
Tara sudah duduk manis di atas sebuah kursi yang terletak di tengah kerumunan wanita sosialita. Ballroom hotel berbintang 5 kini menjadi tujuan kehadirannya mengantar mertuanya.
Di dalam sana, ia menghadiri acara yang selalu membuatnya ngeri lantaran para tamu yang datang mengunjungi tempat itu bukan berasal dari kaumnya.
Dari mulai kaum pemerintah, aktris, hingga kaum pengusaha itu berada dalam ruang tempat sebuah acara perkenalan anggota pemegang kartu hitam itu berkumpul di sana.
10 kursi yang mengelilingi meja bundar itu adalah tempat Tara duduk di sana di dampingi sang mertua yang duduk tepat di samping kirinya.
Celia memperkenalkan Tara sebagai rekan bisnisnya kepada 8 wanita yang duduk pada meja yang sama dengannya.
Maudy adalah salah satu wanita yang sebaya dengan suami Tara di sana, namun popularitas Maudy sangat jauh di bandingkan dengan Sammuel.
Dialah yang menjadi sorotan mata Tara kini lantaran kekagumannya pada sosok Maudy yang mampu mendobrak popularitasnya sebagai aktris papan atas dengan kisah ketegaran hidupnya.
Dalam kekagumannya, Tara mengungkapnya kepada Maudy bahwa motifasi hidupnya adalah wanita hebat itu.
Tara menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan wanita yang di kaguminya itu. "Kak Maudy Sanaya, aku fans berat kakak." Tuturnya memaparkan tatapan kagum serta senyumannya.
Uluran tangan Tara terbalas manis oleh Maudy. "Seneng banget bisa ketemu fans dari rekan miss Celia." Ucapnya mengarahkan pandangannya pada Celia yang telah mendelik di sana.
Kekaguman Tara rupanya menjadi kejengahan Celia di mana Celia faham betul dengan cerita sesungguhnya dari kalangan aktris yang telah menjadi anak didiknya. "Cantik kan?"
__ADS_1
"Iya cantik banget, pantesnya jadi aktris." Ucap Maudy kembali membuat Celia mendelik ringan.
"Lebih pantes jadi menantuku kan?" Tutur jengah Celia yang mengetahui bahwa Maudy mencintai anak tiri ke empatnya.
"Miss Celia bisa aja." Tara menepuk manja tangan Celia yang tersembunyi di balik meja memghentikan aksi mertuanya agar tidak mengungkap hubungannya.
Celia faham dengan isyarat itu, lantas menatap wajah menantunya dengan senyuman manisnya. "Tara, aku mau ajak kamu keliling, mau kenalin sama yang lainnya." Ia bangkit lantas menyeret tangan Tara dengan tergesa untuk menghindari tatapan aneh dari wanita yang di kagumi menantunya.
Bagaimana Tara mampu menolaknya jika dirinya enggan menjauh dari Celia di dalam ruang yang berpenghuni orang yang sangat asing baginya. Dengan demikian, Tara hanya dapat membuntuti langkah pergi Celia kemanapun.
Akhirnya, Celia berhasil memperkenalkan Tara kepada seluruh penghuni ruang tersebut.
Seluruh penghuni berantusias menyambut perkenalan Tara lantaran status yang di paparkan Celia bahwa Tara adalah rekan bisnisnya.
Inilah yang menjadikan Celia sulit mendapat seorang kawan yang tulus ingin berteman dengannya, di mana di ketahuinya bahwa mereka mendekatinya hanya untuk menghargai kedudukannya semata, bahkan adapun yang hanya memanfaatkan statusnya saja.
Akhirnya, dalam waktu tiga jam itu, Celia berhasil menghindari acara yang selalu membuatnya jengah itu.
Namun kejengahannya terlerai lantaran kini ia mendapat seorang yang berada di sampignnya yang mampu menghibur suasana hatinya dengan perbincangan mengenai bisnisnya.
Atas tingkah Tara yang seperti itulah ketartarikan Celia terhadap menantu rahasianya semakin meningkat drastis.
__ADS_1
Itulah awal dari hubungan erat mereka terjalin.
Hingga selama satu minggu ke depannya, Celia tak henti mengunjungi Tara. Dengan sengaja Celia menampakkan dirinya di dalam kediaman Tara setiap harinya ketika Tara berada di sana.
Hingga hari libur berikutnya, Tara tidak kunjung mendapat waktunya untuk menjumpai keluarganya nun jauh di sana.
Jelas sang ibunda tercinta akan membiarkannya tanpa mencegahnya lantaran sang ibunda yang menginginkan kebebasan untuknya bertemu dengan kekasih hati daun mudanya. Jika Tara berada di sekitarnya, maka dirinya akan kesulitan untuk menjumpai kekasihnya itu.
Kembali pada keadaan Tara dengan Celia yang masih setia menguntit kegiatannya. Pada hari libur berikutnya setelah menghadiri acara pertemuan para pemegang kartu hitam itu, Celia membawa Tara ke tempat perbelanjaan serta perawatan diri.
Awal mula Tara menolak keras, namun dengan seribu rayuan maut sang mertua akhirnya ia luluh hingga menuruti semua keinginan mertuanya.
Atas sikap Celia inilah, kecanggungan Tara terhadap Celia sirna sepenuhnya. Kini, Celia mengubah status Tara dari rekan bisnisnya menjadi sahabatnya.
Itulah yang di katakan terhadap seluruh rekannya membuat Tara hanya mampu menganggukan kepalanya selama tidak mempengaruhi perjanjian pernikahannya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc