Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 122


__ADS_3

Malam minggu itu masih berjalan sangat panjang sebelum tuntas mengisahkan asmara ke tiga pasang insan yang mulai membuka hatinya meski di antaranya masih ada yang belum mengakuinya.


Keadaan Fiona kini telah berselonjor kaki di atas sofa yang terdapat di ruang keluarga kediaman Jackson, di temani sebuah majalah fashion tengah menjadi sasaran pelepas kesedihannya.


"Lo ga laper apa?" Jackson yang sudah membersihkan diri kini mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang berada Fiona di sana.


"Lumayan sih," ucap Fiona tanpa mengalihkan pandangannya yang memusat pada majalah fashion yang berada dalam genggamannya.


"Mau ngemil?" Jackson mengusap-ngusap rambutnya yang masih basah itu, menghempas sisa air dari sana membuat ujung mata Fiona berpusat pada wajahnya.


"Pengen steak." Kini majalah itu di hempaskan dari pandangannya berganti pada wajah pria di hadapannya yang terlihat lebih sensual dengan rambutnya yang masih basah serta bentuknya yang kurang rapih.


"Busyet! Lo makan steak jam segini, ga takut body lo melar apa?" ujar Jackson mencibir seraya bangkit dari duduknya untuk menghindari tatapan itu.


Deg.. Deg..


Jantung Fiona mulai berdetak di luar aturan melihat gerakan kikuk pria yang sudah melangkahkan kakinya di hadapannya, ia mengira jika pria itu telah memiliki ketertarikan terhadap dirinya.


"Lo ga tau gue ga makan seharian gara-gara mikirin rencana si*lan lo itu?" sewot Fiona seraya meraih kembali majalahnya, menutup pandangannya dengan majalah itu.


"Ya ngapain juga di pikirin?" Jackson melengos kikuk tak lantas melangkahkan kakinya tanpa pamit.


Fiona hanya membiarkannya, memang keinginannya menjauh dari sang pria untuk meredakan jantungnya yang berdegup kencang entah karna ia menyukai paras tampan itu atau merasa tersentuh dengan perlakuan pria yang selalu di dambanya itu, lantas ia kembali menatap majalahnya.


Bermenit kemudian Jackson kembali menghampirinya dengan menggenggam sebuah mangkuk aluminium foil berisikan spageti di dalamnya, lantas ia pun mendaratkan tubuhnya pada tempat semula dan membuka tutup mangkuk itu.


"Malem malem gini ga ada steak, koki gue juga udah pada tidur." Dan menyerahkan mangkuk itu pada Fiona.


"Taro dulu lah, nanggung,” balas Fiona seolah mengabaikannya kala ia masih memusatkan pandangannya pada majalahnya tanpa menerima pemberian pria itu.


Jackson segera merebut paksa majalah itu, lantas menaruh mangkuk itu di atas tangan Fiona.


"Ahhh ahhh ahhh, panas bego!" runtuk Fiona meringis menahan panas, dengan segera ia mengembalikan paksa mangkuk itu kepada Jackson.


Jackson menghembuskan napas kasarnya menanggapinya, lantas mengembalikan majalah itu pada Fiona.


Kini ia meraih garpunya dan menyodokkannya pada spageti itu, di ulurkannya garpu berisi spageti itu pada mulut Fiona.


"Duduk yang bener biar gampang gue nyuapinnya,” ujar Jackson memberi perintah.


Meski berdecak menutupi perasaan tidak karuannya, Fiona melakukan apa yang di katakan Jackson.


Setelah mendapat posisi nyamannya, Jackson segera memberikan suapan itu.


"Soal saham lo, tar gue yang cabut,” seru Jackson.


Fiona segera menelan santapan yang tengah di gigitnya agar ucapannya terdengar jelas lawan bicaranya. "Ga usah lah, tar keliatan kaya gue manfaatin dia."


"Nanggung lo di cap jelek mending jelek sekalian,” sahut Jackson berseru paksa di sela kegiatannya yang tak henti menyuapi wanita yang duduk di sampingnya itu.


"Udahlah Jack ga usah!" tepis Fiona berprotes tertahan kala ia kembali menerima suapan dari pria tampan itu seraya meresapi perlakuan hangatnya.


"Lo masih sayang sama dia?" ujar Jackson penuh ledekan, namun nadanya terdengar melirih bagi Fiona.


"Tiha helas haun hue__"


Trak!


Jackson menepuk gemas kening Fiona mendengar ucapan tidak jelas itu. "Telen dulu makanannya, gue ga ngerti lo ngomong apa."


Segera Fionapun menelannya. "Tiga belas taun gue ngejar dia, ga mungkin kan bisa cepet gue lupain dia?"


"Lebay!" sahut Jackson berseru sewot dalam ledekannya di iringi tawa kecilnya seraya menyidukkan kembali garpunya lantas memberikan isinya pada mulut Fiona.

__ADS_1


Sejenak Fiona menatap kagum wajah tampan yang tengah memaparkan pesonanya itu, namun membuat Jackson belingsatan menghindari pandangannya.


"Lo sendiri bisa lupain si Tara ga?" seru Fiona.


Jackson mengangguk dalam wajahnya yang tertunduk. "Bener juga, susah!" sahutnya meledek pada dirinya sendiri dalam gelengan kepalanya. "Iya juga gue bilang di bibir mau lepasin dia buat ade gue, tapi hati gue ga bisa bohong."


"Lo malah lebih lebay dari gue!" sindir Fiona penuh tekanan ledek lantas menggulung majalah itu, memukulkannya pada bahu pria yang kini membalas tatapannya.


Sejenak Jackson tertegun menyadari keadaannya. "Ah lo bang*e, makan sendiri nih udah dingin mangkoknya." Lantas ia menyerahkan paksa mangkuk itu.


Fiona terkekeh menyikapinya tak ayal meraih mangkuk itu setelah menghempas majalahnya dari tangannya. "Gue ga nyuruh lo kan?"


Jackson mengabaikannya kala ia meraih bungkusan rokok dari dalam kantong celana kulot selututnya, mencari pelampiasan perasaannya yang tidak karuannya saat ini. "Senin lo masih belom mau gawe?"


"Ga dulu deh!” ujar Fiona berucap tegas hingga memenggal kalimatnya kala ia melakukan suapan terakhirnya. "Lo bisa bikin surat pembatalan tunangan gue kan?"


"Si Kelvin paling," sahut Jackson berucap seolah tak acuh dengan santainya.


Ia menghisap rokoknya dengan gaya dinginnya, namun pada kenyataannya batinnya masih merancu pedih.


"Oke bikinin gih! Senin lo kasih dia biar gue bisa bebas gawe lagi kalo udah kelar," sahut Fiona di sela kegiatan tangannya yang mengusap mulutnya dengan tisyu yang tersedia membuat Jackson meliriknya dengan tatapan gemasnya.


"Butuh tanda tangan lo kan, senin kalo baru di bikin palingan selasa gue anter ke apartement lo." Kembali Jackson menghisap rokoknya dengan gaya santainya namun bagi Fiona terlihat lebih mengagumkan.


"Dodol lo ngusir gue secara ga langsung apa?" protes Fiona bersungut hingga bangkit dari duduknya dengan gaya kasarnya.


"Mana gue tau lo mau tinggal di sini berapa lama, kali aja lo risih tinggal lama-lama di tempat cowo kaya gue." Jackson mendongkak menatap Fiona yang berdiri di sana seolah menahan kepergiannya.


"Gue ga takut, gue yakin lo ga akan ngapa-ngapain gue." Tanpa acuh Fiona beranjak melangkahkan kakinya tanpa pamit mengabaikan tatapan harapan dari pria itu.


Jackson turut bangkit hingga membuntuti langkah Fiona seolah enggan kehilangan wanita itu. "Iya lah! Cewe model begini ga akan bikin gue terangsang,” ujarnya mencibir membuat wanita yang berjalan beriringan dengannya mendengus kesal.


"Jelas ga akan terangsang kalo lo tiap hari keluyuran menclok cewe sini menclok cewe sana," cibir Fiona tidak mau kalah.


"Tau aja lo,” gurau Jackson yang sesungguhnya perkataan Fiona tidak benar adanya.


Semua itu dusta, berbalik dengan keadaannya yang tidak pernah sama sekali melakukan hal itu.


"Lo rusak anak orang cuma nyari pelampiasan dari si Tara kan?" ujar Fiona.


Fiona membuka kulkas itu lantas mengambil dua botol minuman soda dari dalamnya, salah satunya ia lemparkan kepada pria yang berdiri di sampingnya.


Percayalah, bukan hanya Jackson yang mencari pelampiasan untuk perasaannya yang merancu, Fionapun tak lain dengannya.


"Biar bisa lepasin dia, gue rela ancurin badan gue,” seru Jackson.


"Sadis!" Fiona mencibir pedih lantas membuka botol yang berada pada genggamannya seraya kembali melangkahkan kakinya.


"Kalo ga gitu mana bisa gue lepasin dia?" sahut Jackson kian membuat Fiona melirih perih hingga meneguk minumannya perlahan, agar dapat melepas kerancuan hatinya.


Sesungguhnya Fiona cemburu mendengar hal itu, namun ia menahannya sekuat tenaga mengingat sipakah dirinya bagi pria yang kini telah meneguk habis minuman bersodanya dari dalam tempatnya.


"Denger-denger bokap gue mau jodoin lo sama gue?" ucap Fiona.


"Jangan bilang lo yang minta sama bokap lo," ujar Jackson menerka.


"Najis gue yang minta, tapi gue setuju!” sahut Fiona cengengesan dalam tawa kecilnya berbalas gelengan kepala dari pria yang telah berjalan beriringan dengannya.


"Sinting juga lo!"


"Kenapa, cuma gue yang bisa ngerti lo, lo bisa dapet saham sama tunangan tanpa lo lepas perasaan lo sama cewe lo." Akhirnya Fiona berhasil kembali berselonjor kaki di atas sofa semula. "Asal lo juga bebasin gue buat tetep suka sama si Hans." imbuhnya meminta.


"Lo mau hati lo tambah ancur apa?" protes Jackson berucap melenting.

__ADS_1


Namun tangannya berhasil meraih kedua kaki wanita itu, lantas ia duduk merekat dari keadaan Fiona, kaki itu di simpannya di atas pahanya.


"Lebih ancur kalo gue ga dapet pelampiasan, dari pada gue kaya lo keluyuran nemplok cowo sana sini." balas Fiona melengos, akhirnya ia merebahkan kepalanya pada tangan sofa itu, meresapi kedua kakinya di sana.


"Lo mau ngikutin cara gue apa?" ujar Jackson di sela tatapan sadisnya menuju wajah Fiona.


Entah mengapa Jackson merasa keberatan jika wanita yang tidak pernah di inginkan hatinya melakukan hal buruk yang di perbincangkannya.


"Tadinya sih mau gitu, pikir-pikir dari pada lo keluyuran gue keluyuran, mending kita saling ngelampiasin."


Jackson terkekeh masih dalam tatapan sadisnya. "Baru gue nemuin cewe bandel kaya gini."


"Udah nanggung gue breng*ek, itu juga gara-gara rencana aneh lo, lo harus tanggung jawab nebus kesalahan lo." Tak kuasa menahan batinnya, Fiona bangkit menumpukan kepalanya pada bahu pria yang telah menatapnya penuh kejut.


"Tunggu sampe gue yakinin hubungan si Sam sama si Tara dulu deh." Jackson melirik wajah itu dalam tatapan lirihannya, menyambut perkataannya yang sesungguhnya enggan terucap dari mulutnya.


"Setuju!" Fiona membalas tatapan itu dengan tatapan riangnya.


Jackson gemas melihat senyuman manis itu hingga ia mengucek rambut hitam milik wanita yang masih menatapnya penuh kagum di sampingnya. "Lo mending istirahat gih."


"Ogah!"


"Jangan bandel monyong!" tepis Jackson memaksa, lantas meraih tubuh Fiona dalam pangkuannya.


"Jack lo pemaksa banget." Meski kalimatnya menyenggal, namun tubuhnya menyetujuinya dengan mengalungkan tangannya pada leher sang pria.


Sungguh perlakuan ini membuat hatinya menghangat, bertahun ia menantikannya dari lelaki idamannya, ini kali pertamanya mendapatkannya meski bukan dari orang yang di inginkannya, namun tetap ia dapat menerima ketulusan itu.


Akhirnya Jackson pun menghempas keras tubuh ramping itu ke atas tempat tidur yang tersedia di dalam kamar tamunya, membuat tubuh Fiona mendarat dengan gaya anehnya.


"Dodol lo!" sewot Fiona bersungut-sungut seraya beringsut merubah posisi tubuhnya.


"Molor! Ga usah mikirin si Hans kalo emang lo udah yakin mau putusin hubungan lo,” ucap Jackson sebagai salam perpisahan tak lantas ia memutar tubuhnya memunggungi wanita yang telah mengerucutkan bibirnya di sana.


"Asal lo terima tawaran gue, gue bisa ngorok malem ini."


"Udah gue jawab kan?" sahut Jackson di iringi lirikan matanya sejenak menuju wajah Fiona dalam tubuhnya yang masih membelakanginya. "Tunggu gue pastiin dulu hubungan ade gue."


"Oke!" Fiona mengangguk lantas melambaikan tangannya.


"Gue ada di kamar utama lantai dua, kalo ada apa-apa lo panggil gue aja, gue ga akan kunci pintunya."


"Jack."


"Nanti monyong bukan sekarang!" ucap Jackson berseru teguh kala ia mulai mengayunkan kakinya.


"Jack."


"Lawakan lo lumayan menjijikan juga." Jackson sebal hingga menghentikan langkahnya sejenak tak lantas menatap dendam wajah anggun yang tersenyum di sana.


"Jackson Jordan Charington."


Jackson kian geram dengan lelucon itu, ia memutar tubuhnya sesegera mungkin. "Gue bilang nanti."


"Good night." Tawa ledek itu meluncur dari mulut Fiona membuat Jackson menggelengkan kepalanya dalam tawa kecilnya.


Lantas Jackson melanjutkan langkahnya untuk menggapai tujuan awalnya meninggalkan wanita yang masih terlihat riang di sana.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2