Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 23


__ADS_3

Sammuel menyahut dengan gerakan tangan, menyelipkan rambut hitam terurai wanita itu pada telinganya. Ia enggan mengulang kata sehingga berusaha keras agar wanita itu mendengarnya hanya dalam sekali ucapan.


"Marry me," bisiknya terlontar tegas, akan tetapi menggoda dengan meniup cuping telinga sang wanita membuat sang empunya menggelinjang tidak karuan.


Tara membisu disaat sang tubuh masih merasakan geli akibat ulah pria yang masih menumpukan dagunya pada bahunya membuat sang pria kembali membuka mulutnya. "Tapi nikah sirih,” imbuhnya melirih hingga ia menarik wajahnya menjauhi bahu beraroma rose itu, lantas mengambil bungkusan rokoknya.


Tara masih bungkam dalam bayangan kelamnya jika hatinya telah berseru menginginkan sentuhan itu kembali di dapatinya.


Menikah? Menjalani kehidupan bersama seorang pria? Satu atap bahkan satu ranjang dengan seorang pria? Apakah dia memerlukan kehidupan seperti itu? Apakah dia menginginkan keberadaan pria itu di dunianya? Dalam kehidupan sehari-harinya? Ini adalah perubahan suasana yang sama sekali tak dirinya duga. Tentu saja semua jawaban itu kembali pada dirinya sendiri, pada perasaan dan keinginan itu sendiri.


Lamunannya buyar seketika kala pria yang telah membuat jantungnya berdentum keras itu menyodorkan sebatang rokok berbara kepadanya hingga tanpa disadarinya ia menerimanya tanpa perantara.


"Bisa aku pikir dulu ga?" pinta Tara ragu-ragu jika ia mengingat status hubungannya akan menjadi sebuah rahasia yang tidak akan membuat ke tiga orang tua iblisnya merecokinya. Apalagi ini adalah sesuatu yang bukan main-main dan akan ada risiko yang mesti dia tanggung.


Keputusan yang akan ia ambil harus dipertimbangkan dan dipikirkan matang-matang. Masa depannya, masa depan orang-orang di sekitarnya akan terpengaruh oleh apa yang akan dia ambil, ia harus memutuskan hal yang tepat dan paling bijak mengambil langkah yang harus dijalani, jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari karena apa yang dia ambil saat ini.


"3 jam!" sahut Sammuel tegas setegas tatapan wanita itu menatap wajahnya penuh emosi.


"Apaan, mikir cuma tiga jam?" Protes Tara tidak terima. Sesuatu sepenting itu, hanya diberi waktu sangat singkat untuk memikirkannya? Omong kosong macam apa ini? Bahkan belanja saja memerlukan lebih dari itu, apalagi ini.


"2 jam." Kini Sammuel menggodanya dengan tawa kecilnya, malah sengaja makin menyempitkan waktu.


"Malesin banget sih, kamu." Tara mendengus dengan raut wajah yang sudah mulai jengah.


"Sejam."


"Deal." Tara segera menyepakati tanpa berpikir, lantas menghisap rokok untuk menepis rasa kikuknya membuat sang pria terkekeh gemas.


"‪Jam 10‬ gue tunggu jawabannya," ujar Sammuel disaat pasang matanya melirik alat pengukur waktu yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Tentu saja Tara tak menyetujuinya, bukan itu yang dia maksudkan.‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬


"Malesin banget deh, maksud aku deal 3 jam." Tara menjabarkan keinginannya dengan nada yang kesal dan sebal. Namun hal itu malah membuat sang pria kembali menyeringai dengan gemasnya, dia suka dengan gelagat wanita itu.


"Lo pengen ketemu lama-lama sama gue ya?" ujar Sammuel penuh rayuan membuat sang wanita kian emosi lantaran tak mampu menyembunyikan rasa malunya.


"Ih dasar sengklek." Tara sebal dan langsung melontarkan cibiran seraya tangannya bergerak menyumpal mulut pria yang masih tertawa meledeknya dengan rokok yang berada pada genggamannya. Tentu saja itu membungkam mulutnya yang sebenarnya masih ingin lebih lama tertawa.


Sammuel membiarkan rokok itu terbenam dalam mulutnya. Lantas ia bangkit di hadapan Tara, berlanjut menyodorkan sebelah tangannya ke arah belakang Tara membuat dadanya berada di hadapan wajah wanita itu.


Sengaja memang Sammuel ingin menggoda wanita itu dengan tubuh atletiknya yang biasanya dapat menggoda kaum hawa.


Dan..


Tara meresapi tatapannya pada dada itu yang mengenakan kemeja hitam dengan kancing terbuka dari atasnya hingga dadanya, membuat dada bidang berkulit putih itu terekspos jelas di hadapan matanya.


Ada apa dengan hari ini? Semua orang yang menemuinya berhasil membuat jantungnya berlari entah ke mana, bahkan berhasil membuat saluran napasnya tersendat dalam tenggorokannya.


Apa yang terjadi dengan orang-orang malam ini? Kenapa denganku? Rasanya pikiranku terlalu mudah terpengaruhi malam ini. Tara membatin seraya mengumpulkan puing-puing udara yang berserakan dari dalam paru-parunya. Jujur saja, jika dilihat dari dekat, pria ini tampak seksi dan menggoda, jelas membuat banyak wanita akan memandanginya, menikmati pahatan –yang hampir – sempurna itu dengan kekaguman.

__ADS_1


Merupakan hal alami sosok manusia akan tertarik pada sesuatu yang menurutnya indah dan membuatnya terpesona, pria akan tertarik dan menyukai wanita yang menurutnya cantik dan sempurna. Begitu juga bagi wanita yang akan tertarik bahkan tak akan membuang waktu untuk berpaling dari lelaki yang tampak menawan dan membuat perasaannya dag-dig-dug tak karuan, ini adalah sesuatu hal yang wajar dan normal.


Pria dan wanita memiliki daya tariknya tersendiri, memiliki cara-caranya tersendiri pula untuk memamerkannya kepada lawan jenis untuk menarik perhatian, begitu juga dengan Sammuel.


Tanpa di sadarinya, Sammuel meraih gelas miliknya lalu menyodorkan benda itu kepadanya. "Mau racikan gue apa ini?" Tawarnya setelah berhasil melepaskan kembali tubuhnya dari hadapan wajah yang merona itu. Lantas ia kembali duduk pada posisi semula.


Tara tersadar dari lamunannya hingga bangkit berdiri mencari celah untuk mengintip kembali dada itu. Tak bisa dia sangkal jika dirinya tergoda dan penasaran lagi, anggap saja dirinya ketagihan.


"Mau racikan gue?" tanya Sammuel memastikan tawarannya yang terabaikan saat lalu –karena yang dia tawari jelas bungkam dan tak menanggapinya. Tentu saja ia mengulang pertanyaannya lagi. Tapi, Tara membungkam mulutnya, namun tangannya berhasil merebut gelas dari genggaman Sammuel. Lantas ia meneguknya dalam sekali tegukan untuk menenangkan jantungnya yang sudah berdentum tidak karuan. Anggap saja malam ini dirinya agak labil dan jelas tak seperti biasanya.


"Yakin sama gue, minuman itu ga bakalan bikin lo mabok,” cibir Sammuel menunjuk dengan dagu gelas yang telah kehilangan isinya di dalam genggaman wanita itu.


"Nggaklah, siapa juga yang mau mabok?" Tara mengelak asal. Sesungguhnya memang benar adanya apa yang di katakan pria itu. Dia memang ingin mabuk, dan siasat itu jelas dapat dilihat dan dibaca oleh pria itu, pria yang saat ini tengah memandanginya.


"Jangan bohong lo, gue tau lo mau mabok biar lo tambah berani ngasih jawabannya sejam lagi kan?" tukas Sammuel penuh godaan, segera saja tangannya kembali meraih gelas dari tangan wanita itu untuk kembali mengisinya. Tara tak bisa membalas karena dugaan atau tuduhan itu memang tepat sekali.


Brukkk!


Tiba-tiba saja tubuh Tara tersenggol seseorang. Namun naas, bukannya Tara –yang memang seharunsya—dialah yang jatuh, tetapi si penabraklah yang malah terpental hingga tersandar di sela pangkal paha Sammuel.


"Lo gila apa?!” seru Paulin memekik nyalang diiringi tatapan penuh bisanya. Ya, dialah yang menjadi pelaku penabrakan itu, dia melirik Tara dengan tajam. “Bisa-bisanya malah dorong gue?" Lantas dia segera mendorong tubuh Tara dengan sebelah tangannya. Kendati demikian, tubuhnya masih tersandar pada sebelah kaki Sammuel.


"Paulin, lo ga salah ngomong kan? Perasaan dari tadi gue diem di sini, ga nabrak-nabrak," sahut Tara ketus, seketus tatapannya menuju wajah cantik yang masih memancarkan aura kelamnya di sana.


"Lo mau nyalahin gue?" balas Paulin kian memekik membuat Sammuel berdecak, tak ayal mengempas tubuh itu dari sandaran kakinya dengan kasar hingga Paulin berdiri menghadapnya.


"Lo masih aja kurang ajar!" seru Paulin meyakinkan diri jika Tara sudah mengelabuinya sesaat tadi, bahwa yang dilihatnya adalah orang yang sama dengan sekarang yang berada di hadapannya.


"Gue? Kurang ajar?" sergah Tara yang menjadi sewot Sammuel dengan sikap Paulin terhadapnya. Paulin mengabaikan perkataan itu, ia segera meraih kesempatan emasnya, menatap wajah tampan Sammuel tanpa berkedip sedetik pun. Maka peperangan segera berhenti, berakhir sebelum berkembang menjadi panas.


Andre adalah seorang Dj yang memiliki rupa menarik jika Jackson tidak berada di sana, namun kini keindahan parasnya tertutup oleh aura pria itu, Sammuel. Ia tampak sangat cocok menjadi selebriti yang banyak digemari oleh orang-orang, penampilannya benar-benar hampir tanpa celah.


"Kak Sam, maaf," ucap Paulin diiringi dengan nada manjanya yang dibuat-buat membuat Tara berdecak jijik. Apakah wanita ini tak bisa melakukan sandiwara yang jauh lebih baik lagi dari ini? Bahkan balita saja mampu melakukannya jauh lebih baik dari itu.


Sammuel mengabaikan perkataan itu, ia segera bangkit lalu menggenggam pergelangan tangan Tara. "Gue gabung sekarang Ndre!” serunya menatap wajah Andre bermaksud ucapannya tertuju untuk pria yang disebutkannya, Andre dan Nicky memang masih ada di sana, sibuk pada urusan masing-masing dan mengabaikan drama sebelumnya, tapi ketika namanya disebut, Andre langsung memberikan respons. Lantas ia melangkahkan kakinya dibuntuti Andre serta Nicky di belakangnya. Wanita itu diabaikan dan ditinggalkan begitu saja oleh mereka, benar-benar dianggap sebagai angin lalu atau tak terlihat.


Mereka masih berjalan beriringan, tentu saja tak terlalu saling berdempetan seperti anak balita yang hendak menyeberang jalanan, hingga tibalah temoat yang dituju, mereka menepi di dalam ruang karaoke yang sebelumnya ditawarkan oleh Andre.


Kala pintu ruang itu terbuka, dengan gesitnya Sammuel melangkah masih membawa tangan Tara dalam genggamannya.


"Hei bro, ke mana aje lo?" sapa Adit seraya mengacungkan tangannya mempertegas sapaannya pada pria yang telah tersenyum bengis kepadanya.


"Tapa." Sammuel asal menjawab kala meresapi kegiatan tangannya yang hingga kini ia masih menggenggam tangan wanita itu dalam langkahnya.


"Tapa di sini?" sahut Daniel terkekeh di akhir kalimatnya menatap tangan yang saling menggenggam itu. "Hai Nick, lo masih setia buntutin nih bocah?" imbuhnya setelah melihat Nicky yang berjalan di belakang Sammuel.


Nicky hanya terkekeh menyikapinya tanpa melontarkan suaranya satu patah kata pun. Sepertinya dia berniat untuk tak mengeluarkan suara satu patah kata pun malam ini. Setelah berbasa-basi seperti itu, lantas Sammuel berjabat dengan seluruh rekannya, begitu pula dengan Nicky.

__ADS_1


Akhirnya Sammuel berhasil mendaratkan bokongnya pada tempat yang tersedia didampingi Tara yang duduk di sampingnya. Sedangkan Andre serta Nicky mengambil posisinya bersampingan dengan Adit.


Kehadiran Sammuel membuat pasangan wanita dari ke dua rekannya memaparkan pandangan kagumnya pada Sammuel.


"Ndre lo yang bawa si kunyuk ini ke sini ya?" tanya Adit menunjuk Sammuel dengan telunjuk jenjangnya.


"Yup, lo keberatan?" jawab Andre dengan pertanyaannya.


"Bang*e juga lo, bikin cewek gue selingkuh mata aja." Adit sewot dalam leluconnya yang membuat Sammuel serta ke tiga rekan lainnya tertawa geli.


"Sam, lo mau minum apa?" tawar Daniel. Dia sudah bersiap-siap membagikan minuman.


"Bareng aja." Sammuel menyahut, tak lantas meraih dua gelas kosong yang tersedia di sana lalu menatap wajah wanitanya. "Ga keberatan kan sweaty?" tanyanya, membuat sang wanita merona mendengar panggilan untuk dirinya.


Tanpa menunggu jawaban, Sammuel mengisi gelasnya dengan Black Label yang masih berada di sekitar. Namun perbuatannya segera ditepis Tara setelah ia beringsut, merebut botol minuman dari genggaman Sammuel lantas ia mengambil alih pekerjaan pria itu sebelumnya, Sammuel tak melarang dan menbiarkan wanita itu mengambil alih apa yang dia lakukan, toh ini bukan paksaan atau suruhan, melainkan inisiatif Tara sendiri. Seusainya, ia pun menyerahkan segelas kepada pria di sampingnya yang langsung disambut dengan meraihnya.


Sammuel mengangkat gelasnya mengajak bersulang kepada seluruh rekannya. "Buat pertemuan langka ini."


Mereka pun menyambut ajakannya yang langsung meneguk minumannya masing-masing. Begitu pula dengan Tara yang turut menyambut ajakan itu dengan menyeruput minumannya. Entahlah perutnya seperti apa, dia mampu meminum dan menegak banyak minuman beralkohol tanpa mengalami, kecuali kepala pusing dan mabuk –yang merupakan reaksi biasa dan hal normal jika seseorang minum-minum.


Beberapa waktu kemudian, seorang pria datang menghampiri mereka didampingi Paulin di sampingnya. Hal ini membuat Tara berdecak sebal, mau seberapa sering dia bertemu dengan wanita itu malam ini? Bahkan Tara sudah bosan melihat wanita itu hanya sekali saja, sementara malam ini? Siapa yang akan tahu jika mungkin sepanjang malam mereka akan saling berhadapan. Tentu saja, hal ini membuatnya gusar dan sebal karena merasa jika tempat ini benar-benar sangat sempit, sehingga membuat mereka terlalu sering berhadapan. Namun lain dengan Sammuel yang bibirnya menyeringai, tentu saja ia memiliki siasat buruk terhadap wanita yang telah menatapnya penuh kagum itu.


"Gue lupa ngomong sesuatu ke kalian kalian pada, nih cewek milik gue mulai detik ini. Gue harap kalian ga ngambil kesempatan kalo gue ga di sini,” ungkap Sammuel penuh ancaman membuat seluruh penghuni menatapnya penuh janggal. Suasana segera saja berubah dengan pengakuan yang tiba-tiba semacam itu, siapa yang akan menyangka jika Sammuel akan memberi pengumuman secepat ini, bahkan Tara sendiri tak menyangka jika pria ini akan berbicara seperti itu.


Baru kali ini mereka mendengar pengakuan pria dingin pada wanita hingga mereka mengira-ngira dan menduga jika ucapannya bukan yang sesungguhnya, ini hanya pengakuan sepihak dan omong kosong saja.


"Kalo gitu lo kurung aja tuh cewek di rumah lo!” pekik Daniel mencibir dengan kekehannya. Tentu saja dia bercanda mengatakan itu.


"Lo kata, cewe gue kucing apa?" sahut Sammuel terkekeh di akhir kalimatnya membalas lelucon sahabat kakak keduanya. "Inget aja, kalau kalian macem-macem sama dia itu maksudnya kalian nyari mati,” imbuhnya bersungguh-sungguh tatkala irisnya menatap wajah wanita yang telah membuatnya jengah beberapa saat lalu. Wanita tersebut seketika terpuruk gelisah mendapat tatapan ancaman penuh racun itu. Tentu saja ucapan dan ancaman yang baru saja Sammuel utarakan memiliki objek khusus, yaitu Paulin. Secara tak langsung Sammuel memang sedang menggertak wanita itu, meski kalimatnya juga ditujukan pada teman-temannya yang bisa kapan saja lupa akal dan daratan.


Paulin sadar dengan perkataan Sammuel yang tertuju padanya membuatnya membeku tanpa perlawanan. Mendadak dia merasa tak nyaman, apalagi mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


"Serem amit lo," ucap Fandy, lelaki pendamping Paulin menyerukan gurauannya yang dirasa oleh pria dingin itu tengah berucap dalam kesungguhannya, hingga tampak ingin melerai emosi yang terpampang dari wajah tampannya.


"Harus!" seru Sammuel tegas, lantas kembali menatap bengis wajah Paulin, hal itu langsung membuat wajah wanita itu kian tertunduk. Tara sendiri tak memberi respons dan reaksi apa-apa dari apa yang semua kalimat Sammuel katakan.


Dan mereka pun melanjutkan kegiatannya masing-masing di mana mereka akan menghabiskan waktunya dengan pasangannya sendiri. Sammuel sudah mengambil posisi nyamannya, merangkul pinggang wanitanya dengan sebelah tangannya.


"10 juta semalam,” tawar Sammuel dengan bisikan suaranya tepat pada telinga wanita di sampingnya hingga membuyarkan lamunan sang wanita disertai matanya yang membelalak nyalang.


Tara terperangah dalam kejutannya mendapat sebuah tawaran pada hari yang sama dari dua pria yang dirasanya memiliki hubungan darah itu.




__ADS_1


__ADS_2