
Detik berlalu, meninggalkan kenangan pilu yang membuat langkahnya semakin ragu, satu minggu sudah berlalu, hingga kini Tara tidak mendapati kehadiran sang suami di dalam kediamannya.
Merasa bersalah atas tingkahnya, ia hanya mampu mengurung diri di dalam tempat tidurnya, hanya saat ia merasakan kekosongan perutnya ia akan keluar ruangan untuk mencari santapan.
Rasanya sunyi dan suram, apalagi kepergian lelaki itu bukan tanpa alasan, hal itulah yang malah makin membebani perasaan dan pikirannya. Rasanya sudah sangat lama kepergian suaminya dan dalam waktu bersamaan pula jika ia merasa bahwa kejadian waktu itu terasa bagaikan kemarin, suara pria itu, pertanyaan-pertanyaan itu, bahkan bekas ciuman juga kepergiannya masih terasa dan basah dalam dirinya.
Kini rasa bersalah telah berubah menjadi sebuah emosi lantaran ia tidak mengetahui nomor ponsel milik suaminya.
Tidak pernah terpikir olehnya bahwa kejadian naas seperti ini akan menimpanya hingga ia melupakan untuk bertanya tentang nomor milik Sammuel. Miris rasanya, rumah tangga macam apa ini? Di era modern seperti ini, bahkan seorang yang baru pertama kali bertemu sudah biasa jika saling tukar nomor ponsel, jauh dari itu, orang-orang yang sama sekali tak pernah bertemu dan terpisah oleh jarak –seperti teman media sosial, biasanya saling bertukar nomor. Tapi mereka?
Ingin rasanya ia menemuinya ke tempat di mana suaminya bekerja, namun ia enggan menerima akibatnya yang kemungkinan akan lebih buruk dari sebelumnya. Bisa saja dia membawa masalah ke dalam pekerjaan.
Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kediamannya, berharap dapat bertemu secara tidak sengaja dengan suaminya. Siapa tahu jika pria itu sering berkeliaran di daerah sini, meski itu hanya harapan dan angan-angan saja. Tapi siapa yang tahu?
Dan. Harapan itu tak lama lagi akan langsung terkabulkan.
Sebuah pusat perbelanjaan yang terletak tidak jauh dari tempat ia tinggal menjadi sasaran utama baginya. Dengan sengaja ia berkeliling di sekitar hingga berpapasan dengan seorang lintah darat yang masih berhubungan dengannya. Dari sekian banyak orang yang ada di negara ini, di kota ini, kenapa dia masih saja bertemu dengan orang-orang yang memiliki masalah dengannya? Memilki urusan yang merepotkan baginya? Dunia ini memang sangat sempit.
Entah karena kebiasaan atau sikap pengecutnya yang akan selalu melarikan diri ketika melihat orang yang ditakutinya. Untung saja jarak mereka tak terlalu dekat dan Tara berharap jika orang itu belum sempat melihat dirinya. Ini kebetulan yang membuat kesal.
Tara melarikan diri bukan ia belum mampu untuk melunasinya, namun hubungan ia dengan sang pemberi uang tersebut tengah mendapat sebuah musibah hingga ia ingin menyelesaikannya terlebih dahulu, setelah itu usai ia pun akan bertindak lebih lanjut untuk urusan piutangnya.
Dalam pertengahan langkahnya, dering ponselnya berkumandang dari dalam tas selempang yang dia kenakan. Maka langkahnya segera terhenti.
Ia pun meraihnya, ketika melihat sebuah nomor tanpa nama tertera di balik layar benda itu, dengan ragu ia pun menjawabnya.
"Siapa?" tanyanya penuh kekhawatiran, ia merasa khawatir jika saja lintah darat tadi yang menghubunginya.
"Hai, Tara.” Suara berat sang pria menjawab sapaan Tara.
"Kamu ternyata." Ucapannya lega dengan sebelah tangannya mengusap dadanya, ia kenal dengan suara ini.
“Iya, kenapa? Kamu harap siapa emangnya?”
“Enggak, aku kira ....” Tara sengaja menggantungkan kalimatnya, dari sekian banyak yang memerlukan kontaknya dan ingin menghubunginya, sebagian besar dan hampir semua penelepon itu pasti memerlukan dana, makanya ia bersikap hati-hati.
__ADS_1
“Siapa?”
“Bukan apa-apa kok, ada apa?”
“Sesuai janjimu aku minta darah anakmu.”
“Kamu udah minta izin mantan kamu?" tanyanya.
"Hmm. Sayangnya dia ga percaya sebelum bilang sama mamanya anak itu." Sejenak hening melanda. "Jas, kamu mau ngomong langsung?" tanya suara itu, jelas di seberang sana tak hanya ada satu orang, ada orang lain yang kemungkinannya menyimak percakapan.
Tara terdiam, menunggu ucapan selanjutnya dari lawan bicaranya.
"Kamu di mana sekarang?" Suara Jasmeen di balik alat media milik Tara membuatnya tersenyum lebar.
"Aku ada urusan, kayaknya selama beberapa bulan ke depan ga bisa dulu ketemu Alev."
"Oke, itu udah biasa bukan?" balasnya penuh ledekan.
"Ya, aku emang ibu yang kurang baik." Dia mengakui sendiri, sama sekali tak menyangkal atau membela diri, mungkin saja ia memang sadar diri dengan perbuatannya.
"Ya," ucapnya yang sesungguhnya masih menimbang-nimbang. "Kamu pastiin dia ga bocorin siapa ayahnya Alev."
"Ra, kalo kamu takut, kamu ga usah lakuin itu, aku udah cukup bahagia kok dengan adanya Alev di sini, ga usah bela-belain aku."
"Udahlah, jangan bikin aku jadi penjahat. Kamu ga bisa ketemu anak kamu gara-gara kami." Tara menggeleng tidak percaya. Namun memang begitu kenyataannya, kekasih Jasmeen memutuskan hubungannya lantaran sebuah kesalahpahaman yang mengira Jasmeen mengelabuinya dengan menyembunyikan seorang anak yang begitu mirip dengan adiknya.
“Tapi kayaknya kamu beruntung. Ra, dia minta tes DNA-nya sama darah kamu bukan sama darah ayah...."
"Jas, sorry, aku sibuk." Tara menyela dan sepihak ia mengakhiri panggilannya ketika ia melihat sang lintah darat kembali mengelebat di hadapannya. Apakah orang itu tidak punya tempat lain yang ingin dituju, selain berhadapan dengannya? Menyebalkan sekali rasanya.
Tanpa ragu, ia pun kembali melarikan diri. Di tengah langkahnya ia menabrak seseorang hingga tubuhnya terjatuh merengkuh di hadapan orang tersebut. Hal ini sering terjadi jika seseorang sedang panik, perhatiannya pasti teralihkan.
"Kakak ga apa-apa?" Suara imut sang wanita yang telah ditabrak Tara melantun dengan nada khawatirnya. "Apa ada yang luka?" Sang wanita mengulurkan tangannya memberikan bantuan terhadap Tara.
Tara pun meraih tangan itu dengan sebuah senyuman mengiringinya, menerima bantuan tulus itu. "Aku ga apa-apa, makasih." Ia membalas sambio menggeleng singkat.
__ADS_1
"Tapi kaki kakak terluka," ucap sang wanita seraya melirik dengkul Tara yang lebam.
Entah mengapa hari ini Tara mengenakan pakaian dress di atas lututnya karena pergi menggunakan kendaraan roda empat suaminya hingga kejadian naas itu memberikan sedikit goresan pada kulit tumitnya.
"Ga apa-apa kok, cuma luka dikit." Tara kembali tersenyum lantas menepuk-nepuk ujung dress hitamnya.
"Mau ke dokter?" tawar sang gadis kembali penuh paksaan.
"Beneran, aku ga apa-apa kok." Tara menolak dengan tegasnya.
"Ada apa ini, Shel?" Suara berat nan sarat seorang pria yang tampak tidak asing bagi Tara terdengar dari arah belakangnya.
Tara menolehkan arah pandangnya menuju suara sang pria berasal, senyuman lebar terukir dari wajahnya melihat sang suami tengah berjalan semakin mendekatinya.
"Sam, kakak ini ga sengaja nabrak aku. Tapi dia yang terluka." Shella berlari menuju Sammuel yang langsung mendaratkan sebuah rangkulan pada tangan Sammuel. "Aku tawarin dia ke dokter tapi ga mau."
Tara tertegun melihat tingkah suaminya dengan seorang wanita di sampingnya. Bukan karena ia merasakan kecemburuan, melainkan ia mengingat perjanjian pernikahannya yang akan membiarkan kegiatan suaminya tersebut berlangsung di hadapannya tanpa ia dapat mencegahnya apalagi memarahi wanita itu.
Meski ia ingin bertemu dengan Sammuel, bukan seperti ini dan dalam keadaan begini pertemuan yang Tara harapkan, meski ini adalah perjanjian dari pernikahan mereka, Tara tetap merasakan ketidaknyamanan ketika melihat ini secara langsung. Meski begitu, dia harus melakukan apa yang sudah disepakati, lebih baik tak ambil pusing dan bersikap tak peduli terhadap apa yang pria itu lakukan.
"Kenapa lo nabrak dia?!" tukas Sammuel yang bernada ketus, irisnya menatap dingin wajah Tara.
"Ma-maaf aku ga sengaja." Tara tak percaya jika suaminya masih memendam emosi terhadapnya. "Di-dia ga terluka kan? Jadi, jadi apa aku bisa pergi?" Tara menyiratkan senyumannya menutupi kepedihannya hingga melupakan tujuan awalnya.
Sammuel merentangkan sebelah tangannya memberi persetujuan atas ucapan Tara, seolah memberi wanita itu jalan untuk lewat, jelas jika gerakan itu berupa ejekan. "Silakan."
Segera Tara melangkahkan kakinya menjauhi suaminya enggan mendapat goresan di hatinya yang semakin dalam menusuknya. Mereka benar-benar bersikap tak saling mengenal saat ini.
•
•
•
Tbc
__ADS_1