
Triana sudah tidak canggung lagi dengan keadaan rumah yang menjadi tempat tinggal barunya, setelah berhari-hari ia menilik keadaan setempat, kini ia mulai memahami letak ruang serta kebiasaan tuan rumah di sana.
Udara dingin di hari yang baru saja datang menyambut malam itu, Triana sengaja menyajikan dua cangkir kopi hangat untuk dirinya serta sang pemilik rumah.
Kini ia telah berjalan menyusuri lantai berbalut marmer itu setelah usai mempersiapkan jamuannya, tepat kala ia tiba di dalam ruang tamu kedua di sana ia tersenyum manja melihat sang tuan rumah telah duduk pada sofa yang terdapat di sana.
Ia pun segera menghampirinya tidak lupa menaruh dua cangkir kopi itu di atas meja yang tersedia, seusainya ia duduk di samping pria yang telah sibuk menatap lembaran kertas yang berada pada genggamannya.
"Apa itu Hans?" tanya Triana seraya menunjuk lembar kertas yang masih di genggam pria di sampingnya.
Hanson mengarahkan pandangannya ke samping kirinya di mana Triana duduk di sana. "Rancangan pernikahan kita, aku pengennya istri si Sam yang atur semua."
"Istri Sammuel?" ulang Triana terheran-heran.
Selintas terbersit pada ingatan Triana tentang seorang istri yang di sebutkan calon suaminya saat dahulu kala Sammuel sempat mengatakannya kepadanya, namun yang menjadi pertanyaannya adalah siapakah wanita yang di sebutkan pria yang masih menatapnya di sampingnya.
"Yah istri dia, Tara!" sahut Hanson membuat kelopak mata calon istrinya terbuka lebar.
Sungguh Triana terkejut di buatnya, ia tidak mengira jika sahabat karibnya adalah istri dari pria yang sempat menjadi pujaan hatinya 12 tahun silam.
"Oh jadi dia istrinya adik kamu itu," ujar Triana di sela anggukan kepalanya kala sang otak memahami sesuatu.
Begitupun dengan Hanson, ia menganggukkan kepalanya sebagai sambutan dari ucapan calon istrinya saat lalu lantas mengalihkan pandangannya pada lembar kertas yang masih berada pada genggamannya.
"Tunggu!" senggal Triana saat menyadari sesuatu yang membuatnya merasa heran hingga ia menarik tubuh sang pria dengan sebelah tangannya agar pria itu nenatapnya. "Pernikahan kita itu apa maksudnya?"
"Bukannya kamu yang mau jadi istri aku?" sahut Hanson di iringi rasa cemasnya yang mulai bergejolak di dalam kalbunya.
Hanson takut jika wanita yang telah memaparkan senyuman manis untuknya itu akan mengingkari janjinya.
"Maaf Hans, aku mau mama aku yang jadi saksi pernikahan kita, apa kamu bisa nunggu sampe beliau sadar dari komanya?" pinta Triana merajuk dalam lirihan nada bicaranya membuat pria di sampingnya mengulurkan tangannya untuk mengusap tempurung otaknya.
"Oke kalo gitu, gimana kalo kita tunangan dulu?" tanya Hanson penuh waspada tat kala rasa takut berseru jika wanita itu akan tersinggung dengan ucapannya.
"Kenapa harus tunangan, kamu ga takut uang kamu habis sia-sia?"
"Ga ada yang sia-sia demi mencapai yang aku mau," sahut Hanson membuat wanita di sampingnya memicingkan matanya pertanda ia tidak memahami maksud dari ucapannya. "Aku ga mau kamu lari!" imbuhnya penuh percaya diri serta ketegasan hati untuk membuktikan jika ucapannya mengandung kesungguhan di dalamnya.
"Oke kalo gitu aku terima,"
Hanson tersenyum simpul mendapat jawaban yang begitu membuat batinnya merasa puas, ia merasa lega dengan keputusan itu, lantas perasaan leganya tersalurkan tat kala ia meraih cangkir kopi yang tersedia hingga menyeruput isinya perlahan.
"Buat tunangan kayanya ga bisa meriah karna ga ada persiapan sebelumnya, waktunya juga kurang kalo kita tunangan minggu depan."
"Ga apa-apa kok, aku juga ga ngarep kaya gitu," sahut Triana menghibur pria yang terlihat gelisah di sampingnya.
Hanson tersenyum membalas ungkapan itu lantas menyodorkan cangkir kopinya kepada sang wanita yang mendapat sambutan secara langsung tat kala wanita itu meraihnya tak lantas meneguk isinya hingga habis tak bersisa.
"Kamu haus apa doyan?" tanya Hanson meledek dengan tawa kecil mengiringinya.
Triana hanya mendengus sebal menanggapinya lantaran mulutnya terbungkam punggung tangannya yang menghapus sisa kopi pada bibirnya.
"Oh ya Hans, kamu yakin mantan kamu ga akan ngejar kamu lagi?" tanya Triana cemas.
"Aku ga yakin soal itu, tapi kayanya engga deh, soalnya dia kan mau nikah sama si Jack, cuma buat jaga-jaga kita harus tunangan."
Triana membungkam mulutnya saat batinnya meronta mengumandangkan pertimbangannya setelah memahami maksud dari calon suaminya itu, ia membenarkan ucapan itu jika wanita seperti Fiona tidak akan gentar untuk merebut calon suaminya dari tangannya.
Sedikit banyak Triana kini memahami perilaku serta sipat dan sikap wanita itu dari apa yang telah di lihatnya setiap harinya kala ia bekerja satu ruangan dengan wanita itu.
__ADS_1
"Kenapa diem?" tanya Hanson setelah satu menit ia menunggu calon istrinya untuk kembali berucap namun tak kunjung ia mendengarnya.
Triana terperanjat saat menghentikan paksa lamunannya. "A-aku ikut kamu aja."
Hanson merasa gemas dengan tingkah kikuk yang terlihat jelas dari wajah calon istrinya yang tertunduk itu, hingga pada akhirnya ia menarik wajah sang winita agar menatapnya lantas mengecup sekilas bibirnya yang membuat empunya mendengus di iringi umpatan di dalam batinnya.
Triana sebal dengan perlakuan yang telah membuat dirinya menjadi salah tingkah itu bahkan membuat wajahnya terasa panas hingga meluncurkan peluk kecil di atas permukaan kulit dahinya.
"Soal si Tara, nanti aku yang ngomong sama dia aja," pinta Triana berseru malu saat wajahnya masih terasa merona saat itu.
Hanson kembali gemas melihat tingkah kikuk itu hingga ia menarik lembut tungkak kepala wanitanya lantas mengecup keningnya hingga membenamkan sejenak bibirnya di sana.
Sementara Triana hanya terpaku merasakan helaan napas dari hidung mancung yang turut melekat pada keningnya itu membuat angannya melambung tinggi mendapat perlakuan hangat yang selalu di nantinya itu.
Setelah merasa puas, Hanson pun melepas bibirnya dari sana lantas menatap mata indah yang memancarkan aura manisnya di sana.
"Kayanya buat pertunangan kita ga usah repotin dia, kasian dia banyak tender yang harus di urus," ujar Hanson di balas anggukan ringan oleh wanita yang masih meresapi tatapan tajamnya.
"Sebanyak itu kah kerjaan yang dia urus?" Triana tersenyum kala bayangannya menelusup imajinasi mengenai sahabatnya, ia tidak menyangkal jika sang sahabat akan mampu menangani pekerjaannya.
"Lumayan."
"Dia emang pinter, pantes kamu sampe suka banget sama dia," puji Triana di sela senyuman kagumnya yang tertuju untuk sahabatnya.
"Sayangnya si Sam masih ga bisa bertindak lebih lanjut," ujar Hanson berseru sesal yang terdengar oleh wanita di sampingnya dari nada bicaranya yang melemah serta helaan napas rancunya.
Triana cemburu akan hal itu, namun ia tidak mampu berbuat lebih selain meyakinkan sang hati jika calon suaminya tidak akan berpaling kepada wanita itu.
"Aku bantu kamu biar cewe kesayangan kamu ga sakit hati, aku akan bilang sama adik kamu_"
"Ga usah!" tepis Hanson berucap tegas membuat calon istrinya terkejut di sana hingga sang wanita tertunduk kaku merasa sesal jika dirinya telah salah mengatakan sesuatu.
"Aku rasa sahabat kamu bisa atasi sendiri, jadi kamu ga usah repot ngurusin mereka urus aja calon suami kamu ini biar makin sayang sama kamu." Hanson menghibur dengan gaya kalemnya namun berhasil membuat wanita di sampingnya menyiratkan tawa kecilnya.
"Aku cuma mau kasih motifasi buat dia aja kok."
"Kalo mau gitu bukan sama dia, tapi sama suaminya," seru Hanson di iringi tawa kecilnya mengingat jika adiknya lah yang selalu membuat wanita itu mengalami derita batinnya.
Triana mengangguk faham bahkan tersenyum ledek menanggapi ucapan itu. "Bener juga, aku nyerah kalo harus bujuk cowo kaya dia, itu sih urusan kamu."
"Kenapa nyerah, apa karna pernah di tolak?" Hanson meledek membuat calon istrinya menatapnya penuh murka tak lantas menepuk keras lengannya.
Namun Hanson membalasnya dengan tawa kecilnya yang menggoda hingga membuat wanita yang akan mengumpatinya mengurungkan niatnya.
"Tau aja!" ujar Triana malu-malu saat kenyataan mengatakan memang demikian adanya hingga membuatnya menalingkan arah pandangnya menuju sampingnya.
Hanson merasa kehilangan dengan tatapan yang berpaling itu membuat sang hati menginginkannya kembali, lantas ia pun meraih wajah jelita itu dengan lembutnya agar menatapnya kembali.
"Aku serius nanya sama kamu, bener kan kamu sempet suka sama dia sampe minta tunangan sama dia?" tanya Hanson tanpa menghentikan tatapan tajamnya yang masih terkunci pada wajah jelita yang telah memerah itu.
"A-aku emang minta tunangan sama dia, tapi bukan karna aku suka dia, kamu sendiri udah tau ceritanya kalo aku mau tunangan sama dia karna di suruh papa aku biar dia bisa dapet saham dari Zhanaz." Triana menjabarkan alasannya yang sesungguhnya calon suaminya telah mengetahuinya.
Rupanya Triana keliru mengartikan pertanyaan calon suaminya yang sesungguhnya Hanson hanya ingin mengetahui hati sang wanita itu telah menjadi milik siapa.
"Jadi maksudnya kamu ga suka sama dia?" tanya Hanson penasaran hingga mengulangnya.
Triana hanya menggangguk manja menjawab pertanyaan itu kala rasa malu menyentuh angannya hingga membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
Sementara Hanson tersenyum penuh kemanangan mendengar jawaban itu meski hatinya masih tidak sepenuhnya mempercayai jika wanita yang kini belingsatan di sana telah tulus mencintainya.
__ADS_1
"Kamu sadar ga sayang, kita hidup kaya kebetulan gini, padahal memang udah ada yang atur dari awalnya," seru Hanson mencari bahan perbincangan untuk menepis gerakan kikuk calon istrinya.
Benar adanya, Triana mengangkat wajahnya untuk menatap wajah tampan yang telah tersenyum kepadanya itu, lantas dengan senang hati ia pun membalas senyuman itu.
"Emang hidup kan udah ada yang ngatur, kecuali kalo kamu ga punya Tuhan." Triana membalas lelucon sang pujaan hati, tidak di pungkirinya jika ia pun ingin menepis rasa canggungnya.
"Jangan ngomongin Tuhan dulu sebelum Dia bisa bikin kamu jadi milik aku sepenuhnya." Dalam kalimatnya, Hanson menjepit dagu lancip milik calon istrinya dengan dua jari tangan kanannya, lantas menariknya agar ia mampu menyorot tajam mata indahnya.
"Kan udah mau tunangan."
Triana terperosok ke dalam lembah rayuan pria itu, ia terpaku bahkan jantungnya seolah meloncat dari dalam sarangnya yang kembali lagi perlakuan hangat memicunya untuk mendobrak cinta kasih dari dalam hatinya.
Tatapan mereka telah terkunci di sana tanpa ada yang ingin mengakhirinya dengan sengaja, hingga pada akhirnya Triana mengalah kala batinnya sudah merasa jika ia melakukan kegiatannya lebih lama lagi maka ia tidak akan mampu mengendalikan jantung serta wajahnya.
"Aku beruntung bukan?" tanya Hanson tat kala ia melepas jepitan jemarinya pada dagu itu.
"Untuk?"
"Untung aja ketemu kamu tepat waktu sebelum aku bener-bener jatuh hati sama sahabat kamu, bisa repot kalo aku terlibat sama hubungan mereka."
"Yang aku khawatirin bukan itu Hans, tapi mama nya Tara." Sejenak Triana tertegun kala terbersit dalam ingatannya kisah tentang sahabatnya.
Triana mengetahui kisah cerita sahabatnya mengenai orang tuanya serta seorang pria yang memiliki paras serupa dengan Jackson meski tidak sepenuhnya mengetahui kisah sesungguhnya lantaran sang sahabat yang masih saja menutup dirinya.
Maka dari itu, Triana belum mengetahui jika sahabatnya telah memiliki seorang buah hati meski ia masih berusaha mempertanyakan tentang wajah yang serupa itu terhadap sahabatnya, namun hingga kini ia belum mendapat jawabannya.
"Kalo buat mamanya dia aku izinin kamu yang ngurus," seru Hanson membuyarkan lamunan calon istrinya tanpa jeda.
"Abang kamu pasti udah ngambil alih duluan," sahut Triana Berbalas tawa kecil serta anggukan faham dari Hanson.
"Aku lupa masih ada si brengs*k itu, brengs*k juga lumayan pinter juga kan dia?"
Triana tertawa kecil menyikapinya lantas menggelengkan kepalanya tidak percaya jika calon suaminya akan mengumpati kakaknya sendiri di hadapannya.
"Hans.." Triana memanggil hanya untuk menyela ucapannya yang di rasanya masih ragu untuk mengungkapnya.
Beberapa detik berlalu, Hanson masih menunggu kelanjutan kalimat itu dalam kerutan dahinya yang begitu jelas terlihat Triana. "Kenapa?"
"Seandainya kamu ga dapet kerjaan buat selidiki kasus mama aku, apa kita masih akan ketemu?"
"Kalo udah jodoh mau lari ke manapun pasti akan kembali lagi," jawab Hanson menenangkan wajah wanita yang melirih di hadapannya hingga membuat rasa iba menyentuh kalbunya.
"Kamu yakin kita ngejodoh?"
Hanson hanya mengangguk antusias sebagai jawabannya di sertai usapan telapak tangannya pada tempurung otak wanitanya.
"Aku sih ga yakin," imbuh Triana menghibur diri yang sesungguhnya ia merasakan jika tebakannya tidak salah sama sekali kala sang hati merestuinya.
Hanson terhibur dengan ucapan yang sesungguhnya ingin sekali di timpalinya itu, namun mendengar nada bicaranya yang meledek ia hanya tertawa kecil membalasnya.
Lantas mengingat hari telah larut, tanpa kata Hanson bangkit berdiri untuk membawa tubuh wanita itu dalam pangkuannya hingga mengantarkannya ke dalam ruang tempat tidurnya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1