
Menurut Jackson, hal paling menyulitkan di dunia adalah membujuk sorang wanita yang sedang frustasi. Seperti saat ini, meskipun ia berhasil membawa Triana ke rumah sakit, akan tetapi di hadapan ruang pemeriksaan wanita itu kembali merengek meminta pulang.
"Jack ... ga bisa lain kali aja diperiksanya?" tanya Triana setengah merajuk. Kedua tangannya menggenggam pergelangan tangan Jackson, membubuhkan rayuan yang terasa lawan bicara seperti paksaan.
"Ga bisa!" Sudah bosan Jackson mendengar kalimat itu, sejak perjalanan tadi Triana selalu mencari alasan.
"Apa kemandulan aku itu urusan kamu?" tanya Triana.
Jackson melenguh pilu, ia tidak ingin menjawab sedikit pun. Seharusnya ia tidak mengkhawatirkan keadaan itu, akan tetapi demi mempertanggung jawabkan sesuatu yang telah ia lakukan terhadap wanita itu, ia rela melibatkan diri.
Triana menoleh ke arah Jackson yang berdiri di sampingnya, nampak tidak ada tanda-tanda pria itu akan menyahut. Kemudian ia melangkah pergi. Namun, baru satu ayunan kaki itu melangkah, kehadiran Fiona dengan Hanson mencegah kepergiannya.
"Tri, lo ngapain di sini?" tanya Fiona sesaat tubuh menghadap wanita yang tersenyum kepadanya.
Sahutan terlebih dahulu terlihat dari gelagat Hanson, ia pun ingin mempertanyakan hal itu. Setelah calon istrinya mewakilkan, ia tidak lagi ingin membuka suara. Dan duduk pada kursi tunggu yang tersedia di balik dinding ruang.
"Lo sendiri ngapain di sini?" Sukar menjawab pertanyaan itu, Triana menghujam Fiona dengan baris pertanyaan jua.
"Chek kandungan." Tangan Fiona mengusap perutnya, berbalas anggukan paham dari lawan bicara.
Senyuman ceria menjadi lirihan hati Triana. Bukan ia membenci Fiona yang telah mengandung. Ia hanya merasa iri akan nasib yang didapati.
"Kamu ga sama Sammuel, Tri?" tanya Hanson mencabik lamunan Triana.
Sebelum menyahut pertanyaan itu, Triana melepas arah pandang menuju wajah Jackson. Kehadiran wanita di sana sedikit banyak membawa rasa lega untuknya. "Setidaknya aku tenang kalau dia di sini."
Jackson pun tersenyum simpul, lalu memberi anggukan kepala sebagai restu agar Triana membawa serta Fiona saat pemeriksaan nanti. Bergegaslah Triana mencari tempat duduk, akan tetapi sebelum itu terjadi ... suara pintu ruang pemeriksaan menyendat kegiatannya.
"Nyonya Triana," panggil seorang perawat.
Lekaslah Triana membawa tangan Fiona, menuntunnya hingga masuk ke dalam ruang. Kedua wanita itu sesaat enyah dari pandangan mata, ketika pintu ruang kembali tertutup rapat. Tatapan Jackson masih tertuju ke arah pintu, entah mengapa ia merasa khawatir pada dua wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang.
Hanson tidak berkenan sedikit pun untuk mencurahkan rasa khawatirnya kepada para wanita, yang ia cemaskan tatapan lirih sang kakak di sana.
"Si Tri hamil?" tanya Hanson seketika mengusir renungan kakaknya, tak lantas pandangan mengarah kepadanya.
"Dia mandul."
Sesaat Hanson mendapat kejutan akan pernyataan itu. Semua teralihkan ketika Jackson duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Harusnya si Sam yang ngurus, 'kan?" Kembali, Hanson melepas kalimat tanya.
Tatap heran dari pancaran mata Hanson, membuat Jackson menghempas napas rancunya. Jackson merasa ia harus mengungkap kebenaran kisah, meskipun akan membuat nama baiknya tercoreng.
"Pengkhianatan mereka sebetulnya gue yang atur, gue pengen si Tri hamil anaknya si Sam biar dia mau terima cewe itu," ungkap Jackson membuat Hanson kembali mendapat kejutan.
Sesungguhnya, sejak awal Hanson melihat pengkhianatan itu sudah merasa ada kejanggalan dibaliknya. Salahnya tidak pernah menggali lebih dalam tentang kisah tragis yang dialami adik dan kakaknya.
"Lo tau itu cara picik? Masih ada cara lain Jack, ga seharusnya lo korbanin perasaan mereka demi nutupin kelakuan busuk lo," ujar Hanson berseru murka.
Benar apa yang dikatakan Hanson, Jackson pun menyadari setelah semalaman terhanyut dalam renungan. Ia terdiam membisu, tiada ingin menimpali ucap penuh kebenaran itu.
"Terus ... gimana cara lo tanggung jawab sama cewe itu?" tanya Hanson yang lagi dan lagi terabaikan lawan bicara.
Jackson memandang dahi mengkerut itu hingga beberapa detik menahan tatapan di sana. Kemudian menyeringai sinis, setelah mendapat jawaban yang tak ingin ia ucapkan.
***
Kendaraan roda empat yang di tumpangi Jackson dengan Triana telah mendarat pada lahan parkir sebuah toko perhiasan. Sepulang dari pemeriksaan itu, Jackson membawa arah perjalanan menuju tempat tersebut tanpa memberitahukan Triana sebelumnya.
"Kamu mau tunggu di sini, atau ikut masuk?" tanya Jackson seraya membuka sabuk pengaman yang menyegel tubuhnya.
Triana mengetahui itu ketika tidak disengaja mendengar perbincangan Tara bersama Fiona di dalam ruang kebangsaan pengacara. Berbicara mengenai pernikahan Jackson dan Fiona yang diurus penuh oleh Tara.
"Ya udah, tunggu di sini." Jackson tidak menunggu jawaban, ia lekas membawa tubuh keluar ruang yang hanya mampu menampung dua orang saja itu.
Setelah beberapa menit berlalu, Jackson kembali menampakan diri dan duduk pada jok pengendara yang sebelumnya menumpu tubuhnya. Tanpa ia sadari, ia menyerahkan benda dalam genggaman kepada Triana.
Triana penasaran, lantas membuka isi dari bungkusan berbahan kertas itu tanpa meminta izin kepada sang empunya. Terlihat olehnya di dalam sana terdapat kotak merah tempat yang biasanya menyimpan perhiasan. Ia tersenyum mengingat terkaannya tiada kesalahan.
"Cincin pernikahan kamu?" tanya Triana pada pria yang sedang sibuk memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Ya, tepatnya cincin pernikahan kita."
"Kita?" Pekikan nada bicara terlontar bersamaan dengan kata yang terucap.
'Tidak mungkin ... dia bercanda, 'kan?' Batin Triana menyangkal pikirannya. Meskipun mengerti maksud dari ucapan Jackson, akan tetapi ia masih keberatan untuk menerima.
"Aku akan menikahimu." Seraya senyuman mewakilkan kata rayuan, telapak tangan mengusap puncak kepala wanita itu.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Kehangatan seketika melanda jiwa hingga mendobrak bendungan air matanya. Sudah lama ia menantikan saat-saat seperti ini. Bagaimana ia bisa menolaknya?
"Dia ga cinta sama aku." Jackson melenguh di penghujung kalimat, membuat air mata haru itu urung menampakan dirinya.
"Kamu juga ga mencintaiku, Jack." Triana mencibir disertai senyum kepedihan, tatkala usapan pada puncak kepala terlepas tanpa pelantara.
"Tapi aku mau nikahin kamu karna ada alasan." Jackson menyahut datar, berbuah kernyitan dahi dari sampingnya.
"Apa itu?"
"Ngasih kesempatan buat kalian semua. Buat Sammuel sama Tara, aku kasih kesempatan agar mereka tau apa yang namanya pesta pernikahan. Dan buat kamu ... aku kasih kamu kesempatan mengurus anakku meskipun ga sedari kecil."
"Anak ... Queena maksudmu?" Semenjak membuka hati untuk pria yang kini menggeleng di sana, Triana telah mempersiapkan diri untuk mengakui si gadis cilik menjadi buah hatinya.
"Anakku dari Tara. Akan aku perkenalkan setelah kamu siap."
"Aku udah siap." Terlalu bahagia mendengar pernyataan hati itu, Triana melupakan jika ucapan lawan bicara mengandung ungkapan sebuah rahasia.
Begitu jua membuat Jackson kembali menggelengkan kepala, mengingat jika wanita ini begitu mencintainya. Sehingga menerima segala keputusan tanpa pelantara.
"Sabar dulu ... aku mau lihat usaha kamu dulu buat bikin aku jatuh hati sama kamu."
Kesabaran sudah enyah dari dalam jiwa Triana, tanpa tau rasa malu ia menarik leher Jackson. Membawa wajah pria itu agar merekat dengan wajahnya, lantas bergegas memberikan sebuah cumbuan antah berantah.
Begitu yang dimaksudkan usaha oleh Triana, Jackson hanya tersenyum menyikapi kekeliruan itu. Namun, jiwa lelaki tumbuh menghujam asa, Jackson membalas cumbuan itu meskipun tidak dengan ketulusan menyertai.
Pesona cinta bernuansa romansa tercipta meskipun ada keterpaksaan dibaliknya. Sepasang insan terhanyut buaian asmara. Setelah menerjang berbagai ujian dalam kehidupan, pada akhirnya mereka berhasil menggapai keinginan.
Lantas, bagaimana mereka mengapresiasikan kegiatan yang akan memanas itu?
Serangkai kalimat tersendat mulut yang saling beradu, mereka mengucapnya dengan bahasa kalbu. Yakni, saling meresapi kenikmatan itu.
•
•
•
Tbc
__ADS_1