilik dari ibu tirinya hingga berada dalam pangkuannya. "Oke kalo gitu Queen mau jalan-jalan sama daddy?"


Queena mengangguk ragu, pasalnya anak cerdik ini merasakan sesuatu yang menjanggal di hatinya.


"Oke, Queen dadah dulu sama mommy, sama mami, sama uncle Sam sama uncle Hans, sama uncle Dev." Jackson menunjuk dengan sorotan matanya pada setiap objek yang di sebutnya.


"Tapi nanti Queen tidul sama mommy sama daddy lahi ya." Manjanya Queena membuat Celia tertegun di sana, sedang Tara berusaha terlihat tegar meski batinnya meronta pedih.


Sementara Jackson membisu kelu, ia hanya mampu mengecup kening gadis cilik itu untuk mencurahkan cinta kasihnya yang di rasanya untuk terakhir kalinya ia bertemu dengan belahan jiwanya.


"Nanti pasti suatu saat!" Hanson si dewasa ini mengucap harapannya dengan penuh keteguhan diri seolah mengharap terkabulkan dengan segera.


"Oke dadah dulu sayang," bujuk Jackson sebagai keputusan akhirnya yang berbalas dengan lambaian tangan ragu dari si gadis cilik pada tiap insan yang berada di sekitarnya.


Wajah polos yang imut itu terlihat melirih pedih membuat Celia enggan menatapnya, namun tetap saja ia melambaikan tangannya sebagai salam perpisahannya, begitupun dengan yang lainnya.


Devand yang sejak tadi membungkam diri, sesungguhnya ia mengumpat di dalam benaknya memberikan pernyataan perihnya, ia tidak mengira seorang gadis cilik yang tidak berdosa itu harus menanggung akibat dari keegoisan seorang dewasa.


Sedangkan Sammuel tertegun membayang kisah kakak keduanya yang di rasanya lebih memilukan dari sodara yang lainnya bahkan dari dirinya sendiri hingga terpikirkan olehnya untuk membalasnya.


Namun Sammuel kesulitan mencari caranya untuk membalas pengorbanan yang begitu besar dari kakak keduannya itu, kini ia berpikir jika ia harus menyerahkan istrinya dengan suka rela kepada kakaknya.

__ADS_1


Namun ia menyangkalnya dengan segera, tidaklah mudah bagi hatinya untuk berdusta hingga ia berpikir keras mencari jalan keluar dari semua keluh kesah kehidupan keluarga tercintanya.


Di sela renungan para insan yang masih berdiri di depan halaman luas kediaman seorang pengusaha terama itu, mereka meratapi kepergian tiga orang yang telah berjalan memunggungi mereka.


Natalie kini telah membuntuti langkah Jackson di belakangnya yang berjalan akan menuju tempat di mana kendaraan roda empatnya terparkir.


"Jack.." sapa Natalie di sela langkah kakinya yang tidak terhenti sedikitpun.


Jackson menyambutnya dengan menghentikan langkahnya, lantas saat Natali berdiri di sampingnya, ia berbisik pada wanita itu. "Kita bawa dia main dulu sepuasnya, udah aku bilang ke mall corinda kan, kalo dia udah puas main pasti tidur."


"Aku takut kalo dia bangun dia_"


"Udahlah." Jackson sudah terlalu lelah menahan kepedihannya hingga ia malas untuk melanjutkan perbincangannya.


Di balik itu, situasi terkini dari mereka yang menatap lirih punggung Jackson hanya mampu mengabaikan kepergiannya.


"Vand bilang sama papi kamu, malam nanti mami pergi ke Surabaya,” tutur Celia.


"Mih.." Devand menyenggal lirih, ia menerka jika ibunya tengah bersedih hati yang tidak akan mampu di redamnya dengan mudahnya.


"Mami ga mau liat rumah ini dulu."


Hingga pada akhirnya Devand menghembuskan napas kasarnya, menghela derita dari turut merasakan kepedihan ibu tercintanya. "Ya udah mami tenangin diri dulu di sana."


"Ga tau juga,” sahut Celia tak acuh mengabaikan wajah panik menantunya lantaran kini ia menatap wajah Sammuel. "Sam sorry pinjem jet pribadi kamu lagi."


Sammuel mengangguk menjawab perkataan Celia. "Butuh urus izinnya?"


Celia kembali menggelengkan kepalanya lantas memutar tubuhnya untuk melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruang. "Itu mami urus sendiri aja."


Sesungguhnya Celia sudah tidak mampu menahan bendungan air matanya kala batinnya masih melirih membayang kepergian si buah hati. Kini mata itu sudah mulai berkaca-kaca. "Tara, Devand mami titip CC Film sama kalian." Dan ia melangkahkan kakinya tergesa tanpa ingin menunggu jawaban dari lawan bicaranya.


Tara turut meratapi kegelisahan sang mertua yang sempat terlihat dari matanya yang membasah, lantas ia mulai mengayunkan kakinya. "Selemah inikah mami kamu Dev?"


"Begitulah dia." Devand menimpal saat kakinya turut berayun membuntuti langkah Tara.


"Baru liat dia kaya gini." Hanson yang berjalan sejajar dengan Tara pun menggelengkan kepalanya menanggapi sikap lemah dari ibu tirinya.


"Lebih parah kalo di tinggal meninggal, apa lagi pas di tinggalin ortunya" ujar Sammuel seolah mengetahui dengan pasti sipat serta sikap sang ibu tiri membuat istrinya menatapnya dalam picingan matanya.


Sammuel membalas tatapan sang istri dengan tatapan serta senyumannya tak ayal sebelah tangannya pun mengulur hingga merangkul pundak istrinya.


"Tau dari mana lo?" Devand pun menatap heran wajah Sammuel.

__ADS_1


"Dari mulai lo lahir gue udah tau papi lo punya simpenan," sahut Sammuel membuat adik bungsunya kian terheran-heran.


Devand kesulitan menghirung kecerdasan kakaknya jika melihat dari usia Sammuel dahulu kala saat ia baru terlahir, ia menyangkal jika bocah remaja akan mengerti dengan keluhan orang tuanya.


"Si Jack yang ngasih tau.” Kembali Sammuel berucap kala tiada lagi suara dari yang lainnya.


"Si Jack juga tau dari gue kali," tebas Hanson menjelaskan.


Sesaat hening melanda kala Hanson serta Sammuel menerobos bayangan ingatannya menuju 10 tahun silam di mana mereka baru mengetahui kabar menyakitkan itu yang membuat mereka bersiasat buruk terhadap Celia serta anaknya.


"Kayanya mami pengen punya cucu deh, Hans kapan lo punya anak sama Triana?" tanya Tara tanpa basa-basi membuat lamunan dia pria itu terpecah seketika.


"Mau juga kalian dulu yang udah resmi," balas Hanson menyindir di iringi tawa kecilnya di akhir kalimatnya membuat Sammuel menatap wajah istrinya seraya menyiratkan senyum manisnya yang mendapat balasan tatapan lirih dari istrinya.


"Masih di rencanakan!" ujar Sammuel penuh kesungguhan kala sang hati memberi restunya membuat Tara merasa lega hingga menghempas napas dalamnya.


"Rencanainnya jangan kelamaan,” sambung Devand turut meledek dalam decakan sebalnya di akhir kalimatnya, sesungguhnya batinnya meronta ingin menepis icapan kakak tiganya yang membuat hatinya mendapat goresan kecil.


Hingga kini rupanya Devand masih menaruh rasa simpatik serta menyukai wanita yang telah menjadi kakak iparnya itu, namun keadaan usia yang terpaut jauh dengan wanita itu membuatnya mengalah secara terpaksa.


"Lo pikir bikin anak kaya bikin pisang goreng apa?" Sammuel menimpal sebal hingga menyentil lembut tungkak adiknya.


Perbincangan terpenggal kala langkah kaki mereka menepi di dalam ruang tamu utama yang terdapat di sana.


Tiba-tiba saja Tara menepuk keningnya sendiri tat kala ia teringat dengan tugas kesehariannya.


"Sam kita harus pulang, besok aku harus berangkat pagi ke Bandung," ucap Tara lantas menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya agar menghadap suaminya.


"Laksanakan nyonya." Sammuel tersenyum menyambut tatapan rancu sang istri lantas mengecup puncak kepala istrinya membuat api cemburu membahar angan Hanson serta Devand di sana.


"Sial*n lo bikin cemburu aja," ucap Hanson sebagai gurauan namun nyatanya ua mengutarakan isi hati yang sesungguhnya.


Sementara Devand berdecak mewakili perasaan yang tak lain dengan Hanson.


"Oke gue langsung cabut Hans, Dev," pamit Sammuel di iringi lambaian tangannya.


Hanson membalas dengan melambaikan tangannya sebagai jawaban, sedang Devand menatap lekat wajah Tara yang sudah di rindukannya selama beberapa hari ke belakang itu.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2