
Senja membayang, menampakan sinar jingganya menerangi awan putih kala sore hari itu. Sebuah kantin mewah yang terdapat di dalam universitas ternama itu kini suasananya mericuh lantaran para murid tengah berada pada jam istirahatnya.
Tara sudah berbaris rapih di depan meja parasmanan kantin itu.
"Ultah kampus nanti kalian ikut partisipasi apa?" Ucap Adel melirikkan arah pandangnya ke sampingnya di mana kedua sahabatnya berada di sana.
"Ogah banget gue ikut-ikut begituan." Cibir Tania menolak keras di sela kegiatannya yang meraih santapannya ke dalam piring yang berada pada genggamannya.
"Sama gue juga males, mending nge-gym." Sambung Tara menyerengeh membuatbkedua sahabatnya menertawai tingkahnya. Selalu saja wanita ini mementingkan olah raganya dari pada kegitan berbelanja.
"Padahal ada tamu special dari ZhanaZ buat bimbingan fakultas bisnis." Ungkap Adel membuat Tara mendapat kejutan dengan pernyataan itu, namun ia menyembunyikannya di balik ucapannya.
"Siapa yang jadi tamunya?" Tanya Tara hanya untuk meastikan jika suaminya yang akan turut berpartisipasi. Terbukti dari perkataannya siang tadi kala pertemuan makan siangnya bersama sang suami jika suaminya mengatakan kepada kakaknya memiliki urusan di sore hari.
Mungkinkah menjadi bintang tamu untuk acara ulang tahun universitas itu?
"Entahlah, katanya pemimpinnya langsung." Jawab Adel, memecah lamunan Tara hingga menatapnya penuh picingan.
"Palingan si Sammuel, dia kan alumni di sini." Imbuh Tania kini kian membuat Tara terkejut.
"Bener juga lo, dia kan mahasiswa andalan di sini empat taun lalu." Sambung Adel yang lagi menyambut rasa kejut yang meluap dsri angan Tara.
Tara hanya menyimak perbincangan kedua rekannya mengenai suaminya itu. Diam-diam ia menyeringai mengagumi suaminya atas apa yang di utarakan kedua sahabat cantiknya.
"Pasti di specialin lah tuh orang, kalo bukan karna prestasi dia, nih kampus ga bakal jadi terkenal kaya sekarang." Ujar Tania kian membuat Tara mengagumi suaminya.
Akhirnya ketiga wanita tercantik dalam fakultas bisnis itu meninggalkan area parasmanannya menuju meja kosong yang tersedia. Mereka kini telah berhasil mendaratkan bokongnya pada kursi yang terdapat di sekitar meja itu.
"Kayanya soal acara ultah kampus gue bakal hadir, cuma palingan jadi penonton doang." Ujar Tara di sela kegiatan menyantap makanannya sebagai pembuka perbincangannya.
"Percuma dong kalo jadi penonton doang." Senggal Tania menatap heran wajah Tara yang duduk di sebrangnya.
"Kita emang ga punya kemampuan apa-apa selain jadi penonton kan?" Tanya Tara memastikan di balas Adel dengan gelengan kepalanya menepis pertanyaan dalam pernyataan itu.
"Ada, ikutan buka stand bazar pas__"
"Jangan ngarep, stand bazar udah penuh sama anak-anak konglomerat. Malah yang jadi pelanggannya bawa pihak luar, itu juga artis sama kalangan sosialita." Potong Tania penuh cibiran, menjengah dengan pekikan nada bicaranya membuat Tara mendapat alasannya.
"Nah kan? Kita cuma bisa jadi penonton doang kan?" Imbuh Tara meyakinkan.
"Lumayan lah jadi penonton juga bisa nontonin si Sammuel, pengen tau juga dia sehebat apa sekarang." Akhirnya Adel berbaur dengan keinginan kedua rekannya.
Kala itu Tania melirik arah depannya yang berarti arah belakang Tara. Kegundangan berseru di dalam angannya kala melihat seorang pria berjalan di sana. "Eh Ra lo jangan liat belakang, si Evan jalan ke arah sini tuh."
Tara mengangguk antusias lantas menolehkan arah pandangnya ke sampingnya di mana seorang wanita telah berbincang dengan rekannya pada meja terpisah dengannya. "Bahaya juga nih, si Aurell di kiri kita." Tara gundah hingga meraih minumannya lantas menyeruputnya hingga terhenti kala ia melihat sepasang mata kedua rekannya membelalak nyalang.
Tara merasa ada yang tidak beres dengan tatapan kedua mata sahabatnya kala ia merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Ia menerka jika seorang pria bernama Evan lah yang telah berhasil menemukan keberadaannya hingga berdiri di sampingnya.
Tanpa ragu, ia bangkit menghindari pandangannya dari seseorang yang berdiri di sampingnya itu. Namun tangannya berhasil tergenggam oleh orang itu seolah mencegah kepergiannya. Iapun berontak, tergesa mendaratkan tamparan pada pemilik tangan yang menggenggam tangannya.
"Art Taraaaaa." Dapat di dengar Tara bahwa nada itu meluapkan emosinya. Tarapun melirih setelah melihat wajah yang telah nenerah akibat tamparannya itu.
"S-Sam, so-sorry aku kira si Evan." Gagu Tara tidak enak hati hingga meraih pipi suaminya lantas mengusapnya pelengkap permintaan maafnya. "Pasti sakit banget. Maafin aku." Lirihnya penuh penyesalan membuat Sammuel meluluh, melepas emosinya begitu saja.
Sejenak Sammuel membisu, matanya mengedar melihat Adel serta Tania bergantian. "Siapa lo mereka?" Tunjuknya dengan dagunya pada kedua wanita yang telah menatapnya heran itu.
"Temen-temen aku, mau aku kenalin?" Tanya Tara kembali mendaratkan bokongnya pada tempat semula setelah mengetahui emosi itu terhempas dari suaminya yang terlihat dari wajah itu yang sudah sudi menyiratkan senyum penuh pesonanya kepadanya.
__ADS_1
"Ga perlu! Gue yakin mereka kenal gue." Tolak Sammuel keras di balas anggukan oleh istrinya yang sudah menyambut tubuhnya yang duduk di samping istrinya pada kursi yang tersedia.
"Sammuel, lo siapanya si Tara?" Tanya Adel hanya berbasa-basi semata, namun berhasil membuat Tara tertegun di sana.
"Bossnya." Singkat Sammuel membuat sang istri kian tertegun mendapat ingatannya kembali tentang status hubungannya dengan suaminya. Ia kembali meraih gelas minumannya dan meneguk isinya perlahan menepis kegundahan hatinya dengan minuman itu.
Setelah ia menyimpan kembali gelas itu di atas meja, Sammuel berhasil merebutnya lalu meneguk isinya hingga habis tak bersisa. Perlakuan Sammuel membuat tiga serangkai wanita cantik itu melepas kejutannya begitu hebatnya.
Sejak kapan Sammuel sudi segelas dengan orang asing? Batin Adel bergumam tidak percaya.
Apa hubungan Sammuel dengan Tara yang telah meneguk minuman dalam gelas yang sama? Batin Tania bertanya-tanya menerka jika mereka memiliki hubungan erat.
Sedang Tara sendiri meruntuk jika perlakuan suaminya akan merugikan dirinya jika saja kedua sahabatnya mulai mencurigai hubungannya.
"Sam ini gelas aku!" Sungut Tara menepis janggalan kedua sahabatnya dengan isyaratnya.
"Ya terus kenapa? Lo punya penyakit kotor emang?" Balas Sammuel tak acuh dengan mata istrinya yanh sudah memutar sebal.
"Ia kotor banget." Balas Tara melengos membuat suaminya terkekeh di sana. "Mau ngapain kamu ke sini? Bukannya acara ultah kampus masih lama?" Imbuhnya mengehentikan kekehan yang membuatnya merasa malu itu.
"Gue ada urusan ke sini, sekalian jemput cewenya si Jack." Cibir Sammuel menatap ledek wajah istrinya, mengungkap status hubungan kakaknya yang membuat istrinya menatapnya penuh murka.
Tara menepis pandangannya yang membuat emosinya meruah. "Aku bawa mobil." Tolaknya tak sarat kala sang hati menginginkan itu terjadi.
"Mobil lo udah di angkut laki temen lo."
"Laki temen aku?" Janggal Tara menatap heran wajah Sammuel yang di balas Sammuel dengan menunjuk Adel dengan dagunya.
Tatapan Tara kini menatap harap wajah Adel. "Laki lo siapa Del?"
"Lo ga pernah ngomong Del." Protes Tara sebal.
"Ya lo ga pernah nanya." Balas Adel membuat Sammuel serta Tania menertawai perdebatan mereka.
Sudahlah Tara mengakhiri perbincangannya dengan senyuman lebarnya. Kembali ia menatap wajah suaminya. "Mobil aku kenapa di angkut sama dia? Kamu megang kunci serepnya apa?"
Sammuel hanya mengangguk sebagai jawaban untuk istrinya di sambut lenguhan keras oleh istrinya.
"Bisa ga lain kali kamu izin dulu?" Tara bersungut-sungut tidak terima.
"Ga bisa!" Tolak Sammuel menatap garang wajah istrinya yang sudah terperanjat dalam gerakan tubuhnya mendengar ketegasan nada bicara itu.
Tara terlupa akan perjanjian pernikahannya yang selalu harus menuruti segala keinginan suaminya.
"Ehem." Deheman Tania membuat situasi tegang terlerai seketika. "Sorry Ra gue masih ada kelas." Pamitnya lantas bangkit dari duduknya.
"Gue juga, Sam gue pamit." Ucap Adel yang langsung berlalu begitu saja dari hadapan Tara serta Sammuel yang terlihat melega di sana.
Seperginya Adel serta Tania, Sammuel baru dapat mendaratkan rangkulannya pada pinggang istrinya. "Lo udah ga ada kelas kan?"
"Hmm."
"Apa lo ga ngutang penjelasan sama gue?" Paksa Sammuel hingga mencengkram pinggang istrinya meluapkan kesungguhan atas ucapannya yang mengharap mendapat jawaban yang pasti. Namun,
"Aww Sam sakit gila!" Sungut Tara merontak dalam tepukan keras mendarat pada tangan yang mencengkram pinggangnya. "Soal si Evan?"
Sammuel mengangguk ragu, seharusnya ia tidak mempertanyakan hal itu yang akan membuat istrinya curiga jika rasa cemburu itu terpapar darinya.
__ADS_1
"Dia juga mahasiswa fakultas bisnis, dia sering ganggu aku padahal dia udah punya cewe si Aurell." Jelas Tara membuat Sammuel melega meski sebelumnya enggan mengakuinya jika dirinya telah bercemburu ria.
"Evan Arayan bukan?" Sahutnya dengan pertanyaan di balas tatapan heran oleh istrinya.
Tara mengheran lantaran dengan mudahnya suaminya menebak objek yang di perbincangkannya. "Kamu tau dia?"
"Bokapnya pegawe Manager Acounting di ZhanaZ, tapi lagi dalam penyidikan korupsi." Balas Sammuel membuat istrinya mengangguk faham.
"Kalo gitu kamu tau juga dong si Aurell, papa dia pemegang saham di sana juga."
"Pemegang saham apanya? Bapaknya Supervisor di ZhanaZ."
"Dasar belagu, sombongnya aja selangit, pake ngaku-ngaku pemegang saham segala." Tara menyeringai menyebalkan mengingat perlakuan Aurell terhadapnya yang mengatas namakan ZhanaZ group itu.
"Lo ga bilang sama temen-temen lo kalo lo kerja di ZhanaZ?"
"Ga ada untungnya juga aku ngomong." Sahut Tara di sambut lenguhan oleh suaminya.
Bagaimana bisa istrinya mengabaikan perusahaan penunjang universitas yang kini menjadi tempatnya menuntut ilmu itu?
"Art Tara__ gue pikir lo pinter." Cibir Sammuel penuh sindiran lantas meraih wajah istrinya dengan sebelah tangannya, menjepit dagunya hingga menatapnya lekat-lekat. "Pegawe sana yang kuliah di sini pasti dapet dukungan penuh." Menarik wajah itu hingga merekat dengan wajahnya, menyemburkan sorotan tajamnya dari pasang matanya. "Bisa juga lo dapet beasiswa." Imbuhnya di balas kekehan geli oleh istrinya.
"Hei bung, kamu mau ngerendahin aku apa?" Protes Tara seraya menepis tangan itu dari daguny. "Kamu pikir kalo aku ngomong jabatan aku yang cuma receptionist bisa ngaruh apa?" Imbuhnya membuat suaminya mendengus kesal atas dua tindakan sekaligus. Di mana tangannya terlepas dari itu begitupun dengan jabatan rendah yang telah di berikannya kepada istrinya.
"Lo tinggal bilang lo cewenya si Jack." Tutur Sammuel memaksa jika istrinya di haruskan mendapat dukungan dari universitas itu. Namun rupanya sang istri keliru mengartikannya.
"Hehe." Tara menyeringai hingga mencubit gemas pipi suaminya membuat sang empunya meringis namun membiarkannya. "Kamu pikir aku ga tau kalo si Jack selama ini ngumpet?"
Sammuel menghapus jejak cubitan itu dalam lengusannya. "Ya lo tinggal ngomong menantu Erick Liu atau menantu Celia Carissa." Rupanya Sammuel mengutarakan isi hatinya dengan leluconnya.
"Kamu ngaco, pengen bikin aku miskin apa? Kamu sendiri yang ngomong harus rahasiain hubungan kita." Tepisnya di balas tawa kecil oleh suaminya yang kini menatap wajahnya tanpa ampun.
"Menantu mereka bukan berarti bini gue kan? Anak mereka ada 5." Lengos Sammuel menyulut rasa sebal istrinya merangkak hingga menatapnya penuh ledekan.
"Dasar kamu ya, lama-lama aku cemplungin ke sumur." Balas Tara sudah kehabisan kata menimpali ucapan suaminya.
Sammuel kembali terkekeh menanggapi gurauan istrinya. "Udahlah kita harus nyampe rumah mertua lo sebelum jam makan malem." Ajaknya lekat hingga ia bangkit berdiri lantas melangkahkan kakinya yang di buntuti oleh istrinya di belakangnya.
Tanpa di sadari mereka, puluhan pasang mata tengah menatap mereka yang berjalan beriringan. Bukan mata-mata melainkan mereka menggunakan kesempatan mereka untuk mengetahui wajah Sammuel.
"Jadi itu yang namanya Sammuel? Murid andalan di sini."
"Cakep juga ya yang namanya Sammuel itu."
"Itu si Tara kan yang di samping si Sam?"
"Kok bisa ya mereka pacaran?"
Jengah sudah Sammuel dengan lontaran perkataan dari para mahasiswi itu membuat ia menarik keras tangan istrinya agar mempercepat langkah kakinya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1