Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 83


__ADS_3

Seperginya Jackson, perbincangan berlanjut membahas bisnis Celia yang selalu mendapat solusi dari Tara.


Hingga beberapa jam kemudian, sebelum Jackson kembali, rupanya Hanson mendapat panggilan darurat yang mengharuskannya meninggalkan waktu setempat. Iapun berpamit yang tidak di senggal sedikitpun oleh dua wanita cantik penghuni bangsal kelas atas itu.


Seperginya Hanson, Celia mulai mengungkap sebuah kisah yang di sembunyikan dari anak tiri ke empatnya. "Bener-bener deh dia keterlaluan, dia ga ke sini kan Ra?"


"Siapa? Sammuel?"


"Suami kamu." Sahutnya membuat Tara terkekeh menyembunyikan kepedihannya.


"Bener kata mami, dia anak keras kepala yang dingin."


"Sama kaya bapaknya." Senggal Celia membuat Tara menyiratkan senyum manisnya.


"Mau gimana juga dia suami kamu mih." Penggal Tara mengingatkan jika ibu mertuanya telah berkata buruk terhadap ayah mertuanya.


"Kamu bener Tara, mau gimana juga Sammuel suami kamu." Celia menimpal, membuat menantunya mengangguk dalam lirihannya.


"Yah emang bener, aku harus punya kesabaran lebih buat hadapin dia."


"Dan usaha lebih buat narik hatinya." Tutur Celia menyemangati menantunya dengan mengusap lengan menantunya itu membuat


Tara menertawakan perkataannya.


Perbincangan terpenggal kala pintu ruang terbuka itu menyerukan suara decitannya.


Celia serta Tara segera membungkam diri ketika melihat sosok Jackson di balik pintu ruang itu telah melangkah dalam kebahagiaannya membawa seikat bunga alstroemeria berkolaborasi dengan baby breath putih serta mawar ungu yang tertata rapih di dalam bungkusan plastik bening.


Ia menyerahkan bunga itu kepada Tara yang di sambut Tara dengan senyuman palsunya. Hanya Celia yang dapat melihat kepalsuan dari senyuman itu.

__ADS_1


"Mih tau ga, ada cewe yang bilang dia pengen alay-alayan di tembak cinta sama cowonya?" Jackson menyeleneh, lantas duduk di samping kanan Tara membuat wanita itu dengan mudah menepuk lengannya.


"Aku pergi deh, ga mau banget lihat yang begituan." Cibir Celia faham dengan keadaannya jika wanita yang duduk di atas ranjang pasien itu akan melakukan tugas dari suaminya. Tanpa ragu ia bangkit berdiri di tempat. Sesungguhnya ia melirih memikirkan hati anak tirinya yang lain. Namun apalah daya, bukan Jackson atau Tara yang bersalah di sini, melainkan Sammuel sendiri.


"Bagus kalau ngerti." Balas Jackson tak kalah mencibir dengan ledekannya di sertai kekehan di akhir kalimatnya.


Celia mengabaikan cibiran itu, ia mulai mengayunkan kakinya. "Good luck deh." Lantas melambaikan tangannya meski tubuhnya telah membelakangi sepasang insan yang sedang berjuang memperebutkan hati pasangannya di sana.


Sudah tidak sanggup Jackson menahan angannya yang selalu ingin mendekap erat tubuh wanita itu. Hingga setelah Celia menghilang di balik pintu, Jackson segera membawa Tara dalam dekapannya.


Sedang Tara melirik tajam bucket bunga yang masih berada pada genggamannya membuat Jackson tersenyum menyertai kemenangannya.


Seandainya Jackson mengetahui bahwa Tara melirih melihat bucket itu lantaran ia merasa bersalah terhadapnya saat ini, apakah Jackson akan memaafkannya setelah mengetahui kisah sesungguhnya?


"Art, kamu tau arti bunga Alstroemeria itu?" Tanya Jackson menyemburkan nada lembutnya yang baru pertama kali terdengar oleh wanita yang kini menatapnya penuh kehangatan. Mendapat kesempatannya, Jackson merekatkan dekapan sebelah tangannya pada pinggang Tara, memperdalam hasratnya yang memang ingin mendekap erat hatinya.


Tara menggeleng menatap wajah Jackson penuh janggalan menyambut perntanyaan pria itu saat lalu.


"Kalo mawar ungunya?" Sebisa mungkin Tara menepis lirihannya hingga ia berceloteh yang bukan di maksudkan hatinya.


"Itu ungkapan perasaan aku yang udah di racuni sama kamu. Kamu tau, kamu udah bikin pikiran aku ga bisa lepas dari wajah kamu." Jawabnya lebih melembut dari sebelumnya. Bahkan kini ia mengelus pipi setengah cubby itu, kembali mencurahkan rasa cintanya dengan kesungguhan hatinya yang medapat balasan senyuman dari wanita yang telah menggenggam tangannya yang masih setia mengelus pipi itu.


"Kalo baby breath nya kamu mungkin tau artinya." Sahut Jackson.


"Ga juga." Jawab Tara sedatar mungkin lantaran sang hati telah merancu entah mengapa kali ini ia mengharap suaminya lah yang berada di hadapannya itu.


"Masa ga tau?"


"Malah aku baru tau kalau tiap bunga ada artinya, yang aku tau sih cuma melati itu artinya buat sajen." Sahutnya membuat Jackson membahakkan tawanya yang tidak melepas sisi kalemnya, begitupun dengan dekapan itu yang tidak di lepaskannya sedikitpun. Sedang Tara sendiri hanya menunggu tawa itu terhenti.

__ADS_1


"Kalo melati buat sajen, terus aster buat di kuburan gitu?" Tanya Jackson di sela tawanya yang belum terhenti sepenuhnya.


"Beneran aku taunya itu doang." Balasnya memperjelas.


"Art Taraaa, ucapan kamu itu artinya masih ga terima aku?" Tawa itu sirna berganti melirih kala mendapat penolakan secara halus dari kalimat kekasihnya.


Tara sadar dengan lirihan yang di sebabkan olehnya hingga ia menatap wajah tampan itu lantas menjepit hidungnya. "Dasar oon, aku cuma mau jadi cewe kamu demi Queena." Tuturnya tanpa mau tau ringisan dari pria itu ia masih melanjutkan ulah jemari tangannya. "Apa kamu ga keberatan sedikitpun?"


Jackson menepis tangan yang menjepit hidungnya lantas mengangguk memahami ucapan wanita yang telah tersenyum menghibur hatinya yang kecewa. "Jadi kalo ga ada Queena kamu ga mau jadi cewe aku?"


"Jack kamu umur berapa sih? Kaya bocah banget."


"Kamu yang minta lho."


"Yang aku mau bukan alay-alay gini, tapi ga curang."


Jackson menghembuskan napas lirihannya, lagi dan lagi kasihnya mendapat penolakan. Hingga ia mencari cara untuk mengungkap isi hatinya.


Ia melepas dekapan itu lantas memutar tubuh wanita yang memalingkan tatapannya pada dirinya itu agar menghadapnya tanpa menghiraukan jarum infus yang menusuk punggung tangan kiri sang wanita. Di seretnya wajahnya hingga terbenam dalam ceruk leher wanita itu.


"Art Tara Biancasandra__" Ia menyenggal kaliamatnya, mengatur napasnya yang sudah berserakan tak karuan.


Tara membisu, menatap punggung Jackson yang masih membenamkan wajahnya pada ceruk lehernya.


"Sumpah demi apapun aku ga pernah ngerasain ini semua." Ia masih membenamkan wajahnya di sana untuk menyembunyikan lirihannya. "Kalau emang aku bikin risih kamu, aku bisa ngehindar dari kamu." Ia kembali mengatur napasnya yang sudah tercabik akibat menahan lirihannya dalam jantungnya yang berdegup menahan perihnya. "Tapi jangan larang aku buat cinta sama kamu."



__ADS_1



Tbc


__ADS_2