Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 174


__ADS_3

Di balik lorong, di atas marmer yang menyelimuti lantai bangunan perusahaan bernama ZhanaZ itu. Langkah kaki mengayun lamban, membawa keraguan di dalam setiap gerakan. Setelah menemui Fiona beberapa saat lalu, Tara enggan kembali pada ruang kerjanya. Perlakuan Sammuel yang berubah drastis dalam waktu sekejap, membuat ia tidak ingin menemuinya untuk sementara waktu.


Terbesit sebuah alasan untuknya menghindar dari ruang kerjanya, disambut seringai manis penuh percaya diri. Langkah pun memburu, membawa tubuh menuju elevator yang tersedia. Tombol berangka tiga puluh menjadi sasaran tekanan jemari, pertanda ruang President Direktur yang akan menjadi penepian tujuan.


Ketika tiba di dalam ruang, baru saja kaki mengayun satu langkah, pemandangan menakjubkan terlihat di hadapan, membuat langkah terhenti tanpa disadari.


Seolah menghibur hati yang sedang pilu, Jackson bermain riang bersama si gadis cilik yang berada dalam pangkuan. Lengkung bibir terukir riang, terlontar sebagai rasa kagum pada perlakuan pria yang duduk di atas kursi kebangsaan.


Balasan tatapan cinta tersalurkan, tak luput senyum menawan tersirat di balik wajah Jackson. Sapaan hanya dengan gerakan kepala, ketika hati tak dapat berpaling dari resapan suasana riang di sana. Hanya sejenak, tatapan itu beralih kembali kepada si buah hati.


Kehadiran si gadis cilik di sampingnya, menghempas risalah kehidupan yang selalu menjadi beban. Suka cita yang telah didamba sekian lamanya, kini tergapai tanpa pelantara. Sehingga Jackson tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan yang terbaik kepada si buah hati, mencurahkan kasih sayang sepenuhnya meski bukan kepada darah dagingnya sendiri.


Niat tulus yang terpancar dari tindakan itu, dimaknai sebagai kesungguhan oleh Tara. Terbesit bayangan sang belahan jiwa, membuatnya melenguh dalam kerancuan.


Seandainya tiada jurang pemisah di antara anak dengan ayahnya itu, mungkin istana kecil telah berdiri kokoh di sana. Namun, nasib diri tiada bisa di hindari, keadaan memaksa persatuan mereka tiada pernah akan terjalin sebelum mendapat keajaiban nyata.


Kaki Tara kembali melangkah, membawa beban diri hingga menepi di hadapan sang atasan. Lantas, tanpa titah ia duduk di atas kursi yang bersebrangan dengan pemilik ruang.


“Ada apa gerangan Nyonya Nate datang ke mari?” Jackson menyapa dengan cibiran, membubuhkan tawa kecil di akhir kalimat sebagai pelengkap senda gurau yang ia berikan.


Tara mendengus begitu kerasnya, mendengar nama pria yang kini menjadi bulanan emosi terucap dari mantan kekasihnya. Namun, seringai sinis terlontar tanpa di sengaja, mendengar pengakuan dari pria itu seolah telah merelakan hati untuk menyerahkan diri terhadap adiknya.


“Kangen mantan pacarmu ini kah?” Jackson kembali berucap, di saat tidak mendengar suara sahutan dari wanita yang kembali mendelik menyahut ucapannya.


“Kangen dia noh.” Dagu tara bergerak maju, menunjuk gadis cilik yang sedang asik bermain di atas pangkuan ayahnya. “Aku boleh ga kerja di ruang ini?” imbuhnya sebagai permintaan, nada lemah menyertai barisan kalimat, menyemburkan keraguan akan penolakan didapatinya.


Jackson mengangguk penuh harapan, memberikan persetujuan tanpa memikirkan alasan di balik keinginan itu. Dengan senang hati ia menerimanya, jika pelengkap kebahagiaan datang menghampiri.


“Lebih enak kerja dekat aku ya?” Cibiran kembali terucap dari mulut Jackson, seolah mengharap jawaban ‘iya’ dari wanita itu. Pada kenyataannya, ia menutupi rasa bahagia itu dengan gurauan. Ia sadar diri, perlakuan manis yang ia dapatkan kini, terjadi di atas penderitaan adiknya.


“Ga boleh? Ya udah!” Tiada sanggup Tara memberikan alasan, sehingga nada jengah terlontar di balik setiap kata yang terucap.


“Apa karna kamu lagi berantem sama suami kamu?” ujar Jackson berseru memancing, berbalas tatapan kejut dari lawan bicaranya.


“Berantem? Kapan?” sahut Tara melenting nyaring, menyerukan penyangkalan dengan nada pekikan.


“Mana aku tau ... kamu yang harusnya lebih tau, kenapa sikap si Sam aneh gitu?”


Tara menyeringai menanggapi, rupanya sikap itu tidak hanya dirasakan oleh dirinya saja.


“Aku juga aneh, dari kemarin dia gitu terus–” Tiada kunjung mendapat jawaban, Tara melenguh pilu, membuat kalimatnya terjeda sesaat. “Ga tau apa penyebabnya, kalau emang aku bikin kesalahan, sebaiknya dia ngomong, bukan cuma uring-uringan ga jelas,” imbuhnya melanjutkan kalimat, membuat pria di hadapannya menyikapi dengan tertawa geli.


Kebahagiaan kembali menjemput diri, di kala kesempatan datang bertubi. Niat hati Jackson akan memperkokoh kasih sayang pada sang pujaan hati, agar sang empunya dapat menerima cinta kasih yang telah terabaikan sekian lamanya. Bukan tega ia bersenandung di atas kerancuan seseorang, akan tetapi ia hanya ingin melerai penyakit hati yang di derita wanita kesayangannya.


Baginya, wanita itu tidak pantas mendapat perlakuan sadis dari seorang pria, terlebih lagi pria itu adalah adiknya sendiri. Seluruh keluarga mengetahui jika dirinya begitu menyayangi wanita yang telah ternoda olehnya, sehingga ia tidak terima jika salah satu dari mereka menyakiti wanita itu.


“So, mau suruh Nicky ambilin kerjaan kamu ke sini?” tanya Jackson mengalihkan perbincangan, menghibur wajah yang meratap di sana.


“Ga usah lah, kamu punya salinan tender platinum kan?” Tara menolak penuh waspada, beserta senyum manis terlontar sebagai pelengkap.


Tiada kata terucap untuk menyahut ucapan itu, Jackson melentangkan tangan, memanggil seorang pria yang sejak tadi duduk di atas sofa di tengah ruangan.


“Oke.” Kelvin menyahut setelah memahami isyarat tangan atasannya, begitu pun dari perbincangan yang terdengar samar itu.


Hening membaur di tengah suasana ceria, ketika Jackson meresapi keadaannya. Bercanda ria dengan seorang anak, adalah keinginan terbesar dalam hidupnya. Memang kini semua telah tercapai, akan tetapi ia lebih menginginkan jika anak itu adalah buah dari cintanya.


Sejenak kegiatan terlerai, Jackson mengalihkan pandangan dari si gadis cilik menuju wajah cantik yang berseri di hadapannya. Sudut bibir terangkat manis, menyambut sorot tatapan kagum dari Tara. Pandangan saling mengunci, memancarkan kasih cinta dari setiap masing-masingnya. Hanya sejenak, kegiatan terpenggal dengan kehadiran Kelvin yang langsung menyerahkan lembaran kertas kepada Tara.


Dengan senyuman terimakasih Tara menyambut uluran tangan itu. Lantas tanpa berbicara, ia memulai pekerjaannya dengan hanya memandangi barisan kalimat yang tertulis di atas kertas-kertas itu.

__ADS_1


“Mommy mau belmain?” tanya Queena begitu penasaran, sehingga tatapan janggal menyudut ke arah lembar kertas yang berada pada genggaman Tara.


“Mommy mau kerja sayang ...” Tara menyahut dengan lembutnya, tak luput senyum gemas menyertainya. Akan tetapi, kerucutan dari bibir mungil membalas ucapannya. Paham dengan yang di inginkan gadis itu, Tara beranjak, membawa kursi penumpu tubuhnya menuju samping kursi kebangsaan pemilik ruang.


“Queen mau bermain?” tanya Tara setelah duduk dengan nyaman di sana. Jarak yang mengikis, mempermudahnya mengucek puncak kepala sang belahan jiwa keduanya.


“Iya,” balas Queena disertai anggukan kepala, membuat sepasang insan yang berada di sekitarnya tersenyum gemas membalasnya.


“Besok kita ke taman bermain sama daddy, oke.” Tara menghibur wajah lusuh itu, membuahkan keberhasilan di saat senyum berbinar riang terukir di balik wajah imut itu.


“Holeeeeee ....” Queena berteriak kegirangan, tak ayal kedua tangannya bergerak naik mewakili perasaannya.


Tara serta Jackson kembali tersenyum ceria, menyikapi tingkah menggemaskan itu. Hanya sesaat, senyuman Jackson terpecahkan. Bayangan manis melesat dalam ingatan, membuat tatapannya mengarah ke samping kirinya, di mana Tara duduk di sana.


“Gini mungkin ya kalau kita punya anak?” ujar Jackson penuh harapan, mengucap do’a dalam sebuah gurauan.


Namun, berhasil membuat Tara membatu kaku, denyutan nyeri terasa di balik dada sebelah kiri, membuat bilah bibirnya tertutup dengan begitu rapat. Dengusan rancu terlontar begitu keras, membuat pria di sampingnya salah mengartikan.


Jackson mengira jika wanita ini telah melakukan perjanjian sesat dengan sang suami. Yakni, tiada akan ada bocah cilik yang akan hadir di sela kehidupan mereka.


“Art.” Jackson memanggil hanya untuk memecah lamunan sang pemilik nama, akan tetapi deru napas memburu yang menyahutnya.


Suasana tegang tiba menghampiri, akan tetapi terlerai dengan mudahnya di kala Kelvin datang menghadap sang atasan.


“Bos sorry ganggu, pihak dari luar kota minta ketemu besok di hotel A,” tutur Kelvin.


Jackson menyahut dengan tatapan sebal, mendengar nama tempat yang selalu ingin di hindarinya. Namun, tiada mampu ia menolak, sehingga anggukan pasrah terlontar untuk jawaban.


Hanya satu kalimat yang terucap sebagai pengacau, Kelvin kembali berundur diri dari hadapan sang atasan.


Usai mempertimbangkan jawaban yang telah tersampaikan saat lalu, Jackson kembali menyorot wajah di sampingnya. Rasa janggal menyentuh batin, melihat pasang mata yang menyorot kosong ke arah depannya.


Tatapan kosong itu, seolah menyimpan suatu rahasia di baliknya. Gerak-geriknya yang gelisah, seolah memendam rasa curiga. Meski tangannya bersibuk ria pada tumpukan kertas itu, akan tetapi Jackson memahami, jika ia hanya mencari pelampiasan kegelisahan semata.


Kehampaan tiada ingin enyah dari dalam benaknya, membuat Tara mengikuti ajakan itu tanpa bisa berpikir yang lainnya. Tara beranjak, melangkahkan kakinya membuntuti langkah pria yang membawa bocah cilik dalam pangkuan. Pusat perhatian masih tertuju pada bayangan kelam, sehingga ia tidak menyadari jika tuntunan langkah itu menepi di dalam ruang Sammuel.


Ketika berada di dalam ruang, melihat sang pemilik ruang masih berpusat pada pekerjaan, Jackson yakin jika Sammuel belum melakukan santapan siangnya.


“Sam, lo ga mau istirahat dulu?” Di sela kaki yang masih melangkah, Jackson menyapa dengan ungkapan kejanggalan.


“Banyak gawean.” Sammuel menyahut singkat, membuat Jackson menggelengkan kepala.


“Aku beliin aja!” Tara menyahut penuh emosi, mendapati sikap itu belum saja berubah. Tanpa ingin mendapat penolakan, ia merebut Queena dari pangkuan ayahnya.


Hentakan kaki sebelum melangkah, disambut tatapan kejut oleh dua pria pemilik hubungan darah di sana. Sementara Nicky turut beranjak, berniat mengantar kepergian istri atasannya.


Tiada kata kembali terucap, setelah Tara lenyap dari dalam ruangan, Jackson menghampiri adiknya, duduk pada kursi yang bersebrangan dengan kursi kebangsaan sang pemilik ruang.


Gelengan kepala kembali dilakukan Jackson, tak luput tawa cibiran terlontar begitu tegasnya, di saat melihat kelakuan seorang pria sadis seperti adiknya ini telah kembali seperti biasanya.


Jackson ragu mengutarakan isi hatinya, sehingga mulut tertahan, tak berucap sedikit pun sebelum mendapat kalimat tepat untuk ia lontarkan kepada lawan bicaranya.


Beberapa menit kemudian, suasana hening tak kunjung menjadi pengisi ruang. Jackson mulai gelisah, ia mencari bahan pelampiasan pada batang rokok yang sudah berada di sela jepitan jemari tangannya.


“Sam–" Seolah masih ragu untuk mempertanyakan, Jackson menjeda kalimat. Nyatanya, ia meresapi hisapan pada bulanan kerancuannya. “Lo, berantem sama bini lo?”


Sammuel berdesis ngeri, menyikapi pertanyaan konyol itu.


“Buat apaan berantem? Ga ada alasan buat itu.” Sammuel menyahut penuh kegelapan, ketika batin meringis pedih.

__ADS_1


Terngiang permintaan sang ayah, yang membuatnya kini menjadi berubah. Ia berharap, pria yang masih asik menikmati batang rokoknya dapat mengetahui dengan sendirinya, tanpa ia harus memberitahukannya.


“Sikap dingin lo, keliatan kalau lo lagi sebel sama dia.” Telunjuk Jackson melenting ke arah adiknya, memberikan ancaman agar Sammuel sudi mengubah sikapnya kembali.


Lengkung bibir terukir di balik wajah Sammuel, menutupi batinnya yang kian meringis pedih. Luka bertabur garam, sang hati kian tergores lebih dalam mendengar ancaman dari kakaknya. Ia berharap, Jackson mengetahui bahwa kembalinya sikap dingin itu, terpacu akibat mereka berdua.


“Benar?” tanya Jackson memastikan, menganggap bungkaman mulut itu sebagai persetujuan. Namun, lenguhan pilu menyayat indra pendengarannya. Sehingga makna lain ia dapatkan.


“Gue bingung sama perasaan gue sama dia.” Sammuel melenguh rapuh, memberikan ungkap kejujuran.


Jackson menyeringai geli, tidak biasanya pria itu sudi menjatuhkan harga diri dengan mengungkap perasaan. Kesungguhan yang terukir di balik tatapan rancu pria itu, di sambutnya dengan tawa cibiran.


“Bukannya lo bilang udah cinta mati sama dia?” ungkap Jackson kian mengolok, membuat telinganya kembali mendengar lenguhan pilu.


Tiada kata yang mampu menimpali sindiran itu, Sammuel mencari bahan pelampiasan pada bungkusan rokok yang tergeletak di atas meja.


Semburan asap rokok dari mulut, terlihat mewakili kerancuan. Hisapan tanpa jeda, terlihat memancarkan kegelisahan. Di sela kegiatan itu, pikiran Sammuel melayang tanpa arah. Mengulang tragedi di saat awal ia bertemu dengan sang istri.


Bukan tiada alasan ia berlaku seperti sekarang ini, melainkan untuk memenuhi keinginan sang ayah. Jika saja ayahnya tidak memaksanya untuk mengorbankan hati, ia tidak akan sudi megalah begitu saja terhadap kakaknya.


Meyakini garis kemenangan berada di hadapan, melihat kasih cinta wanita yang di perebutkan hanya tercurah untuk dirinya. Ia yakin jika suatu saat dapat dengan mudah merangkul wanita itu dalam kehidupannya.


Rupanya takdir berkata lain, akan tetapi itu bukan hal aneh baginya. Sejak dahulu kala, ia selalu mendapat keprihatinan dari nasib percintaannya. Hal itu lah yang membuatnya tega berlaku mengerikan terhadap wanita.


“Ada yang lain.” Hingga pada akhirnya, jawaban di dapati. Meski hanya setengah hati, ia berpasrah diri mengungkapnya.


Jackson menyeringai miris, menanggapi sikap yang selalu dibencinya. Sudah menjadi dugaan sebelumnya, jika Sammuel akan menyerah dengan hal itu. Sehingga ia membiarkan hubungan adiknya dengan Tara berjalan sedemikian adanya.


Sebuah kesepakatan dalam jalinan hubungan, menjadi pemicu paksaan bagi hati mereka. Begitu pula sebuah beban atas balas budi dari Tara, menjadi pemicu hubungan tidak akan berlangsung dalam kurun waktu yang lama.


Pernikahan siri yang terjadi di antara mereka, terjalin demi dirinya. Jackson menyadari hal itu sejak dini, akan tetapi tidak ia pungkiri, rasa cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Namun, hasil buruk ia dapatkan, ikatan itu berbuah penyesalan bagi insan yang terlibat dalam kisah Asmara Jajar Genjang itu.


"Lo ga cocok sama dia Sam, dia tipe orang setia, lah lo baru aja bilang cinta sama dia malah udah selingkuh." Jackson kembali mencibir, mengungkap tujuan dengan nada olokan.


"Menurut lo ... apa gue salah mikirin itu dari pagi?"


“Salah!” Jackson menyahut secepat cahaya, nada tegas menyertai ucap katanya. “Ga seharusnya lo lampiasin amarah sama bini lo, kasihan dia jadi ga fokus kerja,” imbuhnya menjabarkan alasan, di sambut Sammuel dengan anggukan paham.


“Oke oke, gue ngaku salah. Stop jangan bahas itu dulu, oke!” ujar Sammuel penuh penekanan, di kala sang hati meronta tidak ingin mengakui kesalahan.


“Oke ga bahas itu, kita bahas soal si kembar. Apa udah bisa gue tarik dari bini lo?”


“Mau di apain mereka?” Seolah khawatir, Sammuel mempertanyakan. Pada kenyataannya, ia tidak ingin menghentikan pengintai itu dari pekerjaan menguntit istrinya.


Keadaan tidak sedang mendukung. Jika ia lengah barang sedikit pun, maka ia tidak akan dapat mengorek rahasia yang belum mendapat jawaban hingga kini.


“Buat nyelidiki kasus si Cakra, cuma mereka yang becus,” sahut Jackson.


Sammuel melenguh pasrah, tiada yang lebih penting dibandingkan dengan apa yang di rencanakan sang kakak.


“Ya udah kalau gitu, lo tarik aja.” Sammuel terpaksa mengalah, memberikan keputusan tanpa bisa mempertimbangkan.


Sudut bibir Jackson terangkat indah, menanggapi sikap egois yang sudah dapat di kendalikan oleh adiknya. Biasanya, pria ini tidak akan mudah mengalah begitu saja.


Rasa kagum menyeruak dari dalam benak Jackson, ia berpikir jika pria keras kepala ini sudah menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2