Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 139


__ADS_3

Sore hari yang terasa lembab kala awan mendung membayang di atas langit tanpa mengguyurkan airnya, angin berhembus lantang menelusup masuk ke dalam ruang tidur yang terdapat di dalam kediaman Sammuel.


Panasnya suhu udara sore itu menjadi pelengkap pertengkaran Sammuel dengan sang istri yang telah bersiteru saling bersikukuh ingin mendapatkan kemenangannya.


Di atas tempat tidur mewah itu mereka beradu tatapan yang saling melekat dalam kelopaknya yang terbuka lebar seolah peluit babak awal pertanda akal di mulai peperangan saat itu.


"Aku sendiri aja ih.." ujar Tara bergeming manja menahan tindakan yang akan di lakukan suaminya terhadapnya.


Tara sengaja merapatkan kedua kakinya bahkan menutup bagian tubuh tersembunyinya dengan kedua telapak tangannya.


"Buka ga!" ujar Sammuel berseru tegas tak lantas menyentuh kaki istrinya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam sebuah obat oles untuk luka sang istri.


Pagi tadi, saat Sammuel mengetahui sang istri yang telah mendapat luka di bagian tubuhnya yang tertutup, dengan sengaja ia memanggil seorang ahli medis terkemuka ke rumahnya untuk memeriksa cidera yang di alami istrinya.


Bukan manja Tara menyetujuinya, pasalnya ia tidak mampu berjalan akibat luka yang di dapatinya di sana.


"Ga mau!" balas Tara tak kalah tegasnya dari suaminya hingga ia kian merapatkan kedua kakinya.


Sammuel mendengus kesal tanpa melontarkan suaranya kala tangan kanannya kian sibuk mencari celah agar kaki istrinya terbuka dengan sendirinya.


"Sam.." seru Tara di sela kegiatan kedua tangannya yang menepis tangan suaminya dari kakinya.


"Lo bandel banget sih?" sammuel kian melenguh namun sang hati masih bertegas diri memaksa kaki istrinya agar terbuka.


"Kamu mau ngolesin obat di sana malah bikin aku takut Sam," ujar Tara melirih manja berusaha merayu suaminya agar menghentikan kegiatan tangannya yang masih bersikukuh menyentuh kakinya.


"Ya lo merem lah, jangan lihat muka gue." Tak acuh Sammuel mengabaikan rasa cemas istrinya.


"Tambah takut lah monyong!"


Sammuel kehabisan cara, untuk kali ini ia menghela napas dalamnya lantas menghembuskannya dengan kasarnya.


"Lo emang bisa lihat itu lo sendiri?" ujar Sammuel di iringi nada ketusnya membuat sang istri terperanjat dalam kejutannya.


Tara yakin jika ia terus menolak keinginan suaminya, maka sang suami akan menghukumnya dengan hal di luar batas normalnya.


"Ya d-di raba lah g-ga usah di lihat," ujar Tara terbata-bata kala melihat wajah suaminya yang mulai memerah menahan emosinya.


Namun rupanya, ucapan itu membuat Sammuel gemas hingga ia tak kuasa untuk menahan gerakan tubuhnya yang telah mengukung istrinya di bawah sana.


"Emang beda ya di raba gue sama di raba lo sendiri?" ujar Sammuel berbalas seringai suram dari sang istri yang membuatnya bergidik ngeri.


"Kamu kok jadi oon gitu sih Sam?"


Sammuel menggaruk tungkaknya yang tidak gatal sama sekali mencurahkan rasa herannya yang tidak dapat mengartikan ucapan istrinya.


"Ga mau tau lah!" ucap Sammuel frustasi hingga nada bicaranya memekik keras. "Cepetan buka, tahan dikit napa!"


Tara menggeleng pekat dalam pejaman matanya membuat rasa frustasi suaminya kian merangkak dari dalam asmanya, lantas tanpa bicara ia bergerak hingga berhasil membuat kaki istrinya terbuka tanpa jeda.


Hingga pada akhirnya Tara berpasrah diri menerima perlakuan yang selalu terasa kasar itu dari suaminya, namun kini bukan salah suaminya jika dirinya yang telah menolak keinginan itu hingga menjadi pemicu kekasaran tindakan sang suami terhadapnya.

__ADS_1


"Tanggung jawab ya kalo mau," seru tara bergeming ragu kala rasa malu tercurah di baliknya.


"Biasa juga gitu kali," balas Sammuel membuat wajah istrinya merona tanpa bisa di cegahnya.


Akibat rasa malu yang terlalu mendalam itu, Tara hanya mampu menerima perlakuan suaminya yang telah membantunya memberikan obat pada lukanya di bagian tubuhnya yang selalu tertutup itu.


Entah mengapa Sammuel merasa gemas dengan keadaannya kini hingga ia melampiaskannya terhadap istrinya, sengaja ia berlama-lama melakukan itu hingga saat sang istri mulai memejamkan matanya, dengan segera ia menghentikannya.


"Dasar omes," ucap Sammuel gemas di iringi sentilan manja pada kening istrinya membuat sang istri dengan sigap melepas rekatan kelopak matanya bahkan memutarnya setelahnya.


"Kamu yang iblis cabul!" balas Tara tidak mau kalah.


"Emang," sahut Sammuel membuat istrinya tersenyum riang di sana.


Sammuel pun turut merasakan kebahagiaan yang tertanam di balik senyum istrinya hingga ia membalasnya dengan tawa kecilnya.


Ungkapan itu membuat Sammuel serta sang istri mengingat kembali pada kejadian silam di mana mereka baru pertama bertemu yang selalu memberikan panggilannya seperti demikian.


Hanya sesaat, suasana romantis itu terlerai sudah kala Sammuel beranjak hingga duduk di samping istrinya.


"Sam.. besok aku mau ke rumah mami," seru Tara meminta hingga setengah merajuk dengan nada bicaranya yang manja.


"Mau ngambil baju?" tanya Sammuel menerka tanpa ingin mendengar jawaban dari istrinya hingga ia melanjutkan ucapannya. "Udah gue bilang baju lo tinggalin di sana aja semua, gue udah beliin yang baru di sini."


"Bukan mau ngambil baju, dengerin dulu aku ngomong bisa kan?" sahut Tara menjelaskan dengan nada sebalnya.


"Jadi?"


"Oh jadi kangen sama si Jack!" potong Sammuel berbalas decakan sebal dari istrinya.


Namun di balik umpatan yang bergeming di dalam batin Tara, rasa bahagia menyelimuti asmanya mengetahui jika sang suami merasa cemburu terhadap kakak iparnya.


"Kamu rese deh Sam.. kamu ga tau kan kalo aku sering ngerasa gitu?"


"Maksudnya sering ngerasa kangen sama si Jack?" ujar Sammuel hanya untuk menggoda semata, namun rupanya tanpa sengaja menyulut api emosi istrinya hingga sang istri menepuk keras lengannya.


"Kamu gila!" ucap Tara berseru ketus yang tertutur di iringi pelototan pada wajah suaminya. "Aku ga enak hati, pokoknya bawa aku ke sana besok sepulang ngampus!" Tak kuasa mencari balasannya, Tara berseru memekik nyaring.


Sammuel tersenyum ledek menyikapi ucapan itu, bahkan membuahkan tawa kecil kala melihat wajah istrinya yang bergerak kikuk di sampingnya.


Merasa gemas dengan itu, Sammuel merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang istrinya, lantas meraih tungkak kepala istrinya agar bersandar di atas pundaknya.


"Ga mau jujur?" tanya Sammuel membuat istrinya menatap wajahnya dengan segera.


"Jujur apanya?" Sungguh Tara tidak memahami ucapan suaminya hingga picingan matanya begitu terlihat jelas oleh suaminya.


"Soal si Jack."


Tara mendengus lirih menyikapinya, ia kebingunan untuk melontarkan jawabannya yang di rasanya akan membuat api cemburu berkobar di dalam kalbu sang suami.


"Tara.." Sammuel menyapa bermaksud agar istrinya segera menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Sejenak Tara bungkam kala matanya menyorot tajam mata suaminya yang telah menatapnya terlebih dahulu, bahkan kini mereka mengunci tatapan itu dalam semburan hawa cinta kasih yang telah menghiasi hati pada masing-masingnya.


"O-oke aku jujur." Akhirnya Tara mengalah meski berat hati di rasanya lantaran perasaan ragu menyelimuti angannya mengingat jika penjelasannya kini di yakininya akan membuat suaminya murka terhadapnya.


"So?" tanya Sammuel memecah lamunan sang istri bahkan membuat tatapan itu berpaling dari wajahnya.


Tara menghela napas dalamnya sebelum mengucap penjelasannya. "Aku dulu emang sempet suka sama dia, tapi dulu sebelum kenal sama kamu, itu juga bukan beneran suka, cuma karna dia mirip seseorampppp."


Penjabaran alasan Tara terbungkam kala bibirnya berhasil menjadi sasaran bibir suaminya hingga cumbuan mesra berlangsung di sana.


Andai Sammuel membiarkan istrinya memberikan penjelasannya hingga batas akhir, suatu berita akan membuat rasa curiganya bergejolak darinya.


Dan yakinlah jika ia mendengarnya maka ia akn bersusah payah mencari sesuatu yang selalu di sembunyikan istrinya nun jauh di sana.


Dialah Alev Sihan Danendra yang menjadi objek perbincangan Tara sebelumnya, anak semata wayangnya yang memiliki paras begitu serupa dengan kakak dari pria yang kini masih mencumbunya di sana.


Di tengah kegiatannya, tangan Sammuel mulai nakal hingga menjalar menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya, namun kegiatan tangannya itu di tepis keras oleh sang istri dengan mendorong kasar tubuhnya.


"Sorry," ucap Sammuel penuh penyesalan hingga membawa tungkak kepala istrinya ke dalam dadanya.


Tara tertegun di sana tat kala telinganya mendengar jelas detakan jantung yang berdenyut cepat di balik tulang rusuk suaminya.


Bukan tega ia menolaknya jika keadaan tubuhnya tidak memungkinkannya, beruntung sekali untuk kali ini Sammuel mengerti dengan keadaannya hingga ia berpasrah diri untuk mengalah terhadap istrinya.


"Kamu ga salah," balas Tara di iringi lirihannya membuat suaminya meraih dagunya hingga menarik wajahnya agar tatapannya kembali terkunci bersama.


"Harusnya gue yang ngomong gitu." Rasa iba kian menjalar di dalam asma Sammuel hingga ia melepasnya dengan kecupan pada bibir istrinya meski hanya sekilas saja.


Sudut bibir Tara terangkat indah setelah terlepas dari kecupan itu untuk memberikan balasan rasa terimakasihnya terhadap suaminya, tatapannya kian melekat pada wajah tampan yang masih mengunci pandangannya di sana.


"Jadi.. soal ke rumah mami besok__" tanya Tara terpenggal ucapan suaminya yang menginterupsi.


"Boleh, tapi gue yang anter."


"Pastinya lah." Tara kembali tersenyum membuat suaminya kian melekatkan pandangan kagumnya.


"Sekarang lo istirahat biar besok bisa kerja lagi," titah Sammuel berbelas kasih di sela kegiatan tangannya yang mengusap puncak kepala istrinya.


Tara hanya mengangguk membalasnya tak lantas beringsut hingga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, begitupun dengan Sammuel yang menyusul istrinya merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Pelukan hangat berlangsung dari sebelah tangan Sammuel pada tubuh istrinya sebagai sapaannya untuk menjemput alam mimpinya.


Hingga pada akhirnya perbincangan serta kegiatan mereka berakhir kala jiwa mereka menerobos alam mimpinya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2