
‘Seorang aktris papan atas Maudy Sanaya terekam kamera tengah berada di sebuah Villa bersama seorang pengusaha muda’
Brak!
Di dalam ruang kebangsaan milik General Manager perusahaan nomor satu dalam negri itu Tara yang duduk di atas kursi di hadapan meja kerjanya, tanpa sengaja kedua telapak tangannya menggebrak meja itu setelah melihat kabar berita dari alat medianya satu menit yang lalu.
Dua pria yang duduk saling bersebrangan di atas kursi sang pemilik ruang terperangah dalam kejutannya mendengar suara nyaring yang berasal dari meja di samping mereka.
“Kenapa lo?” tanya Sammuel di iringi wajah herannya yang menyorot janggal wajah istrinya yang memerah seolah menahan amarahnya.
“E-engga kenapa-kenapa kok,” sahut Tara terbata-bata kala ia enggan memberitahukan jika dirinya telah cemburu terhadap wanita yang menjadi bahan berita di balik saluran media itu.
Lantas Tara duduk manis dengan gerakan kakunya untuk menutupi rasa malunya meski sudah tiada yang melihat ke arahnya kala sang suami kembali berbincang dengan sahabatnya.
Kini Tara kembali menatap alat media yang tersedia di atas meja itu untuk menggali lebih dalam kisah kasus dari berita seorang wanita yang sempat di temuinya beberapa saat lalu itu.
Sebuah klarifikasi dari seorang wanita bernama Maudy Shanaya itu membuat Tara geram kala sang wanita mengucap sebuah kalimat penuh dustanya, yakni jika ia membenarkan kabar burung tentang hubungannya bersama seorang pria.
Tara jelas emosi mendengarnya jika seorang pria yang di maksudkan wanita yang tengah berceloteh di balik alat medianya itu adalah sang suami tercinta.
“Apaan, dia ngaku secara langsung?” sewot Tara bergeming nyaring hingga kembali mebuat perbincangan kedua pria yang berada di sekitarnya terhenti seketia.
Sammuel serta Nicky menolehkan arah pandangnya kepada wanita satu-satunya yang berada di ruang itu secara bersamaan, mereka tidak mengerti dengan maksud dari kalimat wanita itu.
“Ngaku apa?” tanya Sammuel mengulang ucapan istrinya.
“Kamu lihat aja sendiri di akun gosip, muka kamu masuk berita kriminal tuh,” sahut Tara di iringi lelucon ringannya untuk sekedar menghibur diri yang telah bergemuruh emosi.
Sammuel membungkam mulutnya, membalas pernyataan istrinya dengan segera meraih alat medianya dari dalam saku tuxedo atasnya, lantas tanpa melakukan hal lainnya ia segera mencari kabar berita yang di maksudkan sang istri dari balik sana.
Rupanya Nicky yang telah menyimak perseteruan ringan di pagi yang masih di iringi sinar ultra violet itu merasa penasaran dengan perbincangan mereka hingga ia pun meraih alat media miliknya.
Beberapa menit kemudian, sudut bibir Sammuel terangkat manis penuh kemenangan setelah mengetahui sebuah gosip yang membuat istrinya menggebrak meja saat lalu hingga mendapat sambutan dari sahabatnya yang menatapnya beriringan dengan senyuman tanda pengucapan selamatnya.
“Lo cemburu?” tanya Sammuel di sela tatapan ledeknya pada wajah istrinya yang telah bergerak kikuk di sana.
“Enak aja cemburu!” balas Tara menepis ucapan yang sesungguhnya benar adanya.
“Ya udah biarin aja kalo gitu,” ungkap Sammuel membuat sang istri mengumpat sebal dengan suara lemahnya.
Tak acuh Sammuel mengabaikan mulut yang tengah komat-kamit itu dengan melanjutkan kembali perbincangannya bersama sang sahabat yang sejak tadi menahan tawanya.
Tara jengah dengan sikap acuh itu hingga membuat batinnya meronta menyerukan niatnya, seandainya Nicky tidak berada di sana, maka ia akan dengan mudah menggunjing suaminya dengan ucapan sarkasnya.
Namun kini ia hanya mampu mengusap dadanya hingga menghela napas dalamnya berulang kali untuk meredakan emosi yang bergejolak tanpa bisa di cegahnya itu.
******
Hening berbaur menyambut suasana canggung yang melanda dua orang insan yang berada di dalam ruang khusus seorang Pengacara perusahaan di pagi itu.
Triana serta Hanson kelabakan mengatur perasaannya kala Fiona berada di sekitar mereka, namun bagi Fiona sendiri tak acuh mengabaikan kehadiran sepasang insan yang akan segera meresmikan hubungannya itu.
Terbukti dari keadaannya kini, dengan santainya ia beranjak dari kursi di balik meja kerjanya untuk menghampiri atasannya yang masih duduk gelisah di atas kursi kebangsaannya.
__ADS_1
Tepat setelah ia berdiri di hadapan sang atasan, ia menyerahkan sebuah map berisikan lembar kertas di dalamnya kepada mantan kekasihnya.
“Pak.. ini dokumen kasus Pak Cakra udah beres di catat dan di selidiki,” ujar Fiona di sertai senyuman polosnya di balik wajah cantiknya tak lantas menatap kagum wajah tampan yang masih menjadi pusat perhatiannya hingga kini.
“Hmm,” dengung Hanson yang sudah kebingungan untuk menyahut tatapan serta senyuman yang membuat hatinya sejenak berpaling untuk mengagumi tingkah wanita itu, kini wajahnya tertunduk kaku menahan helaan napasnya yang merancu akibat hatinya tergores luka di sana.
Rasa sesal kembali meluluhkan batin Hanson saat terngiang perlakuannya dahulu kala terhadap wanita lugu itu, ia mengumpat dalam batinnya untuk dirinya sendiri kala mengingat kebodohannya yang telah menguasainya hingga ia tidak pernah menyelidiki seluruh kegiatan mantan kekasihnya itu.
Mungkin rasa benci terlebih dahulu menemuinya hingga ia tidak pernah memberikan rasa simpatiknya barang sedikitpun terhadap wanita itu, hingga pada akhirnya tidak pernah tepikirkan sama sekali olehnya untuk mencari tau letak kesalahan yang sesungguhnya.
“Pak,” panggil Fiona sengaja memecah lamunan pria itu.
Hanson mendongkak, memaksakan diri menatap wajah Fiona meski lirihan tersirat di baliknya yang enggan sekali ia memperlihatkannya pada siapapun, apa lagi pada mantan kekasihnya.
“Ya.” Bukan marah Hanson menjawabnya dengan kalimat singkat itu, melainkan bibirnya kelu, tidak terpikirkan jawaban apa yang harus di berikannya.
“Bisa bantu saya untuk meminta surat izin penangkapannya?” Fiona berucap dengan nada lemahnya saat keraguan melanda angannya jika saja pria itu akan menolaknya dengan keras setelah menilik nada bicara itu hingga membuat tangannya terprovokasi untuk saling menautkan jemarinya di depan tubuhnya.
“Bisa!” sahut Hanson berseru tegas bahkan penuh antusias membuat Fiona terperangah dengan jawaban itu.
“Makasih pak.” Terlalu bahagia, Fiona melupakan keadaan wanita selain dirinya di sana hingga ia berani menarik tangan sang atasan dari atas meja untuk menggenggamnya, menuangkan kesungguhan dari ucapan terimakasihnya.
Triana turut tersenyum melihat keadaan di sekitarnya, lantas terpikirkan olehnya untuk menghindari mereka berdua agar kedua orang itu mendapat kesempatan untuk saling mengutarakan keluhannya ataupun meluruskan kesalah fahaman mereka.
Tanpa bicara serta berpamitan, Triana membawa tubuhnya keluar dari ruang itu namun tidak sepenuhnya meninggalkan ruangan, ia tupanya berdiri di balik pintu ruang yang tertutup tidak rapat itu.
Sejenak Hanson melirik tubuh yang telah hilang di balik pintu ruang kebesarannya itu, namun tidak ia perdulikan saat kesempatan datang menghampirinya untuk segera mengungkap sesuatu terhadap wanita yang telah melepas genggaman tangannya.
“Gue udah tau semuanya,” seru Hanson berbalas tatapan janggal dari Fiona.
“Soal rencana abang sial*an gue yang bikin lo di benci sama gue.” Hanson berucap memekik seolah membubuhkan emosinya di balik nada bicaranya, sesungguhnya ia merasa kesal terhadap kakak keduanya.
“Oh i-itu emmm..” Fiona bergerak kikuk, ia menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali.
“Fi.. lo ga usah pura-pura bodoh lagi, gue udah tau semuanya!” ulang Hanson menegaskan hingga nada bicaranya lebih memekik di bandingkan sebelumnya.
Fiona bungkam, tubuhnya seolah membatu di tempat, namun rasa lega menyeruak dari dalam asmanya jika sang pujaan hati telah mengetahui bahwa dirinya tidak salah sama sekali. Hanya jasa selama ini ia membungkamnya lantaran enggan jika dirinya berbicara secara langsung yang di rasanya tidak akan di percayai sama sekali oleh pria itu.
“Si Jack ga cinta sama lo Fi, apa lo yakin mau kawin sama dia?” tanya Hanson mencabik lamunan Fiona seketika.
“Yakin kok!”
“Yakin cuma buat pelampiasan kan?” Hanson berucap penuh keyakinan hati bahwa sang mantan tidak dapat berpisah darinya, kini ia beranjak dari kursi kebesarannya untuk menghampiri Fiona.
“Hans.. lo juga udah mau nikah, jangan bikin gue berubah pikiran.” Fiona geram, namun tatapan matanya mengikuti ke mana Hanson berjalan.
Setelah Hanson berdiri tepat di hadapan Fiona, tanpa meminta izin ia mendekap erat tubuh ramping itu membuat empunya terperanjat dalam kejutan bahkan tidak mampu berontak sedikitpun.
“Emang semua udah terlambat, tapi_” Hanson memenggal katanya kala bibirnya terbenam di atas puncak kepala mantan kekasihnya. “Maafin gue.”
Fiona mendorong kasar tubuh itu dengan kedua tangannya berusaha melepaskan bibir itu dari tempurung otaknya. “Hans, lo mau bikin calon istri lo cemburu?”
Hanson tersenyum simpul menanggapinya tak lantas melepas dekapan kedua tangannya yang sebelumnya tidak berhasil terlepas oleh dorongan kuat dari Fiona.
__ADS_1
“Lo boleh ngutuk gue apapun,” seru Hanson meminta namun di rasa Fiona seperti sindiran hingga membuatnya mendengus sebal.
“Gue masih punya perasaan.” Fiona menyahut.
“Gue tau gue brengs*k,” ungkap Hanson penuh penyesalan.
“Lo baru nyadar?”
“Kenapa juga lo nurutin kata si Jack?”
“Demi lo!” balas Fiona mulai tegas saat bendungan air matanya mulai retak.
“Lo udah salah.”
“Gue tau!”
“Jangan sampe nyesel buat kedua kalinya,” pinta Hanson yang terdengar ancaman bahkan ledekan oleh Fiona.
“Udah biasa!”
“Lo ga mau maafin gue?”
“Udah dari dulu gue maafin.”
“Lo_ lo ga bisa anggap gue jadi abang lo?”
“Ga bisa!”
“Kenapa?”
“Lo adik gue, adik ipar gue!” Sudah tak mampu Fiona menahan air payau itu yang sudah mendesak sudut matanya hingga tergesa ia memutar tubuhnya tak lantas mengayunkan kakinya menuju meja kerjanya kembali.
Dalam langkahnya Fiona tertegun meresapi isi hatinya yang telah menginginkan pria itu mengucapkan untuknya mengembalikan status hubungannya seperti dahulu kala, tidak di pungkirinya jika ucapan tentang pelampiasan itu di terimanya.
Hanson termenung di tempat, meresapi pertikaian mulutnya saat lalu yang telah melupakan status mantan kekasihnya yang akan berubah menjadi kakak iparnya.
Sesungguhnya hatinya merasa keberatan dengan keadaannya itu kala ia mengharap jika wanita yang kini kembali di inginkan hatinya tidak menjadi pasangan dari pria yang di ketahuinya tidak mencintainya.
Cinta tak berbalas adalah sesuatu yang selalu di dapati wanita itu, Hanson cemas jika Fiona akan kembali mendapat luka di hatinya jika harus terpaksa menerima tawaran kakaknya.
Hingga pada akhirnya meski ia ingin menyangkalnya, ia berusaha sekuat hati untuk tidak mengatur garis cinta mantan kekasihnya jika saja itu yang di inginkan sang wanita, ia berniat membantu di belakangnya saja.
Merasa puas dengan keputusan sang hati, Hansonpun kembali mendaratkan tubuhnya di atas kursi kebangsaannya.
Sementara di balik pintu ruang itu, Triana mengusap dadanya pertanda hatinya merasa lega meski hatinya bertolak dengan itu lantaran api cemburu membakar angannya.
Namun ia hanya mampu menahannya saja tanpa ingin mengutarakannya pada siapapun itu, dan hanya air matanya lah yang menjadi obat luka dari goresan di dalam kalbunya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc