
Kratak. Suara benda yang saling bersentuhan itu sungguh mengorek pendengaran Tara yang masih terlarut di dalam alam mimpinya. Ia menarik bantal dari sebelah kepalanya menutupi wajahnya serta telinganya agar suara itu sedikit samar terpendam.
Kratak. Kembali suara itu gemerisik tepat di sampingnya membuatnya mendengus dengan lenguhannya. Ia menelungkupkan tubuhnya seraya menekan bantal itu agar telinganya tertutup rapat.
Kratak. Kratak. Suara itu kian nyaring terdengar Tara, membuatnya berdecak kencang.
Pasti suaminya yang sengaja membangunkannya untuk menyiapkan santapan paginya, maunya ia tidur lebih lama pada hari ini, pasalnya hari sabtu tiba maka hari untuk memanjakan dirinyapun tiba.
Tunggu! Sejak kapan suaminya kembali? Iapun terkejut hingga melepaskan keras bantal itu dari kepalanya. Tergesa ia bangkit duduk di atas tempat tidur itu untuk segera melihat siapa orang di balik suara yang di permainkan seseorang itu.
Matanya semakin membelalak setelah melihat seorang gadis cilik tengah asyik bermain di sampingnya.
"Queena!" Kejutnya segera otaknya menerka jika dirinya tidak berada di dalam rumahnya. Ia meraih tubuh si gadis cilik ke dalam pangkuannya meski ia masih duduk di atas tempat tidurnya.
"Kenapa Queena di sini?" Tanyanya seraya mengelus lembut puncak kepala si gadis kecil sebagai sapaan di awal harinya membuat sang anak mendongkan menatapnya penuh keceriaan.
"Kalna mommy bilang kangen Kuin, mommy mau tidul sama Kuin." Sahutnya membuat Tara mengulang ingatannya menuju semalam tadi.
Hah!!???? Kapan ia mengatakannya, ia melupakannya kejadian semalam tadi. Iapun berusaha memutar ingatannya yang telah hilang separuhnya lantaran sang alkohol yang mengendalikan pikirannya membuat kesadarannya sedikit sirnya. Hingga dalam beberapa menit ke depan ia tertawa sendiri.
Terakhir ia mengingat kelakuannya kala Jasmeen datang menghampirinya. Setelahnya ia tidak mengingat apapun, kini ia menebak jika Jackson membawanya ke dalam kediaman ayahnya ini.
Kembali pada keadaan Tara saat kini, ia melepas Queena dari pangkuannya, lantas bangkit berdiri setelah menyikap selimutnya. Berlanjut merengkuh di hadapan si gadis cilik yang duduk di tepi kasur itu.
"Queen mommy mau mandi dulu, Queen mau di sini apa mau keluar?"
"Kuin mau main ini." Balas Queena meraih mainannya yang tergeletak di sekitarnya, memperlihatkannya kepada wanita yang telah memaparkan senyum manisnya di hadapannya.
"Oke, jangan ke mana-mana ya sayang. Mommy mau mandi dulu." Peringatannya merajuk pada gadis cilik itu. Ia takut jika sang anak wanita berkeliaran tanpa perhatiannya yang akan membuahkan petaka.
Queena mengganguk antusias yang di sambut senyuman oleh Tara. “Iya.” Sambutnya membuat Tara gemas dengan suara imut itu hingga sekilas ia mengecup kedua pipi cubby anak itu.
Selepasnya iapun melangkahkan kakinya menuju ruang tempat membersihkan dirinya meski harus mencarinya terlebih dahulu karna ruang itu terasa sangat asing baginya.
Bermenit kemudian, Tara keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian yang sebelumnya membalut tubuhnya. Kejutan menghampirinya kala Celia telah duduk dengan manisnya di atas sofa yang tersedia di ruang tersebut.
__ADS_1
"Queena ke mana mih?" Tanya Tara cemas di sela langkah kakinya yang mengayun berjalan menghampiri Celia.
"Dia belum sarapan dari pagi cuma karna mau nunggu mommy nya bangun." Sahut Celia bangkit dari duduknya seraya menyodorkan pakaian yang berada pada genggamannya pada menantunya yang sudah tersenyum kepadanya di hadapannya.
Tara membisu, namun ia masih melangkahkan kakinya hingga menepi tepat di hadapan Celia. Iapun segera meraih busana itu dari tangan mertuanya.
"Kamu, lampiasin sama Jackson?" Pancing Celia memicingkan kedua matanya, menatap Tara penuh janggalan. Ia cemas dengan keadaan wanita itu, ia mengerti jika menantunya merundung rasa rindunya setelah dua bulan di tinggal sang suami.
Tara menghembuskan napas kasarnya menyambut ucapan itu. “Aku ga serendah itu." Lantas tersenyum di akhir kalimatnya.
"Aku tau, aku udah denger cerita dari Jackson tentang semalem. Kamu ga bener-bener kangen sama Queena kan?" Terka Celia membuat Tara mengakui kecerdasannya.
