Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 103


__ADS_3

PT.ZhanaZ Group, lantai 59 pukul 09:07.


Tara sudah duduk anggun di balik meja kerjanya, dua lembar kertas menjadi bahan pembelajarannya saat ini.


Entah mengapa, kepalanya tidak dapat berpusat pada pekerjaannya. Ia hanya menerka jika kekacauan pada otaknya berasal dari rasa rindu yang telah mendobrak angannya menginginkan bertemu dengan sang suami tercinta yang telah hilang selama delapan hari lamanya.


Kala itu, kegiatannya tersenggal atas kehadiran Kelvin yang menemuinya hingga langsung menghadapnya.


“Bapak Kelvin, ada apa mencariku?” Tanya Tara penuh janggalan dalam sapaan segannya kala sang pria yang di sebutkannya berdiri tegap di hadapannya.


"Nyonya Jordan, saya harap anda dapat menghadiri pertemuan pemegang saham jam 10 nanti." Ucap Kelvin menyahut segan di sertai dengan menungkup tangannya saling bertautan di depan tubuhnya.


"Kenapa harus saya hadir pak?" Tanya Tara penuh janggalan mengingat dirinya tidak pernah sama sekali menghadiri pertemuan para petinggi itu. "Oh ya silahkan duduk." Imbuhnya menyambut tamunya dengan lentangan tangannya. Namun mendapat balasan gelengan kepala dari pria yang masih setia berdiri di hadapannya.


"Tidak perlu." Tolak Kelvin tak bersarat dalam nada lembutnya bahkan senyuman tersirat dari wajah gagahnya. "Mengenai pertemuan hari ini tidak bisa di tunda lagi, tapi bapak GM dan bapak Presdir tidak berada di tempat. Maka dari itu Tuan Jordan meminta anda menggantikannya." Imbuhnya menjabarkan maksud hatinya namum membuat wanita di hadapannya mengerutkan keningnya.


"Ada pak Hanson kan?" Balas Tara menolak halus dengan kilahnya pada seorang yang di anggapnya lebih pantas.


"Beliau tidak memiliki bagian untuk itu nyonya." Sahut Kelvin di sambut renungan oleh wanita di hadapannya.


Sejenak Tara mempertimbangkannya, merasa dirinya tidak pantas menghadiri pertemuan itu. Namun demi kedua pria yang membuat kisah asmaranya rumit, iapun berniat untuk menyetujuinya setelah berpikir keras hingga menyatakan tidak ada salah baginya jika hanya menghadiri pertemuan khusus saja.


"Baiklah." Akhirnya keputusan Tara membulat pada persetujuannya membuat pria yang masih berdiri tegap di hadapannya tersenyum lega.


"Dokumen yang anda pelajari itu." Tunjuk Kelvin pada lembaran kertas yang berada di hadapan kekasih atasannya. "Bahan pertemuan nanti."


"Anda sudah mempersiapkannya rupanya?" Terka Tara berkumandang jika sang asisstant itu telah mengetahui akan persetujuaannya ataupun di katakan memaksanya membuat lawan bicaranya menyeringai penuh pujian.


"Saya tunggu nyonya di ruang pertemuan nanti. Kalau nyonya tidak tau tempatnya, nanti Nicky yang akan menuntun nyonya." Seru Kelvin berpesan antusias di balas anggukan keras wanita di hadapannya.


"Baiklah."


"Terimakasih nyonya." Tutur Kelvin sebagai penutupan tak lantas membungkukkan tubuhnya meminta pamit pada wanita yang telah tersenyum kepadanya mengiringi kakinya yang mulai mengayun meninggalkan ruang milik General Manager itu.


Seperginya Kelvin, Nicky menggantikannya menemui istri sahabatnya yang telah menyambut kehadirannya dengan senyuman manisnya.


"Nyonya apa setuju untuk pertemuan nanti?" Sapa Nicky berhati-hati kala wanita di hadapannya mengangguk ragu membalas ucapannya.


"Ya."


"Kalau begitu, ini keluhan yang akan di bahas di meeting nanti." Sahut Nicky mengakhiri kalimatnya kala tangannya terulur menyerahkan selembar kertas kepada wanita yang telah meraihnya tanpa ocehan.


"Makasih." Di sela uluran tangannya, Tara menjanggal keras tat kala pikirannya berkumandang tidak percaya jika hanya sebuah pertemuan saja tidak seharusnya dirinya di mempelajari pembahasan pertemuan nanti. Namun terlanjur sudah ia menyetujuinya yang membuatnya hanya mampu menerimanya.


