Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 207


__ADS_3

Rupa-rupanya seluruh rencana Jackson melenceng dari perkiraan. Semestinya ia dapat memecahkan kasus Marlin Hasim dalam kurun waktu hanya satu minggu saja, akan tetapi kendala melanda sehingga membuat waktu yang ditempuh menjadi dua kali lipat dari perkiraannya. Kendati demikian, ia masih dapat tersenyum lebar manakala keberhasilan telah tergapai.


Di dalam ruang penyidikan milik perusahaannya, Jackson sudah berdiri di hadapan seorang wanita yang masih terlihat bergairah. Hanya mereka berdua melakukan perbincangan, tanpa ada seorang pun turut mencampuri urusan. Barisan pertanyaan terlontar bertubi pada sang wanita, membuat wanita itu kalah telak menerima perlakuan tegasnya.


"Saya tidak tau kalau suami saya melakukan tindak korupsi." Sebisa mungkin Marlin menyembunyikan getaran tubuhnya, agar lawan bicara yang dianggap sebagai musuh tidak mudah meremehkan.


"Maaf nyonya, saya tidak bertanya demikian, yang saya tanyakan ... benarkah anda menerima uang dari suami anda?" Jackson mulai menutupi senyuman iblisnya dengan menatap dokumen yang tergeletak di atas meja. Mau bagaimana pun, wanita itu adalah nenek dari anaknya.


"Jelas, pasti karna sudah kewajibannya."


Seringai keji tergambar jelas dibalik wajah Jackson, menanggapi ucapan yang sudah ditunggunya. Sang musuh telah masuk dalam jebakan, puncak kemenangan kian mudah ia gapai.


"Jika demikian adanya, mohon maaf anda ikut terseret dalam kasus suami anda." Senyuman Jackson membuat Marlin melunglai.


Marlin menyesali ucap dustanya, seharusnya ia tidak mengatakan jika sang suami memberinya biaya hidup. Baiknya ia menyembunyikan hal tersebut agar diri tidak terseret dalam kasus suaminya. Tiada mampu ia memberi alasan, ia memutuskan membungkam diri agar tidak lagi ada kesalahan.


"Maaf saya pamit, saya tidak bisa membantu anda lebih dari sekedar meringankan hukuman." Jackson bangkit berdiri membawa lembaran dokumen yang sudah tegeletak di atas meja.


"Bukankah anda pemilik perusahaannya?" Marlin masih berusaha mencari bantuan, seribu rayuan sudah di persiapkan di dalam benak. Ia yakin, seorang pria yang kini menyeringai kejam di hadapan, dapat dengan mudah menjadi targetnya. Kemudian air mata palsu bergenang di sudut matanya.


"Betul, tapi ... yang memiliki kuasa atas ini adalah adik saya." Jackson menatap lekat mata Marlin yang sudah berkaca-kaca, jua senyum penahan amarah terlontar membuat lawan bicara kian menciut ketakutan. "Adik saya, menantu yang tidak anda akui."


Marlin melunglai, rayuan-rayuan maut yang sudah dipersiapkannya itu musnah bagai bayangan. Kini penyesalan menusuk tulang hingga asmanya. Salahnya sendiri hanya demi membalas dendam ia tidak mengakui siapa menantunya. Ia telah menjerumuskan diri dalam marabahaya yang lebih kejam dibandingkan dengan apa yang dilakukan terhadap sang anak.


Lamunan buyar ketika sepasang insan menggantikan Jackson untuk menghadapnya. Kini senyuman merekah, melihat wajah cantik di hadapan telah meluncurkan air mata demi dirinya. "Tara," sapanya beserta bangkit berdiri lantas mulai melangkahkan kaki. "Mama—"


"Haruskah aku bantu dia sayang?" ujar Sammuel membuat langkah Marlin terhenti di tempat.


"Keputusan ada di tangan kamu." Meski berucap pada suaminya, namun tatapan Tara masih tertuju pada ibunya. "Cuma ... anak kamu ini yang ga mau kamu bantu dia." Tara mengusap perutnya seraya menatapnya menuh lirihan. Lantas kembali memandang nyalang wajah ibunya.


Teg ... Jantung Marlin seakan berhenti berdetak. Mendengar pernyataan kehamilan dalam ungkap penuh teka-teki itu, membuatnya mengakui kekalahan.


"Sayang ..." Seolah sengaja Sammuel melepas pandangan sadis Tara kepada ibunya, ia menarik wajah itu agar menghadapnya. "Mau gimana juga dia mama kamu."

__ADS_1


"Oh iya, aku lupa jika aku memiliki seorang ibu. Aku juga lupa jika seorang ibu boleh menjual anaknya, boleh bersikap sadis sama anaknya tanpa menerima dosa sedikit pun. Aku sebagai anak cuma bisa terima semua nasib buruk aku." Tara berucap kesal, menyertakan pekikan nada bicara pada setiap kata yang terucap. Matanya masih berkaca-kaca dalam jiwanya yang menyimpan seribu dendam pada ibunya.


"Tara!" Marlin membentak anaknya, disambut Tara dengan menatapnya lantas menyiratkan senyuman sarkas.


"Oh maaf mama, aku salah." Ia membungkukan tubuh sebagai olokan untuk wanita itu. "Semoga mama bisa dapat pelajaran dari kejadian ini."


"Sayang ... segitukah kamu ga mau aku ikut campur?" Bujukan dari Sammuel itu sesungguhnya menyambut sindiran istrinya pada ibu mertua, akan tetapi Tara menyahut dengan pelototan. Sebab Tara mengira jika sang suami berusaha merayu agar dapat membantu wanita itu.


"Kamu ga ada dimatanya, kamu ga ada dihatinya, apa kamu masih mau bantu dia?" Nada bicara Tara mulai jengkel, tak ayal tatapan pun kian memancarkan aura bengisnya.


Baru kali ini Marlin melihat dendam yang berkobar dari dalam jiwa anaknya, membuat lutut melemas hingga ia duduk pada tempat semula. "Mama minta maaf, Tara."


"Oh ... kenapa mama harus minta maaf? Mama ga salah kok, yang salah aku udah ga bisa bahagiakan mama sampai mama berhubungan dengan rentenir, sampai mama sempat hidup dengan pengusaha psikopat. Malah mama ga bebas menentukan pilihan antara memikirkan hati mama atau anak-anak mama."


"Tara!" Marlin membentak kembali, hanya untuk gertakan semata. Sesungguhnya ia melakukan hal itu agar anaknya menghentikan sindiran.


"Ibu Marlin Hasim dia istriku, tolong jaga sikap anda jika anda masih membutuhkan bantuanku," ujar Sammuel.


"Ga usah!" ucap Tara memenggal jawaban Marlin, membuat Marlin tertegun kaku. "Kamu ga usah berusaha nyari simpati dari dia." Bendungan air mata terkoyak sudah, tak kuasa menahan kepedihan membuat deraian bulir bening membanjiri pipi gembulnya.


"Maaf Sam, aku punya banyak keluhan sama dia." Di sela deraian air mata yang tak henti mengalir, Tara menatap sadis wajah ibunya.


"Baiklah ... mama akui mama salah, mama minta maaf," ucap Marlin terabaikan lawab bicara, saat ia mengucap kata tanpa ada ketulusan dibaliknya.


Tara tersenyum miris menatap wajah anggun yang tidak seanggun hatinya itu. Emosi tertahan di dalam kepalan kedua tangan. Terlalu sakit ia merasakan semua penderitaan akibat ulah ibunya hingga membuat bibir tebungkam rapat.


Sammuel sadar akan hal itu, terlihat dari air mata istrinya yang kian deras mengalir. Ia pun meraih tubuh semampai itu hingga larut dalam dekapan.


Terbendungnya emosi, membuat Tara kehilangan kesadaran. Tubuhnya ambruk dalam dekapan suaminya.


"Nyonya Marlin, saya menghargai anda sebagai orang tua." Sammuel menjeda kalimat, di saat ia menarik tubuh sang istri kedalam pangkuan. "Saya akan membantumu bukan karna saya menarik simpatimu untuk mendapat pengakuan atau restumu. Tapi saya minta anda berhenti menyakitinya." Dan berlalu begitu saja dari hadapan mertuanya.


Hilangnya tubuh sepasang suami istri dari pandangan, membawa diri pada renungan. Tempat sunyi berdindingkan beton itu, membuat suasana kian mencekam.

__ADS_1


Haruskah ia bersujud meninta ampunan kepada orang-orang yang telah disakitinya?


Marlin tidak mengira jika kebahagiaan yang baru di dapatkan akan musnah karena ulahnya sendiri.


**********


Sementara pada lantai sepuluh bangunan berlantai enam puluh itu. Jackson sudah berdiri di hadapan calon istrinya. Senyuman manis terlontar sebagai salam sapa kepada wanita yang duduk di atas kursi kerjanya.


"Tri." Jackson menghela napas kasar mewakilkan rasa lega, membuat Triana mendongkak menatap penuh kejanggalan. "Papa kamu selamat," ujarnya berseru manis, mengharap jika kabar yang dibawa membuahkan kebahagiaan bagi calon istrinya.


"Selamat apanya?"


"Dia ga terseret dalam kasus Cakra, yang terseret cuma Guo Ming Shen sama Rizal—"


"Kenapa bisa?" tanya Triana memekik tidak percaya. Ia mengharap jika perusahaan ayahnya ambruk untuk membalaskan dendam. "Aku ga terima!"


Jackson menghela napas rancu. Tidak seharusnya wanita lugu itu memendam sejuta dendam. "Mau gimana juga dia papa kamu, Tri."


"Iya ... papa aku, tapi aku tetap ga terima kalau dia bebas gitu aja. Dia yang udah bunuh mama aku Jack, dia yang udah bikin hidup kita sengsara." Mengingat seluruh nasib nahasnya, Triana melepaskan perasaan pada derai air matanya.


Jackson segera meraih tubuh itu dalam dekapan, memberikan penghiburan dengan mengecup keningnya. "Ga ada bukti sedikit pun, itu pasti akan mempersulit penyidikan." Lantas telapak tangan mengusap kasih air mata itu. "Tapi ... aku rasa papi aku bisa atasi semua," imbuhnya membuat dekapan itu ditepis keras oleh calon istrinya.


"Aku mau ketemu papi kamu sekaramg juga!" pinta Triana dalam ancaman kerasnya.


"Tapi aku ada meeting—"


"Ya udah aku ke sana sendiri." Triana menghentakkan kakinya, memunggungi calon suami. Ia beranjak membawa seluruh dendam dalam langkahnya.


Tidak ada pilihan lain, Jackson bergegas membuntuti langkah itu. Untuk pekerjaan ia akan menyerahkan kepada kakaknya ataupun adiknya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2