
Semilir angin di pagi hari menyentuh kalbu, udara sejuk tiba mengiringi tarian mentari. Berbeda dengan kehangatan langit yang berseri, kegaduhan kini mengisi suasana tegang di dalam villa yang menjadi kediaman sementara Alev.
Di dalam ruang makan, suasana rusuh menghujam kedua insan yang duduk di atas kursi yang tersedia. Alev masih berteguh hati untuk segera melancarkan siasatnya, membujuk sang ibu agar sudi meninggalkan diri seorang.
"Alev." Tara mengumpat kesal, melihat tingkah anaknya yang selalu menolak untuk memberi asupan makanan pada perutnya.
Alev melakukan pemberontakan, berdemo dengan cara halus agar tidak menyinggung perasaan sang ibu yang kini menjadi lebih sensitive dari biasanya.
"Ma ... Al bosan makan yang begini terus." Alev selalu merengek, terdengar dari nada bicara kesal yang terlontar.
Rasa frustasi akhir-akhir ini selalu menghampiri, ketika kewalahan menimpali segala tindak tanduk anak semata wayangnya. Lantas, Tara hanya mampu melenguh tanpa ingin memberi perlawanan dengan bujukan.
"Mau ganti menu?" tanya Tara.
"Al mau makan yang di masak mama." Alev kian merengek, membuat pasang telinga mendengar embusan napas kasar dari sampignya.
"Bahan makanan udah habis, Al." Kenguh frustasi terlintar di akhir kalimat, berbalas seringai manis dari pria yang duduk di sampingnya.
Itu dia, jawaban yang ingin di dengar Alev. Hendaklah rangkaian siasat ia kemukakan satu persatu, bermula dari tatap tajam menyorot wajah samg ibh.
"Mama bisa keluar untuk membelinya, 'kan?" Tidak lagi merasa ragu, di saat kesempatan itu tiba, Alev segera meluncurkan umpannya. "Kalau mama takut ada yang menemukan keberadaan mama, mama bisa pakai masker dan kerudung."
Benar apa yang di katakan anaknya, yang salah hanyalah rasa takut selalu merangkak dari dalam palung hatinya. Sehingga ia selalu menjaga diri agar tidak menemui siapa pun yang mengenalinya.
"Baiklah, mama akan pergi." Pasrah sudah Tara di buatnya. Lantas, ia beranjak tanpa membuang waktu.
Seolah mengharap sang ibu pergi, ketika sosok itu hilang dari pandangan Alev, seringai kemenangan tergambar begitu jelas. Ia pun menunggu beberapa saat, menaruh kewaspadaan jika saja ibunya kembali.
Beberapa menit berlalu, Alev mengincar waktu. Menilik keadaan nampak sudah terlihat aman, ia segera memburu tujuan. Menghampiri tempat di mana ponselnya berada.
Meski ia tidak melakukan pencurian, akan tetapi sikap hati-hati ia kerahkan. Barangkali sang ibu kembali tanpa di ketahui, hingga ia berjaga pandang serta pendengaran menuju arah pintu masuk ruang tidur itu.
Tiga puluh menit berlalu, belum jua ia melancarkan siasatnya. Ketika kesulitan akibat benda itu kehabisan daya. Terpaksa ia menunggu hingga beberapa saat, membuat waktu terbuang sia-sia.
Kemudian ....
"Papa." Pada saat alat media dapat di gunakan, Alev segera melakukan panggilan terhadap ayahnya.
__ADS_1
"Alev, ke mana aja kamu?" Di sana, Jackson kegirangan. Terdengar dari nada bicara ceria oleh lawan bicara di balik ponselnya.
"Papa, aku ga punya banyak waktu buat jelaskan semua. Aku menghubungimu cuma ingin memintamu menjemput mama segera." Tegasnya nada bicara alev menegaskan, enggan jika sang ayah menghadang keinginan.
Alev cemas di saat diri tersadar akan kesalahan yang sedang di perbuat. Namun, ia tetap melanjutkan perbincangan meskipun ia harus bersusah payah mengunci tatapan menuju arah pintu.
"Al, maaf papa-"
"Mama sakit udah satu minggu, Al khawatir karena ga ada yang mengurusnya." Alev memenggal ucapan sang ayah, mengira jika penolakan akan di dapati.
Sebaris kalimat penjelasan dari Alev, berbuah lenguh keterkejutan nampak terdengar dari balik ponsel itu.
"Mama sakit apa?"
"Belum tau, selama ini mama ga mau periksa ke rumah sakit." Alev melirih pedih, hal ini lah yang membuat tekad menguat untuk segera menghubungi ayahnya.
"Apa tubuhnya demam?"
"Engga, cuma sering muntah." Begitulah keadaannya, Alev memberi jawaban akan pertanyaaan bak mengintrogasi itu.
Selama satu minggu hidup bersama ibunya, ia harus menghadapi keadaan prihatin. Tara mengidap penyakit tanpa di ketahui, lantaran selalu menolak untuk memeriksakan tubuhnya.
"Ga usah, papa akan tau kamu di mana."
"HP ini akan aku matikan lagi, papa ga akan bisa melacak lokasi jika begitu, bukan?"
Tawa kecil menyerukan rasa kagum terdengar Alev seolah telah mencibirnya, sedikit kesal ia menanggapi. Namun, segera ia menghempas amarah itu di kala sebuah urusan lebih penting telah menantinya.
"Baiklah, papa tunggu segera," ucap Jackson memberi keputusan, menbuat embusan napas lega menyentuh indra pendengaran.
"Ya." Kata pengakhir perbincangan Alev lontarkan, kemudian panggilan ia putuskan.
Lekaslah ia mengirim sebuah pesan yang telah di janjikan. Usai dengan itu, Alev kembali menaruh benda pada tempat semula sebelum ibunya tiba.
Nampak keberuntungan menghampiri, setelah benda itu tiada lagi dalam genggaman. Sang ibu menghampiri dan langsung menghadap dirinya. Tentu, ia mendapat kejutan, akan tetapi hanya sesaat semua itu sirna. Alev mengira jika tindak tanduk yang di lakukan tidak akan di ketahui oleh ibunya.
"Mau mama masakin sekarang?" tanya Tara menyapa.
__ADS_1
Alev mengangguk pasrah, rasa bersalah belum sepenuhnya enyah. Sebisa mungkin ia menyembunyikan di balik senyuman kakunya, bahkan kini melangkahkan kaki. Membuntuti tujuan sang ibu yang berjalan di barisan depan.
Sesungguhnya rasa bersalah telah tumbuh dua kali lipat, Alev tidak tega membiarkan ibunya mengabulkan keinginan di saat tubuh kehilangan stamina. Namun, demi mendapat keselamatan bagi semua, ia terpaksa mengorbankan kesehatan sang ibu.
Acara masak-memasak pun berlangsung tanpa gangguan, hingga setelah hidangan tersedia mereka melakukan makan siang bersama. Seusainya, Tara bergegas mengundurkan diri terlebih dahulu ketika rasa mual itu kembali menghujam perasaan.
Alev berdiam diri, bukan tidak ingin ia menemani ibunya. Sudah berkali-kali Tara menolak bantuan jika diri akan membantu menyembuhkan penyakit itu.
Maka, Alev pergi menuju ruang tamu, duduk di atas sofa di sana untuk menyambut seseorang yang telah berjanji akan menemuinya.
Tepat saat rasa khawatir datang menembus angan mengira ayahnya telah mengurungkan niat, suara bel pintu bergeming nyaring. Alev bergegas membukakan pintu itu, sebelumnya melontarkan seringai untuk peraihan kemenangan.
Namun, ketika pintu terbuka,
"Kamu ... mirip banget sama dia," kata seorang lelaki yang berdiri di balik pintu.
Alev tidak menyahut ucap kata yang telah meresap ke dalam telinga, pikiran berpusat pada wajah asing di hadapannya.
"Om, siapa?" tanya Alev penuh waspada, mengira seseorang akan melakukan tindak kejahatan terhadap dirinya.
Hening ....
Tiada suara menyahut pertanyaan, Hanson terpaku dalam tatapan heran. Menilik tajam wajah pria remaja yang masih mendongkak menatapnya. Memang sebelumnya ia telah mendengar tentang kemiripan wajah itu dengan kakaknya, tetapi pasang mata baru dapat melihatnya kali ini.
Di tengah kejutan yang masih menghujam batin kedua pria di sana, seseorang menepikan langkah kaki dari arah samping kanan Alev. Siapa lagi jika bukan Tara? Tiada penghuni lain tinggal di sana selain mereka berdua.
"Al, mama bilang jangan terima tamu-" ucapan Tara terhadang rasa kejut. Baru saja kaki berhenti berpijak, ia mendapat kejutan akan kehadiran Hanson di sana.
Bergegaslah ia menyeret tangan anaknya agar menjauh dari pintu, kemudian menutup pintu itu dengan tergesa. Nahas, Hanson lebih gesit darinya, sehingga pintu itu dapat di tahan hanya dengan sebelah tangan.
"Hans, jangan paksa aku buat pulang." Di sela dorongan keras akan tekad diri, kedua tangan tak kalah kerasnya ingin menutup pintu itu.
"Dengar aku dulu, buka pintunya," ungkap Hanson berseru memaksa.
•
•
__ADS_1
•
Tbc