Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 43


__ADS_3

Tara sudah duduk manis di atas kursi yang terletak di dalam sebuah tempat makan yang di janjikan Hanson satu hari lalu. Ia enggan membuat suatu kesalahan untuk keterlambatannya pada pertemuannya, hingga ia tiba lebih awal dari lelaki yang memiliki janji temu dengannya itu.


Sepuluh menit kemudian Hanson menampakan dirinya yang langsung duduk besebrangan dengan Tara pada kursi yang tersedia.


"Sorry, kamu udah lama nunggu?" Tanya Hanson di sela lambaian tangannya memanggil pelayan setempat. "Jalanan macet tadi, di tambah aku beresin dulu kerjaan."


Awesome, mengapa Hanson menjelaskannya seolah ia seorang suami yang takut mendapat murka istrinya.


"Engga juga kok." Tara tersenyum kikuk di akhir kalimatnya meraba batinnya menerka perlakuan Hanson yang membuat asanya menghangat seketika.


Hanson membeku mendengar suara yang selalu di rindukan hatinya, mengingatkannya pada sang pujaan hati yang sudah tidak akan pernah dapat di temuinya lagi.


Kehadiran pelayan membuyarkan lamunan Hanson. "Minta es americano 1, panna cota 1." Sejenak ia menyenggal kalimatnya untuk menatap wanita yang sudah tersenyum menatapnya. "Ra kamu mau pesen apa?" Tawarnya penuh kelembutan, yang lagi membuat batin Tara menghangat seketika.


"Sama aja deh." Jodohkah ia dengan Hanson yang memiliki selera makanan yang sama.


"Baik saya ulang pesanannya, es americano 2, panna cota 2." Pena itu menggores gores kertas yang terangkat pada genggaman pria yang berdiri di samping mereka.


"Itu aja dulu." Putus Hanson di balas anggukan sang pelayan.


Sang pelayanpun berlalu dari hadapan mereka.


"Jam berapa mereka datang?" Hanson melirik layar phone cellnya melihat waktu yang tertera di baliknya. Begitu membuatnya sakit jika pertemuan khusus pertama dengan wanita itu harus terpenggal dengan pekerjaannya. Keinginannya bahwa ia dapat berlama-lama mendengar suara bahkan menatap wajah yang serupa dengan ibunya itu.


"Katanya udah di jalan."

__ADS_1


"Kamu nanti ga usah banyak ngomong, biar aku aja yang maju." Ucapnya memperingati, takut-takut wanita itu tidak mengerti apa yang harus di lakukannya saat nanti. "Aku udah selidiki semua kasusnya jadi udah faham semua."


Tara hanya mengangguk membalas perkataan Hanson.


Hanson menghembuskan napas kasarnya seraya menatap wajah Tara. "Sorry kalo hari ini aku ga bisa lama-lama, aku masih ada urusan lain." Ucapnya penuh penyesalan.


"Ga apa-apa kok, justru aku yang minta maaf udah ganggu waktu kamu." Ingin rasanya Hanson menghentikan Tara menyerukan suaranya yang selalu membuat jantungnya berdegup tidak karuan lantaran mengingatkannya pada seseorang nun jauh di sana.


Hanson tersenyum seraya menggelengkan kepalanya menyadarkan lamunannya. "Aku yang udah bikin janji duluan kok."


Perbincangan terlerai dengan kehadiran pelayan yang membawakan seluruh pesanan mereka.


Tanpa menunggu lama, Hanson menyeruput americanonya seraya menatap lekat wajah Tara yang membuat sang empunya belingsatan tak karuan. "Bener-bener mirip." lirih Hanson dalam nada rendahnya namun masih terdengar oleh wanita itu.


"Siapa yang mirip siapa?" Tanya Tara heran, lantas menyeruput americanonya tak lain dengan Hanson, iapun menatap lekat wajah tampan itu.


Tara terperangah, membelalakan bola matanya, mendapat jawaban dari tujuan suaminya. "Apa keadaan aku bikin kamu keganggu?"


"Engga juga, seengganya aku bisa denger lagi suara itu." Hanson menepis wajah cemas itu dengan menyiratkan senyuman penuh pesonanya.


Tara membalas senyuman itu dengan senyuman leganya, lantas menahan tatapan pada sudut bibir yang masih terangkat itu.


Tatapannya terpecah kala dua orang wanita berusia sebaya dengan Tara yang telah di undang mereka sebelumnya tiba menghadap mereka.


Merekapun menyambutnya dengan saling berjabat tangan. Hanson berpindah posisi, ia duduk di samping kiri Tara di mana tersedia kursi kosong di sana. Sedang dua tamunya duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


Lantas Hanson yang mengambil alih perbincangan menjelaskan maksud dari pertemuannya.


Hingga hanya beberapa menit mereka menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan tujuannya. Tujuan utama dari pertemuanpun usai, tuntas hingga akarnya. Selepasnya, sang tamu undanganpun undur pamit. Kembali tersisa hanya Hanson serta Tara di sana.


"Hans, makasih banyak." Tara menatap Hanson yang masih duduk di samping kirinya, menyiratkan senyumannya sebagai pelengkap ungkapan termakasihnya. "Aku__ ga tau berapa bayaran yang harus aku kasih."


Hanson tersenyum yang memancarkan aura wibawanya meski tidak terlihat Tara lantaran ia mengarahkan pandangannya lurus ke depannya. "Aku ga butuh uang kamu, uang aku lebih banyak dari yang kamu punya sekarang." Ia membalas tatapan itu di sertai senyumannya. "Aku cuma minta kita ketemu terus kalo aja aku kangen sama dia."


Tara membisu dalam seringai kemenangannya. Tugasnya dari suaminya telah berhasil di laksanakannya.


"Kamu_ keberatan?" Janggal Hanson melihat senyuman bermakna itu.


"Iya aku keberatan kalo cuma di anggap pelampiasan, tapi buat bayar utang budi, aku ga keberatan sama sekali." Lantas tersenyum kembali membuat sang pria menatapnya dengan gemas.


Hanson mengusap puncak kepala Tara mempertegas ucapan terimakasihnya. "Makasih." Ia melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. "Aku harus pergi sekarang."


"Hmmm." Dengung Tara sebagai balasannya.


Hanson meneguk sisa americanonya dalam sekali tegukan, begitu pula dengan Tara. Lalu mereka bangkit berdiri melangkahkan kakinya menuju tempat administrasi. Hanson yang melakukan pembayarannya meski sebelumnya Tara menyenggalnya.


Akhirnya merekapun bergegas meninggalkan tempat, menggapai tujuannya masing-masing.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2