
Demi menepis kegundahan hati, di hari yang masih sangat dini Tara telah menyibukan diri. Ia menghuni ruang tempat menyajikan santapan pagi, begitu pun peralatan memasak berada dalam kendali.
"Mama." Alev berteriak sebelum menepikan langkah di hadapan sang ibu.
"Kamu terlihat cemas, Alev." Tara pun turut khawatir, sehingga menjeda kegiatannya sejenak. Ia berdiri menghadap sang anak ketika Alev menghentikan langkah kakinya.
"Aku ga mengerti sama papa." Alev sudah tidak tahan memendam informasi, sehingga tanpa basa-basi ia mengungkapnya.
"Apa yang terjadi sama papamu?"
"Barusan ... Al ga sengaja dengar perbincangan papa lewat video call." Alev menyahut sesegera mungkin, akan tetapi tatapan murka membalasnya.
"Kamu nguping pembicaraan papa?" Pekikan nada bicara mewakilkan rasa tidak percaya. Tara tidak mengira jika sang anak berani berlaku hal yang selalu menjadi larangan.
"Maafin Alev, tapi ... Al dengar sesuatu yang mengejutkan." Lirihan nada bicara tertutur diawal kalimat, akan tetapi seringai miris mengakhiri ucap kata.
"Apa itu?" tanya Tara merasa penasaran, sehingga melupakan tindak tanduk tanpa etika yang telah dilakukan anaknya.
"Papa bilang, dia mau menyerahkan mama pada Uncle Sam, dan ingin membantu kemandulan Aunty Triana."
"Triana mandul?" Sesungguhnya ucap itu tertuju untuk dirinya sendiri, akan tetapi pekikan nada bicara membuat lawan bicara mendengar dengan begitu jelas.
"Itu yang dikatakan papa, Aunty Triana udah memeriksanya sendiri." Alev menyahut disertai kejujuran, membuat ibunya menghela napas dalam.
Tara melupakan jika anak seusia Alev tidak seharusnya mendengar kisah memilukan itu.
"Baiklah ... apa lagi yang kamu dengar?" Akan tetapi, rasa penasaran masih membalut jiwanya. Sehingga Tara mengorek informasi dari apa yang didapatkan sang anak.
"Selain itu, papa bilang kalau mama masih mengharapkan Uncle Sam," ucap Alev berbalas tatapan kaku.
Tara merasa malu jika sang anak mengetahui isi hatinya, ia menyembunyikan rona kemerahan di balik wajah yang tertunduk. Hanya sesaat, wajah itu kembali terangkat untuk menyapa seorang pria yang datang menghampiri.
"Jack." Tara berucap disertai senyum ceria.
Setelah mendengar kabar bahagia dari anaknya, batin bergeming lega. Bahkan tiada ingin memikirkan yang lainnya, ia hanya berpusat pikir pada ayah si jabang bayi. Tara ingin segera bertemu dengan Sammuel, melepas rindu tanpa ada beban.
"Morning-" ucap kata balasan dari Jackson tersendat, ketika tatap mata mengikuti tubuh pria remaja yang pergi tanpa kata. "Dia kenapa?"
Tara mengembangkan senyuman, ia tau jika Alev ingin menyembunyikan kesalahan. "Biarkanlah."
Seolah menuruti ucapan itu, Jackson beranjak membawa tubuh duduk pada kursi yang tersedia. Menilik keadaan terlihat lebih hangat dari hari-hari sebelumnya, dimana kini wanita di sampingnya terlihat lebih ceria, ia pun membuka lipatan bibirnya.
"Aku akan keluar kota hari ini, pulang kerja nanti sebaiknya kamu tinggal ditempat Sammuel," kata Jackson.
__ADS_1
Tara menghela napas lega, mungkin ini lah awal dari kisah cinta sejati akan tumbuh. Ia yakin jika kepergian itu hanya untuk membuat diri mendekat dengan Sammuel. Hendaklah senyuman menyambut perbincangan, lantas tanpa keraguan ia mengatakan ....
"Baiklah."
Kembang senyum kembali tergambar dibalik wajah ceria, membuat Jackson tidak ingin memalingkan arah pandang dari wajah jelita itu. Kepuasan tidak didapati, Jackson meraih tungkak kepala itu, merekatkan jarak bibirnya dengan kening si wanita.
Cup ... Kegundahan mengakhiri kegiatan, disaat kelopak mata tertutup begitu rapat. Jackson mencari kerelaan hati, untuk melepas wanita yang menjadi bahan obsesinya.
"Aku harus pergi." Sudah tiada selera untuk menyantap hidangan di hadapan, Jackson melepas kecupan menggantikannya dengan dekapan hangat.
Tara menyambut dengan hanya berdiam diri saja, akan tetapi bola mata menyorot mata indah di hadapan.
"Art, aku tanya sekali lagi ... apa hatimu masih milih aku?" Picingan mata melepas rasa penasaran, Jackson menginginkan wanita ini mengungkap yang sesungguhnya.
"Engga, karna dia lebih menginginkan ayahnya." Tara mengusap perut ketika mengucap kata 'dia'.
Jackson mengangguk paham, kemungkinan bukan hanya bakal anaknya saja yang menginginkan hal itu, ibunya pun memiliki keinginan serupa. Jika demikian, ia meyakini bahwa wanita itu mencintai diri karena keterpaksaan saja.
