
Duka lara menyayat hati, tak kunjung enyah menggoda hari. Perbincangan dengan Jackson saat lalu, mengusik ketenangan batin Tara hingga kini. Resah dan gelisah menyelimuti setiap waktu yang di lalui, sehingga membuat hari-hari begitu sulit di hadapi.
Sore ini, ia memantapkan keputusan untuk segera melepas beban diri. Menilik keadaan prihatin tak akan dapat di akhiri, sebelum ia mengungkap jati diri sang buah hati.
Mendung membayang di atas sana, awan kelam berkerumun menyelimuti langit. Seolah menyambut isi hati, rintik hujan turun membasahi bumi. Namun, keadaan itu tidak membuatnya mengurungkan niat hati. Kini, ia berdiri di balik gerbang tempat menuntut ilmu terbaik dalam negeri.
Samar-samar terdengar suara memanggil namanya, ia pun mengedarkan pandangan, mencari di mana asal suara itu berada. Senyum terukir di balik wajah ceria, menggambarkan suka cita menyambut seorang wanita yang sedang berjalan menghampirinya.
"Tara, tumben kamu ke sini." Suara Jasmeen memekik nyaring, agar ucapan terdengar oleh wanita yang berdiri agak menjauh darinya.
Senyuman tak dapat enyah darinya, membuat bibir sulit mengucap kata. Tara menunggu wanita itu menepikan langkah di hadapannya, sebelum menyambut sapaan dengan barisan kata.
"Kamu mau kita ngobrol sambil hujan-hujanan?" Jasmeen kembali mengucap kalimat, setelah berdiri menghadap Tara.
Tara menyahut dengan tindakan, tangannya menggandeng tangan Jasmeen. Menuntun langkah untuk menuju suatu tempat yang di inginkan.
Jasmeen terkesan heran, menyadari tujuan tuntunan langkah itu. Namun, ia tetap mengikuti ke mana arah penepian yang di tunjukan Tara.
"Kamu ... mau menemui Alev?" Jasmeen mengungkap rasa janggal, berbalas anggukan dari wanita yang berjalan beriringan dengannya.
"Benar kan ruang kelasnya di sana?" Telunjuk Tara melenting, menunjuk arah objek yang di katakan.
"Ya," sahut Jasmeen menyingkat kata, di saat pikiran bergeming heran. Namun, rasa penasaran bergejolak begitu pekat. Sehingga mulut terbuka untuk segera mengungkapnya. "Kamu yakin? Udah ga takut di pergoki seseorang lagi?"
Tara menghempas napas dalam, mewakili rasa gelisah atas apa yang telah menjadi keputusannya. "Kayanya mereka udah ga nguntit aku lagi."
"Jadi karna-"
"Seandainya ada pun, aku ga keberatan!"
Batin Jasmeen bergemuruh riang, mendengar pernyataan yang selalu di harapkan. Saat yang selalu di nanti, mungkin kini telah datang menghampiri. Alev tak akan lagi mengunci diri, untuk berbaur dengan rekan seusianya.
Pencegahan pertemuan dengan Jackson, membuat Alev menutup diri. Jasmeen mengetahui dengan pasti, menilik keadaan yang di lihatnya setiap hari. Tiga belas tahun sudah ia hidup bersama Alev, membuatnya memahami segala apa yang di rasakan anak angkatnya.
"Baguslah kalau kamu udah sadar," ujar Jasmeen mengolok kerancuan yang terlihat dari mimik wajah Tara.
Tara tersipu malu, sindiran halus itu berhasil mendobrak angannya. Setelah semalaman tadi berpikir keras, ia baru menyadari jika ia terlalu berlebihan melakukan tindakan terhadap si buah hati.
"Apa Alev akan bahagia mulai detik ini?" Jasmeen mendapat kesempatan, mengorek mata hati wanita yang kini melirih menyahut ucapannya.
"Aku harap begitu," sahut Tara di sertai senyum prihatin.
"Kapan kamu mempertemukan Alev sama ayahnya?" Tidak ingin membuang waktu, Jasmeen mempertanyakan hal yang tertimbun selama dua belas tahun ini.
Ungkap tanpa basa-basi itu, membuat Tara kesulitan menimpalinya. Gundah gulana kembali menjelma, di saat hati tak dapat terbuka. Ia tidak ingin jika Jackson membencinya, sehingga kejujuran kisah itu selalu tertahan di dalam benaknya.
