
Sammuel sudah duduk gagah di atas sofa ruang tamu bertajuk langit itu, sepuntung rokok menjadi teman menunggunya.
Beberapa menit kemudian iapun menyiratkan senyum binarnya ketika mendengar pergerakan kaki yang melangkah semakin mendekatinya hingga ia segera menghempas rokoknya ke atas asbak yang tersedia.
"Sam lo ngapain ke sini?" Sambut Jackson di sela kakinya yang masih mengayun untuk menghampiri sofa yang terletak di sekitar adiknya yang sudah duduk di atas salah satunya.
"Nganterin ini." Sahut Sammuel mengangkat tangannya yang menggenggam secarik kertas menunjukkan kepada kakaknya.
"Apa itu?" Tanya Jackson setelah berhasil mendaratkan bokongnya tepat di samping adiknya.
Celia duduk di sebrang mereka. Sedang Tara masih berdiri di sekitar dengan si gadis cilik yang tertidur di dalam pangkuannya.
"Aku bawa dia ke kamar dulu." Tanpa menunggu jawaban, Tara berlalu begitu saja dari hadapan mereka membuat Sammuel menatap arah langkahnya hingga berdetik ke depan.
"Berkas apaan ini?" Jackson menjanggal hingga merebut kertas itu dari tangan adiknya tak ayal membuyarkan pandangan adiknya.
"Surat persetujuan cewe lo berhenti kuliah." Jelas Sammuel di balas anggukan faham oleh kakaknya namun rupanya sang ibu tiri melenguh di sana.
"Padahal aku juga udah urus itu." Ucap Celia di balas kejutan oleh Sammuel yang sudah bersusah payah membantu kekasih kakaknya mendapatkan izin itu.
"Kenapa ga ngomong?" Pekik Sammuel tidak terima jika sang ibu tiri hanya bungkam saja.
"Aku pikir orang itu akan bilang sama kamu." Balas Celia terabaikan kala Jackson bangkit berdiri setelah menerima panggilan dari alat medianya.
Tanpa berpamit, Jackson berlalu dari hadapan dua orang yang telah menatap janggal kepergiannya.
Namun hanya sesaat, Sammuel mengalihkan arah pandangnya menuju arah depannya di mana tangga akses menuju kamar si gadis cilik berada di sana. Bukan untuk melihat tangga itu ia menatapnya, melainkan ia mengetahui jika untuk menuju kamar si gadis cilik di haruskan melewati tangga itu.
"Kesanalah, aku kasih tau kalau kakakmu udah kembali." Ucap Celia yang mampu menangkap pikiran anak tiri ke empatnya dari tatapan matanya yang menyemburkan keinginannya di balik wajahnya.
Sammuel hanya tersenyum menyikapinya, lantas meraih tas kertas yang sengaja di bawanya sebelumnya, dan iapun berjalan menaiki anak tangga itu tanpa berpamit kepada ibu tirinya terlebih dahulu.
Sesampainya di hadapan ruang itu, pintu kamar tujuan Sammuelpun terbuka oleh tangan jenjangnya, lantas tanpa ragu ia bergegas masuk ke dalamnya membuat istrinya yang sudah berada di sana memaparkan wajah kejutnya.
"Sam ngapain kamu ke sini?" Kejut Tara namun dengan nadanya yang melemah agar tidak mengganggu tidurnya si gadis kecil.
"Si Jack lagi angkat telpon." Balas Sammuel penuh kesungguhan di sela kegiatannya yang melempar kasar tas kertas itu ke atas tempat tidur, membuat si gadis cilik melenguh di sana.
"Shhh.. shhh." Tara cemas hingga menepuk-nepuk manja tubuh si gadis cilik membuat sang gadis cilikpun kembali melelapkan tidurnya. "Dasar sinting, ga lihat ponakan kamu lagi tidur apa?" Protesnya berbisik sebal hingga menatap nyalang suaminya yang sudah berdiri di sampingnya.
“Ga lihat.” Sahut Sammuel tak acuh ketika melihat istrinya bangkit dari tempat tidur itu, membawa tas kertas itu lantas melangkahkan kakinya hingga duduk di atas sofa yang tersedia di sudut ruangan itu membuatnya mengikuti arah langkahnya.
“Apa ini?" Janggal Tara seraya mencari jawaban dengan membuka lipatan tas kertas itu.
"Lihat aja sendiri." Balas Sammuel tat kala ia berhasil mengambil posisinya duduk di samping kanan istrinya.
Senyum lebar tersirat dari wajah Tara kala melihat beberapa kotak berwarna merah terdapat di balik tas itu.
__ADS_1
"Banyak banget!" Kembali senyuman riang itu terpampang dari wajah cantiknya kala ia berhasil membuka lipatan kotak merah itu yang menampakkan barisan perhiasan di baliknya membuat suaminya bergerak kikuk.
"Tadi itu ada_ lagi ada diskon, beli 10 masuk harga paket." Ucap Sammuel terkaku-kaku, pasalnya, ia sengaja membeli itu untuk istrinya setelah menerima perlakuan Jackson yang membuatnya cemburu tak berguna saat lalu.
"Tumben kamu mau beliin." Meski mencibir, Tara meledek dengan senyuman penerimaan perlakuan hangat itu membuat jiwanya seketika melambung tinggi mengira sang suami telah jatuh hati kepadanya.
"Gue juga ga tau kenapa pengen beli tuh barang, mungkin karna yang jualnya temen gue." Celoteh Sammuel asal bicara. Kendati demikian, sang istri membalasnya dengan senyuman manisnya.
Tara mencari cara untuk ungkapan terimakasihnya kepada suaminya agar sang suami menerimamya. Ia segera meraih wajah suaminya lantas mengecup bibirnya tanpa mau tau jika mereka kini berada dalam keadaan yang akan merugikannya di mana Jackson masih berada di sekitarnya.
Begitupun dengan Sammuel yang telah terperosok dalam hasratnya ketika ia mendapat kecupan itu yang enggan di akhirinya begitu saja hingga dengan gesit ia menahan kepala istrinya hingga bibir itu merekat seutuhnya pada bibirnya.
Tara mampu menerka jika sang suami menginginkan ungkapan terimakasihnya dengan aksinya kali ini yang telah berhasil mencumbunya dengan rakusnya.
Selalu saja hasrat Sammuel bergejolak hingga mengepul di atas kepalanya kala ia mencumbu istrinya. Namun ingatannya tidak akan memudar kala membayang dalam angannya jika sang kakak masih berada di sekitarnya hingga ia membawa tubuh istrinya dalam pangkuannya. Melingkarkan kedua kaki istrinya pada pinggangnya.
Tanpa menginginkan cumbuannya terlepas, ia membawa tubuh itu ke dalam ruang tempat membersihkan diri yang masih berada di dalam ruang tidur itu meski harus bersusah payah kala penglihatannya terhalang separuhnya.
Di tengah cumbuan yang masih berlangsung, Sammuel melepas satu tangannya yang sebelumnya menahan tubuh istrinya kini mengulur menutup pintu itu lantas menggaitkan kuncinya.
Setelah menyadari sesuatu, Tara mendorong keras tubuh suaminya agar cumbuannya terlepas darinya. "Sam si Jack masih di sini." Ujarnya merancu bahkan membuat jantungnya kian berdetak tanpa aturan.
"Mam Cel nanti kasih tau." Tanpa mau tau dengan kerancuan istrinya, Sammuel mendaratkan bibirnya di atas leher istrinya.
"Tapi aku masih takut." Tolak Tara tak searah dengan anggota tubuhnya yang mulai memejamkan matanya membuat Sammuel meyakinkan diri jika sang istri menginginkannya.
"Ka-kamu yakin bisa puas?" Masih dalam tolakan yang tak di sertai gerakan tubuhnya, Tara menumpukan kepalanya pada ceruk leher suaminya membuat bibir Sammuel terangkat memaparkan seringai gemasnya.
"Justru karna kemaren gue ga puas jadi gini." Balas Sammuel menekankan keinginannya tidak ingin mendapat penolakan.
"Tau begini kamu ga usah suruh aku tinggal di sini." Napas Tara mulai merancu membuat sang suami mulai frustasi.
"Gue pasti tagih lo ke sini kalau gue mau." Ucap Sammuel menyahut masih memaksakan kehendak hati agar sang istri menyetujuinya.
“Sinting!” Umpat Tara terbengkalai kala sang suami berhasil membubuhkan keinginannya.
Hingga pada akhirnya, sebuah kecupan membungkam mulut Tara tanpa mampu ia membalas ucapan sadis suaminya kala sang suami memberikan salam pengakhir untuk kegiatannya. Membubuhkan rasa cinta yang tercurah dengan elusan pada puncak kepalanya.
Membiarkan manik mata mereka saling melepas tatapannya, mencari kesungguhan pengucapan terimakasihnya sebagai pengakhir kegiatannya.
Suara nyaring dari gebrakan pintu luar ruang itu yang terbuka dengan kasarnya, membuat mereka segera merapihkan diri mereka kembali.
Tara yang telah menggusar, ia bergegas keluar dari ruang itu dengan tergesa. Napasnya kian terpenggal kala melihat Jackson sudah berdiri di samping tempat tidur di mana si gadis cilik belahan jiwanya masih pulas di sana.
"Jack." Sapa Tara menyiratkan senyum gundahnya, namun terasa mempesona bagi Jackson hingga ia mengunci tatapannya pada bibir yang terangkat manis itu.
Napas Tara yang masih memburu, entah karna terkejut ataukah masih menyisakan sekatan dari permainan panasnya tadi, menghipnotis Jackson dalam pandangan tajamnya.
__ADS_1
Jackson mengabaikan suara napas yang terengah itu, ia meresapi tatapannya pada wajah wanita yang telah belingsatan di sana.
Rambut berantakan Sang wanita, peluh kecil di atas permukaan kulit dahinya yang begitu kasat mata, terlihat Jackson begitu menggairahkan membuatnya terpaku hingga membiarkan tatapannya sejenak meresap di sana hingga sang wanita berdiri di hadapannya ia baru tersadar dari keadaannya.
"Q-Queena udah tidur." Ucap Tara terbata-bata kala napasnya masih belum sepenuhnya teratur hingga ia menepis pandangan penuh dustanya menuju ke arah di mana sang buah hati masih tertidur pulas di atas sana.
"Kenapa kamu cantik banget hari ini?" Puji Jackson di sertai senyuman kagumnya membuat wanita di hadapannya menundukkan wajahnya.
Tara menerka, Jackson menatapnya lain hari ini karna penampilan semberautnya. Meski ia tidak yakin penampilannya masih seperti itu lantaran ia belum sempat bercermin diri. Namun ia dapat menerkanya dari ucapan Jackson saat lalu. Hal itu, membuatnya kian tertunduk kaku.
Sedang Jackson mengarahkan pandangan pekatnya ke arah depannya di mana pintu kamar mandi itu berada. "Celia nunggu kita di bawah." Ujarnya seolah menyapa tujuannya membuat Tara melega.
Tara mengira pria itu tidak akan mempertanyakan hal lebih pada dirinya. Akhirnya ia mampu mengangkat wajahnya tanpa rasa takut menyertainya.
"Oke aku ganti baju dulu." Balas Tara terengah saat paru-parunya belum terisi udara sepuasnya membuat pria di hadapannya menatapnya sejenak dengan picingan matanya.
"Oke. Aku juga cari si Sam dulu." Sahut Jackson kian membuat Tara melega. Namun, "Art." Lantas meraih tungkak kepala wanita yang di panggilnya untuk mendaratkan kecupan di sana.
"Hmm?" Tara mendengung, tidak biasanya pria itu berani mengungkap kasihnya dengan sebuah kecupan.
"Apa aku bener-bener ga bisa tidur sama kamu?" Pancing Jackson penuh harapan namun terhempas begitu saja kala wanita itu menatapnya tidak percaya.
"Jack jangan gila, mau bikin aku malu di depan orang tua kamu apa?" Tolak Tara teguh hati hingga memukul lembut dada pria yang telah terkekeh di hadapannya.
"Jadi maksudnya kalau ga di sini kamu mau?"
"Ya engga juga lah!" Tepis Tara tak berarti kala pria itu kian menertawai gerakan kikuknya.
"Oke aku tau itu, kamu emang cewe paling setia." Putus Jackson melega namun melirih hingga membuatnya memutar tubuhnya agar dapat menepis pandangannya pada wajah cantik yang selalu membuat kasihnya tercabik itu.
Tara menjanggal dengan langkah kaki yang mengayun tegas dari pria itu. Ia meruntuk jika sang pria tengah bersedih hati atas ucapan penolakan tegasnya saat lalu.
Sementara di balik pintu ruang tempat membersihkan diri itu, seseorang telah menyiratkan senyum riangnya mendengar ucapan terakhir dari pria yang telah hilang sepenuhnya dari ruang itu.
Hingga akhirnya, Sammuel menampakkan diri di hadapan istrinya setelah menilik situasi jika kakaknya telah pergi dari sana.
"Sam, kamu yakin kakak kamu tadi ga tau apa yang kita lakuin?" Tanya Tara merancu di sambut suaminya dengan tawa kecilnya untuk meledeknya.
"Ga yakin!" Balas Sammuel kian membuat istrinya merancu di sana. "Tenang aja, dia ga akan ninggalin lo kalau ketauan juga." Imbuhnya hanya sekedar untuk penghiburan diri semata.
Sesungguhnya, iapun menggundah jika saja kakaknya menelusuri tentang hal itu. Namun ia enggan berpikir lebih hingga ia mengayunkan kakinya meninggalkan sang istri yang masih bungkam di sana.
•
•
•
__ADS_1
Tbc