
Kini Sammuel menghapus jejak cumbuannya pada bibir Tara dengan telapak ibu jarinya. Kesempatan Tara untuk melepas dekapan itu yang membuat tubuhnya kian memanas dengan menggigit keras jarinya.
"Akkhhh bangke lo!" Ringis Sammuel, tanpa di sadarinya ia menghempas tubuh ramping itu begitu saja.
"Akhirnya kamu lepasin juga, panas tau." Tara mengipas wajahnya dengan tangannya. Sesungguhnya rasa panas itu berasal dari gejolak hatinya yang tidak mampu menerima pesona indah dari suaminya.
Sammuel masih mengelus ibu jari yang tergigit istrinya hingga membuat bibirnya terbungkam rapat.
"Oh ya Sam, kamu pernah ngangkat telpon aku terus bilang soal pernikahan kita sama cowo kan?"
Sammuel memutar ingatannya hingga beberapa detik ke depan. "Oh ia, si Aldi kan?" Cetusnya seraya menahan jantungnya yang berdenyut nyeri jika harus mengingat itu.
"Kamu tau ga dia siapa?"
"Ga mau tau." Ketusnya menyembunyikan rasa cemburunya.
Tunggu! Cemburu? Bukan, ia mengakuinya lebih untuk enggan miliknya menjadi milik orang lain.
"Kamu harus tau Sam, kamu yang minta aku sembunyiin status kita, malah kamu sendiri yang ingkar." Protes Tara memperingati suaminya jika bukan dirinyalah yang bersalah kali ini.
"Kenapa? Lo jadi di putusin dia gara-gara gue ngomong laki lo?"
"Dia ade ipar aku kodokkkk." Gemas Tara menjepit hidung Sammuel dengan dua jarinya.
Sammuel melega namun wajahnya meringis. Kendati demikian, ia membiarkan istrinya melukai hidungnya untuk menebus kesalahannya.
"Kamu tau gara-gara kamu itu aku bingung harus ngomong apa sama mereka?" Akhirnya Tara melepas jarinya dari hidung Sammuel.
Sammuelpun menghapus jejak itu dari hidungnya, mewakili rasa leganya. "Salah lo udah keluyuran, kan gue jadi emosi."
Tara menggelengkan kepalanya dalam decakannya. "Ck ck ck.. kamu bisa ga jangan berprasangka buruk dulu?"
"Lah lo sendiri juga kaya gitu." Tebas Sammuel asal bicara.
"Kapan aku kaya gitu?"
__ADS_1
"Tau, gue juga ngerasa ga pernah."
Tara terkekeh menertawai perkataan suaminya, sedang Sammuel sendiri dengan acuh terdiam seolah tidak berdosa.
"Lo ga haus apa?" Sammuel mengalihkan bahan perbincangan untuk menghindari rasa canggung akibat sang hati yang menggebu di dalam sana.
"Bilang aja kamu nyuruh aku ngambil minum." Meski bersungut, Tara bangkit berdiri di hadapan suaminya. "Mau minum apa?"
"Coba liat di kulkas, bir masih ada ga?"
"Setau aku sih sisa 2 yang kaleng."
"Ya udah ambil itu aja."
Tarapun beranjak melaksanakan perintah suaminya.
Seperginya Tara, Sammuel meresapi lamunannya membayangkan perkataan Tara sebelumnya.
Salahnya yang tidak dapat meredam emosi hingga kini istrinya yang harus menanggung akibatnya yang akan membuatnya mendapati petaka kecil.
Sekuat tenaga ia ingin menyembunyikan status pernikahannya, namun dirinya pula yang membongkarnya atas sikap emosionalnya yang sulit di pendam jika sudah meluap itu.
"Lo mau minum bir?" Tanya Sammuel seraya melepas segel kaleng itu.
Tara kembali duduk di samping Sammuel. "Lumayan, buat ganjel otak dikit." Cetusnya. Iapun melepas segel itu, namun entah mengapa ia mendapat kesulitan.
Sammuel menyerahkan kalengnya yang sudah terbuka tutupnya pada Tara, lantas merebut kaleng yang belum terbuka dari tangan Tara membuat Tara kembali terhanyut dalam perasaannya. "Lo beneran mau minum?"
Tingkah Sammuel yang seperti itu, tidak banyak yang di lakukan Sammuel, namun berhasil menggapai hati Tara hingga membelenggunya untuk tidak tertarik kepada pria lain sekalipun Jackson yang sudah merenggut kesuciannya.
Padahal, perlakuan Jackson lebih baik dari Sammuel. Lantas, atas dasar apa Tara lebih memilih Sammuel si keras kepala ini di bandingkan dengan Jackson yang selalu mengabulkan segala keinginannya?
Ia meruntuk dirinya jika dirinya sudah tidak waras yang lebih menyukai sikap arogan dari pada kelembutan dari seorang pria.
"Art." Sapa Sammuel membuat lamunan istrinya terpecah seketika. "Yakin mau minum itu?" Tanyanya ragu-ragu, pasalnya ia mengerti jika istrinya mungkin saja ingin melepas penat setelah lama terkurung olehnya.
__ADS_1
"Iya lah dikit biar otak encer." Tara meneguk minuman itu meredakan otaknya yang masih memikirkan keinginannya untuk mendapatkan hati suaminya.
"Mau beli Tequilla?" Tawar Sammuel.
"Ga usah ah, kalo aku mabok bisa repot."
"Ia bener juga, lo mabok tar gue yang repot." Sammuel terkekeh mengingat saat pertama kalinya bertemu dengan istrinya, lantas dengan santainya meneguk minumannya.
"Kamu pernah liat aku mabok emangnya?"
"Pertama ketemu, lo ngoceh-ngoceh sampe nunjuk-nunjuk si Jack sama si Hans." Jelas Sammuel, kembali ia tertawa di akhir kalimatnya membuat iatrinya yakin jika ucapan itu terucap tanpa dusta.
"Beneran gitu?"
"Kapan gue boong?" Ucapnya santai, lantas meneguk minumannya kembali. "Tapi lo lucu juga kalo mabok, gue serasa punya sarimin." Ledeknya.
Tara jengah, lantas kembali menjepit hidung mancung itu dengan dua jarinya, kini Sammuel menepisnya seraya meringis.
"Cewe barbar ini, lo mau bikin hidung gue kaya pinokio apa?" Sungutnya seraya menghapus jejak itu.
"Biar nambah ganteng kan?" Lengos Tara yang membuat Sammuel menahan senyumnya.
Sammuel kian gemas di buatnya, ia menaruh kaleng itu ke atas meja lantas merebut kaleng Tara dan meletakkannya di atas meja jua. Ia kembali membawa istrinya dalam dekapannya, mencumbunya dengan mesranya.
Inilah yang di tunggu Tara, baiklah katakan Tara bak penggoda. Ia tidak memungkirinya bahwa dirinya merindukan sentuhan dari seorang insan. Apa salahnya jika ia menginginkan dari suaminya.
Beberapa saat kemudian, cumbuan itu terlepas namun Tara masih memejamkan matanya meresapi sisa cumbuannya.
Sammuel terkekeh membuat Tara melepas rekatan kelopak matanya. "Lo tau lo kaya gini bisa bikin ancur rencana gue?" Sesungguhnya Sammuel mengatakannya hanya untuk lelucon semata.
Tara tertegun menanggapi perkataan suaminya yang membuatnya sadar diri atas jati dirinya. Wanita sepertinya tidak pantas menyandang pria seperti Sammuel dalam hatinya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc