Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 53


__ADS_3

Sammuel berjalan menyusuri lantai marmer yang terdapat pada perusahaan miliknya di dampingi Nicky berjalan membuntutinya, Hanson serta Fiona pun turut serta di samping kiri kanannya.


Kala mereka melewati tempat bagian di mana Tara berada, Tara serta Mitha memberikan sapaannya dengan ucapan selamat pagi dari keduanya serentak seraya merengkuhkan tubuhnya dalam keadaan berdiri untuk memberikan pernghormatannya di balik meja panjang menjulang.


Sontak Hanson memundurkan langkahnya ketika mendengar suara yang tidak asing dalam pendengarannya telah menghiasi telinganya beberapa detik yang lalu. Senyumnya melebar ketika melihat Tara masih berdiri di sana.


Sementara Fiona membuntuti langkah tunangannya, Sammuel sendiri terdiam di tempat semula membuat Nickypun berdiri di samping atasannya.


"Sejak kapan kamu kerja di sini?" Hanson mengarahkan pandangannya pada Tara bermaksud ucapannya tertuju kepada wanita yang telah di tatapnya lekat-lekat itu.


"Kemarin pak." Jawab Tara sopan. Senyum manis terlontar menghiasi wajah anggunnya.


Fiona beranjak hingga berdiri bersejajar dengan tunangannya. "Tara." Sapanya penuh senyuman dengan lambaian tangannya.


"Hai Fi." Bibir tipis itu terangkat memberikan senyuman lebarnya seraya membalas lambaian tangan itu.


12 tahun sudah mereka terpisah sejak kejadian naas Tara yang mengharuskannya meninggalkan kehidupan serta seluruh rekannya.


Ingin rasanya kini ia mencurahkan rasa rindunya dengan sebuah rangkulan. Namun sayang, menja menjulang menjadi penghalangnya.


"Tara, gue gawe di sini juga, assistant pengacara pak Hanson." Fiona melirik ke arah sampingnya di mana Hanson berdiri di sana.


"Kebetulan banget." Balas Tara masih dalam senyuman berbunganya.

__ADS_1


"Ya bener, kebetulan banget kita saling kenal, gimana kalo nanti istirahat kita makan bareng?" Pinta Hanson setengah merajuk.


Rupanya Sammuel memperhatikan tingkah mereka hingga ia menyiratkan senyum kemenangannya. Kini ia melangkahkan kakinya berdiri di samping Hanson. "Hans lo mau gawe apa mau ngerayu cewe?"


"Ya boss sorry, nyari udara seger bentar aja ga boleh, rese amat sih lo." Meski menyenggal, Hanson melangkahkan kakinya seraya merangkul pundak Sammuel dengan sebelah tangannya. "Sampe ketemu nanti siang nona Tara." Ujarnya setengah memekik di sertai lambaian sebelah tangannya yang senggang.


Hal ini membuat Fiona menggebu dalam cemburunya, namun ia faham betul dengan keinginan pria tunangannya sehingga ia tidak mampu meluapkan rasa cemburunya.


Sammuel sadar dengan itu yang membuatnya kembali meraih kemenangannya jika kakak ke tiganya tidak akan mampu menggenggam erat hati wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Sesungguhnya ia hanya ingin menjadikan samg istri penghibur kakak ketiganya, sedang lebihnya ia memikirkan nasib kakak keduanya, sebisa mungkin ia akan membuat kakak ketiganya hanya menyukai suara wanita umpan itu saja.


********


Hanson sudah duduk tegak di atas kursi kebangsaannya di dampingi sang asisstant yang tengah menjadi tunangannya duduk di sebrangnya. Tumpukan dokumen yang harus di cernanya menjadi tujuan utama tatapan mata tajamnya.


"Hans, mau atur jadwal biar bisa sering berkunjung ke sini?" Fiona menyembunyikan kegundahannya di balik senyum menawannya.


Hanson menatap wajah yang tersenyum palsu itu, membalasnya dengan kerutan alisnya. "Lo yakin lo ga bakal bikin ulah?" Tanyanya penuh ancaman.


"Hans kamu terlalu curiga sama aku." Fiona melirih. "Dia sahabat aku waktu SMA." Akhirnya ia memberikan suatu informasi yang selama ini di cari-cari oleh pria yang memaparkan wajah kejutannya di hadapannya.


"Gue tau!" Cetusnya, padahal ia tercengang dengan pernyataan itu yang tidak pernah di ketahuinya sebelumnya. "Asal lo inget aja, meski lo pinter, tapi dia lebih cerdas."

__ADS_1


"Aku tau itu, aku cukup mengenal dia." Fiona tersenyum di balik kepalan tangannya. "Kamu suka sama dia kan?" Berat hati ia mengungkapnya yang sudah tau pasti jawabannya akan membuat hatinya teriris.


"Kalo gue suka kenapa?" Picing Hanson menatap sadis wajah Fiona.


"Cuma__"


"Cuma mancing gue? Mastiin biar lo lebih usaha nyakitin tuh cewe?" Kesal Hanson membuat Fiona kembali melirih di sana.


"Hans kamu masih bisa nyakitin aku, tapi bukan gitu caranya." Mulai matanya bergenang air payau.


"Lo lupa janji lo? Lo bisa dapetin semua yang lo mau dari gue, kecuali cinta gue." Hanson tersenyum sarkas yang membuat air mata itu terpendam sudah menggantikannya dengan emosinya.


"Kamu tega Hans, apa kamu ga pernah ngerasain hati cewe? Kalo mami kamu yang di giniin sama papi kamu__"


"Fiona!" bentak Hanson membuat Fiona membisu kaku.


Fiona tertegun dalam tubuhnya yang bergetar, tangannya memutar penanya yang menjadi penepis keterkejutan atas ucapan tunangannya.


Keheningan kembali menghujam ruang itu di mana Hanson kembali memusatkan diri pada pekerjaannya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2