
Siang menjelang, Hanson menepati janjinya untuk mengajak wanita yang memiliki suara serupa dengan mantan kekasihnya untuk menyantap makan siangnya bersama.
Kini mereka tengah duduk manis di dalam kantin perusahaan. Tiga piring steak sebagai kudapan paling istimewa yang tersedia di sana telah terhidang di atas meja yang di kelilingi empat kursi di mana Tara duduk di sana dengan sepasang insan di sebrangnya.
Hanson memotong steak yang berada di hadapannya, seusainya ia menukar piringnya dengan milik Tara. Perlakuan Hanson ini rupanya membuat Fiona mendapati kembali goresan di dalam hatinya.
"Tara sorry, gue lupa ga bilang kalo gue tunangan Hanson." Sesungguhnya Fiona ingin menepis perlakuan Hanson terhadap wanita yang duduk di sebrangnya. Namun rupanya, ungkapannya membuat Hanson menatapnya penuh murka.
Rupanya pernyataan Fiona membuat Tara mendapat kejutan. Tara terkejut lantaran Hanson tidak memberitahukan sebelumnya. Namun bukan masalah besar baginya bahwasannya Hanson bukanlah target utamanya dalam tugas dari suaminya.
Tetap saja, kejutan itu membuat Hansonpun terperangah. Bahwasannya, ia tengah mewanti-wanti terhadap samg kekasih agar tidak mengusik keinginannya untuk mengagumi sosok wanita yang sudah menyeringai di hadapannya.
Namun rupanya, maksud hati Fiona, ia enggan membuat kesalah fahaman dengan sahabatnya yang akan memutus tali persahabatannya.
"Cantiknya tunangan kamu ini Hans." Tara menyiratkan senyumannya, mempertegas rasa pujinya.
"Cantikan cewe di depan aku ini." Cetus Hanson menunjuk Tara dengan dagunya.
"Kamu hebat juga Hans bisa bikin tunangan kamu marah." Tara mencoba menghibur Fiona meski ia harus bersusah payah menyembunyikan rasa kejutnya dalam kegiatannya yang menyantap makanannya.
"Kalo dia bikin emosi ya aku lebih bisa bikin dia tau diri." Hanson memekikkan nada bicaranya yang mulai memendam emosi dalam benaknya hingga menghentikan kegiatan makannya.
Fiona sadar dengan nada bicara pria di sampingnya yang memendam emosinya, iapun segera mencari cara agar pria itu tidak semakin membencinya. "Lagian kita tunangan cuma buat ikatan bisnis aja." Akhirnya Fiona bertanggung jawab atas perkataannya, ia memendam lirihannya dengan menunduk menyuapi dirinya sendiri. "Gue bilang kaya tadi cuma udah lama aja ga curhat sama lo."
Tara tertegun, pasalnya iapun kini tengah mengalami apa yang di alami sepasang insan yang berada di hadapannya. "Aku yakin lama kelamaan kalian pasti saling suka, sama kaya di cerita-cerita novel gitu."
Hanson tertawa sinis menyikapinya. "Kalo sama kamu sih tunangannya pasti gitu."
"Yang ada salah satu masuk penjara, kita di takdirkan bertolak, kalo ga kamu yang jadi antagonisnya ya aku yang jadi protagonisnya."
"Tara." Hanson terkekeh membuat Fiona kian cemburu di sana lantaran baru pertama kalinya Fiona melihat senyum otu tercurah untuk seorang wanita. "Kamu tau ga kamu ngomong ga nyambung?"
"Yang jelas aku ga mau jadi antagonisnya."
Hanson kembali terkekeh mengungkap kebahagiaannya lantaran telah mendapat waktunya kembali untuk bercanda ria.
__ADS_1
Sedang Fiona tertawa hanya untuk menyembunyikan kepedihannya semata. Ia menyadarinya, jika kebahagiaan itu hanya di dapat dari orang selain dirinya. Lantas, harus bagaimanakah ia merebut hatinya? Hanya berusaha lebih keras yang ia pikirkan saat ini.
Suasana tegang itu terlerai dengan kehadiran Sammuel yang langsung menumpukan tubuhnya pada kursi yang terdapat di samping Tara.
Sontak Tara tercengang, terkejut hebat lantaran enggan menimbulkan kesalah fahaman. Bukan orang lain yang ia pikirkan, melainkan suaminya sendiri. Pasalnya suaminya tengah memeberitahunya agar berpura tidak saling mengenal jika mereka berada di dalam perusahaan raksasa itu.
Sesungguhnya, Sammuel hanya ingin melihat perkembangan hubungan Tara dengan kakak ketiganya. Ia masih ingin menyenggal mereka untuk memiliki hubungan lebih dari sekedar teman biasa.
"Gabung di sini kayanya rame juga." Sammuel kikuk mendapat tatapan tajam dari tiga insan yang berada di sekitarnya hingga menolehkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. "Ga ada kursi lagi ya?"
Hanson memperhatikan tingkah adiknya yang lain dari biasanya. Makna yang tersibak yakni adiknya memiliki ketertarikan terhadap wanita yang telah di sukainya.
Hal ini terlihat dari tingkah Sammuel yang sudi duduk dengan karyawannya, terlebih lagi ia hanyalah seorang receptionist. Meski demikian ia melanjutkan acara santap menyantap makannya agar adiknya tidak menyerukan rasa curiganya.
"Ga ada tempat kosong lagi, jadi boleh kan gue duduk di sini?" Sammuel kembali melontarkan perkataannya lantaran tidak ada lagi orang selain dirinya yang berceloteh.
Tara mengabaikan perlakuan suaminya dengan melanjutkan menyantap makanannya, begitupula dengan Fiona.
Lampu menyala di dalam otak Hanson mengingat status wanita pujaannya, ia enggan bersaing dengan adiknya dan juga enggan adiknya akan tertimpa masalah keluarga yang di ketahuinya bahwa sang kakaklah yang menyukai Tara terlebih dahulu.
Namun rupanya ungkapan Hanson membuat Fiona tersenyum di sana.
"Harusnya kamu yang lebih tau dari aku." Jawab Tara menyeleneh.
"Maksud aku gimana kabar hubungan kalian?" Imbuh Hanson menuntaskan maksud ucapannya.
"Hmm?" Tara menatap arah kirinya di mana suaminya duduk tertunduk di sana. Dapat di lihatnya suaminya menyiratkan senyumannya meski terlihat dari arah sampingnya saja.
"Ya gitu lah, cuma karna Queena aku sering ketemu sama dia, sisanya aku masih nolak dia." Tara kehilangan akal sehatnya yang enggan melakukan tugasnya demi meraih keinginan hatinya untuk mendapatkan hati suaminya.
"Gitu ya? Bukan karna kamu punya cowo lain? Atau kamu suka sama cowo lain jadi kamu ngehindar dari dia terus?" Pancing Hanson samtai dengan menyibukan diri menyuapkan santapannya pada mulutnya.
Deg. Jantung Sammuel berdenyut nyeri, ia mengulang ingatannya meresapi pernyataan kakaknya.
Sedang di sana, Fiona menyembunyikan senyumannya di balik wajahnya yang tertunduk.
__ADS_1
"Apaan sih?" Dalih Tara tersenyum kikuk membalasnya.
"Aku salah nebak ya?" Hanson tertawa kecil di akhir kalimatnya, ia tau Tara masih belum mau menerima kakak keduanya.
"Ga salah juga sih, tapi ga bener juga." Sesungguhnya Tara melemparkan maksudnya pada yang lain, yang di tuju sebenarnya adalah suaminya. Berharap suaminya mengerti dengan maksud ungkapan cintanya tanpa kesengajaan itu.
Hanson menyilangkan garpu serta pisaunya di atas piring yang tengah kosong tanpa isinya. Lantas menautkan jari-jari kedua tangannya yang menumpu di atas meja, memberikan kesan serius menyambut perbincangannya. "Benernya kalo kamu ngehindar dari dia karna ada cowo yang kamu suka? Salahnya kalo kamu punya cowo?"
Sammuel membeku, mematung meresapi pernyataan kakaknya. Taukah Hanson jika wanita yang di serahkannya telah menjadi istrinya? Batinnya meruntuk mempertanyakan itu.
Dia mengabaikan itu, yang membuatnya mematung, benarkah jika istrinya menyukai orang lain? Mungkinkah benar adanya sesuai perkataan istrinya bahwa dirinyalah yang di cintainya? Sammuel kian enggan menyambut otaknya yang telah bersikeras memikirkan hal itu.
Getaran dari phone cell milik Sammuel rupanya melerai situasi tegang sesaat. Sammuel segera menjawab panggilannya seraya beranjak tanpa pamit ia berlalu begitu saja dari hadapan kakaknya.
"Kecewa kan lo? Lo lupa dia cewe si Jack?" Gumam benak Hanson seraya menatap punggung adiknya yang berjalan semakin menjauhinya.
"Hans sorry kamu harus pergi sekarang." Ucap Fiona membuyarkan lamunan Hanson.
Hanson menatap wajah Tara yang tengah duduk gelisah. "Sorry Ra, aku masih ada kerjaan, tapi lain kali kita bakal sering ketemu kok." Lantas, ia bangkit hingga mengucek anak rambut Tara sebagai salam perpisahannya.
"Jangan pegang kepala orang yang lebih tua dari kamu." Protes Tara menepis tangan itu.
“Lebih tua ya?” Balas Hanson menyeleneh.
“Dia seumuran lo Ra.” Fiona membalas pertanyaan kekasihnya.
“Ya tetep aja!” Protes Tara kikuk di sana. “Ga boleh pegang kepala cewe lain di depan tunangan kamu.” Runtuknya berimbuh.
Hanson terkekeh tanpa menghiraukan pernyataan itu, ia melambaikan tangannya dan berlalu begitu saja dari hadapan Tara di buntuti Fiona di belakangnya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc