
Kabut malam menyelimuti hari kelam bagi Tara, dalam pikirannya yang berputar di dalam otaknya, ia sudah berdiri di atas lantai balkon apartement kediamannya.
Batang demi batang rokok menemani kehampaannya.
Begitu keras ia memikirkan risalah hidupnya, ingin sekali ia mengatakannya kepada suaminya, mencari secercah harapan keputusan jalan keluarnya.
Namun ia enggan menyebutkan aib tentang keluarganya yang di yakininya akan membuat suaminya kian menjauhkan hatinya dari rasa simpati terhadapnya.
Angin malam begitu kencang menyapu wajah cantiknya, kala meresapi dinginnya angin malam yang mencekam seperti sikap suaminya terhadapnya itu, dering alat media miliknya berkumandang melerai aksinya.
Ia merogoh saku celana leggingnya, di raihnya benda itu dari sana hingga menjawab panggilannya tanpa merubah posisinya di mana ia menumpukan sebelah sikutnya pada pagar balkon itu dalam jemarinya yang menjepit rokoknya di sana.
"Ya?" Dengan santainya ia menyapa lawan bicaranya yang telah di ketahuinya siapa yang menghubunginya itu.
"Kamu udah balik ke Jakarta?" Sahut suara pria itu membuat Tara terkejut hebat.
Dari mana pria itu mengetahui jika ia telah kembali? Tara meruntuk yang tertahan dalam angannya hingga ingin segera mengungkapnya.
"Dari mana kamu tau?" Tanyanya penuh janggalan dengan nada bicaranya yang memekik.
"Ga penting soal itu, tapi aku tau di rumah mama kamu lagi ada pesta lamaran kan?"
Kembali Tara terperanga dalam kejutannya. Serinci itukah pria itu mengetahuinya? "Kamu bener-bener jaksa hebat Hans." Tuturnya setelah mengingat jabatan apa yang di sandang lawan bicaranya kini.
"Tara, stop ngehibur diri, aku tau kamu ga akan setuju sama__" Nada lirihnya tersengal Tara dengan ucapan balasannya.
__ADS_1
"Kalau bukan diri sendiri yang ngehibur, mau siapa lagi?" Ia menghisap keras rokoknya di akhir kalimatnya menghembuskan asapnya perlahan seolah menghempas perlahan keberuntungan hidupnya.
"Aku siap bantu kalau kamu mau."
"Mau batalin pernikahan mereka?" Terka Tara terkekeh geli di akhir kalimatnya.
"Bukan!" Balasnya singkat namun begitu tegas terdengar lawan bicaranya.
"Terus?" Heran Tara. Tanpa acuh Ia membuang puntung rokoknya ke bawahnya meski masih meninggalkan baranya di sana.
Bagaimana jika ada yang terluka akibat bara itu? Sudah di luar pikirannya, yang terpenting sekarang apa yang harus di lakukannya terhadap ibunya?
"Kamu tinggal ikutin aja intruksi aku." Tawar Hanson penuh keyakinan diri berharap tidak mendapat penolakan. Namun,
Tara bungkam mengabaikan pernyataan lawan bicaranya. Pikirannya masih berpusat pada bara api itu yang lupa di padamkannya sebelum membuangnya sembarangan. Ia berpikir bara api itu tak ayal ibarat tingkah ibunya sekarang ini, jika terinjak maka sang penginjaklah yang mendapati lukanya.
"Kamu ga usah mikirin urusan aku, aku bisa atasi sendiri kok."
"Tara, kamu punya aku, punya Jackson, punya Sammuel juga."
Deg! Jantung Tara berdenyut hingga membuatnya nyeri di hatinya mendengar nama seorang yang di rindukannya terucap dari lawan bicaranya. "Apa maksudnya Sammuel?" Ia berusaha menepisnya dengan melanjutkan sandiwaranya.
"Oke ga usah dia, cukup aku sama Jackson pasti bisa bantu kamu."
"Hans kamu mau umbar aib mama aku sama kakak kamu?" Balasnya tidak terima jika saja kabar itu hinggap pada telinga suaminya.
__ADS_1
"Bukan gitu maksudnya, aku bener-bener mau bantu kamu Tara, aku sayang sama kamu bukan berarti kita harus pacaran atau apapun itu."
Hening melanda sesaat lantaran Tara menahan bendungan air payau yang telah mengoyak mata indahnya. Baru kali ini ia mendapat perlakuan hangat dari seseorang sejak ayahnya menikah lagi 14 tahun silam.
"Tara, percaya sama aku buat kali ini aja oke?" Hanson merajuk setengah memaksakan kehendak hatinya.
"Sorry Hans, aku terima kebaikanmu, aku akan biarin rasa sayang kamu itu kalau kamu ga ikut campur masalah ini." Tertumpah sudah air itu dari sudut mata indahnya hingga ia kesulitan mengungkap ucapannya dengan isak yang berseru dari tenggorokannya.
Bukan maksud ia ingin menolaknya, hanya saja ia terbiasa menghadapi risalahnya sendiri. Bahkan ia enggan jika pria itu bersusah diri mengulurkan tangannya untuk memberikan bantuan yang di rasanya tidak sepantasnya ia mendapati itu.
Seharusnya ia mengucap syukur pada yang Kuasa jika kini banyak pria yang memperebutkan hatinya. Hanya saja ia masih tidak percaya diri dengan itu.
Hembusan napas kasar Hanson di sebrang sana dapat terdengar oleh Tara begitu memilukan hingga air payau itu kian deras mengalir membasahi pipinya. "Oke kalo itu mau kamu, tapi pegang janji kamu itu, biarin aku tetep sayang sama kamu." Hanson pasrah demi mendapat restu untuk sang hati.
"Aku janji!" Putusnya berikrar tegas. Ia memaksakan nada bicaranya agar terdengar menyenangkan meski isak tangisnya masih merangkak dari isi batinnya.
Panggilanpun terputus, Tara kembali meraih batang rokok dari bungkusannya hingga menyulutnya untuk menjadi teman kerancuannya bahkan berharap hisapan dari asapnya mampu mengentikan aliran air matanya. Sungguh kejadian memilukan ini dapat melerai kerinduannya sesaat pada suaminya.
Pencarian solusi untuk masalahnyapun berlanjut hingga tengah malam menjelang, ia baru meninggalkan balkon itu menuju kamar tidurnya. Merebahkan tubuhnya di atasnya untuk segera menuju alam mimpinya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc