
Malam kian mencekam, sepahit hati Tara kala menatap bayangan semu yang tersirat di balik dinding kaca penyekat ruang president suite di tempatnya bekerja.
Nampak tidak asing baginya sosok itu yang duduk gagah menyamping ke arah kaca membuat rasa penasarannya merangkak dari dalam angannya untuk membuktikan dan melihat siapa pria di balik dinding kaca itu.
Berani tidak berani, ia memberanikan diri memasuki ruang itu hingga melampiaskan rasa takutnya pada pintu yang di bukanya dengan kasarnya.
Langkahnya merancu dalam emosinya yang memburu sebagai tameng keberaniannya untuk menghadapi apa yang akan di lakukannya setelah ini.
Setelah ia berdiri di hadapan sang pria, ia menghadap lelaki berwajah tampan itu, tanpa ragu merunduk di hadapannya.
Seluruh pasang mata yang berada di ruang minim cahaya itu menatap heran menuju arahnya, namun tidak di hiraukannya sedikitpun, begitupun dengan tatapan kejut dari wajah lelaki yang tengah mendongkak menatapnya.
"Maxson..” sapa Tara berseru ketus memanggil pria yang di kenalnya 8 tahun silam dan telah menghilang selama dua tahun ke belakang ini. “Di mana ponakan gue?" ujarnya penuh emosi yang terdengar memekik oleh pria tampan yang masih menatapnya penuh kejanggalan.
Sang pria menyeringai penuh makna setelah mengetahui maksud dari wanita itu yang mempertanyakan tentang anaknha, lantas ia bangkit berdiri menghadap wanita yang lebih pendek darinya itu. "Aku ayahnya, aku lebih berhak__"
"Lo pernah mikirin nasib ibunya ga, lo pernah tau penderitaan dia kehilangan anaknya ga?" potong Tara yang sudah menerka jawaban pria itu akan seperti apa, kini ia yang mendongkak menatap nyalang wajah tampan itu.
"Mengejutkan!” sahut sang pria tegas, setegas emosinya yang tersirat akibat tersulut perbincangan yang selalu membuat batinnya meringis selama enam tahun ke belakang ini. “Dia punya anak yang lain, kenapa masih mempermasalahkan satu anak?" Jawabnya tak kalah emosi dari si wanita yang telah menatapnya dengan rahangnya yang mengerat.
"DIA ANAK GUE!" Emosi yang tersulut itu, membuat Tara kehilangan kendali hingga mengungkap apa yang selalu ingin di pendamnya.
Seharusnya, ucapannya tertuju untuk penjelasan permohonan agar seseorang mendapatkan kembali anaknya yang sudah hilang tujuh tahun silam itu.
Sang pria kembali menyeringai, tidak mudah percaya dengan alasan menggelikan itu. "Benarkah, kenapa dia diem aja kalo dia anak kamu?" serunya meledek memperjelas maksud sang wanita jika dahulu kala ia memutuskan hubungan dengan sepupu tiri dari wanita yang termenung di hadapannya di karnakan ia mengetahui jika kekasihnya telah berselingkuh dengan adiknya.
Ia tidak hanya menerka atau berpikir buruk, ia telah mendapat bukti kerasnya dari wajah seorang anak berbama Alev Sihan Danendra itu begitu serupa dengan adiknya.
__ADS_1
Jika bukan anak adiknya tidak mungkin rupa itu terlihat sama, namun ia tidak mengetahui siapa sebenarnya ibu dari anak itu lantaran sang anak memanggil kekasihnya yang bernama Jasmeen Shanaya itu dengan sebutan ibu.
Tara baru tersadar dengan perbincangannya yang sesungguhnya enggan ada satu orangpun yang mendengarnya, ia mengedarkan pandangannya melihat pasang mata yang masih menatapnya penuh rasa heran di sekitarnya.
Ia mengumpat pada dirinya sendiri, namun seringai lega tersirat dari wajahnya kala pandangannya mengedar menatap wajah ke lima insan yang berada di sana tidak ada yang di kenalinya satu orangpun. "Karna gue juga mau sembunyiin dia." Ujar Tara berpasrah diri mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.
"Biar apa?" Sahut Maxson terbengkalai kala mulut mungil itu terbungkam rapat.