Bungkamnya mulut wanita yang telah merenung keras itu membuat Nicky membungkukkan tubuhnya meminta pamit, namun tersenggal oleh ucapan selanjutnya.


“Nicky, dia ke Dubai kan?" Tanya Tara penuh lirihan membuat pria di hadapannya tergesa mengangkat tubuhnya.


"Benar nyonya, ada barang tambang yang harus beliau dapatkan dari sana." Sahut Nicky melerai kegelisahan sang wanita sejenak.


Tara memang melega, namun ia tidak akan dengan mudah mempercayai ucapan sang pria yang berada di kubu suaminya. "Benarkah? Bukan untuk menemui pacarnya?" Pancingnya dalam nada gurauannya membuat pria di hadapannya menyiratkan senyuman fahamnya.

__ADS_1


"Beliau hanya mengatakan itu, dan saya juga yakin untuk itu karna saya yang mengurus janji pertemuannya." Jabar Nicky melerai pancingan sang wanita tak ayal mengungkap kesungguhannya membuat wanita itu mengusap dadanya melega.


"Baiklah, bilang padanya, bisakah aku telpon dia?" Pinta Tara penuh harapan yang tercurah pada satu-satunya orang yang di percayainya di hadapannya.


"Akan saya sampaikan." Balas Nicky di sertai senyum indahnya. Lantas kembali membungkukkan tubuhnya untuk berpamit diri. "Saya pamit nyonya."


"Silahkan." Balas Tara menyahut merelakan kepergian sang pria. Sejujurnya, masih begitu memendam berjuta pertanyaan tentang suaminya yang ingin ia utarakan pada pria itu, namun ia memendamnya kembali kala sebuah bahasan penting menanti di depan matanya.


Tarapun kembali melakukan kegiatannya, kini kepalanya sudah mampu mencerna setiap barisan kata yang tersirat di atas tiga lembar kertas itu lantaran hatinya yang sudah melega meski belum sepenuhnya kegundahannya sirna tat kala rasa rindu masih menjalar dalam asmanya.


*******


Pukul 09:55 Tara sudah berada di dalam ruang pertemuan khusus atas tuntunan Kelvin yang memimpin langkahnya. Kini ia duduk pada kursi ke dua barisan kanan terdepan di mana kursi itu di khususkan untuk pemeran penting dalam perusahaan.


Pada kursi pertama, Erick sudah duduk gagah di sana menyambut wanita yang telah menatapnya dari sampingnya dengan senyum wibawanya.


Tanpa basa-basi, Tara membalas senyuman itu dengan senyuman manisnya lantas menepisnya kala pasang matanya mengedar pada tiap penjuru ruangan. Kelopak matanya terbuka lebar kala ia melihat sosok wanita pemilik nama Sonia Maretta telah duduk manis pada kursi ke tujuh yang berada dalam barisan besebrangan dengannya.


Hanya sesaat, kejutan itu sirna, berubah menjadi seringai iblis dalam siasat busuknya. Sisanya, ia menjanggal dengan tempat duduknya. Namun ia hanya mampu membungkam mulutnya lantaran acara tujuanpun tengah di mulai.


Kelvin sang pemimpin acara, ia kini berdiri di balik layar lebar yang bertengger di balik dinding ruang itu. Ia mulai membuka acaranya dengan sambutannya, lantas berlanjut pada permasalahan intinya.


"Perkenalkan anggota baru kita pemegang saham terbesar saat ini Nona Art Tara Biancasandra." Ia menunjuk sopan menuju arah di mana sang pemilik nama yang di sebutnya berada.


Kelopak mata Tara kembali melebar kala meresapi perkenalan diri yang melantun dari mulut pria itu begitu membawa kejutan baginya.


Batinnya menggundam sebuah keluhan tidak mempercayai jabatan dirinya yang di sebutkan pria yang masih berdiri tegak di hadapannya saat lalu. Namun tidak membuatnya berdiam diri. Ia segera bangkit dari duduknya lantas mengedarkan pandangannya pada tiap wajah peserta pertemuan hingga menyiratkan senyuman manisnya sebagai ungkapan sambutannya.


Rupanya seorang wanita yang telah menjadi buruan siasat busuknya terperangah dalam kejutannya. Ia mulai mempertimbangkan garis hidupnya yang di rasanya tidak akan berpihak kepadanya kala sang anak tiri yang telah menjadi lawan tangguhnya kini telah menjadi seorang penunjang usahanya.


"Baiklah, kita akan langsung pada bahasan pokoknya, untuk keluhan yang tertera, apa ada pendapat untuk jalan keluarnya?" Ucap Kelvin melerai pandangan dua wanita yang saling menyeringai menyeramkan.


Tanpa penuh pertimbangan, Tara mengungkap tujuannya penuh percaya diri yang terpacu dari tatapan wajah sang ibu tiri membuatnya ingin menguji kemampuannya yang akan di paparkan pada wanita iblis itu.


Akhirnya Tara berhasil membuat wanita yang selalu menjadi buruan emosinya membisu seribu bahasa bahkan tidak mampu mengangkat wajahnya untuk menatapnya.


Akhirnya acara pertemuanpun usai setelah mendapat kesepakatan pekat yang di restui oleh ayah dari pemimpin tertinggi perusahaan raksasa itu. Ke 15 pemegang sahampun berhamburan keluar ruangan meninggalkan waktu setempat.


Kini hanya tersisa Tara, Erick, Nicky, Kelvin masih duduk di tempat semula menghadap Sonia Maretta yang masih duduk di sana seolah enggan berpisah dengan anak tirinya kala tatapannya tertuju tajam pada wajah anak tirinya yang telah memaparkan seringai iblisnya.


"Tara, lama tidak berjumpa." Sapa Sonia, akhirnya ia beranjak dari kursinya untuk menghampiri anak tirinya.


"12 tahun!" Balas Tara tegas, setegas tatapannya menyorot manik mata wanita yang terlihat kikuk di sampingnya. "Setelah akal busukmu itu terwujud." Cibir Tara dalam emosinya yang sudah tidak mampu tertahankan. "Anda tau nyonya Prayuda? Saya berterimakasih sekali kepada anda, berkat anda saya bisa duduk di sini saat ini." Imbuhnya membuat Erick tersenyum simpul. Namun untuk Kelvin serta Nicky, ia tercengang mendengar pernyataan pengakuan kesah 12 tahun silam.


"Tara." Suara lembut Sonia tercurah seolah ia begitu menyayangi orang yang telah di panggilnya itu. "Mama tidak mengerti dengan ucapanmu." Kilahnya berdusta bahkan elusan dari tangannya pada pundak anak tirinya begitu terlihat milukan oleh tiga pria yang masih setia berada di sekitar.


"Maaf nyonya Prayuda, bisa singkirkan tangan kotormu dari tubuhku?!" Tepis Tara dalam nada jengahnya. Meski demikian, ia tetap memandang lurus arah depannya, enggan matanya berkontak dengan mata wanita yang telah menyingkirkan tangannya dari pundaknya. "Dan juga, maaf jika nyonya tidak mengerti dengan ucapan saya saat lalu. Saya hanya menyampaikan apa yang di katakan anak kesayangan anda 'Vira' kepada saya." Imbuhnya yang mendapat sambutan dari ketiga pria di hadapannya dengan sebuah anggukan keras.


"Dia sudah meninggal." Sahut Sonia penuh lirihan mengingat anak tirinya tidak pernah di beritahukan bahwa sang kakak tiri telah berpulang kepadaNya.


"Anda sudah mengetahui itu sebelumnya nyonya, bahwa anak anda tidak akan bertahan lama untuk hidup." Sahut Tara menyulut tawa Erick hingga terbahak riang penun cibiran, menyindir keras wanita yang di sebutkan sebagai ibu tiri menantunya.

__ADS_1


"Semua tau itu Tara, bukan hanya kamu, bahkan Hanson juga." Tutur Erick menatap kejam wajah wanita iblis itu yang membuat empunya membatu di sana.


"Pasti!" Tegas Tara menyahut keji dalam paparan wajah emosinya. "Keluargamu bukan keluarga bodoh yang mudah di kelabui tuan Liu." Imbuhnya di balas sang ayah mertua dengan tepukan pada pundaknya.


"Itulah yang membuatku tertarik padamu menantuku." Ungkap Erick penuh kejujuran hati jika ia mengakui kecerdasan menantunya.


Sonia terkapar dalam permainannya sendiri, ia masih mengira jika siasatnya 12 tahun silam tertuju untuk Erick. Namun kini, Erick mengatakan bahwa anak tirinya adalah menantunya, itu mengartikan jika siasatnya dahulu kala telah terhindarkan dari pria yang masih menyeringai keji menatap wajahnya.


