Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 175


__ADS_3

Dalam setiap temu selalu ada rindu. Itulah yang diinginkan sang menantu saat sampai di depan bangunan mewah. Hatinya menggebu memburu waktu membawanya pada pertemuan bersama sang mertua. Dan tempat yang menjadi awal penepiannya adalah ruang tamu utama.


Sesuai kesepakatan Jackson dengan adiknya, selepas waktu untuknya bekerja selesai, Tara memenuhi ajakan Jackson untuk membantu membawakan gadis cilik kepada neneknya.


Belum sempat ia menggapai tujuan, di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Celia. Sambutan haru tersirat di balik mata yang berkaca-kaca, tak ayal semyum ceria menyertainya.


"Kapan ibunya nganter dia, Jack?" Celia melepas rindu, merebut paksa Queena dari tangan menantunya. Tatapan tertuju pada wajah pria yang terpanggil namanya, di sambut tawa gemas oleh sang empunya.


"Siang tadi, nganterinnya ke kantor," sahut Jackson.


"Queena ga akan di ambil lagi sama ibunya." Tara menyahut, memperjelas ungkapan Jackson yang tidak usai.


Benak Celia bersorak riang, mendengar pernyataan yang selalu menjadi impian. Rasa lega merangkak, menembus angan hingga mengutarakan dengan helaan napas dalamnya. Sehingga ia terlupa mempertanyakan alasan di balik itu. Tanpa ingin membuang banyak waktu, Celia berlalu tanpa pamit dari hadapan kedua tamunya. Membawa Queena bermain bersama, di dalam ruang yang selalu menjadi tempat mereka bergembira.


Tingkah kekanakan itu, di sambut Jackson serta Tara dengan gelengan kepala. Tanpa ingin mengejar langkah memburu itu, mereka melanjutkan perjalanan, menggapai tujuan berbeda dengan Celia. Mereka melangkahkan kaki hingga menepi di dalam ruang tamu utama.


Kejutan datang menghampiri sepasang insan itu, tatkala melihat sosok pria sudah duduk gagah di atas sofa yang tersedia tengah berbincang dengan sang tuan rumah. Menilik keadaan itu, mereka saling bertukar pandang, mengutarakan kejanggalan dengan isyarat tatapan saja.


Sudah dapat di pastikan, jika kunjungan Sammuel hanya untuk menguntit kegiatan semata. Tidak menjadi beban untuknya, mereka bergegas mencari tempat yang tersedia untuk menumpukkan tubuhnya.


"Apa hari ini badai akan melanda?" Erick menyapa dengan leluconnya, tatapan mata tertuju pada anak pertamanya, sebagai pertanda ungkapan tertuju untuknya.


"Aku bawa Queena buat istrimu." Jackson menyahut tanpa dosa, bahasa non formal itu tidak membuat Erick tersinggung sedikitpun. Pasalnya, sudah menjadi kebiasaan mereka, berbincang dengan gaya demikian adanya.


"Syukurlah jika ibunya mau-" tutur Erick terpenggal penjelasan Jackson.


"Dia ga akan di ambil lagi sama ibunya." Jackson menimpali penuh percaya diri, merasa jika ungkapannya akan membuat sang ayah tersenyum riang.


Namun, di luar perkiraan, Erick memicingkan matanya. Menatap dendam menuju wajah yang mulai gelagapan di sana.


"Kamu ga paksa ibunya untuk itu 'kan?" tanya Erick memastikan.


Jackson menggelengkan kepala, sebelum menyahut dengan suara. "Ga lah." Singkat kata yang terucap, di sambut senyuman paham oleh ayah tercinta.


Di sela perbincangan anak dengan ayahnya di sana, sepasang insan yang duduk saling besebrangan menggundam kepiluan. Hawa canggung membaur di sekitar mereka, ketika melihat tingkah Jackson yang di lakukan secara sengaja.


Jackson masih berusaha mencari arti dari hati seseorang di sana, ia sengaja menggoda pria itu agar dapat memancing perasaannya. Sebelah tangannya meraih pinggang mantan kekasihnya, memberikan dekapan mesra pada wanita yang duduk tepat di sampingnya.


Lirikan mata Sammuel mengandung beribu makna, tersibak dengan mudahnya oleh Jackson di kala embusan napas rancu menyertai. Begitupun dengan Erick, sedikit banyak ia mengetahui maksud dari tingkah para tamunya. Menerka-nerka jika sesuatu telah terjadi kepada mereka.


Pasca pertemuan dengan Sammuel di malam itu, Erick menunggu jawaban dengan hanya memperhatikan kedua anaknya dari arah kejauhan. Kini, jawaban telah ia dapatkan, setelah melihat tindak tanduk Sammuel yang mencurigakan.


