Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 107


__ADS_3

Berjam kemudian, akhirnya Tara usai membersihkan kediaman suaminya yang tidak di ketahuinya telah menjadi miliknya itu.



Semburan udara lembab dalam cuaca gersang sore itu membuat tubuhnya melengket akibat sang peluh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya yang melelah setelah berhasil merapikan butiran debu yang terpaut di dalam ruang itu.


Tidak nyaman baginya jika sang tubuh melengket dengan tetesan keringat yang masih saja merangkak menyeruak dari pori-porinya hingga ia bergegas membersihkan dirinya.


Saat ketika ia mengusapkan sabun pembersih rambutnya yang membuat matanya tertutup, sebuah tangan berhasil mencengkram kuat dadanya.


"Awww, Sam. Kamu kan itu?" Meski matanya terpejam, tangannya meraih dua tangan yang berada di atas dadanya.


"Emang lo ngarep siapa yang megang dia selain gue hm?" Sahut Sammuel gemas meluapkan rasa rindunya pada tangannya yang kian mencengkram kuat bagian tubuh istrinya itu.


Tara tidak membalas perkataan itu, ia membungkam mulutnya dalam seringai cerianya. Lantas segera membersihkan bulir sabun itu dari rambutnya. Seusainya ia menutup aliran air itu tak ayal memutar tubuhnya menghadap suaminya membuat senyuman lebar tersirat dari wajah cerianya kala pasang matanya berhasil menatap wajah tampan yang telah tersenyum kepadanya.


"Jelangkung ini." Umpat Tara dalam perumpamaannya jika sang suami selalu pergi tanpa pamit hingga datang tanpa di undang. “Kapan kamu pulang?” Imbuhnya terabaikan kala kedua tangannya berhasil mendekap erat tubuh atletis suaminya.


"Jangan meluk gue kaya gini." Tolak Sammuel pekat setegas ia menghempas keras tangan istrinya dari dekapannya. "Gue jadi ga bisa megang dia." Imbuhnya menyeringai kala sang tangan berhasil memutar tubuh istrinya hingga membelakanginya, membuatnya terbebas lepas mencengkram kuat dada wanita yang kini telah meresapi perlakuannya.


"Sam, aku mau ngomongin syarat ke 5 aku." Rajuk Tara penuh keraguan namun sebongkah harapan tersirat di baliknya membuat telinganya mendengar dengusan ringan yang terlontar dari mulut suaminya.


"Pengen gue ngasih kabar kalau gue pergi atau balik?" Seolah tau hati istrinya, Sammuel mengutarakan terkaannya di sela kegiatan tangannya yang tak gentar bermain di sana.


"Aku bebas kan buat ngutarain keinginan aku?" Balasnya di iringi suara nikmat terlontar di akhir kalimatnya.


Suara yang begitu nikmat itu, membuahkan hati Sammuel yang kian tergugah untuk menggoda istrinya. "Udah gue bilang buat hal yang lebih penting." Ujarnya di balas suara nikmat kembali terlontar dari mulut istrinya.


"Sam, buat aku itu hal penting." Sahut Tara melirih namun membuat sang suami tersenyum meraih kemenangannya meski tidak terlihat istrinya yang sudah memejamkan matanya.


Sepenting itukah cintanya padanya hingga sudi mengorbankan keinginan lainnya yang akan sangat langka di dapatinya? "Gue juga tambah syarat gue kalo gitu." Balas Sammuel tidak mau kalah.


"Sam, gimana aku bisa lupain kamu kalau gini caranya?" Tara menyahut kesulitan kala napasnya menyenggal suaranya dalam tenggorokannya yang terpacu dari gerakan tangan suaminya yang kian menggugah hasratnya melambung tinggi menuju syurga dunia.


Sammuel kembali tersenyum, namun kini di akhirinya dengan mempermainkan dada istrinya.


