
Hari menunjukan pukul sepuluh pagi, Hanson sudah duduk manis pada sofa yang terletak di ruang tamu apartement di pinggiran kota.
Di sampingnya, seorang wanita telah duduk di manis menebar pesona dari senyumannya sebagai pendamping perbincangannya.
"Sorry Tri kamu jadi kekurung gini." Hanson menyiratkan senyum lirihannya, meratapi nasib naas wanita di sampingnya. "Semua gara-gara aku."
Seorang wanita kehilangan kebebasannya atas paksaan sang ayah yang mengharuskannya mencari puing-puing kekayaan dengan mengorbankan tubuhnya hingga keadaan ibunya yang koma sudah satu tahun lamanya menjadi sebuah ancaman baginya.
"Bukan salah kamu lagi, demi aku sama mama aku juga." Triana melirik ke arah pintu kamar tidurnya di mana sang ibu terbaring di atas kasur di sana.
"Sabar dikit lagi ya, buat nyari pelakunya bener-bener susah," ujar Hanson berseru rajuk menyatakan penyesalannya yang bersungguh-sungguh.
"Ga apa-apa," balas Triana mulai kikuk kala pasang matanya tersorot tajam oleh manik mata lelaki yang kini mengusap puncak kepalanya. "Kamu bilang aku bisa keluar asal bareng kamu kan?" imbuhnya mengingatkan akan janji sang pria beberapa hari yang lalu.
Sang pria menyatakan jika dirinya tidak di perbolehkan sama sekali keluar ruangan jika saja sang pria tidak turut serta bersamanya.
"Hmm," sahut Hanson berdengung lirih.
Tidak lain dengan wanita di sampingnya, iapun mengingat wejangan darinya pada wanita yang kini tersenyum kepadanya.
"Malem minggu nanti aku mau liat si Jack beraksi di The Views, kamu bisa anter aku kan?" pinta Triana penuh harapan hingga ia menatap lekat arah pria yang mengangguk antusias di samping kirinya membuatnya mendapat kelegaan hatinya.
Ia menginginkan untuk dapat melihat seseorang yang sangat di rindukannya meskipun ia tidak mengetahui apakah orang yang di maksudkan hatinya akan membalas kerinduannya atau tidak.
"Boleh!" balas Hanson seteguh hati ingin melerai tatapan harapan di sampingnya seolah ia tidak akan memberikan persetujuannya. "Kamu ga mau aku bantu ngejar dia?" imbuhnya menerka maksud hati sang wanita.
"Aihhh ga usah lah! Kalo dia ga suka sama aku juga percuma," tolak Triana tanpa basa-basi kala rasa malu mulai merangkak menyelimuti jiwanya. "Cukup aku nikmatin dia dari belakang juga aku udah puas." Lantas tersenyum menyembunyikan kepedihannya.
Sejenak Hanson melirik kagum wajah imut yang membalasnya dengan senyuman pahit itu. "Andai dia kaya kamu."
"Siapa? Cewe kamu?" tanya Triana menerka-nerka.
__ADS_1
Sesungguhnya, ia telah mengetahui kisah asmara jajar genjang seorang pria yang kini tertawa kecil di sampingnya. Satu minggu sudah ia menjadi pengawasan sang pria yang mendapat tugas untuk menyelidiki kasus sang ibu yang kini terbaring tidak berdaya di atas tempat tidurnya.
"Di bilang cewe aku ya emang ia, di bilang bukan juga emang bukan." Hanson terkekeh di akhir kalimatnya, menertawai nasib dirinya yang tidak di inginkannya sama sekali jika ia di haruskan bertunangan dengan seorang wanita yang tidak di cintainya sama sekali.
Trianapun tertawa sebelum membuka mulutnya membalas tawa kecil itu. "Gimana sama cewe yang kamu kejar?" tanyanya bertujuan pada seorang wanita yang sering di sebut-sebutkan lawan bicaranya selama satu minggu ini.
Bukan hanya dirinya, sang priapun telah menceritakan kisah hidupnya kepadanya. Bahkan kisah asmaranyapun tanpa ragu di ceritakan sang pria padanya.
"Ga ada kemajuan." Hanson menyahut lirih pertanyaan wanita di sampingnya yang kini menertawainya penuh ledekan. "Tapi gue punya cerita baru, dia nikahnya ga normal," ucapnya dalam senyuman penuh kemenangannya.
"Ga normal gimana?"
"Ada surat perjanjian!” Hanson tersenyum penuh kemenangan membuat wanita di sampingnya kian menjanggal. “Yang aku heran cowonya ga cinta sama dia malah nyuruh istrinya ngejar kakaknya," imbuhnya terpenggal di balas picingan mata dari wanita itu.
"Cewenya doang yang cinta?"
"Ga tau juga."
"Tujuan dia nikahin cewe itu emang buat cowo itu kali," ujar Triana menyeleneh di balas gelengan ringan oleh lawan bicaranya. "Lagian, kamu tau kali dia udah nikah masih mau aja sama dia."
Hanson tertawa kecil menyikapi ucapan yang begitu menusuk angannya. Tidak di pungkirinya jika iapun menjanggal dengan keadaan sang hati. "Kamu tau? Di perjanjiannya ada nama aku."
"Buat jaminan apa?" balas Triana terkejut heran kala mendapat penjelasan yang hanya sepenggal itu.
"Cewe itu di bolehin selingkuh cuma sama aku." Hanson menahan katanya, menghela napas rancunya saat kepalanya tidak dapat menyibak makna dari maksud adik pertamanya. "Sama si Jack juga." Dan ia menatap miris wajah Triana saat wanita itu terperangah dalam kejutannya.
Triana mendapat kejutan, namun menyembunyikannya di balik senyumnya seraya membalas tatapan miris itu dengan tatapan lirihnya. Ia mencoba menenangkan sang hati yang telah terbakar api cemburu akibat ucapan Hanson saat lalu.
Hening sesaat melanda kala mereka menggumamkan keluhan di dalam benak masing-masingnya.
Sementara Hanson masih mencari tau alasan namanya yang berada dalam surat perjanjian mereka, Triana sendiri melirih dengan nasibnya.
__ADS_1
Mengapa setiap lelaki yang di inginkannya selalu terhempas terpaksa dari sisinya. Sungguh takdir dirinya telah mempermainkannya, batinnya mengutuk nasib diri yang belum mendapat kepastian hingga kini.
"Kayanya kalo dia gabung sama kita nyambung juga, kamj sama aku juga bisa nyambung karna nasib kita sama." Triana tersenyum di akhir kalimatnya, membayang sang wanita yang berada dalam perbincangannya tak ayal seperti dirinya yang mendapat nasib rumit untuk kehidupannya membuat Hanson kembali menatap kagum padanya.
"Sipat kamu yang ini, sama kaya dia,” sahut Hanson kian melebarkan senyuman kala pasang matanya menatap kagum wajah jelita yang kini belingsatan di sampingnya.
"Lah jangan jadiin aku pelampiasan dodol!" protes Triana menatap jengah wajah pria yang kini terkekeh di sampingnya.
"Kamj juga bisa jadiin aku pelampiasan, aku yakin aku ga kalah ganteng dari si Jack," balas Hanson melengos membuat Triana berdecak sebal menyerukan ledekannya.
"Sayangnya kamu beda sama dia, kamu terlalu lembut buat aku Hans," balas Trina menolak ringan.
"Kamu mau aku jadi kasar?" ujar Hanson bersunggguh-sunggun seolah meluapkan keteguhan dirinya pada ucapannya. Bahkan ia menyondongkan tubuhnya ke sampingnya, menatap lekat mata indah itu. "Bisa aja, Dengan senang hati!" Lantas ia menyeringai di balik tatapan itu.
"Sableng kamu ah!" sungut Triana jengah kala rasa malu sulit sirna dari angannya.
Tidak kuasa menerima tatapan pekat yang melekat itu, Triana mendorong tubuh sang pria untuk dapat menghindari tatapan penuh pesona itu.
Sedang Hanson terkekeh menyikapi perlakuan itu. "Cuma di depan kamu aku jadi sableng gini,” ucap Hanson, membuahkan tangan Triana mengulur, memukul keras bahunya hingga empunya meringis serta menghapus jejaknya.
"Ogah banget aku jadi cewe satu-satunya yang bisa ngerubah sipat kamu!" cibir Triana penuh penekanan di balas tawa kecil oleh lawan bicaranya. "Cape tau ngerubah sipat orang."
Hanson hanya terkekeh membalas penolakan keras itu tanpa kembali menimpali ucapan yang di yakininya hanya sebagai gurauan semata.
Inikah cerita awal kisah mereka?
•
•
•
__ADS_1
Tbc