"A-aku rasa, aku akan membiarkan ayahnya mengetahuinya sendiri."
"Tara ..." Jasmeen tak kuasa menahan rasa gemasnya, sehingga kelopak mata terbuka lebar, menyerukan amarah dengan tatapan murkanya.
Di saat langkah terhenti di balik ruang kelas nomor satu, kesempatan mengalihkan perbincangan datang menjemput ucapan Tara.
"Kapan dia selesai?" tanya Tara.
__ADS_1
Belum sempat Jasmeen menyahut, suara bel menggema nyaring mewakili jawaban. Tara segera mengarahkan tatapan menuju pintu ruang yang berada di hadapannya. Beberapa menit berlalu, wajah yang ingin di lihatnya baru nampak di depan mata.
Alev mengerjap tidak percaya, melihat sosok yang selalu di rindukan kini berada di depan mata. Tiada sambutan darinya, ketika hati menganggap jika sosok ibunya bukanlah hal yang nyata.
"Alev." Tara menyapa dengan picingan mata, melihat anaknya yang sedang mengucek matanya.
"Hantu?" ungkap Alev tanpa dosa, membuatnya mendapat sentilan pada keningnya.
"Kamu anggap mama udah mati apa?" Tara menyahut sebal, tatapan murka menyorot wajah tampan di sana.
"Hallo mama." Alev menyeringai, mencoba menepis pelototan mata ibunya. Tangannya segera meraih tangan ibunya, mengecup punggungnya sebagai ungkapan permintaan maafnya.
"Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Tara setelah Alev melepas kecupan pada punggung tangannya.
"Yang pastinya tambah pintar." Alev menyahut dengan cibiran, di sambut tawa kecil dari dua wanita yang berada di sekitarnya.
"Dia selalu menjadi juara umum," ucap Jasmeen mengungkap pujian, berharap Tara membanggakan anaknya.
"Baguslah," sahut Tara.
"Cuma begitu?" Alev berucap kian mengolok, melihat tak acuhnya sikap sang ibu terhadap dirinya. "Ga bisa kah mama kasih aku hadiah?"
Melihat ratapan yang terpancar dari lenguhan Alev, Tara mengumbar kekaguman dengan mengusap puncak kepala anaknya. Namun, Alev menepis dengan kerasnya, membuatnya kembali memancarkan tatapan sebal.
"Aku udah besar mama, jangan perlakukan aku kaya anak kecil." Alev mengungkap protesnya, di sambut tawa gemas oleh ibunya. "Ma, hadiah yang aku minta tadi-"
"Apa yang kamu mau?"
Tara melenguh pilu, hanya satu permintaan sang anak, akan tetapi begitu menyulitkan untuknya mengabulkan.
"Mama ga bisa janji." Tara melirih, berharap kebesaran hati di dapatinya.
Namun, Alev nampaknya kecewa. Tak kuasa ia memendam asa, sebelum kepedihan terlihat oleh ibunya, ia segera mengangkat kaki. Dan berlalu begitu saja dari hadapan ibunya.
Tara melenguh frustasi, sudah dapat di pastikan jika Alev akan menerima jawaban dengan rasa kecewanya.
"Oke mama janji." Pada akhirnya, Tara berserah diri, mengalah demi mendapatkan simpati anaknya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, tidak ingin ia pikirkan. Meski bahaya akan menghadapnya, ia akan berusaha untuk mencegahnya.
Keputusan Tara menjadi keputusan Alev jua, tanpa membuang-buang waktu, Alev kembali memutar tubuhnya. Kakinya melangkah kembali hingga menepi di adapan ibunya, tak ayal rangkulan merekat pada tubuh Tara. Tara membalas dekapan itu dengan usapan pada puncak kepala Alev, menjadikannya melihat senyum ceria yang nampak dari wajah Alev.
"Udah beres kegiatannya?" tanya Tara setelah dekapan itu di lepaskannya.
"Udah." Alev mengangguk sebagai pelengkap jawaban.
Sementara Jasmeen, hanya mampu menyaksikan pertemuan langka yang begitu mengharukan itu.
"Jas, habis ini aku akan pergi ajak Alev jalan-jalan." Tara mengucap permintaan, bermaksud jika ia menginginkan Jasmeen turut serta bersamanya. Berbagi suasana ceria dengan seorang yang selalu ada menemaninya.
Namun, Jasmeen menggelengkan kepala, menolak ajakan itu. Ia mengira jika kehadiran dirinya di sekitar mereka, hanya akan menjadi pengacau. Sehingga ia memberikan waktu untuk mereka melepas rindu hanya berdua saja.
"Aku ada urusan sama Maxson," tutur Jasmeen memberikan alasan, menepis picingan mata dari dua orang yang berada di sekitarnya.
Tara mengangguk paham, tidak mengira jika alasan itu beriring dusta. "Oke kalau gitu, kita akan pergi sekarang, kamu-"
__ADS_1
"Max akan jemput aku ke sini." Senyum terukir di balik wajah Jasmeen, menyembunyikan ungkap dusta. Sesungguhnya, ia tidak pernah akan mendapat jemputan itu.
"Ya udah-" sahut Tara tercekat di sela ingatan.
"Oke, aku-"
"Jas, aku minta ... Maxson jangan dulu bilang sama Jackson soal Alev." Pinta Tara sebagai permohonan, membuat kedua tangannya saling menyentuh di balik tubuhnya.
Jasmeen menyikapi dengan gelengan kepala, akan tetapi bukan untuk menolak permintaan itu. Melainkan, ia gemas dengan sikap yang masih saja egois itu. Namun, apalah dayanya, ia hanya mampu mengabulkan segala keinginan Tara. Meski ia mengetahui akhir kisah yang akan di dapati.
"Oke," ucap Jasmeen berpasrah diri.
"Yakinkan dia, Jas." Tara kembali memberi permohonan, ketika hati tidak dapat mempercayai persetujuan itu.
"Mama tenang aja, papa Max ga akan mengingkari janjinya." Alev menyahut tanpa dosa, berbalas tatapan kejut dari ibunya.
"Papa Max?" Lentingan suara menyertai kata yang terucap, Tara mengira jika anaknya akan menjodohkan dirinya dengan pria yang di sebutkan namanya.
"Iya papa Max." Alev tidak memahami pekikan suara itu, sehingga tak acuh menjawab pertanyaan itu.
Beruntung Jasmeen cepat tanggap, sehingga tawa kecil terlontar untuk menepis keterkejutan itu. "Aku mama angkatnya, Art. Itu maksudnya, Maxson papa angkat dia."
Tara menyeringai lega, setelah mendapat pencerahan dari wanita yang masih saja menertawainya.
"Ma, kita ke mana sekarang?" tanya Alev mengingatkan tujuan ibunya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan emas yang begitu langka di dapati. Sehingga, ia berucap setengah memaksakan sang hati agar ibunya tidak menarik kembali ucapannya.
"Kamu maunya ke mana?" ucap Tara balik bertanya, ia belum dapat memutuskan ke mana akan membawa anaknya pergi.
"Ke rumah papa Jackson!" Alev menekankan kata leluconnya, ketika hati mengharap itu terjadi. Namun, tatapan emosi menjelma untuknya.
Tara jengah menanggapi lelucon itu, ia melepas sepatunya, mencari senjata untuk melepas emosi pada anaknya. Belum itu terjadi, Alev telah melarikan diri. Dengan riangnya Alev berlari mencegah sepatu itu mendarat pada tubuhnya. Ia sengaja mengerjai ibunya yang tidak dapat mengejarnya di kala kesulitan memasang kembali sepatu pada kakinya.
Tingkah menggemaskan itu, membuat gelak tawa seorang wanita tak dapat di hentikan. Jasmeen turut merasakan kebahagiaan dari ibu dan anak yang jarang sekali bertemu itu.
"Mereka begitu mirip." Tara merutuk gemas, mengingat sikap Alev begitu serupa dengan sikap ayahnya.
"Siapa?" tanya Jasmeen.
"Alev sama Jackson."
"Jelas lah, mereka anak dan ayah," sahut Jasmeen berseru gemas, akan tetapi terabaikan ketika lawan bicaranya telah enyah dari hadapan untuk mengejar langkah kaki anaknya.
Di balik pertikaian menggemaskan itu, tanpa mereka sadari, dua pasang mata yang tersembunyi secara berjauhan, telah mengintip kegiatan sejak Tara menginjakkan kaki pada tempat di mana kini ia berada.
Satu di antaranya mengukir senyuman miring, pertanda sesuatu telah ia dapatkan dengan pasti. Sedang satu yang lainnya, memperhatikan dengan rasa janggal yang membuatnya mendapat kejutan.
•
•
•
Tbc
__ADS_1