Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 155


__ADS_3

Saat Sammuel berjauhan dengan sang istri tercinta, membuat hari yang di lalui Sammuel terasa hampa. Namun, pekerjaan yang menantinya tidak mampu memilih untuk tetap berada di samping istrinya itu.


Batinnya bergemuruh penuh duka tat kala rasa rindu menggerogoti jiwanya, walaupun baru satu hari terpisah dengannya, namun rasa ingin bertemu dengan pujaan hatinya selalu saja datang menghampiri dirinya.


Gundah dan gelisah berperang menyerbu pikirannya tanpa ia ketahui pasti penyebab itu terjadi, hanya saja bayangan wajah cantik sang istri yang selalu membayang dalam ingatannya menjadi alasan satu-satunya penyebab itu terjadi.


Malam pun nampak tak berbintang seolah menggiring kerancuan yang menelusup ke dalam angannya. Sammuel berpasrah diri setelah berjam-jam melakukan pekerjaannya, kini ia baru dapat merebahkan tubuhnya di atas sofa yang terdapat di villa tempat ia menginap untuk sementara. namun masih saja sebuah alat media menantinya, di mana ia mendapat pesan dari asisstant pribadinya mengenai istrinya.


Ia pun mulai membuka pesan itu dan melihat gambar serta suara yang ada di baliknya. Tiada yang mengetahui jika lampu merah yang berkedip di sudut rak buku yang terdapat di ruang kebangsaannya, bukan hanya perekam video saja melainkan dengan suaranya.


Tangannya mulai terulur dengan sangat lemah kala rasa ragu menyertai dirinya, Meski demikian ia tetap menekan tombol pemutar rekaman itu untuk memulai siarannya.


"Mau bilang aku gak cepet bertindak kaya si Sam, kamu tau kenapa aku gak mau gitu? Aku gak mau maksain kamu, aku yakin ada alesan di baliknya. Sekarang aku tanya sama kamu, kamu jawab jujur, kalo harus milih antara aku sama si Sam, kamu mau milih siapa?"


Kalimat per kalimat dari bibir Jackson pun terungkap, bahkan dari beberapa bait kalimat itu membuat Sammuel merasa penasaran akan jawaban istrinya. Pertanyaan itulah yang sesungguhnya ingin sekali Ia tanyakan kepada istrinya, bahkan sejak mereka menjalin ikatan pernikahan, pertanyaan itu selalu muncul begitu saja. Namun semua kalimat itu belum pernah terucap, mungkin karena rasa gengsi masih menepisnya dengan kerasnya.


"Kamu! Aku pilih kamu.”


Jawaban dari istrinya itu begitu sangat mengejutkan baginya, hingga membuat emosinya memuncak dari dalam asmanya. Jika seandainya sang istri berada di dekatnya, mungkin ia sudah mencengkram kuat tubuhnya agar tidak terlepas dengan mudahnya.


"Jangan ngomong sama si Sam."


Imbuhan dari jawaban sang istri membuat amarahnya kian memuncak, namun ia masih melanjutkan melihat serta mendengar rekaman itu.


"Oke aku puas dengernya, aku juga ga akan maksain kamu. Aku udah relain kamu buat si Sam asal kamu seneng. Tapi aku minta sama kamu, jangan larang aku buat tetep cinta sama kamu, sampe kapanpun aku ga bisa lupain itu."

__ADS_1


Suara lirihan yang menggundam kepedihan dari Jackson ini rupanya menjadi sayatan pedih di dalam batin Sammuel. Sejenak Sammuel tertegun, memikirkan tentang apa yang di utarakan kakaknya, ia pun menyadari jika dirinyalah yang telah merenggut cinta kasih seorang wanita dari kakaknya.


Tidak!


Batin Sammuel menolaknya, tidak ada seorangpun yang saling merenggut saat kesucian cinta terpancar dengan sendirinya dari sang istri untuk dirinya.


"Kenapa?"


"Karna aku tulus, aku tau apa yang kamu mau, aku cinta kamu bukan karna pelampiasan kaya si Hans ke si Triana, atau karna sesuatu pertukaran kaya kamu sama si Sam."


Sammuel menggumam dalam benaknya, tidak pernah terpikirkan olehnya jika hubungan yang terjalin dengan istrinya atas dasar pertukaran semata. Namun kenyataannya memang demikian, ia pun baru menyadarinya kini setelah celotehan sang kakak berhasil menembus batas hatinya.


"Tapi aku cinta sama dia bukan karna yang lain."


Ungakpan sang istri di balik layar alat medianya membuat batinnya sedikit merasa lega, setidaknya ia mendapat ketulusan cinta darinya tanpa ada perantara yang lainnya.


Bungkamnya mulut Tara yang tak terdengar lagi suaranya di balik benda itu membuat Sammuel mengerti bahwa sang istri membenarkan perkataan kakaknya, Ia pun memahaminya bahwa hatinya mulai melepuh memendam rasa bersalah.


Tidak pernah ia merasa sakit hati terhadap istrinya, hanya emosi yang terpicu dari rasa cemburu yang selalu di lepaskan pada sang istri, saat ia merasa tidak ingin jika seseorang mengambil sesuatu miliknya yang kini menjadi sasaran perasaannya terhadap sang istri.


Ia mulai membatin lirih, memejamkan kedua matanya serta mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas dengkulnya. Sepertinya, ia memendam rasa kecewa pada dirinya sendiri dengan hanya gerakan tubuhnya saja saat sang istri tidak berada di sekitarnya.


"Kamu cuma baper sama dia Art, karena cuma dia yang bisa ngeluarin kamu dari lingkaran sesat hidup kamu. Tanpa kamu mikir dua kali, kamu tanggung akibatnya semua, kamu ngorbanin perasaan sama status kamu, bahkan kamu bohongin keluarga kamu cuma karena kamu mau balas dendam sama mereka. Asal kamu tau kenapa aku gak cepet bertindak sama kamu?, Aku ngajarin kamu biar kamu bisa ngikutin kata hati kamu, biar kamu bisa dapetin kebebasan kamu. Bukan gini caranya Art, bukan nikah rahasia malah sampe ada bayaran sama perjanjian segala."


Sammuel masih mencerna semua perkataan kakaknya seraya mencari tau isi hatinya yang sesungguhnya seperti apa adanya, hingga kini ia belum dapat menentukan perasaan cintanya kala rasa bersalah lebih menggerogoti angannya.

__ADS_1


"Kamu inget mimpi kamu yang selalu mau jalanin hidup normal? Apa kamu ga tau kalo aku nahan perasaan aku sama kamu cuma karena mau bikin kamu jalan sendirian untuk ngeraih mimpi kamu itu. Pernah ga kamu sadar sama niat awal dia? Pernah ga kamu sadar sama niat awal kamu?"


"Mungkin aku udah terlanjur masuk ke zona nyaman sampe lupa sama semua."


Jawaban Tara merupakan jawaban darinya pula, hanya zona nyaman yang menjadi sebuah jawaban yang tepat baginya. Yah.. dia merasakan cemburu itu berasal dari emosinya lantaran tidak ingin terhempas dari zona nyaman itu.


"Tapi kamu tau, bener yang kamu bilang, aku cepet baper karena aku butuh itu, butuh kasih sayang."


"Itu lah Art yang bikin kamu makin jauh dari kebebasan, kamu gampang di manfaatin, aku ga mau itu, demi Tuhan ga ada sedikitpun aku niat kaya gitu. Cinta juga butuh perhitungan Art, butuh siasat biar kamu ga nyakitin semua orang, biar ga ada pengorbanan di baliknya."


"Oke aku percaya, jadi stop!"


Tangisan dari istrinya yang terlihat di balik layar itu kini memicu kepedihan atas penyesalan baginya hingga tanpa terasa ia pun menitikkan air matanya, meresapi bayangan diri pada kejadian silam di mana ia telah menyakiti batin sang istri.


"Sorry, aku cuma mau tenangin hati aku, seenggaknya aku lega sekarang."


Benar, Sammuel pun merasa lega setelah mendapat hasil akhir dari kebenaran hatinya yang selalu bertanya-tanya apakah ia mencintainya atau tidak.


Cinta memang ia mencintainya, namun ia tidak menyayanginya hingga keegoisan itu membuat istrinya terluka bahkan melukai dirinya sendiri.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2