Ini lah jalan untuk merelakan wanita itu pergi, Jackson berpasrah diri menghempas keegoisan demi keselamatan seluruh adiknya.
"Kejarlah keinginan dia." Telapak tangan Jackson mengusap perut itu, pertanda ucap kata tertuju pada objek yang berada dalam katanya. "Aku ingin lihat kalian bahagia, tapi ... izinkan Alev jadi milikku."
"Dengan senang hati."
Seharusnya memang demikian, sekarang tiba waktu untuk Jackson menjadi pemimpin anaknya. Namun, Jackson keliru mengartikan, seolah wanita ini ingin melepas tanggung jawab.
"Aku juga mau kamu merasakan dicintai, maka dari itu ... cari dia yang tulus mencintaimu." Tara berucap kembali, lantaran lawan bicara hanya terdiam saja.
Jackson menyahut dengan anggukan kepala, tak ayal senyum duka ia lontarkan untuk menutupi kepedihan.
***
"Mau posisi ini, hmm?" ucap Sammuel untuk wanita yang telah mengambil alih kursi kebangsaannya. Sementara ia sendiri duduk pada kursi yang terletak tepat di sampingnya.
"Ya, posisi ini paling nyaman." Tara menyahut tanpa dosa. Ia keliru mengartikan, pasalnya kedua kaki berada di atas paha Sammuel. "Bisa kah Tuan Nate memijatnya?"
"Jika Nyonya Nate bersedia menciumku." Sammuel menunjuk pipinya, akan tetapi delikan mata terlontar sebagai balasan.
"Mimpi!"
Kerucutan bibir menggemparkan rasa gemas Sammuel, tak kuasa ia menahan gejolak rasa. Tidak ada hal lain yang ingin dilakukan, ia mencumbu bibir tipis itu tanpa meminta pamit kepada sang empunya.
Tiada lain rasa bahagia menghujam perasaan, Tara menyambut kehangatan dengan gerakan lidahnya. Wajah saling merekat, hidung pun saling beradu. Deru napas menahan gairah, saling menyapu wajah di sana. Hanya sesaat kegiatan itu terhenti, disaat Tara melepas paksa bibirnya dari sentuhan mulut pria itu.
__ADS_1
"Hoekkk."
Kecepatan tindakan membawa tubuh Tara larut dalam pangkuan Sammuel, akan tetapi ketika Sammuel beranjak dari tempat, Tara menghadang dengan ucapan.
"Turunin aku, Sam." Kedua kaki Tara bergerak naik turun, ia berontak dengan anggota tubuh itu.
"Diem sayang ... atau anakku kenapa-kenapa?"
"Sam." Kelopak mata Tara terbuka lebar, memaknai ucap kata seolah menyatakan suatu rahasia itu. "Dari mana kamu tau itu?"
Kata tanya terabaikan ketika langkah Sammuel menepi di hadapan wastafel. Untuk menghindari paksaan jawaban wanita ini, ia lekas melepas tubuh dari pangkuan.
Usai isi perut tertumpah ruah, tubuh Tara kembali berada dalam pangkuan Sammuel. Membawa pada tempat semula, beserta kedua kaki tiada lain berada di atas pahanya.
"Kamu tau dari mana?" tanya Tara mengulang pertanyaan yang ingin sekali dihindari Sammuel.
Sammuel mengembangkan senyum menawan, sebelum ia mengucap kata untuk jawaban. Terbesit rasa ingin menggoda wanita ini, maka ....
"Tau soal apa?" tanya Sammuel menggiring senyum penggoda. Tidak untuk kali ini, delikan mata menyahut kata pengulur waktu itu.
"Soal yang kamu bilang tadi."
'Cepatlah katakan.' Batin Tara bergemuruh ingin segera mendapat jawaban. Tidak mungkin Jackson sengaja memberitahunya jika Sammuel tidak memaksa.
"Maaf, aku lupa kalau bumil itu sensi." Sulit rasanya Sammuel mengakhiri suasana menggemaskan itu, ia sengaja menghujam ibu dari anaknya dengan berjuta godaan.
Hormon tak stabil membuat emosi mudah meluap, Tara mengakhiri percakapan dengan membungkam mulutnya. Namun, emosi masih terpampang dari raut wajah kemerahan.
Sammuel mengerti akan hal itu, sebelum ia berkata terlebih dahulu kecupan pada bibir ia berikan. "Aku akan selalu mengetahui segala tentang kamu, istriku."
Rasa haru mencipta senyum dibalik tetesan air mata, Tara lekas merangkul leher pria itu. Mengucap syukur dengan kecupan pada bibir si pria.
"Aku masih jadi istrimu, 'kan?" Tara berkata untuk memastikan, bahwa pria itu masih menjadi miliknya.
Sammuel mengangguk paham, akan tetapi sang istri mengira tindakan itu untuk mewakilkan jawaban.
"Terima kasih."
Satu kata terucap dari dua mulut bersamaan, senyum ceria pun turut melengkapi kesungguhan. Mereka saling membungkam diri, meresapi tatap penuh cinta dari mata yang hanya berjarak satu inci saja.
•
•
__ADS_1
•
Tbc