Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 104


__ADS_3

Janji yang sempat terikrar dalam tawaran dari mertuanya saat lalu bahwa Sammuel serta Jackson akan selalu menjadi sopir untuk wanita yang di perebutkan mereka, teringkari sudah.


Delapan hari sudah Jackson tidak mengunjungi perusahaan warisan dari ibunya, begitupun Sammuel yang tidak terlihat di sekitar sana membuat Tara terpaksa menerima tawaran jika Hansonlah yang mengantar jemput kepergiannya.


Kali inipun masih serupa dengan hari-hari sebelumnya. Kala Tara berdiri di depan gerbang universitas ternama untuk menunggu jemputan pribadinya, hanya beberapa detik saja kendaraan roda empat mewah berwarna abu tua mendarat tepat di hadapannya.


"Masuk." Titah Hanson menutur katanya di dalam kendaraan yang terbuka jendelanya itu memaksa wanita yang telah berdiri di balik pintu penumpang kendaraan mewahnya agar menuruti keinginannya. "Apa harus aku turun bukain pintu?" Imbuhnya kala sang wanita masih berdiri kaku pada tempat semula.


"Iya harus!" Balas Tara penuh gurauan kala tangannya berhasil membuka pintu kendaraan itu. "Biasanya juga kamu maksa buat bukain pintu sama pasangin seatbelt." Imbuhnya kala sang tubuh berhasil menepi di atas jok penumpang itu membuat pria di sampingnya tidak kesulitan menatap wajahnya.


"Sorry aku males turun, jalannya becek." Ujar Hanson menimpal gurauan itu yang nyatanya hari cerah tidak ada sedikitpun meninggalkan jalanan basah.


Tanpa ada kata kembali terucap, kendaraan rota empat itupun melaju tanpa hambatan kepadatan lalu lintas sedikitpun.


Saat di tengah perjalanan..


"Aku denger cerita menarik dari meeting tadi." Tutur Hanson sebagai pembuka perbincangan namun berhasil membuat senyuman wanita di sampingnya tersirat kaku di sana. Rupanya diam-diam ia menerima berita itu dari sang ayah tercinta saat siang lalu. "Aku ga nyangka kamu sepinter itu." Imbuhnya kian membuat sang wanita terkujur malu.


"Emang muka aku keliatan bego sih." Gurau Tara menimpal membuat pria di sampingnya tertawa kecil menyikapinya tanpa bisa menatapnya lantaran pasang matanya berpusat pada jalanan di hadapannya.


"Aku jadi penasaran, siapa yang akan beruntung dapetin kamu sepenuhnya?" Sahut Hanson di sambut wajah lirihan oleh wanita di sampingnya.


Hingga saat inipun, Tara masih belum dapat memastikan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya untuk masa yang akan mendatang. "Hanya Tuhan yang tau." Ungkapnya hanya untuk lelucon semata namun berhasil membuat sang pria menyerukan rasa ibanya di sana.


"Andai aku?" Tanya Hanson di maksudkan menghibur hati sang wanita yang terlihat oleh ujung matanya bahwa wajah itu tidak mampu menyembunyikan lirihannya.


"Apa boleh buat kalau udah jodohnya, tapi aku harap Tuhan ga mempersatukan kita." Ujar Tara di balas kekehan pekat oleh pria yang sejenak melirik wajahnya di sana.

__ADS_1


"Sayangnya aku ga minat rebutan sama adek kakak yang bre****k itu." Balas Hanson berhasil membuat tawa kecil wanita itu berseru hingga terdengar lega olehnya.


"Baguslah, biar hilang satu orang bre****k di sekitar aku."


"Kamu ngatain aku bre****k?" Balas Hanson melenting, namun niat menyerukan leluconnya berseru dari tawa kecilnya di akhir kalimatnya.


"Yah, kalau masih bikin tunangan kamu nangis." Balas Tara menyindir hingga membuat pria di sampingnya menghela napas rancunya.


"Bahas itu lagi." Jawab Hanson mulai terdengar emosi dari nada bicaranya yang melenting membuat wanita di sampingnya tidak enak hati.


"Oke kalau gitu kita bahas adik kamu." Balas Tara mencoba menepis emosi yang terlihat merangkak dari helaan napas yang memburu itu.


