Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 94


__ADS_3

Malam yang begitu dingin mencekam, namun kehangatan nampak tersirat di dalam suasana ruang bertajuk langit itu atas kehadiran tiga anaknya yang berkumpul menemani sang ayah tercinta.


Seorang pria muda yang tengah berjalan menuruni anak tangga yang terdapat di samping ruang itu, menjadi pemandangan mengejutkan bagi Tara.


Namun lain dengan Tara, ke 5 penghuni lainnya memaparkan senyuman manisnya untuk menyambut kehadirannya.


Kala sang pria berhasil mendaratkan bokongnya di samping ibunda tercinta, ia menatap wajah Tara penuh kejutan.


"Mom!" Pekik Devand tidak percaya jika wanita itu berbaur di dalam pertemuan keluarganya.


"Dev kamu udah pulang?" Balas Tara dalam senyuman manisnya membuat Celia menggirang di sana.


"Kalian saling kenal?" Tutur Celia menatap wajah Tara serta Devand bergantian.


"Kita punya group band." Sahut Tara menyenggal kalimatnya, menyiratkan tawa kecilnya sejenak, meledek tingkah kekanak-kanakannya. "Tapi itu dulu."


"Group band?!" Hansonpun menyiratkan tawa gelinya menanggapi tingkah wanita dewasa yang bersikap seperti anak remaja itu.


"Ya gitu lah, itu cuma__ cu-cuma buat nambah temen." Ujar Tara malu-malu membuat seluruh penghuni selain Jackson menyeleneh dalam kekehan gelinya.


Sedang Jackson hanya tersenyum menyikapi pernyataan kekasihnya.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu di sini mom?" Tanya Devand mengharap kehadiran wanita yang masih selalu membuat sang hati menggebu untuk memilikinya itu adalah untuk sebuah pertemuan dengannya.


"Dia di sini sebagai cewe gue." Jackson menyahut membuat Devand terhentak hingga tersedak dengan teh yang telah di seruputnya.


Celia menggeleng menyikapi kejutan anaknya yang kini menjadi buruan tangannya untuk menepuk pundaknya. Ia menerka jika anak semata wayangnya keberatan dengan ungkapan kakaknya saat lalu.


"Mom kamu tega, uhuk." Ucapan Devand tersenggal oleh sisa sedakannya. "Cuma di tinggal bentar udah berani selingkuh." Imbuhnya membuat wanita yang di panggilnya bergerak kikuk.


Tara berterus terang pada sang hati jika ucapan Devand membuat rasa takut akan cemburu suaminya meledak seketika. Namun, ia menepisnya sesegera mungkin mengingat jika sang suami masih belum menerima hatinya.


Lantas, akankah sang suami merasa cemburu terhadapnya?


"Apaan sih kamu!" Senggal Tara memekik, melirik ke arah suaminya yang duduk tepat di samping kirinya. Hanya sesaat ia memalingkannya kepada kekasihnya yang duduk tepat di samping kanannya. "Jangan bikin kakak kamu salah faham oncom." Ia menunduk menyembunyikan kekhawatirannya.


Jackson tersenyum bangga jika ucapan itu di anggapnya sebagai pengakuan dari kekasihnya hingga ia mengusap puncak kepala kekasihnya tanpa menghiraukan sang empunya yang ingin sekali menepisnya. "Tenang aja aku ga takut, kamu ga akan tertarik sama cowo yang lebih muda dari kamu kan?" Ujar Jackson membuat pria yang duduk di samping kanan kekasihnya tergertak batinnya membayang usianya tak ayal di bawah sang istri.


Namun seringai Sammuel nampak jelas di pandang mata istrinya kala pikirannya berseru dalam peruntungannya yang telah berhasil meraih hati sang istri dengan memalsukan statusnya.


Meraih hati? Bukan, tepatnya meraih wanita itu dalam genggamannya untuk di jadikannya sebagai pion saja. Batin Sammuel masih berusaha menyangkalnya.


Sedang Erick menatap tajam wajah menantunya, menyebar aura kagumnya. "Art, kamu sudah berhasil pelet semua anakku." Tuturnya tak lantas tertawa kecil pelengkap gurauannya.


"Salah anak papi bukan salah aku." Protes Tara membalas gurauan itu.


"Iya, salah kamu kenapa bisa kamu cantik dan juga pinter." Sambung Celia membuat Jackson serta Sammuel tersenyum bangga di sana.


"Udah salah aku kenapa ganteng." Sammuel menginterupsi penuh percaya diri di balas gelengan kepala oleh ayahnya tak lantas di balas tepukan ringan oleh kakaknya.


"Eh lo jangan bilang ganteng doang dong, bilang pake banget, lo mirip sama gue masa di bilang ganteng doang." Protes Devand bersungut-sungut membuat seluruh penghuni membahakkan tawanya terkecuali Sammuel sendiri.


"Najis amat gue di samain sama bocah bangke gini." Ledek Sammuel melentingkan telunjuknya ke arah Devand.


"Gue juga najis, kenapa juga bisa samaan sama cowo brengsek gini." Tak mau kalah, Devandpun melentingkan telunjuknya ke arah Sammuel.


"Samaan pala lo benjol. Kita beda dodol. Beda lubang." Ujar Sammuel kembali membuat seluruh penghuni ruang bertajuk langit itu membahakkan tawanya kecuali si bungsu yang telah meresapi pandangannya pada kakak iparnya.


Hening sejenak membaur suasana kala sang kepala keluarga mengeluarkan bungkusan rokoknya dari dalam saku celananya.


"Oke kita bicarakan tujuan awal kita." Tutur Erick setelah berhasil menyulut batang rokoknya, mencari kata-kata sempurna untuk di ucapkannya. "Art, pacarmu menginginkan kamu tinggal di sini." Ungkapnya di balas tatapan kejut oleh menantunya tanpa terkecuali kelopak matanya terbuka lebar.


"Ga mau ah, nanti aku ga bebas lagi." Tolak Tara tegas, setegas tatapannya menatap ke samping kirinya di mana suaminya sudah tertunduk di sana. Sudah di perkirakannya jika sang suami akan membantah hal ini.


"Ga bebas mesra-mesraan kan?" Penggal Jackson di tepis wanita di sampingnya dengan pelototannya. Namun tidak membuatnya takut, melainkan terlalu menggemaskan baginya hingga ia mengulurkan tangannya merangkul pinggang kekasihnya.


Kembali hening mengambil alih kala Tara merenung mencari alasan untuk penolakannya. Namun,


"Demi Queena, Art." Pinta Sammuel menginterupsi yang membuat Tara tertegun di sana.

__ADS_1


Tara faham maksud suaminya yang menyetujui perkataan ayahnya untuknya menyetujuinya jua. Ternyata terbakannya sudah salah sepenuhnya. Mungkinkah sang suami ingin menghindarinya? Tara membatin lirih jika memang benar demikian adanya.


"Pih." Sammuel melentangkan sebelah tangannya menunjuk bungkusan rokok yang berada di hadapan ayahnya membuat sang istri melepas tatapannya pada wajahnya yang sudah membuat kakaknya menatapnya penuh curiga.


Sang ayahpun melempar bungkusan itu tanpa pelantara pada anaknya yang duduk di sebrangnya. "Benar itu Art." Putus Erick merajuk membuat menantunya tidak enak hati hingga menatap kikuk ke arahnya.


"Aku mana ada waktu pih? Pagi sampai sore aku di luar rumah, pas libur juga aku harus ke Bandung, mana istrimu ngasih kerjaan tambahan lagi." Protes Tara masih mencoba menolak keinginan ayah mertuanya.


Hening kembali melanda kala seluruh penghuni bergumam dalam benaknya. Hanya Jackson yang tidak menggumamkan keluhannya, ia masih meresapi tangannya yang masih setia bertengger di balik pinggang kekasihnya.


Namun kini membuat sang empunya menggelinjang kala telapak tangannya bergerak di sana hingga menyentuh pinggang pria yang duduk di samping kiri kekasihnya.


Sammuel merasakan tangan yang menyentuh pinggangnya hingga ia meliriknya ke sana. Namun rupanya rahangnya mengerat kala melihat tangan itu yang bergerak bebas di balik pinggang istrinya hingga tanpa di sadarinya ia memukul keras tangan itu.


"Apaan sih lo?!" Ujar Jackson memekik tak lantas melepas tangannya dari sana untuk menghapus jejak tepukan keras yang membuahkan kulitnya memerah.


Sammuel bungkam dalam helaan napas leganya, akhirnya tangan itu terlepas dari sana. Namun ia terhentak mengingatnya. Mengapa harus ia mencegah tangan kakaknya yang menyentuh tubuh kekasihnya? Seharusnya ia tersenyum lega lantaran usaha mendekatkan diri istrinya dengan kakaknya telah mencapai keberhasilan.


"Lo kuliah ambil dua jurusan kan?" Ucap Sammuel memecah keheningan dibalas anggukan pekat oleh istrinya yang telah menatapnya penuh janggalan.


Mengapa suaminya mempertanyakan itu? Tara membatin di sela dengungannya mengutarakan kata sambutan untuk suaminya.


"Tinggalin jurusan bisnis lo, gue liat tanpa kuliah juga lo udah bisa jadi sekertaris andalan gue." Imbuh Sammuel menghisap keras rokoknya, melega dengan ucapannya.


Pernyataan Sammuel rupanya di sambut senyuman dari kakak keduanya. Baru kali ini ada seseorang yang mendukung keinginannya.


"Iya bener, kamu udah pinter Tara, kamu ga usah kuliah lagi." Sambung Celia membuat hati Jackson kian melega tak ayal menyertai senyumannya sebagai balasannya.


"Aku sih setuju aja, cuma gimana ngomongnya sama rektor?" Tara tau sesungguhnya, dengan kedudukan suaminya, urusan itu tidak akan sulit baginya. Hanya saja, ia masih berusaha menolak halus keinginan ayah mertuanya meski sang suami telah mengisyaratkan untuknya menyetujuinya.


"Kamu tinggal duduk manis aja, biar aku yang atur, biasa juga gitu kan?" Paksa Jackson kembali mengusap kepala wanita di sampingnya yang telah menatapnya penuh emosi membuat Sammuel turut menjengah.


"Gue punya hubungan bisnis di sana, lo ga usah repot Jack biar gue yang urus aja." Potong Sammuel memberikan keputusan teguhnya.


"Lebih bagus gitu." Balas Jackson di iringi tatapan lekatnya pada wajah Sammuel menyiratkan sebuah makna di dalamnya. Sayang sungguh sayang, Sammuel yang telah emosi tidak akan dapat menyibak makna di balik itu.


"Sorry Hans gue cuma pengen lo kehibur sama cewe gue." Datar Jackson di sambut kekehan oleh Erick. Namun membuat Tara serta Sammuel mengangguk. "Dari pada lo di buntutin dia, mending nimbrung di sini kan?" Imbuhnya di balas decakan ledekan oleh adik pertamanya.


"Shen Jin Ping." Hanson mengumpat dalam bahasa yang berasal dari negara ayahnya. "Pih aku pergi, masih ada tugas." Pamitnya Seraya meraih sweaternya yang bertengger pada penyandar sofa.


"Oke good luck." Sang ayah melambaikan tangannya menyambut pamitan itu. "Minggu depan ajak tunanganmu ke studio CC." Imbuhnya membuat Hanson melenguh sebal.


"Kalau dia bikin ulah aku ga tanggung jawab." Putus Hanson setengah mengancam. Lantas tanpa acuh mulai mengayunkan kakinya.


"Kamu lebih sadis dari adikmu Hans." Pekik sang ayah tertuju pada anaknya yang telah melangkah menjauh darinya.


"Lebih bre****k adikku itu." Ujar Hanson tak kalah memekiknya dari sang ayah menunjuk Sammuel tanpa menghentikan langkahnya sedikitpun.


"Kalau dia ga bre****k berarti bukan anakku." Ucap sang ayah di sambut gelak tawa oleh seluruh anaknya selain Hanson yang telah hilang sepenuhnya dari hadapannya.


"Kau yang paling bre****k Liu Shi Wen." Sambung Jackson membuat seluruh penghuni sulit menghentikan tawa kecilnya.


"Setidaknya aku masih mampu beli rokok." Cibir sang ayah memperhatikan tingkah anak-anaknya yang telah saling berebut bungkusan rokok miliknya.


"Ngomong apaan sih? Ga nyambung banget." Janggal Sammuel menatap Jackson serta ayahnya bergantian merasa ucapan itu tidak masuk ke dalam kepalanya lantaran sang angan masih membayang mengingat akan di tinggal sang istri tercinta beberapa hari kemudian.


Jackson hanya tertawa seraya melempar bungkusan rokok pada ayahnya. Atas tingkah Jackson, Sammuelpun memahami maksud ayahnya sebelumnya. Ternyata hanya lelucon semata untuk meminta kembali rokoknya.


"So? Art Tara?" Erick menyapa menantunya yang masih termenung di sana mendapat balasan dari menantunya dengan hanya senyuman ragu yang terpapar untuk suaminya.


"Biar cewe kamu juga punya waktu sama kamu." Imbuh Jackson membuat Tara terperangah bahkan membelalakkan bola matanya tidak mencerna dengan teliti perkataan kekasihnya.


"Kamu jangan ngambil kesempatan Jack, banyak waktu atau engga sama kamu ga ada hubungannya sama aku tinggal di sini." Protes Tara bersungut sewot membuat sang kekasih menatapnya penuh gemas hingga mencubit manja pipi cubbynya.


"Hei aku cowo bukan bencong." Balas Jackson menatap wajah kekasihnya yang telah menepuk keningya setelah memahami apa yang di katakannya sebelumnya.


"Oke mami, aku juga ga bisa nyari pembelaan dari mami kan?" Tanya Tara di balas tatapn pura-pura tidak mendengar oleh ibu mertua nya.


"Jadi kamu terpaksa kan menuruti kemauan kita?" Tutur Celia merajuk dengan leluconnya di balas gelengan tidak percaya oleh menantunya.

__ADS_1


"Pasrah! Apa yang bisa aku lakuin lagi?" Tara melentangkan tangannya seolah menyerahkan dirinya cuma-cuma membuat semua penghuni menyiratkan tawa kecilnya menanggapi sikapnya.


"Kelar juga." Si bungsu Devand akhirnya melontarkan tujuannya. "Baguslah kalau dia tinggal di sini, aku juga udah ga akan ke Korea lagi." Jabarnya tak acuh mengabaikan tatapan kejutan dari seluruh penghuni.


"Lho kenapa?" Pekik Celia mengutarakan kejanggalannya.


"Ga tau juga kenapa, tiba-tiba aja pihak Indonesia nyegat pertukaran pelajar." Sahut Devand membuat Sammuel serta Erick memutar isi kepalanya. Lain dengan Jackson yang menyiratkan tawa sarkasnya.


Dia lah, Pria bernama Jackson Jordan Charington yang telah membuat ulah sehingga adiknya di kembalikan pada negri tercinta. Hanya untuk urusan pribadi semata ia tega membuat adiknya kehilangan pengalamannya.


Tujuan awalnya ia ingin mengembalikan Triana ke dalam negri, namun tak lantas menyeret adik bungsunya serta adik Triana yang di rasanya akan merugikan jika terpisah.


Bungkamnya mulut semua insan, memberikan kesempatan bagi Tara untuk meraih keputusannya.


"Oke gini aja, perjanjian dulu ya, aku di sini ngasuh Queena bukan ngasuh anak bungsu kalian." Putus Tara berdalih di balas seluruh penghuni dengan tawa gemasnya.


Di tengah perbincangan yang mulai menghangat itu, kehadiran sepasang insan melerai situasi sesaat.


"Maxon, Jasmeen." Sapa Celia seraya beranjak menyambut tamunya.


"Sorry aku terlambat." Sesal Jasmeen terurai kala tangannya berhasil memberikan salam pelukannya pada Celia.


"Ga kok, kita masih berkumpul." Celia mengedarkan pandangannya pada setiap penghuni sofa berwarna biru langit itu, tatapannya terhenti pada wajah menantu kesayangannya yang tengah membelalakan kelopak matanya. "Tara, kenalin dia_"


"Kalian ke sini berdua malem-malem, anak aku sama siapa?" Sewot Tara di luar batas kesadarannya mengingat anaknya yang di tinggal pergi oleh satu-satunya orang yang merawatnya.


Ucapannya itu membuat seluruh orang yang berada di sana terperangah dalam kejutannya.


"Anak aku?" Ucap Celia terheran-heran. "Maksudnya anak kamu Tara?" Imbuhnya memperjelas ucapannya.


Astaga, Tara baru menyadarinya jika apa yang di katakannya membuat dirinya terbata-bata. Iapun menutup kesalahannya dengan senyum kikuknya. "Anak kucing aku." Ucapnya asal.


"Kamu ga punya kucing kan Jas?" Kembali Celia terheran-heran mengingat sahabatnya tidak pernah memelihara satupun binatang di rumahnya.


Jasmeen si pemilik sipat tenang dan tak acuh itu, ia segera menyiratkan senyumnya menepis kejutan sahabatnya. "Adiknya, dia anggap kucingnya." Sahutnya membuat seluruh orang mengangguk faham.


Jasmeen melega, ingin rasanya ia mengusap dadanya. Beruntung adik bungsu Tara tengah berada di dalam kediamannya hingga dengan segera ia dapat menepis kerancuan saudaranya.


"Hei tunggu!" Kata Celia dalam picingan matanya. "Kalian saling kenal?" Ia menatap Jasmeen serta Tara bergantian.


"Dia ponakannya." "Dia sodaranya." Jawab Jackson serta Sammuel bersamaan yang membuat mereka sendiri saling menatap penuh kejutan.


Lain dengan mereka, Celia memaparkan senyum ciri khasnya. "Oke oke, Jas ga mau duduk?" Tanyanya seraya meraih pundak Jasmeen agar menerima ajakannya.


Jasmeen mengangguk menyambut ajakan itu. Akhirnya merekapun duduk pada tempat yang tersedia.


"Mungpung semuanya ada di sini, aku ada kabar baik buat kalian." Sapa Maxson dengan ungkapan tujuannya. "Aku sama Jasmeen akan menikah."


Erick menghembuskan napas leganya. Akhirnya ia dapat melihat anak tirinya melepas keterpurukannya. "Kapan?"


"Belum tau, kita masih mempersiapkannya." Jawab Maxson yang hanya di tanggapi dengan anggukan oleh seluruh penghuni ruang itu. "Sam, Jack." Imbuhnya menatap kedua adiknya bergantian. "Aku andelin kalian buat saingannya dia." Imbuhnya.


Kembali, ucapannya hanya mendapat anggukan dari kedua orang yang di sebutnya sesaat lalu.


"Dia Soni_"


"Mih, aku masih ada urusan." Penggal Sammuel secepat cahaya, enggan ibu tirinya mengucap nama itu di depan istrinya yang akan menghancurkan seluruh siasatnya. "Soal CC Film, kita bisa urus itu di pertemuan nanti kan?"


"O-oke." Balas Celia masih memikirkan ucapan penyenggalan kalimatnya oleh anak tirinya itu.


Akhirnya masalah demi masalahpun mendapat jalan keluar satu persatu, hingga malam mulai larut, Jackson, Sammuel, Maxson, Jasmeen serta Tara berundur pamit dari kediaman mewah itu.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2