Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 88


__ADS_3

Jiwa Sammuel kesulitan menyambut tatapan itu hingga tanpa pamit ia mengayunkan kakinya menuju ruang tidurnya di sekitar sana membuat sang istri membuntutinya hingga menepikan tubuhnya yang duduk di tepi kasur empuknya.


"Sam maaf__" Sahut Tara terpenggal kala ia turut mendaratkan bokongnya di samping suaminya.


"Lama-lama gue panggil lo mpok minah juga." Balas Sammuel menyeleneh membuat sang istri terkekeh gemas.


Tara lepas kendali meluapkan rasa gemasnya dengan menumpukan tempurung otaknya pada bahu suaminya. "Aku beneran minta maaf sama kamu udah berani_"


"Udahlah." Potong Sammuel berhasil membungkam mulut istrinya kala tangannya mengulur mengusap puncak kepala yang masih setia berada di atas bahunya. "Gue udah beli bangunan kostan di Bandung_" Ucapnya terpenggal kala merasa perih meluncur dari telapak tangannya akibat memadamkan bara api di atasnya saat lalu. "Awww." Ringisnya segera menghempas tangannya dari atas puncak kepala itu untuk melihat seberapa besar luka yang di dapat.


Sontak Tara terperangah mendengar ringisan yang baru pertama kalinya terngiang di telinganya hingga ia meraih tangan itu, melihatnya tak ayal membuat kelopak matanya terbuka lebar. "Kenapa ini?"


"Kena rokok." Sahutnya tanpa dosa.


"Lagian yang ngerokok mulut, kenapa bisa kena telapak tangan gini?" Tara cemas hingga bergegas mengusap luka itu.


"Ah ahhh, tambah sakit bego!" Ringis Sammuel menghempas kasar tangannya dari genggaman istrinya.


Namun sang istri kembali meraihnya dengan paksa, akirnya tangan itu berada pada genggaman tangannya kembali. Lantas ia segera menyentuh luka itu dengan lidahnya tanpa rasa malu sedikitpun tersirat dari angannya membuat mata Sammuel terpejam menikmati sentuhan itu.


"Art, lo mancing nafsu gue ya?" Tuturnya tersadar diri hingga kelopak matanya kini terpaksa melebar.


Sejenak Tara menghentikan kegiatannya untuk menghindari pertanyaan itu. "Soal kostan tadi gimana?" Tak acuh ia mengabaikan ucapan suaminya. Kembali ia menyentuh tangan itu dengan lidahnya, namun kini Sammuel membiarkannya.

__ADS_1


"Lo urus itu semua, hasilnya gue kasih buat lo semua, awww." Ringis Sammuel di akhir kalimatnya membuatnya tanpa sadar menarik paksa tangannya yang langsung terhempas dari genggaman istrinya setelah merasakan perih yang lebih dari luka bakar itu.


Tara hanya berdiam pasrah dengan tingkah suaminya itu. "Di mana tempatnya?" Tanyanya merajuk hingga kembali menumpukan tempurung otaknya di atas bahu suaminya.


"Enam di kota, dua di kabupaten." Jawabnya membuat sang istri terperangah hingga menatap wajahnya penuh picingan. "Nanti Nicky yang tunjukin tempatnya."


"Ga salah?" Heran Tara tidak percaya hingga memekikkan nada bicaranya. "Sebanyak itu?"


"Engga!" Balas Sammuel meyakinkan penuh penekanan. "Tiap bangunan ada 20 kamar 2 lantai. Lo bisa kan ngurus semuanya?"


"Mana bisa aku ngurus semuanya sendiri?"


"Lo bisa suruh orang, tapi yang bener-bener bisa di percaya." Ujar Sammuel menyahutnya setelah berhasil beranjak naik ke atas tempat tidur itu, lantas menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Kamu yakin?" Tanya Tara merenung diri jika yang di katakan suaminya akan sulit di dapatinya. "Kamu tau kan aku ga punya keluarga yang bener?" Imbuhnya setelah berhasil merangkak ke atas tempat tidur itu hingga duduk bersampingan dengan suaminya.


Tara memutar pikirannya yang memenuhi isi kepalanya. Harus bagaimana ia melakukannya? Memang semua itu adalah cita-citanya dahulu kala. Ia tidak mempercayainya jika semua itu akan menjadi kenyataan. Hingga bermenit kemudian ia mendapat jalan keluarnya, iapun melega di iringi seringai sadisnya.


"Lo mau nolak? Apa lo mau gue aja yang kerjain, biar lo tinggal terima hasilnya aja?" Tanya Sammuel beraungut-sungut tidak terima hingga ia memalingkan wajahnya dari istrinya.


"Kalau gitu caranya aku jadi lebih ga tau diri." Rajuk Tara penuh rayuan ketika melihat suaminya beringsut hingga merebahkan tubuhnya menyamping membelakanginya. "Aku bukan tipe orang kaya gitu." Imbuhnya masih merajuk dengan turut beringsut hingga mendekap erat tubuh suaminya yang masih membelakanginya.


Sammuel terkekeh melihat tingkah istrinya hingga ia sudi menghadap istrinya. "Minggu depan lo udah bisa urus itu." Lantas mengecup sekilas kening istrinya. "Lo ga usah ribut soal bonus lagi kalau udah dapet hasilnya kan?"

__ADS_1


"Tapi_ aku masih butuh bonus itu sekarang ini Sam." Lirih Tara malu-malu hingga ia menelusupkan kepalanya pada leher suaminya membuat Sammuel kembali terkekeh melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan di matanya.


"Kalau gue puas sama service lo malem ini, besok lo udah bisa tarik duitnya dari ATM lo." Tuturnya di iringi batinnya yang menyeringai picik untuk mendapat kepuasannya.


Dengan senang hati Tara mengangkat wajahnya, sekilas ia menyiratkan senyum manisnya. Tanpa membuang waktu, ia segera beranjak mengabulkan keinginan sang suami.


Namun hati tidak dapat di dustai, terpampang nyata dari sorot mata yang saling memandang kagum pada masing-masingnya. Bahkan kening yang saling bersentuhan mempertegas kisah kasih yang selalu ingin tercurah.


Inikah yang sesungguhnya mereka rasakan tanpa kendali diri mereka, mereka telah mengungkap isyarat sang hati untuk saling menyambut.


Sang wanita membenarkan itu, namun sang pria masih keras hati menyangkalnya.


Akhirnya dalam waktu dua jam permainan mereka berakhir.


Sejenak Sammuel menyeringai geli, seharusnya ia yang mendapatkan pelayanannya, namun pada akhirnya sang istrilah yang kembali mendapat pelayanannya.


Rasa lelah melanda mereka hingga dengan tergesa mereka meraih serpihan udara yang menanggal separuhnya dari paru-parunya.


Berkat rasa lelah yang meluap membuat mereka membungkam mulutnya hingga mereka menggapai keinginan selanjutnya untuk segera menerjang alam mimpinya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2