"Sammuel." Sahut Tara mencengkram keras kemeja hitam suaminya, membuat sang suami melepas kegiatan bibirnya untuk menatap wajahnya yang sudah larut dalam dunianya.

__ADS_1


"Lepasin honey." Balas Sammuel menatap nikmat wajah istrinya dengan senyuman kemenangan tersirat di baliknya.


Dalam diam yang tertahan, kala hening menelusup dalam ruang, hanya suara napas yang menggebu saling beradu dari sepasang insan itu yang mengisi pendengaran mereka.


Sammuel menatap kembali wajah istrinya, menguncinya pada mata indahnya yang telah membalas tatapannya. Saling mencurahkan rasa rindunya, melepasnya tanpa ingin ada yang mencegahnya.


Menyatukan jemari tangannya kala penyatuan dari yang lainnya itu terpaut, membawa kedua bibir itu saling bersahutan dalam cumbuan mesranya. Saling tersenyum dalam kegiatannya, tak ayal saling berdendang dalam tempo tanpa irama.


"Sam." Sahut Tara kala bibirnya terlepas dari cumbuannya. "A-aku." Ungkapnya terbata-bata di saat sang udara berhamburan dari dalam paru-parunya. Namun sang mata yang tinggal separuhnya terbuka tak lepas menatap wajah suaminya hingga mendapat balasan tatapan nikmat dari pria yang menyeringai ceria di sana.


"Nikmat bukan?" Sahut Sammuel di sambut cengkraman kuat pada bahunya dari kedua tangan istrinya yang telah kembali menutup rapat kelopak matanya.


"Lebih nikmat kalau kamu ngelakuinnya sama yang kamu cinta." Balas Tara memancing, namun membuat kegiatan itu terhenti seketika.


Sammuel menghentikan kegiatannya, ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya untuk menyembunyikan lirihannya, menenangkan hatinya sejenak dengan pejaman matanya di sana. "I'm so sorry my Art Tara." Lirihnya penuh penyesalan membuat sang istri terperangah dalam kejutannya menerima panggilan mesra itu.


"Sam." Sahut Tara terbengkalai kala tubuhnya kembali bergerak yang terpicu dari gerakan tubuh suaminya membuat kedua tangannya tidak terkendali untuk tidak mencengkram punggung suaminya.


Di dalam angan bergejolak rasa sesal, Sammuel melampiaskannya pada gerakan tubuhnya yang kian membuas di sertai cengkraman kuat pada tempurung otak istrinya. Melepas kesungguhannya atas ucapannya sesaat lalu.


"Sayang stop bahas itu!" Protes Sammuel memaksakan diri menatap wajah istrinya lantas membungkam mulut mungil itu dengan cumbuannya.


Hanya sesaat, kegiatan mereka tersendat kala Sammuel membawa tubuh istrinya dalam pangkuannya untuk menuju sofa yang tersedia di dalam ruang tidurnya.


Satu jam telah berlalu mengiringi kegiatan mereka di atas sofa itu. Kini tubuh Tara melunglai di atas pangkuan suaminya.


"Kamu gila Sam, aku harus mandi lagi." Celoteh Tara bersungut ringan. Tidak mampu ia melepas katanya dengan lantangnya ketika paru-parunya masih meraih serpihan udara.


"Nanti gue bantuin, gue juga belom mandi." Balas Sammuel menyahut keras seperti hatinya yang kini menyahut pekat pada rasa sayangnya membuat sang istri menarik wajahnya dari ceruk lehernya bahkan mengalungkan kedua tangannya pada lehernya dalam tatapan kagum pada wajah tampan bergaris keturunan asia itu.


"Soal syarat terakhir aku_" seru Tara terpenggal oleh gerakan tangan suaminya yang mengusap puncak kepala itu penuh rasa cinta yang terpancar dari lubuk hatinya meski masih belum di akuinya.


"Sepenting itukah yang lo ajuin itu?" Sahut Sammuel di balas anggukan antusias sang istri tercinta yang masih menumpukan tubuhnya pada pangkuannya. "Kalo ada syarat lain, gue baru kasih syarat itu." Imbuhnya berkilah, menepis dustanya dengan mengusap pipi itu dengan punggung telunjuknya, membubuhkan rasa sesalnya di atas sana.


"Maksudnya?"


"Gue harus nambah syarat kalo lo minta syarat itu." Balasnya tak bersarat di saat dirinya berpusat pada pikirannya yang menyeringai menyeramkan di dalam asmanya.

__ADS_1


"Ga jadi masalah." Sahut Tara tak acuh mengabaikan tatapan penuh misteri yang masih berlangsung itu lantaran kini ia masih meresapi gerakan telunjuk tangan yang masih mengusap pipinya.


"Art, lo jangan maksain diri, yang sakit bukan gue."


"Sammuel." Tara menepis tangan itu, lantas kembali menelusupkan wajahnya pada ceruk leher suaminya. "Aku udah biasa sakit hati, makanya izinin aku buat bahagia kali ini aja. Kebahagiaan aku ada di kamu semua." Imbuhnya berserah diri membuat sang suami tertegun ngeri membalasnya.


"Oke gue terima syaratnya, tapi lo juga harus terima syarat gue." Putus Sammuel memaksakan diri kala sang hati bertolak dengan ungkapannya hingga membuatnya memejamkan kedua matanya mengiringi penyesalannya yang tidak mampu membalas cinta itu, lantas ia mengecup sekilas puncak kepala istrinya.


"Apa syaratnya?" Janggal Tara tersendat sejenak kala tangan jenjang itu meraih wajahnya, membawanya menghadapnya.


"Setiap tender yang lo ambil, harus atas izin gue." Pinta Sammuel keras, sekeras jemari tangannya yang telah berhasil menjepit dagu sang istri membuat empunya menghela napas rancunya.


"Sam." Batin Tara melirih jernih, membayang jika ia telah melupakan jika sang suami terlalu keras hati.


"Lo ga sanggup?" Tanya Sammuel penuh janggalan dalam matanya yang memicing menatap sang istri yang telah menggelengkan kepalanya di hadapannya namun bukan menjawab 'tidak' melainkan ia mulai frustasi menentukan pilihan yang sama berartinya baginya.


"Aku simpen lagi syaratnya sampe dapet yang lebih penting." Putus Tara setengah hati hingga membuat wajahnya tertunduk kaku.


Faham betul Sammuel dengan lirihan istrinya, namun memang ini rencananya agar istrinya tidak terhanyut terlalu dalam dengan asmaranya yang di yakininya akan membuahkan kepedihan di kemudian hari lantaran nasib naasnya yang sulit untuk membalasnya.


"Mau mandi lagi?" Tanya Sammuel berkilah mengalihkan bahan perbincangannya.


"Aku mau istirahat aja, besok harus ke Bandung kontrol kerjaan kostan ade ipar aku." Patah sudah semangat itu setelah mendapatkan penyenggalan atas keinginannya hingga nada bicaranya melemah, begitupun tenaganya yang terkuras.


Tanpa berkata, Sammuel bangkit berdiri, membawa sang istri dalam pangkuannya hingga kakinya mengayun dan menepikannya di hadapan kasur empuknya. Lantas tanpa mendapat tolakan dari sang istri yang hanya terdiam, ia melepas pangkuannya dengan lembutnya, merebahkan tubuh itu di atas tempat tidurnya.


Tepat kala ia terbaring di samping sang istri yang telah menyambutnya dengan dekapannya, ia membenamkan bibirnya di atas puncak kepala yang menelusup dalam dadanya. Bukan untuk ucapan selamat malam, melainkan ia melepas rasa sesalnya yang telah mengoyak batinnya tat kala sang hati tidak mampu membalas cinta sang istri.


Hingga alam mimpi telah menyambut jiwa sang istri, ia mulai melepas rasa sesalnya perlahan untuk menyusul sang istri menuju alam mimpinya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2