Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 110


__ADS_3

Matahari bersinar terang, meski udara pagi masih membayang, namun sengatan cahaya itu terasa membakar tubuh Tara yang tengah bergelut dengan lembaran berkas pekerjaan barunya.


Berkali ia meneguk minuman sodanya sebagai pelepas kerancuannya, tidak di duganya sang kekasih memberikan pekerjaan penting dalam perusahaan untuknya.


Kegiatannya tersenggal saat Sammuel menyeret kursi hingga duduk di sampingnya. Di rebutnya lembar kertas itu dari tangan istrinya. "Si Jack ngasih tender ultranium sama lo?"


"Hmm!" Jawab Tara berdengung kala otaknya menjanggalkan akan sesuatu. "Heran aku sama pemikirannya, gimana bisa orang kaya aku megang tender gede gitu?" Imbuhnya di balas tawa miris oleh sang suami yang telah menopangkan dagunya di atas telapak tangannya.


"Jarang dia ngasih tender itu sama sembarang orang, berarti lo mampu Art." Sahut Sammuel menggundam emosi hingga menghempas keras lembar kertas yang berada pada genggamannya, namun sang amarah tertutup di balik senyum menawannya. "Saran gue mending lo ngurus tender ini daripada tender titanium." Imbuhnya beraeru rajuk setelah mengingat kembali ucapan sahabatnya saat yang lalu namun membuat sang istri berdecak ngeri


"Kamu udah bikin syaratnya kan?" Balas Tara menimpal ucapan suaminya yang sangat enggan tersengar di telinganya hingga ia mencaei bahan obrolannya.


"Udah."


"Mana?" Tanya Tara bergeming di iringi tangan kanannya yang menengadah seolah meminta sesuatu pada suaminya yang masih setia duduk di samping kirinya. "Aku juga mau liat, jangan curang."


Sammuel melambaikan tangannya di mana Nicky duduk di atas sofa yang terletak di tengah ruangan itu. "Nick sorry ambilin kertas perjanjian gue di laci meja gue paling atas." Ujarnya di sambut anggukan keras oleh sahabatnya.


"Kamu bisa bimbing aku soal tender itu?" Ujar Tara merajuk, menatap harap wajah suaminya.


"Berapa bayarannya?" Sahut Sammuel penuh godaan hingga menyeringai menyeramkan membuat sang istri bergidik ngeri menyikapinya.


"Pake dia." Sahut Tara menunjuk hati yang tersembunyi di balik dadanya membuat sang suami terkekeh hingga menatap ledek wajahnya.


"Bukannya lo mau tau otak lo sampe mana? Kalo gue bantuin laen ceritanya dong?" Ujar Sammuel membuat sang istri menghembuskan napas kasarnya membenarkan apa yang di katakan suaminya.


"Soal tender CC Film, aku harap kamu ga larang." Pinta Tara penuh pertimbangan namun terabaikan kala seseorang memasuki ruangan.


"Ini yang baru, jadi kalian harus nandatanganin lagi." Tutur Nicky kala ia berhasil menghadap atasannya yang masih setia duduk berdampingan dengan sang istri.


"Oke." Balas Sammuel tak lantas meraih lembar kertas yang di sodorkan sahabatnya.


Tara merebut paksa lembar kertas itu dari tangan suaminya tanpa pencegahan sedikitpun hingga ia leluasa mencermati barisan kata yang terukir di atas kertas itu. Hanya melihat poin ke 11 dari Sammuel serta poin ke 5 darinya tanpa melihat barisan kata lainnya, ia segera menyiratkan tanda tangan pada kolom tersedia.


"Sesuai, tinggal kamu tanda tangan." Titah Tara tergesa hingga ia menyodorkan kertas itu kepada suaminya.


Sammuelpun meraihnya seraya menggelengkan kepalanya. Ia yakin istrinya tidak menela'ah baris lainnya. Terlihat dari tingkahnya yang tidak terkejut sama sekali. Tanpa bicara iapun menyiratkan tanda tangannya pada kolom tersedia.


Kegiatan kembali tersela kala pintu ruang itu terbuka menampakkan Jackson di sana membuat Sammuel serta Tara mengarahkan pandangannya padanya.


"Art, kamu ga ngasih tau aku butuh pasangan buat acara kamu?" Ucap Jackson di sela kakinya yang masih mengayun lambang menghampiri pasang insan yang kini telah saling menatap wajahnya penuh kejutan.


"Sorry." Sahut Tara menyerengeh namun membuat emosi sang suami meluap di sana.

__ADS_1


"Acara apaan?" Tanya Sammuel menatap janggal wajah sang istri.


"Naskah aku yang udah di rilis malah udah tayang, besok acara pembukaannya di CC Film." Jawab Tara datar membuat sang suami kian emosi.


"Si Maudy yang jadi pemeran utamanya ya?" Sahut Jackson menginterupsi kala ia telah berhasil berdiri di hadapan sang kekasih hati.


Tara bangkit menyambut kedatangan kekasihnya, lantas melangkahkan kakinya hingga menepi di hadapan pria yang telah melirik ledek wajah adiknya. "Kamu mau jadi pasangan aku?"


"Jelas lah, kalo bukan aku terus siapa? Si Hans kan sama si Fiona." Sahut Jackson kembali melirik wajah sang adik yang telah nenerah menahan emosi di hadapannya. Lantas menyeret tangan sang kekasih untuk membuntuti langkahnya.


Sammuelpun turut membuntuti langkah mereka meski hatinya merancu enggan berkecimpung dengan pasangan yang akan membuat matanya terkontraminasi. "Lo bilang si Maudy yang jadi pemeran utamanya?"


"Hmmm." Sahut Jackson mendengung ledek kala ia berhasil mendaratkan bokongnya di sebrang asisstant adiknya. "Kamu ga keberatan kan kalo aku yang jadi pasangan kamu?" Imbuhnya kian menggoda adiknya dengan mengusap puncak kepala sang kekasih yang duduk di sampingnya.


Kelembutan dari nada bicaranya, membuat Tara menghangat seketika, namun membuat Sammuel kian geram menyikapinya.


Tara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban serta menyiratkan senyum indahnya.


"Hebat juga lo Art." Balas Sammuel tidak mau menyerah kala berhasil duduk besebrangan dengan istrinya hingga dengan mudah menyorot manik mata sang istri dengan tegasnya. "Bisa megang banyak tender dalam waktu singkat." Ujarnya geram hingga matanya memicing menatap tangan yang mengelus puncak kepala istrinya.


"Emang hebat makanya gue kesengsem." Sahut Jackson berseru mencibir untuk menggoda sang adik dengan mengecup kepala samping wanitanya membuat empunya menatap suaminya yang telah menatapnya penuh emosi.


Kesempatan bagi Tara, ia ingin memancing kecemburuan suaminya. "Jack kamu bisa anter aku nyalon dulu kan? Sekalian pilihin baju juga."


Enggan Sammuel melihat aksi romantis di hadapannya, ia meraih phone cell nya, berpura melakukan sesuatu dengannya.


Nicky yang hanya fokus pada layar laptopnya, kini menggelengkan kepalanya menyikapi perlakuan atasannya. "Nyonya saya tau butik terbaik di Jakarta, nanti saya kirim alamatnya." Tuturnya tak lain seperti Jackson untuk memancing hati sang atasan.


"Kasih gue aja alamatnya, kan gue yang mau anter dia." Sahut Jackson berantusian menyambut pancingan pria yg duduk di sampingnya tak lantas tangannya berhasil pinggang kekasihnya membuat membatu kaku.


Sammuel mencoba meredam emosinya dalam rahangnya yang semakin mengerat meski tatapannya menuju alat medianya, namun tetap saja kedua ujung matanya mampu meraih pandangan di hadapannya itu.


Kian menarik! Sebelah tangan Jackson yang senggang kini ia gunakan meraih tangan kiri kekasihnya. "Cincinnya kaya cincin nikah ya?" Ujarnya di iringi senyuman penggodanya yang di sambut sang kekasih dengan senyuman manis tanpa dosa mengabaikan pria di hadapannya yang masih memusatkan ujung matanya pada pemandangan di hadapannya.


"Iya ya, aku baru sadar." Sahut Tara menyambut perlakuan kekasihnya dengan melirik sejenak pada tangannya yang tergenggam sang kekasih.


"Jangan ilang, ini berliannya susah aku dapetnya." Ujar Jackson tak ayal kian meresapi tatapannya pada wajah jelita yang kini kembali memaparkan senyuman manis kepadanya membuat emosi seorang pria meruah tanpa arah di sana.


"Anj**g lo!!!" Umpat Sammuel memekik emosi hingga melemparkan alat medianya menuju ke arah kakaknya. "Mau mesra mesraan jangan di sini bang*e!" Imbuhnya berambisi ingin melerai aksi romantis itu hingga ia tidak tahan diri beranjak dari hadapan mereka tanpa pamit.


Pekikan suara Sammuel rupanya membuat seluruh penghuni menyiratkan senyum kemenangannya.


Sedang Jackson mengusap dadanya, menghilangkan rasa nyeri akibat ulah adiknya sesaat tadi. "Ngiri aja lo." Sahutnya bergembira melihat tingkah dari adiknya itu, lantas ia terkekeh seraya meraih alat media sang adik yang tergeletak di lantai sana.

__ADS_1


"Jack mending kamu balik deh, si boss lagi emosi dari tadi." Usir Tara tak acuh bangkit meraih tangan sang kekasih, memaksa menuntunnya agar sang kekasih melakukan perintahnya. "Besok aku tunggu kamu jam 4 di kampus."


Tanpa mau menolaknya, Jacksonpun bangkit mengantar lenguhannya. "Oke." Sahutnya berpamit. Kembali ia mengecup kening kekasihnya membenamkan sejenak bibirnya di sana seraya menatap wajah adiknya dengan ujung matanya.


"Sam sorry besok aku di jemput cowo aku di kampus." Seolah belum puas, Tara bersahut memekik. Nyatanya, sang suami telah berada di atas kursi kebangsaannya agak menjauh darinya.


"Serah!" Balas Sammuel tak kalah memekik hanya untuk melampiaskan emosinya semata.


Sementara Jackson telah melangkahkan kakinya hingga menepi di hadapan adiknya. Ia menaruh alat media yang telah meretak layarnya itu di atas meja kebangsaan adiknya. "Lain kali lo ga bisa lampiasin emosi lo sama objek yang ga bersalah." Serunya meledek tanpa ingin di timpali hingga ia kembali mengayunkan kakinya memunggungi adiknya.


Lenyap sudah sang President Direktur dari ruang kebangsaan itu. Tara melejit mengayunkan kakinya menghampiri sang suami tercinta hingga mendaratkan tubuhnya di atas pangkuan suaminya.


"Ga puas lo mesra-mesraan sama dia sampe nyari gue gini?" Seru Sammuel bersahut ketus, ia masih berpura tidak menyambutnya dengan meraih alat medianya. Namun sang istri berkeras hati melakukan usahanya merayu pria yang kini telah memaparkan senyum mirisnya kepadanya.


Hingga pada akhirnya, Tara mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. Di kecupnya pipinya sekilas. "Apa aku harus bareng kamu ke acara itu?" Entah mengapa pembahasannya kian menyulut emosi suaminya hingga sang suami menghempas keras tubuhnya dari atas pangkuannya.


"Nick, urus kerjaan dulu, gue cabut." Ujar Sammuel tak acuh mengabaikan wajah istrinya yang menjanggal di sampingnya dengan mengayunkan kakinya.


Tara mengejar langkah itu lantas menggenggam sebelah tangan suaminya. "Sam udah ada di perjanjian, kamu mau pergi ke mana?"


"Ngambil hadiah ultah lo, lupa waktu itu gue ga sempet kasih lo." Balas Sammuel geram, namun bukan kepada sang istri, melainkan terhadap dirinya sendiri yang telah melupakan sesuatu yang begitu penting menurut istrinya hingga insiden kemesraan saat lalu mengingatkannya akan kesalahannya.


"Aku boleh nanya hadiahnya apa?"


"Cincin berlian langka dari Dubai." Sahut Sammuel bernada ketus, menyembunyikan rasa sesalnya hingga menghempas tangan yang menyegel pergelangan tangannya. Lantas kembali melangkahkan kakinya hingga hilang di balik pintu.


Sementara Tara menatap Nicky dengan senyuman penuh kemenangan. "Dia cemburu kan Nick?"


"Kayanya gitu, nyonya tinggal nunggu dia ngakuin perasaannya aja." Nickypun membalas senyuman itu tak lantas meraup kemenangannya.


"Moga aja kesabaran aku ga keburu abis." Sahut Tara bergembira yang terpampang dari senyum riangnya di sela langkah kakinya kembali menuju meja kerjanya membawa perasaan bahagianya. Namun, di tengah langkahnya ia menyenggalnya. "Jadi dia ke Dubai nyari hadiah buat aku kan Nick?" Terkanya memastikan.


"Ya nyonya, dia minta buat ga bilang dulu sama nyonya waktu itu." Jawab Nicky penuh kesungguhan membuat istri atasannya kembali memaparkan senyum riangnya.


Hanya dengan pernyataan sepenggal itu, Tara mendapat jawaban yang begitu membuat hatinya berpuas diri. Ia telah merasakan jika sang suami telah peduli terhadapnya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2