
Sebuah renungan atas jalan hidup yang mempermainkannya menjadi lirihan batinnya saat ini yang tengah termenung di atas tempat tidur empuknya, masih mengenakan gaun merah yang di kenakannya kala menghadiri sebuah pesta saat lalu. Baru saja ia menyelesaikan risalah hidupnya, kini risalah baru telah menghadapnya.
Suara lantunan dering dari alat medianya berkumandang dari dalam tas kecilnya. Segera iapun menjawab panggilannya. "Ya Ca?"
"Kak bisa minta uang ga? Aku ada tugas dari sekolah." Balasnya ragu-ragu.
"Lho, bukannya kakak udah kasih kemaren?"
"Tara." Suara ini suara ibunya, kemungkinan sang ibu menyerobot phone cell adiknya. "Kamu ga akan tau pengeluaran mama seperti apa, bisa ga kamu kasih aja?"
"Kasih apanya kalo uangnya ga ada?"
"Usahakanlah Tara, atau mama pinjem sama bu Gerta dulu."
"MAMA!" Tanpa kendali ia membentak ibunya ketika mendengar sebuah nama yang selalu membuat traumanya menyentak angannya. "Aku baru beres sama dia masa mau bikin pusing lagi?"
"Itu kamu bisa beresin sama rentenir, masa buat adik kamu ga bisa?"
Astaga, Tara sudah kehabisan kesabarannya hingga mencoba memendam emosinya agar tidak meluap. "Mah kan udah ada batas jatahnya, lagian tumben mama minta uang lagi." Kelembutan nada bicaranya hanya untuk mencibir semata.
"Ya itu karna ada kebutuhan lain__"
"Kebutuhan lain apa? Buat calon papa tiri ya?" Cibirnya penuh emosi.
"Jangan sembarangan ngomong kamu, papa tiri kamu ga pernah minta uang sama mama, malah dia yang kasih."
"Ya kalo dia bisa kasih kenapa ga mama minta sama dia aja?"
"Ga enak minta terus."
"Itu resiko dia kalau mau sama janda beranak, mama sendiri enak-enak aja minta uang sama aku? Ini bukan kewajiban aku lho."
"TARA!" Sang ibu membentak enggan menerima kekalahannya. "Terserah kalau emang ga mau kasih, paling adik kamu di keluarin dari sekolahnya."
"Ya terserah, yang sekolah bukan aku." Emosi sudah ia di buatnya hingga sepihak Tara mengakhiri panggilannya.
Ya Tuhan, apa yang di lakukannya, jika demikian egoisnya ia, maka yang akan menjadi korban adalah adiknya.
Seandainya adiknya bersikap lebih baik padanya, bisa lebih mementingkan dirinya, mungkin ia tidak akan banyak mempertimbangkannya.
__ADS_1
Namun, sudahlah takdir memang tidak bisa di pungkiri, ia akan berusaha mencari jalan keluarnya untuk menyadarkan ibunya.
Di tengah lamunannya, ia di kejutkan dengan suara tombol pintu yang berbunyi. Kembali ia mendapati keadaan serupa seperti satu hari yang lalu.
Iapun yakin bahwa tamunya adalah sang mertua setelah mengingat perkataan suaminya yang tidak akan mengunjunginya pada hari itu.
Dengan penuh keyakinan hati, iapun bangkit untuk menyambut tamunya.
Kejutan kembali menghampirinya saat mendapat wujud dari sang pengunjung yang membuat matanya mengerjap berulang kali dalam mulutnya yang terbuka lebar.
Tanpa mau tau dengan tingkah kejut dari Tara, pria itu menyeret pergelangan tangannya dengan kasarnya membuat langkah Tara mengayun tanpa aturan.
Di hempaskannya tubuh molek itu ke atas tempat tidur empuknya dengan kasarnya. Kedua tangan serta dadanya mendapat endusan dari hidung mancung sang pria itu.
"Bau Steven." Tutur sang pria tepat pada telinga kanannya.
"Siapa Steven?" Tanya Tara dalam kejutan yang belum wnyah sepenuhnya dari jiwanya. Namun ia berusaha menahan senyumnya mendapati kecemburuan itu.
"Teman kencan lo di pesta tadi." Ketusnya, namun membuat senyum Tara kian melebar.
Tara tertawa terbahak mendapat makna dari maksud perkataan pria yang tengah mengukung tubuhnya itu.
"Sam kamu cemburu?" Tanya Tara setelah melepas tawanya.
"Cemburu sama lo? Lo kali udah bohong." Dalihnya dalam nada tegasnya.
"Bagian mana aku yang bohongin kamu?" Tara merajuk, kedua tangannya terulur mengalung pada leher suaminya.
"Lo lupa kalo lo bilang ke pesta bareng temen cewe hm?" Sammuel gemas hingga menyentil kening istrinya.
Tara melepas satu tangannya dari leher suaminya untuk menghapus jejak sentilan suaminya itu. "Emang sama cewe, cuma tadi temen aku hilang jadi aku nanya toilet sama cowo yang kamu bilang namanya Steven itu." Jelas Tara di balas lenguhan lega oleh suaminya.
Namun, meski melega, “Lo ngarep gue percaya? Lo tau ga di sana yang seumur sama lo cuma dia kakak dari pemilik pesta." Gemas Sammuel mencekam bahu kiri kanan istrinya dengan kedua tangannya yang membuat istrinya meringis menahan sakitnya.
"Temen cewe aku juga umurnya 27 taun, apa salah aku temenan sama orang yang lebih muda dari aku?" Ungkap Tara di sela mencoba menepis cengkraman itu.
Sammuel tertegun atas sikap cemburu yang enggan di akuinya. Ia melampiaskannha pada cengkramannya yang kian mengeras. "Tetep aja lo salah, apa lo mau ngasih liat body lo sama orang lain? Gue aja belom pernah liat."
"Sam, kamu ngaku aja deh kalo kamu cemburu." Goda Tara seraya menyentuh pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Cengkraman itu terlepas begitu saja mendengar ucapan yang kembali membuatnya merasa terhina.
Sammuel enggan membalas perkataan istrinya, ia membungkam bibir istrinya dengan mulutnya, menjelajahi setiap ruas mulut istrinya dengan lidahnya.
Tara yang sangat mendambakan sentuhan dari seorang pria yang memiliki ikatan resmi itu, kini ia berusaha menikmatinya.
Bukan karna rasa cinta yang menyeruak dari benaknya, namun ia hanya melampiaskan hasratnya yang telah terpendam selama beberapa tahun ke belakang itu.
Kini Sammuel berhasil memberikan cumbuan mesranya meski terasa kasar oleh istrinya.
Persetan dengan janjinya untuk tidak menyentuhnya, gairah telah bergejolak hingga menembus ubun-ubunnya yang sudah tidak dapat tertahan lagi olehnya.
Dua jam sudah itu terjadi, kini Sammuel menghampaskan tubuhnya di samping kanan istrinya. Gairahnya memang terlampiaskan, namun keraguan serta penyesalan datang menggantikannya.
Sammuel menatap langit-langit dalam tatapan kosongnya, pergerakan Tara yang melingkarkan sebelah tangannya pada perutnya membuatnya menyerahkan lengannya untuk penumpu kepala istrinya.
Tara faham dengan tatapan kosong itu seolah penyesalan besar tertanam di sana. Iapun mencoba melerainya dengan aksi penghiburannya.
"Sam, kamu yang nyuruh Hanson buat jadi pengacara aku ya?" Tara berkata meski masih mengatur napasnya yang masih terkoyak.
"Hmm." Sungguh ia enggan mendengar nama itu tersebut saat ini yang akan membuat penyesalan semakin tumbuh dalam dirinya hingga membuat napasnya kian merancu.
"Thanks." Tara mengecup sekilas pipi suaminya penyempurna ungkapan terimakasihnya.
"Lo ga lupa tugas lo kan?" Sammuel menutup matanya dengan lengan kanannya menyembunyikan lirihan dari matanya, sedang lengan kirinya masih menjadi penumpu tungkak kepala istrinya.
"Ga akan!" Tara menatap lekat wajah yang tertutup setengahnya itu. "Sam kamu nyesel ngelakuin ini?" Ia memberanikan diri mengungkapnya.
"Bisa ga lo jangan bahas itu dulu?" Protes Sammuel masih membenamkan lengannya pada wajahnya. Namun sebelah lengannya yang lain mencekam keras pinggang Tara.
"Oke sorry." Tara berusaha menahan air payau itu meluncur dari sudut matanya.
Dalam diam yang tertahan atas lirihan dari dalam benak masing-masingnya, mereka memejamkan matanya hingga alam mimpi menyambutnya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc