
Bayang jingga memancarkan sinarnya di tengah petang yang terasa gersang. Cahaya merah keunguan terpancar menerobos bangunan rumah mewah milik seorang pria bernama Sammuel Nate Charington.
Perlahan sinar itu meredup di kala rembulan menampakkan diri. Malam temaram membawa udara lembab menyebar kepada sepasang insan yang terduduk di meja makan. Hawa panas tercipta tatkala sepasang mata saling bertukar pandang dengan tatapan tajam.
Dilema membangkitkan gelisah dalam jiwa, tampak jelas terlukis pada roman wajahnya. Tara dilanda kebimbangan menentukan ucapan, akan tetapi rasa curiga mendorong keras tekadnya untuk segera membuka mulut.
“Sam, apa kamu sembunyikan sesuatu dari aku?” Bibir kelu dipaksanya untuk berucap, tak ayal suaranya perlahan melemah sebagai tanda keraguan.
Sammuel mengembangkan senyum hanya untuk mencibirnya. Tak lupa pula, sepasang mata mengunci tatapan sebagai olokan semata.
“Bukannya lo yang kaya gitu?” Tak acuh Sammuel mengabaikan pancaran kepedihan dari raut wajah istrinya. Ia kembali tertunduk saat kedua tangannya sibuk memotong steak yang menjadi hidangan santapan.
Tak mampu menimpali ucapan itu, Tara bergegas mengangkat tubuh sebelum makanan di piring habis. Emosi kian merangkak naik ke ubun-ubun tanpa bisa dicegah, membuat sikap kasar keluar hingga kursi didorong keras.
Sammuel mendongkak, menatap kepergian sang istri yang baru menjauh hanya dua langkah saja itu. Terngiang wejangan sang ayah saat lalu, ia pun terpaksa mengalah demi tidak kehilangan sosok yang kini telah di cintainya.
“Soal si Maudy?” sahut samuel akan pertanyaan sang istri beberapa saat lalu, berhasil menghentikan langkah kakinya seketika.
Tara kembali meraih kursi tempat duduk tadi, ia menempatkan lagi tubuh berhadapan dengan Sammuel. Melihat gelagat tersebut Sammuel hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Rasa lega ia dapati ketika sang istri kembali meraih garpu serta pisaunya.
“Itu salah gue, udah ngasih harapan sama-“ imbuh Sammuel terpenggal oleh suara sang istri.
“Bukan,” seru Tara disertai gelengan kepala.
“Terus?” Mata Sammuel memicing, mengingat-ingat sesuatu yang selalu disembunyikan dari istrinya. Terlalu banyak rahasia terpendam, membuatnya kesulitan mencari tau jawaban yang di inginkan sang istri.
“Aku yang nanya sama kamu, malah kamu balik nanya.” Tara menggoda dengan nada sebal, akan tetapi apa yang dilakukan hanya untuk menyembunyikan rasa gelisah atas pertanyaan suaminya saat lalu.
Tara sudah mengenal baik sikap dari sang suami, ia bisa menebak yakin jika Sammuel tengah melakukan sebuah tindakan di belakangnya. Namun, untuk kali ini tangannya belum akan ikut campur dan bersikap membiarkan. Walau hati merasa berat karena sesungguhnya ia menginginkan Jackson terlebih dahulu menemukan anaknya.
Jika saja keadaan tak menjadi momok menakutkan dalam benaknya, maka ia mampu mengungkap keberadaan Alev dari mulutnya sendiri. Namun, bayangan-bayangan buruk menghantuinya, apabila semua orang akan mencaci maki serta menjauh pergi nanti.
Di tengah lamunan itu, emosi Tara bergejolak tanpa pelantara. Ia baru menyadari jika tindakan yang di lakukan terhadap anaknya hanya mengikuti keegoisan diri saja. Selera makan seketika sirna, ia menelungkupkan pisau serta garpu itu di atas piring.
“Art ...” Sammuel menatap pisau serta garpu di sana, memaknai jika sang istri telah menggundam amarah terhadapnya. “Oke aku jawab, tapi sambil makan oke?” Sammuel merajuk, berbalas decakan dari lawan bicaranya. “Yang gue sembunyiin dari lo banyak, gue ga tau yang mau lo tanya yang mana?"
"Kasih tau semuanya lah." Tara mengumpat kesal, melampiaskan amarah pada orang yang tidak bersalah itu, hingga nada bicaranya memekik lantang.
"Oke oke, tapi sambil lo makan oke?" Tiada sambutan dari ucapan sebelumnya, Sammuel kembali mengingatkan. Kali ini berhasil membuat sang istri kembali meraih pisau serta garpu, meski dengusan terlontar disela kegiatannya.
Mendapat sambutan akan perintahnya, Sammuel tersenyum lega. “Soal tanah yang di Subang, gue udah beli lahan di pinggir jalan itu, buat lo garap nanti.”
"Bukan itu monyong." Nada bicara kesal, masih megiringi ucapan Tara.
Sammuel melenguh frustasi, lantas menaruh garpu serta pisau di atas piring. Ia beranjak dari atas kursi, beralih duduk pada kursi yang terletak di samping kanan istrinya.
"Soal gue udah ngaku sama si Jack kalo gue cinta sama lo?" jawab Sammuel menerka-nerka, berbalas delikan tajam dari mata sang istri.
"Lanjut!"
"Soal.. apa lagi sih?" Sammuel menarik kursi itu, hingga jaraknya menipis dengan sang istri agar dapat dengan mudah mengusap puncak kepalanya. Diam-diam, ia mencoba melerai emosi itu dengan rayuan.
"Pikirin yang bener." Tara kian geram, bukan pada perlakuan suaminya. Namun, kehangatan dari perlakuan itu tiba disaat tidak tepat. Ia menyembunyikan emosi yang telah mereda itu, menyumpal mulut sang suami dengan steak di sodorkannya.
Sammuel pun menelan pasrah santapan itu. "Soal gue yang punya cewe di Korea? Itu mah udah putus dari mulai gue suka sama lo."
"Lagi!" Tidak mendapat jawaban tepat, Tara memancarkan sorotan tatapan bengis.
"Soal... ahhh udah lah gue ngomong aja." Pasrah sudah Sammuel di buatnya, ia menggaruk kasar tungkak yang tidak gatal sama sekali, lantas merangkul pinggang istrinya, membubuhkan rasa cinta di dalamnya agar ungkapan selanjutnya terdengar penuh kesungguhan hati. "Berlian langka dari Dubai yang gue design jadi cincin buat hadiah lo? Buat cincin pernikahan kita maksud gue."
"Ga tertarik aku sama yang begituan." Tara menepis pandangan ke samping, menyembunyikan senyuman ceria saat mendengar pengakuan sang suami.
Cincin pernikahan yang selalu didambakan, kini ia akan segera mendapatkan. Meski belum mengetahui itu kapan, akan tetapi kebahagiaan telah menyambut dari sekarang. Tara memahami, ikatan yang terbentuk dari benda itu, mengisyaratkan jika sang suami telah dapat menerima cinta kasihnya.
Senyum ceria kian tersembunyi di balik wajah yang menunduk, bayangan kesadaran diri terbesit dalam ingatan. Sukmanya telah melupakan keadaan sosok sang anak dalam sejenak, sehingga dilema kembali menyerang sanubari ketika ia sulit menentukan pilihan.
Jackson ataukah Sammuel yang akan menjadi pilihan? Ia belum dapat memastikan. Baginya, kedua pria itu berperan penting dalam kehidupannya. Lantas, ia hanya dapat menerima kenyataan, siapapun yang akan menjadi pasangannya kelak. Hanya saja, untuk kali ini ia membiarkan memanjakan sang hati, menyambut cinta kasih dari Sammuel.
__ADS_1
"Soal.. gue cinta banget sama lo?" Sammuel menepis rasa frustasi dengan mengecup pipi istrinya. Sontak membuat lamunan itu terpecah tanpa pelantara.
"Idih gombal."
"Oh soal si Triana yang gue tolak ya?"
"Ga urusan!"
"Lah terus apa lagi? udah ga ada lagi."
Di dalam benaknya, Tara mengumpat kesal. Sikap acuh tak acuh itu, membuat batin selalu saja menerima goresan. Namun, tidak untuk kali ini, kesempatan datang menghampiri ketika sang suami sudi mengalah demi dirinya. Tanpa ragu, ia pun mengungkap risalah sang hati.
"Tender villa di Garut."
"Aihhh ngomong kek dari tadi, jadi gue bongkar semua kan rahasia gue?" Sammuel melenguh pasrah, tidak biasanya ia dapat dengan mudah ditaklukkan seorang wanita.
Hati tidak dapat di dustai, rasa sayang pada sang istri kini kian menjadi-jadi. Sehingga, dengan mudahnya menjatuhkan martabat dan gengsi, demi mendapat pengakuan abadi.
"Jangan ngeles kodok,” ucap Tara berseru penuh harapan akan sebuah jawaban.
"Iya iya nyonya Nate, yang lo tau apa?" Rasa gemas tidak tertahan, Sammuel mengunci tatapan pada wajah cantik itu.
Tara bergerak tidak karuan, menyambut perlakuan yang selalu di idamkan.
"Itu saham si Raymond kan, calon ayah tiri aku?" ungkap Tara penuh penekanan, akan tetapi berbalas senyum menawan dari Sammuel.
"Yap."
"Kamu mau ngejatuhin aku apa?" Tara geram menanggapinya, ia merasa Sammuel sengaja ingin menyatukan tali persaudaraan diri dengan ayah tiri yang enggan di akui.
"Hei tenang dulu honey, gue terima itu soalnya si Ray janji sama gue mau jadi mata-mata gue buat mantan laki lo yang ga jelas statusnya itu."
"Mantan laki ga jelas status apaan sih?" Tara mengulang ucapan sang suami, ia terlupa dengan objek yang berada dalam percakapannya.
"Guo Ming Shen."
"Apa hubungannya sama si Ray?" tanya Tara.
"Dia mantan anak tirinya, anak kandung si Edwin bokapnya si Triana,” sahut Sammuel setengah hati. Pasalnya, ia tidak ingin istrinya mengetahui siasat itu.
"Hah?" Kelopak mata Tara terbuka lebar, menampakkan rasa kejutnya di sela pekikan suaranya. Ia tidak mengira jika calon ayah tirinya memiliki hubungan darah dengan Triana. "Aku emang tau orang itu punya anak tiri, tapi ga tau kalo si Raymond orangnya."
"Terus sekarang lo mau bahas apa?" Secepat mungkin Sammuel menyenggal ucapan sang istri yang sudah enggan dibahasnya, sebelum sang istri kian mengorek seluruh rahasianya.
"Yang kamu dapatin dari dia informasi apa?"
"Lo udah dikuntit orang suruhannya, terus lo bakal di jatuhin kalau terima tender platinum dari saham si Ray."
"Ya tinggal tolak saham dari si Ray."
"Udah, tapi masih ada si Steven kakaknya dia."
"Ya tolak lagi lah."
"Kalo ditolak lagi gue ga tau si Edwin bakal masukin siapa lagi?"
"Ya udah terima aja kalo gitu."
"Udah, asal lo jangan megang tender itu."
Tara membisu ketika otaknya berputar memikirkan sesuatu untuk mencari jalan keluar serta makna di baliknya. Beberapa menit kemudian ia mendapat jawaban secepat kilat, ketika tiada gangguan dari suaminya yang hanya menatapnya penuh rasa heran.
Kesempatan demi kesempatan datang menghampiri, kali ini bukan hanya untuk pembalasan dendam semata. Hasrat hati, ia ingin meraup itu hanya dengan satu gerakan.
"Aku terima tendernya, tapi syaratnya si Ray sebagai pemegang saham."
"Art, mikirnya gimana sih lo? Lo tau itu semua bahaya buat lo?" Sammuel mulai khawatir, terlihat dari wajah gelisahnya. Sudah dapat diduga, jika sang istri akan melibatkan diri. Hal itu tentu menjadi sesuatu yang selalu di takutinya, sebab keadaan berbahaya akan menghampirinya.
__ADS_1
"Aku mau bikin mama aku tobat." Senyuman miring itu terlihat nyata dari wajah yang baru pertama kali dilihat Sammuel. Sehingga perlahan berhasil menyentuh perasaan takut dari dalam benaknya.
"Apa hubungannya?" Batin Sammuel meronta, menepis rasa takut yang kian menusuk hati ketika menatap seringai sang istri yang tak kunjung berakhir.
"Kasus korupsi si Cakra pasti di lempar sama si Ray kan? Si Ray mau di jadiin kambing hitam Edwin bukan?” tanya Tara mengutarakan tebakannya.
"Hmm.” Sammuel membalas hanya dengan dengungan, rasa kagum pada kepintaran wanita di sampingnya membuat mulutnya sulit mengucap sesuatu.
"Kita bikin si Cakra tinggal di penjara, si Ray selamat dan mama aku insyaf."
"Bisa emangnya?" Sammuel mengerutkan dahi karena heran, selain itu tak dapat diterka pula maksud dari sang istri. Akan tetapi ia menyetujui sisasat itu.
"Kalau kamu percaya sama aku itu juga, kalau engga aku batalin tender villa mungpung baru digarap,” ujar Tara penuh lirihan pada nada bicaranya. Ia yakin jika sang suami akan mencegah pertimbangan itu.
Sammuel mendengus untuk langkah awal kekhawatirannya. "Lo terlalu cerdik Art, gue takut lo masuk sarang buaya."
"Tenang aja aku punya lubang buayanya buat senjata,” balas Tara disertai senyuman penggoda.
Sammuel terkekeh gemas, kini ia meraih tubuh istrinya dalam pangkuan, membawanya dalam langkah kaki.
"Kamu belum habisin makanan kamu Sam,” ujar Tara bertolak dengan hati, ketika tangannya mengalung pada leher suaminya.
"Kalo gue kenyang tar ga bisa makan bini nakal gue ini." Sammuel menunjuk dengan kecupan pada bibir istrinya di akhir kalimat.
Tara tersipu, menyembunyikan rona wajah ceria pada dada suaminya, membuat sang suami tersenyum gemas tanpa bisa melakukan yang lain. Seandainya kedua tangan tidak menumpu tubuh sang istri, maka ia akan dengan mudahnya mencubit bilah pipi setengah gembul itu.
Akhirnya Sammuel tiba di dalam ruang yang penuh dengan alat musik. Di hadapan sofa yang terdapat di sana, Sammuel melepas tubuh istrinya dari pangkuan.
"Studio musik dalem rumah?" Tara tersenyum penuh riang, pandangannya mengedar pada tiap poros ruangan.
Sammuel turut tersenyum, melihat kebahagiaan tersirat dari wajah istrinya. Ia baru menyadari, selama hidup dengannya, keceriaan itu tidak kunjung datang menghampiri. Kali ini, ia pastikan akan selalu memberikan suka cita itu.
Setelah duduk di atas kursi yang terdapat di sudut ruangan, Sammuel meraih sebuah gitar sebagai pengiring lagu yang akan di nyanyikan untuk sang istri.
"Lo doyan nyanyi kan?" tanya Sammuel.
"Hmm."
Jreng... Mulailah Sammuel mengalunkan gitar membawakan sebuah lagu romansa sebagai persembahan rasa dalam hati untuk istrinya.
Tara hanya mampu menatap wajah tampan itu yang terlihat lebih gagah dengan sebuah gitar di tangannya.
Beberapa buah lagu telah dipersembahkan Sammuel atas permintaan istrinya. Kini ia menghempas gitar itu dari genggaman, menaruhnya di samping kanannya.
"Enak hmm nonton gratisan?" ucap Sammuel mengolok sang istri, berbalas senyuman manis penghibur hati.
"Aku baru tau kalau kamu jago main gitar."
"Cuma hobby." Sammuel merangkul pinggang istrinya, memaparkan rasa gemas di sana, ketika dekapan melekat begitu eratnya. "Ga mau bayar gue apa?" Sammuel menggoda, menyalipkan rambut hitam terurai sang istri ke dalam telinganya.
Tara mengerti akan arti dari isyarat tindakan itu, ia tersenyum sebelum siasat buruk terbersit dalam ingatan.
"Mau ngapain kamu?" Tara sengaja membalas godaan, ia menepis tangan itu membuat Sammuel menatapnya penuh kejutan. "Mau di sini apa?"
"Siapa juga yang mau di sini?" Sammuel tidak mau kalah, ia mengecup leher istrinya. Lantas, dalam sekali gerakan ia berhasil membawa sang istri dalam pangkuan.
Ia bangkit berdiri masih membawa istrinya dalam pangkuan, dan mulai melangkahkan kaki menuju ruang tidur. Ketika tiba di sana, Sammuel lekas menghujam sang istri. Membawanya menuju surga dunia.
Angan-angan melayang, menembus batas kenikmatan dalam setiap gerakan. Aura panas tercipta, meninggalkan bekas kenangan yang tak mampu terlupakan. Hingga berakhir di alam mimi beserta turut membawa suka cita ke dalamnya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1