Tara enggan ucapannya terdengar ambigu bagi orang lain yang berada di sekitarnya hingga ia menyeret tangan pria itu dengan kasarnya menuju luar ruangan.
Meski terperangah, sang pria tetap mengikuti langkah pendek itu tak ayal membiarkan tangannya tergenggam keras wanita itu.
"Hei nona, apa maksud__" Tanya Maxson terpenggal kala ia menepi di luar ruang.
"Anak yang lo kira anak dia itu, Alev." Sahut Tara merancu yang tersirat dari helaan napas dalamnya penuh rasa takut, ia mengatur jantungnya yang sudah berdetak hebat untuk mengungkap sesatu selanjutnya. "Alev Sihan Charington, ponakan lo." Imbuhnya di balas seringai cibir oleh pria di hadapannya yang terasa menjijikan baginya.
Dahulu kala, terlampau emosi melihat keadaannya, sang pria enggan mencari kebenaran itu yang sudah terlanjur meninggalkan kekasihnya hingga tidak pernah terpikirkan untuk memberitahukan kepada keluarganya bahwa ia telah menemukan seorang anak bagian dari keluarganya.
Maka dari itu, keinginan Tara untuk menyembunyikan anak itu dari ayahnya terpenuhi seutuhnya hingga tidak pernah ada yang mengetahuinya sedikitpun.
Tara melenguh, terlanjur sudah ia mengatakannya. "Gue izinin lo test DNA dia sama adik lo asal jangan bilang sama siapapun!" Serunya mewanti-wanti membuat sang pria mengernyit, menjanggal dengan permintaan itu.
"Oke, aku yang akan ambil darahnya sendiri." Putus Maxson membuat wanita di hadapannya melenguh rancu.
"Dengan senang hati!" Seharusnya Tara merasa lega dengan keputusan itu yang akan kembali mempertemukan sepupunya dengan anaknya.
Namun entah mengapa kerancuannya berhasil menyerbu angannya. "Di atas materai lo ga akan ngomong sama siapapun!" Imbuhnya mempertegas keinginannya.
__ADS_1
Tidak ada kesungguhan dalam pikiran sang pria, ia hanya mengangguk menjawabnya tanpa ingin berdebat panjang lebar dengan wanita di hadapannya.
Setelah hening melanda, Tara baru tersadar jika sang pria yang membungkam rapat mulutnya itu telah mengusirnya secara halus.
Tanpa kata serta tanpa berpamit, Tara berlalu begitu saja dari hadapan pria yang telah membuatnya jengah itu.
Seperginya Tara dari sana, sang pria baru menyadari apa yang terjadi sesaat tadi. Ia merenung, memutar ulang seluruh kalimat yang terucap dari mulut wanita itu.
Ia mengingat kejadian memilukan adik pertamanya sua belas tahun silam yang tidak di tutupi sedikitpun di dalam keluarganya hingga seluruh keluarganya mengetahui kisah tragedi itu.
Seluruh keluarganya memang mengetahui hal itu, namun tidak ada yang mengetahui jika kejadian naas itu membuahkan benih dalam rahim sang wanita yang bahkan kini benih itu telah tumbuh sempurna.
Baiklah, ia sudah memutuskan untuk menyelidikinya, jrusan lainnya yang akan membuatnya menyesal ia kesampingkan dahulu sebelum ia mendapat bukti akurat dari apa yang di katakan wanita tadi.
Apapun hasilnya ia akan menerimanya, sekalipun terbukti jika dirinya yang bersalah terhadap kekasih hati yang telah menjadi ibu dari anaknya.
Garis tekad telah terdorong dari dalam kalbunya untuk segera mengungkap kebenaran dari kisah ceritanya, dengan demikian ia mengatur siasatnya akan berjalan dengan sempurna tanpa ada hambatan sedikitpun.
Pemeriksaan darah yang sempat terucap dari mulut wanita yang kini telah hilang sepenuhnya dari hadapannya akan menjadi pemicu usaha kerasnya untuk melakukannya dengan segera.
Dua tahun sudah ia memendam dendamnya terhadap wanita bernama Jasmeen Shanaya atas pengkhianatan tanpa bukti terhadapnya, kini ia meyakini jika sebuah kebenaran akan ucapan wanita itu saat tadi begitu penuh kesungguhan membuat hawa benci pada mantan kekasihnya telah enyah tanpa hambatan.
•
•
•
__ADS_1
Tbc