"Devand?" Sahut Hanson menyeringai namun di balas anggukan pekat oleh wanita yang menilik lekat wajah tampannya.


"Yap, kenapa bisa mirip sama Sammuel?" Kilah Tara kala senyumannya tersirat penuh kemenangan yang telah berhasil membuat pria di sampingnya menyerukan tawa kecilnya.


"Aku ga suka kalah." Balas Tara tidak mau kalah membuat sang pria terkekeh gemas menyikapinya.


"Kenapa mereka bisa mirip? Kamu juga tau." Sahut Hanson di sambut gerakan kikuk wanita itu kala sebuah ucapan asalnya di balas terkaan tanpa kesalahan dari pria itu.


"A-aku penasaran sama cerita mami, dan juga umur papi." Ujar Tara mengalihkan bahan perbincangannya menepis rasa malunya yang merangkak tanpa aba-aba.


"Umur papi 49 tahun, dia nikah sama mama aku di usia 17 tahun, karna dia pinter, dia berhasil menggait ratu Spanyol yang usianya beda 5 tahun lebih tua dari dia." Jabar Hanson terbengkalai karna sang wanita menggundam suatu renungan.


Tara meruntuk dalam angannya menyalahkan nasib dirinya yang jatuh dari ibunda suaminya jika ia menikahi pria yang lebih muda darinya. "A-aku tanya soal mami lho bukan papi." Ungkapnya terbata-bata kala sang angan membayang kejadian menyenangkan dengan suaminya. Ia mengucap rasa syukurnya atas kehadiran pria yang lebih muda darinya namun mampu menjadi pemimpin baginya.


"Soal mami, waktu dia umur 16 tahun perusahaan ayahnya bangkrut, sampai ayahnya gila. Dia jual diri sama papi tapi akhirnya malah papi kepincut dan tumbuhlah Devand." Sahut Hanson menjabarkan jawabannya yang di sambut tawa kecil oleh wanita di sampingnya mendengar kalimat terakhirnya.

__ADS_1


"Pantes aja."


"Mami baru gabung di keluarga kita setelah mama aku meninggal 15 tahun lalu, awalnya anak-anak papi ga terima dia, tapi mau gimanapun papi butuh perusahaan dia karna ZhanaZ Group bukan punya papi, tapi punya mama aku." Kali ini, Hanson menjabarkan kisahnya dalam nada lirihannya membuat wanita di sampingnya tidak tega jika tidak menghiburnya.


"Panjang banget ceritanya." Sahut Tara di sertai senyum manisnya membuat ujung mata sang pria berpusat kepadanya hingga sang pria melirikkan sejenak wajahnya untuk memaparkan balasan senyuman menawannya kepadanya.


"Udah puas sama jawabannya nyonya?" Seru Hanson memecah senyuman manis itu seketika hingga meluapkan dengusannya dalam delikan matanya. "Kalau soal Sammuel, dia anak paling dingin sama cewe di antara kita ber 5. Pacaran aja cuma sekali 5 taun yang lalu, itu juga putus di tinggal nikah. Tapi kalau dia udah kenal sama cewe, sipat arogannya pasti keliatan." Jabar Hanson seolah menyahut tatapan penasaran yang terpapar sekian lamanya dari wanita itu.


"Emang." Balas Tara dalam senyuman riangnya kala ingatannya membayang pada kejadian-kejadian romantis dalam pertengkaran dengan suaminya.


"Kamu kangen sama dia?" Tanya Hanson memecah lamunan wanita itu hingga ia menyiratkan tawa gelinya menyahut pertanyaannya.


"Lumayan." Balas Tara penuh kejujuran.


"Jackson kan?" Seru Hanson bergurau ringan menanggapi wajah yang terkejut itu seolah meluapkan rasa rindunya pada helaan napas rancunya yang tedengar nyaring olehnya kala wanita itu menatapnya penuh emosi.


"Hei kita lagi bahas Sammuel kan?" Sahut Tara menjengah hingga berani mendaratkan pukulan ringannya pada pria yang telah melepas tawanya di sampingnya itu.


"Aku tau itu." Putus Hanson terabaikan oleh lawan bicaranya yang membungkam rapat mulutnya tat kala sang kendaraan menepi pada tempat tujuan awal mereka.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2