
Sebuah restoran ternama di tengah pusat kota Jakarta menjadi sasaran Jackson menemui teman wanitanya. Dua kursi saling berhadapan tersekat meja kotak menjadi penumpu tubuh mereka.
Tempat itu selalu ramai dikunjungi para pelanggan, dengan dekorasi modern dan berbagai hidangan yang beraneka ragam dengan kualitas tak diragukan, maka merupakan hal wajar jika tempat ini menjadi pilihan bagi orang-orang berdompet tebal untuk mengisi perut atau membahas sesuatu. Terlebih, meja VIP banyak tersedia untuk mereka yang ingin membahas sesuatu atau melahap hidangan dengan nyaman tanpa gangguan.
Setelah mereka berhasil memesan santapannya, perbincangan hangat dilangsungkan untuk melepas kerinduan rekan yang tengah terpisah dua minggu lamanya.
Jackson memang memiliki suatu urusan yang --bisa dibilang sangat -- penting untuk dilakukan. Pekerjaan itu ternyata membuatnya harus tinggal di negeri orang dalam waktu yang cukup lama, membuatnya tertinggal banyak berita dan urusan di tanah air, di dalam lingkungannya.
Salah satu urusannya adalah dengan wanita yang menemaninya saat ini. Maka sekembalinya ke Ibu kota, ia segera melakukan pertemuan dengannya. Di sinilah sekarang ia berada.
"Jack, soal saran temen aku kayanya ga berhasil," ucap Triana sebagai pembuka perbincangan. Ya, teman wanita yang ada di hadapan Jackson adalah Triana, teman dari Tara.
"Saran yang mana?" tanya Jackson dengan datarnya.
"Asal aku dapet saham dari cowok yang dijodohin sama aku, aku ga usah tunangan sama dia,” jawab Triana.
"Gitu ya." Hanya itu saja tanggapan yang diberikan. Jackson tertawa sinis menyertai gagasannya.
"Apa sih, kamu? Bukannya kasih solusi malah senyum-senyum ga jelas gitu!" Triana memekikkan nada bicaranya mewakili rasa jengahnya. "Ga ada saran dari kamu apa? Bilang apa, gitu. Bukan cuma nyaut singkat banget." Ia mengimbuhkan dengan sebal.
Jackson terkekeh sebelum membuka suaranya. "Menurut gue sih, bapak lo tau kalau buat saham cuma dapat 5% paling banyak. Tapi kalau lo jadi salah satu pasangan dari pemilik perusahaan, bisa dapat lebih dari itu,” jelas Jackson, seusainya ia kembali merenung memikirkan sesuatu.
Inilah salah satu alasan yang membuat dirinya menyembunyikan status dirinya. Menghindari perjodohan ataupun pertukaran bisnis lainnya yang akan membuat dirinya kesulitan mengatur seluruh rencana yang telah dibuatnya selama ini.
Sementara Jackson merenung, Triana terpaku meresapi perkataan lelaki yang diincar hatinya sejak satu tahun yang lalu itu. "Jadi, aku harus gimana?"
"Gue tanya lo sekali lagi, apa lo bener ga suka atau cinta sama tuh cowok?" pancing Jackson dengan matanya yang penuh picingan.
"Kamu gila! Udah aku bilang aku ga suka atau cinta sama dia, mau segimana dia ganteng juga, tetep aja bukan tipeku." Triana melampiaskan kekesalan pada nada bicaranya yang memekik.
Jackson kembali terkekeh yang sudah mengetahui sifat setia dari wanita yang berada di hadapannya itu. "Oke, gue tau. Ga usah sewot gitu deh."
Perbincangan terlerai saat santapan yang mereka pesan sebelumnya telah terhidang di depan wajah mereka.
"Jadi gimana, Jack? Kamu jadi temen ga berguna banget sih?" umpat Triana seraya menyuapkan santapannya dengan gaya kasar. Pria ini susah dimintai solusi dan pertolongan.
"Gue juga bingung. Masalahnya, cowoknya juga ga mau kan sama lo?"
__ADS_1
"Ya karena yang aku mau itu kamu," sindir Triana yang membuat Jackson terkekeh berat.
"Jangan ngarep deh, gue mana mau sama cewek kaya lo," katanya dengan ejekan terlontar dari mulutnya. Jackson kembali terkekeh di akhir kalimatnya.
Triana mulai mengerucutkan bibirnya, enggan menjatuhkan harga diri di depan lelaki incarannya. "Aku juga becanda kali, kamu aja yang kepedean nanggepinnya." Ujarnya dalam wajahnya yang sudah berpaling ke sampingnya.
Jackson menggeleng, sesungguhnya gerakan kikuk dari wanita itu sudah dapat ditebak jika ia berkata lain dengan hatinya. “Lo coba deh ngomong sama cowok itu, kali aja dia mau ngasih solusi." Jackson tidak dapat meresapi rasa steaknya ketika otaknya kalang-kabut memikirkan sebuah cara untuk keberlangsungan kehidupannya. Untuk masalah dari wanita ini, ia merasa berkaitan dengannya hingga ia sudi untuk memikirkan jalan keluarnya.
"Rencananya juga gitu."
"Udah punya rencana tapi masih nanya gue, jangan-jangan lo ngajak ketemuan bukan buat ngomongin ini. Cuma mau ketemu sama gue kan?" Si periang ini selalu mengungkap isi hatinya tanpa keraguan, membuat wanita di hadapannya merasa malu tidak karuan.
"Emangnya kalo gitu kenapa?!" pekik Triana menyembunyikan rasa malunya.
Jackson kembali terkekeh menyikapinya. "****!" tegasnya, membuat Triana semakin mengerucutkan bibirnya. "Jangan mau sama gue."
"Siapa juga yang mau sama kamu?" tanya Triana dengan dengusan. Tentu saja itu bualan untuk menjaga wajahnya.
"Jangan narsis dan kepedean deh jadi cowok."
Jackson hanya tersenyum menyikapinya, ia tak menganggapi dan menganggap serius ejekan-ejekan yang wanita itu lontarkan padanya. Sudahlah ia memutuskan untuk mengakhiri perbincangan yang selalu membuat wanita itu salah tingkah.
Seseorang pria yang menjadi pilihan hatinya, seseorang yang beberapa waktu lalu pernah disinggung --meski tanpa menyebutkan nama-- saat mengobrol dengan Tara tempo hari, ternyata adalah Jackson orangnya, seorang pria yang benar-benar sudah dikenal baik oleh Tara.
Ada yang mengatakan jika dunia ini sempit, ke mana pun kau pergi, orang yang kau kenali selalu ada di sekitarmu. Padahal, dunia itu sangat luas sehingga kita tak bisa mengukurnya dengan tangan sendiri, hanya takdir dan nasib saja yang membuat dunia terasa sempit, sehingga orang-orang yang bersangkutan malah saling terhubung dan selalu bertemu.
***
Kabut malam berserakan, menyambut bintang bertaburan di malam itu. Tara sudah berselonjor kaki di atas tempat tidur empuknya, pakaian kemeja putih over size menjadi salah satu pembalut tubuhnya yang terasa nyaman untuknya kenakan saat ini, lantaran hari yang lembap membuat secercah keringat menetes dari tubuhnya.
Suara dering alat media panggilan menepis kegiatannya yang tengah asyik membaca sebuah novel romantis. Melihat dari layar itu bahwa sang sahabat yang memanggilnya, ia segera menjawab panggilan tersebut sehingga si penelepon tak memerlukan terlalu banyak waktu untuk menunggu.
"Kenapa, Tri?" sapa Tara ketika panggilan terhubung. Sepertinya wanita itu memiliki sesuatu untuk disampaikan.
"Ra, bokap gue ga setuju soal ide dari lo itu. Mau ga mau gue harus rundingin sama cowok itu lagi," jawab Triana penuh lirihan di seberang sana. Kerapuhan dan penderitaan yang dirasakannya dapat ditebak dari nada bicaranya. Masalahnya tak selesai.
"Kalau gitu kenapa lo ga hubungin dia? Malah telepon gue." Tara terkekeh di akhir kalimatnya ketika melontarkan gurauan pada sang sahabat.
__ADS_1
"Dia nolak terus kalo diajak ketemu sama gue." Triana masih melirih, menegaskan jika yang dikatakannya memang benar demikian.
"Sombong juga tuh cowok." Tara mengumpat dan merasa jengah di mana itu terdengar dari nada bicaranya oleh Triana di seberang sana. Seandainya ia tahu siapa yang tengah diperbincangkan oleh mereka, ia tidak akan mudah mengumpat pada orang itu.
"Tapi gue punya ide, besok acara ultah kakak tiri gue, dia pasti dateng ke sana, soalnya yang punya pesta sahabat dia juga, gue pengen lo dateng bareng gue," jelas Triana panjang lebar. Mengutarakan apa yang ada di dalam kepalanya, kalimat terakhir pun terdengar seperti perintah, bukan permintaan.
"Emangnya gue bisa bantu bujuk tuh cowok?"
"Bukan itu maksudnya. Lo tau sendiri kalau gue ga punya temen pas waktu kuliah dulu kan," balas Triana yang secara tak langsung ia mengatakan bahaa dirinya butuh pendamping untuk mendorong dan memberi semangat padanya, kata-kata itu tentu membuat Tara terkekeh di sana.
"Cewek cantik yang tajir kayak lo, masa ga punya temen cewek sih?" sindir Tara penuh ledekan. Tentu ia tahu sendiri seperti apa kehidupan sahabatnya, sebagian kehidupan sahabatnya.
"Gue udah pernah cerita kan, kalo di kampus gue jadi bunga kampus, jadi murid cewek pada ngiri nyampe ga ada yang mau jadi temen gue." Lagi dan lagi Triana melirih.
"Lo lagi curhat apa lagi muji diri sendiri sih?" tanya Tara tak lantas menyiratkan tawanya di akhir kalimatnya. Ia coba memberikan penghiburan pada sang sahabat.
"Anggap aja gue lagi hina elo, dodol." Triana tertawa malu-malu di seberang sana. Sepertinya puas dengan ejekannya. Setelah mereda, maka Tara membalas perkataan dengan topik utama.
"Oke, kalau gitu gue anter lo, jangan lupa siapin gaunnya oke." Dia menyetujui.
"Dasar matre." Triana mengejek.
"Ga ada yang gratis di dunia ini," balas Tara, sama sekali tanpa sangkalan, "dan lagi gue nanti yang ke rumah lo, jadi perlu ngorbanin ongkos kan?"
"Sinting."
"Oh ya, jam berapa pestanya?" sambung Tara mulai serius dalam nadanya.
"Jam 7, jadi lo harus udah di rumah gue jam 5 ya, soalnya harus nyalon dulu."
"Gue ga tanggung biaya salonnya ya," pinta Tara yang lagi dan lagi membuat Triana terkekeh di sana.
"Oke, Nyonya matre," balas Triana sebagai penutup perbincangan. Entahlah, panggilan itu tampak kurang sesuai, daripada dibilang matre, lebih cocok dikatai pelit dan suka gratisan.
•
•
__ADS_1
•
Tbc