Tidak pernah di duganya, rencana menyerahkan tubuh anak tirinya kepada pria pemilik nama Liu Xi Wen 12 tahun silam telah mendapat kegagalan pekat.


Dan kini, ia mendapat ancaman dari anak tirinya yang telah menjadi menantu seorang yang berperan penting bagi perusahaan kecilnya.


"Tuan Liu, nona Tara, saya harap kerja sama kita lancar hingga waktu ke depannya." Tutur Sonia sebagai permintaan pamitnya, ia sudah enggan mendapat serangan lebih buas dari perkataan pedas anak tiri serta pria di sampingnya.


"Tentu!" Jawab Erick bertekad hati, mengabaikan rasa cemas akan siasat busuk kembali berseru dari pikiran busuk wanita itu. "Jika nyonya Jasmeen ikut bergabung." Imbuhnya membuat Sonia tersenyum kaku, ia enggan mengucap katanya kembali yang akan mudah di tebas para iblis di sekitarnya.


"Saya undur pamit." Seru Sonia setengah memaksa kala sang kaki telah mengayun lantang membuat langkahnya memburu seketika.


Hening..


Seluruh orang mengabaikan ucapan wanita yang telah mengayunkan kakinya membawa kerancuan batinnya atas pertahanan emosinya yang di pendam begitu kerasnya.


Sesungguhnya, jika saja ia tidak membutuhkan bantuan perusahaan raksasa itu. Sejak saat ia melihat anak tirinya di sekitar, ia sudah ingin mencabik batin sang anak tiri dengan ungkapan kejinya. Namun naas, semua itu hanya menjadi butiran angannya semata kala ia mengharap sang anak tiri tidak mengungkit ulahnya saat 12 tahun yang lalu.


"Ada apa ini pih? Kenapa aku jadi pemegang saham terbesar?" Janggal Tara akhirnya terungkap kala sosok wanita iblis itu telah hilang sepenuhnya dari sekitarnya. "Apa karna siluman tadi?" Imbuhnya membuat Erick terkekeh geli.


"Ga ada jalan lain nyonya." Kelvin berucap menimpal di sela langkah kakinya yang menghampiri wanita satu-satunya yang tertinggal di dalam ruang itu. "Kita tidak bisa membuat para pemegang saham lain kecewa atas ketidak hadirannya Presdir dan GM kita." Imbuhnya setelah berhasil duduk pada kursi bersampingan dengan wanita itu.


Tara melega mendengar penjelasan yang hanya sepenggal itu yang dapat di sibaknya jika apa yang di lakukannya hanya untuk sandiwara semata.


Namun ada baiknya di balik itu, menjadikannya mampu mengungkap kecerdasannya bahkan membalaskan dendamnya yang terpendam selama 12 tahun pada sang ibu tiri kejamnya.


"Art, dari mana kamu mempelajari semua yang tadi?" Tanya Erick menyapa menantunya yang masih termenung di sana, membuat lamunan empunya terpecah seketika.


"3 bulan kuliah di fakultas bisnis dan juga sebelum hidup dengan kalian aku sempat membuka toko pakaian." Jelas Tara penuh kejujuran meski masih ada barisan kata yang di tutupinya.


"Kamu tau? Tender yang kita bahas tadi adalah tender tertinggi, atau tender ultranium." Ujar Erick terkagum-kagum hingga menyorot wajah menantunya dengan tatapan penuh pujian tak ayal senyum menawanpun tersirat dari wajahnya membuat empunya belingsatan di sana.


"Aku. A-aku cuma, cuma coba kasih saran aja." Sahut Tara terbata-bata kala menilik mata itu kian menyorot manik matanya kini bahkan tawa kecil yang terlontar terasa menyindir dirinya.


"Aku bangga padamu Art, terserah kamu mau jadi menantuku dengan siapapun pasangannya, aku cuma mau kamu tetap ada di perusahaan ini." Jabar Erick sebagai permintaan pekatnya, namun membuat sang menantu menatapnya tidak percaya.


"Papiiihhhh."


"Art Taraaaaa, papi dan mami mertuamu mengharap itu." Ujar Erick pengakhir perbincangan enggan sang menantu menuturkan kata penolakannya hingga ia beranjak tanpa mau tau dengan langkah sisa penghuni yang membuntutinya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2