Kini Tara mulai cemas jika ayah dari anaknyapun dapat dengan mudah menerka keinginan hatinya. Namun,
Tara terkekeh seolah menyambut pertanyaan itu. Nyatanya, ia memendam rasa cemasnya agar tidak terpampang pada mertuanya. "Mami emang pinter." Sahutnya mulai mengayunkankan kakinya hingga menepikannya di hadapan tempat tidurnya. "Mana mungkin aku kangenin Queena sampe nangis-nangis?" Imbuhnya membuat mertuanya mengangguk dalam senyumannya.
"Ga coba kamu hubungi dia?" Tanya Celia, turut mengayunkan kakinya membuntuti langkah Tara.
"Ga ada hasil!" Tara melirih hingga menghempas pakaian itu di atas kasur mewakili batinnya yang tersiksa. Rasanya ingin sekali ia mencabik bayangan wajah suaminya yang selalu terbersit dalam angannya.
"Sammuel__ dia dingin tapi mesum." Tara terkekeh di akhir kalimatnya mengingat kejadian bersama suaminya.
"Kamu udah di apain-apain sama dia?" Binar mata Celia membuat Tara mencubit sebelah pipi lesung dari pemilik yang telah berdiri di sampingnya itu.
"Apain-apain apa sih? Ngomong yang jelas jangan belepotan gitu." Sambut Tara di iringi tawa kecilnya sebagai penegas leluconnya.
Celia menggeleng menyenggal perlakuan menantunya yang tidak di inginkan sang hati. "Kamu masih sungkan rupanya." Ujarnya dalam nada lirihannya membuat sang menantu segera menatapnya penuh rajukan.
"Gila aja harus ngomong itu sama mertua."
"Inget, aku bukan mertuamu, dia bukan anakku."
"Iya oke sahabatku, kamu bisa keluar dulu ga? Aku mau ganti baju."
Kembali Celia terkekeh seraya melangkahkan kakinya. Tarapun hanya membiarkannya karna memang itulah keinginannya.
__ADS_1
Selepas mertuanya lenyap dari ruang yang telah menemaninya tertidur semalam, ia bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian dress biru selutut berlengan panjang yang di serahkan Celia sebelumnya.
Tepat saat ia usai mengenakan seluruh pakaiannya, Jackson datang menghampirinya yang membuatnya terperangah di iringi emosi yang meluncur dari kepulan asap yang menyerobot isi kepalanya.
"Jack kamu bisa ga ketuk pintu dulu sebelum masuk?" Pekiknya bersewot dalam kejutannya. Untung saja ia sudah mengenakan pakaiannya. Itulah yang membuat emosinya merangkak dari asanya.
Jackson membungkam mulutnya, matanya sibuk meresapi pandangannya pada tubuh molek wanita yang telah menatapnya penuh amarah hingga menghentikan langkahnya.
Dengan balutan dress biru selutut yang membentuk tubuhnya meski tangannya tertutup rapat, namun mampu membuat Jackson tersepona melihatnya bahkan mulutnya tertutup rapat menahan jakunnya yang bergerak menyalurkan saliva dalam tenggorokannya.
"Jack!" Sahut Tara menekik seraya melangkahkan kakinya merekatkan jarak pada pria yang masih berpusat pandangan pada dadanya.
"Oh sorry, kamu udah beres mandinya?" Jackson berusaha menyadarkan dirinya, berulang kali ia mengerjapkan matanya, menyadarkan pikirannya dari bayangan liar dalam angannya.
"Udah." Jawabnya ketika langkahnya berakhir di hadapan Jackson. "Jack kamu ga ngapa-ngapain aku kan semalem?" Imbuhnya khawatir jika saja pria itu tidak dapat menahan diri. Ia tidak ingin mengkhianati sang suami meski tidak akan di ketahui suaminya sendiri.
Jackson terkekeh sebelum membuka suaranya. "Gimana mau ngapain? Dari jalan aja kamu udah ngorok." Jawabnya gemas pada dirinya sendiri. Sesungguhnya, semalam tadi hampir saja ia kehilangan akal sehatnya untuk membentur tubuh molek itu dengan pelampiasan amarahnya. Kini ia melampiaskan rasa gemasnya dengan menyentil manja kening wanita yang sudah mengangguk di hadapannya membuat sang empunya menghapus jejaknya segera. "Lagian kalo ga ngorok juga aku bisa apa di rumah ini?" Imbuhnya membuat Tara menghembuskan napas leganya.
“Awas aja kalo boong." Telunjuknya mengacung di hadapan dada Jackson sebagai pelekat ancamannya.
"Kenapa emang kalo aku ngapa-ngapain kamu? Kamu pacar aku, kamu juga yang maksa aku pengen ke sini." Setengah memaksakan hatinya Jackson mengungkap statusnya yang masih belum mendapat pengakuan dari wanita yang telah menatapnya lekat-lekat.
Dusta! Tara mengingatnya, ia hanya mengatakan merindukan seseorang.
"Ya udah deh aku males bahas, kamu ke sini mau jemput aku buat sarapan kan?"
Jackson mengangguk keras yang di balas Tara dengan melangkahkan kakinya. Jackson yang sudah mengetahui jika ungkapan kasihnya masih akan terbengkalai, ia hanya mampu membungkam mulutnya di sela langkahnya membuntuti langkah Tara hingga menepi di dalam ruang tempatnya menyantap makannya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1