Napas Erick berembus lantang, menyerukan rasa bersalah yang merangkak di dalam angan. Tiada pernah ia setega itu, ingin memutuskan tali pernikahan sepasang insan yang sudah saling menyayangi. Tidak hanya asal menerka, perasaan sayang itu telah terpancar dari sorotan mata Sammuel menuju tangan yang menggait pada pinggang istrinya.


Dapat di rasakan Erick, api cemburu membakar angan Sammuel, sehingga memaparkannya pada rona yang melepuh di balik wajah tampan itu.

__ADS_1


Sementara Tara berusaha mencari cara, agar kegiatan mantan kekasihnya tidak menjadi buah emosi sang suami.


"Pih, sebenarnya aku datang ke sini mau bicarakan tender platinum. Aku menyetujuinya, asalkan Raymond di terima sebagai pemegang sahamnya," ujar Tara melerai picingan mata dari tiga pria yang berada di sekitarnya.


"Oh, bukannya itu keinginanmu, Jack?" tanya Erick kepada Jackson, membuat pria yang menjadi objek tatapannya bergerak tidak karuan.


Usaha keras menyembunyikan siasat dari seluruh adiknya, kini tersibak akibat olokan ayahnya. Jengah sudah ia di buatnya, sehingga tatapan murka tersorot menuju wajah ayahnya.


Erick tertawa kecil menyikapi tingkah itu. Hanya dengan tatapan tajam anaknya, ia telah mampu menyibak suatu makna.


"Pemikiran kalian klop juga, kalian pantas jadi pasangan, hati kalian udah menyatu," ungkap Sammuel berseru ketus, mengutarakan sindiran pada pria yang menjadi bulanan rasa cemburunya.


Sesungguhnya, ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, agar tidak lagi mencemburui wanita yang masih memiliki ikatan resmi dengannya itu.


Tara mendengus sebal, menyikapi ucap cibiran yang berhasil menusuk kalbunya. Namun, emosi seketika sirna, ketika terbesit sesuatu di dalam angan.


"Jadi, kamu terima tender itu, alasannya karna si Raymond juga, Jack?" Tara mengungkap kejanggalan, berbalas lenguhan pasrah dari Jackson.


Tiada kata terucap untuk jawaban, Jackson hanya menganggukan kepalanya sebagai wakil pernyataan membenarkan.


"Baiklah, karna kalian udah sepakat, kita oprasikan secepatnya," tutur Erick memberi keputusan, agar persetujuan dari Tara tidak di tariknya kembali. Seperti apa yang di inginkannya, Tara menyetujui, membuat binar ceria terukir di balik wajah yang berseri.


"Sesuai yang di rencanakan, lusa akan di lakukan." Jackson menyahut penuh percaya diri, di sertai seringai kemenangan yang tersirat di balik wajah tampannya.


Erick membalas seringai itu dengan senyum kekaguman, ia yakin jika Jackson telah menebak bahwa Tara akan menyetujuinya. Sehingga rencana ketetapan waktu telah di mantapkan.


"Udah puas kah kau bikin anakmu terpojok?" Jackson menimpali ucapan ayahnya, tetapi tatapan tertuju pada wajah wanita satu-satunya yang berada di dalam ruang tamu bertajuk langit itu.


Tara kesulitan membalas tatapan itu, wajahnya tertunduk kaku, menyembunyikan kerancuan yang terpicu dari sebelah tangan yang masih setia merangkul pinggangnya.


Gerak-gerik gelisah yang terpampang itu, membuat Sammuel tersadar akan kerancuan yang di rasakan oleh istrinya. Matanya tak henti menatap ke arah tangan kakaknya, sehingga membuat api cemburu kian menjalar menembus batas emosi.


Tiada mampu menahan rasa, Sammuel beranjak dengan tergesa. Tanpa mengucap pamit, ia menyeret tangan istrinya.


"Pih, Jack, aku pulang." Di sela langkah kaki yang tercipta dari seretan pada tangannya, Tara mengucap pamit setelah menerka jika sang suami akan membawa pergi dari tempat itu.


Perlakuan kasar itu, selalu memancing rasa cemas dua orang pria yang tertinggal di dalam ruang. Mulut mereka terbungkam rapat, di saat angan mengucap keinginan agar Sammuel bisa mengubah sikap buruknya sesegera mungkin.


********


Duka menyentuh asa sepasang insan yang telah berperang tatapan murka. Batin terkoyak rapuh, bersirat noda membelenggu dilema.


Di dalam ruang tidur yang selalu menjadi saksi bisu kegiatan romansa pembawa kenikmatan itu, keheningan tak kunjung membaur di sekitar Sammuel serta Tara. Sejak saat mengangkat kaki dari kediaman Erick, suara-suara ciri khas tiada terdengar sedikitpun.


Sammuel menunggu pengakuan istrinya, yang telah tega melakukan hal mengerikan di hadapannya saat lalu bersama kakaknya. Namun, tiada kunjung Tara memahami, hingga kini ia bergelut dengan pekerjaannya, mulut itu masih terbungkam rapat.

__ADS_1


Lenguhan dalam kerancuan, menembus gendang telinga Tara tak hanya satu kali. Namun, tak acuh ia mengabaikan, sebelum sang suami mengatakan alasan yang tersembunyi di balik sikap itu.


Waktu bergulir cepat, kesunyian kian meresap ke dalam suasana. Sammuel mulai resah, sehingga ia berpangku tangan, berdiri di samping istrinya yang sedang menata busananya ke dalam koper. Pasang matanya menatap murka pada barisan pakaian yang tertata rapih di dalam koper itu, mengira sang istri telah mengatur siasat di kala ia berada di negri orang.


"Lo mau gue pergi lama?" tanya Sammuel mengungkap pikiran buruknya, nada jengah mewakilkan emosi yang sudah tidak dapat tertahankan.


"Apa maksud-"


"Siapin baju gue sebanyak itu, bukan itu maksud lo?" Kian jengah, nada ketus berura kelam terlontar begitu mengerikan.


Amarah yang terungkap dari wajah dendam itu, di balas Tara dengan lenguh kepedihan. Aura dendam yang terpancar dari helaan napas dalam, mendobrak bendungan air matanya. Wajah tak lagi dapat terangkat, sehingga melunglai menyembunyikan tetesan air payau dari sudut matanya.


Samar-samar getaran tubuh tara menyayat penglihatan Sammuel, membuat rasa iba bergejolak di salam asmanya. Sadar akan kesalahan yang telah di perbuat, Sammuel menarik tubuh itu hingga larut dalam dekapan kedua tangannya.


Kecupan mesra mendarat pada puncak kepala yang terbenam di dalam dadanya, menyemburkan permintaan maaf dengan hanya isyarat tubuhnya saja. Dekapan kian erat, berbalas rangkulan tangan tak kalah rekatnya.


Pelukan saling mengunci, seolah melepas salam perpisahan di sana. Tatapan mata saling menghindari, di kala kelopak mata merekat begitu pekatnya, menahan kepedihan tanpa tau penyebab yang pasti.


"Sam, i love-" Ungkapan cinta terpenggal oleh isak tangis yang tak dapat di cegahnya. Tara kian menelusupkan wajah pada dada suaminya, memberikan kesan kepedihan agar ketegaran yang terlihat sang suami.


Terabaikan ... ucapan itu tak kunjung mendapat jawaban. Hanya lenguhan miris yang terdengar Tara di sana.


Barisan kata yang terucap di balik nada paraunya, merenggut emosi Sammuel seketika. Lantas, rasa iba menjelma, membuatnya kesulitan untuk menanggapi hal itu.


Tak kunjung sang hati mengizinkan untuk menyahut ungkapan itu, Sammuel melepas dekapannya. Namun, tubuhnya tidak dapat beranjak sedikitpun, ketika kedua tangan itu melingkar pada pinggangnya.


"Sorry-"


"Oke." Tara memenggal ucapan itu secepat cahaya, ketika menerka jika penolakan akan di dapatinya.


Tiada bisa ia memaksakan hati yang membenci, ia melepas gaitan tangan pada tubuh itu. Seolah merelakan hatinya mendapat luka, ia memberikan senyum di dalam tangisan.


Sammuel melenguh rapuh, membiarkan kesalah pahaman itu bersarang pada benak istrinya. Ia memberikan kesempatan, kepada sang hati agar dapat menentukan pilihan.


Tiada yang dapat di lakukan, setelah melepas ungkapan perpisahan, Sammuel mengangkat kaki. Berlalu begitu saja dari hadapan wanita yang telah membuat hatinya bimbang.


Kepergian Sammuel, meninggalkan duka yang teramat dalam. Bukan tidak ingin Tara merelakan, akan tetapi alasan kuat belum ia dapatkan.


Batin terkoyak luka, mendapati cinta yang terombang-ambing di atas lautan duka. Tiada mampu ia menahannya, tubuh merengkuh di atas balutan marmer. Nasib mempertemukan pada kegagalan, sehingga hanya isak tangis yang mampu mengobati kekecewaan.


Jeritan batin terungkap dengan deraian air mata yang kian deras mengalir membasahi pipinya, membuat seorang pria yang berdiri di balik pintu tak sanggup mendengarnya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2