Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 84


__ADS_3

"Sumpah demi apapun aku ga pernah ngerasain ini semua." Ia masih membenamkan wajahnya di sana untuk menyembunyikan lirihannya. "Kalau emang aku bikin risih kamu, aku bisa ngehindar dari kamu." Ia kembali mengatur napasnya yang sudah tercabik akibat menahan lirihannya dalam jantungnya yang berdegup menahan perihnya. "Tapi jangan larang aku buat cinta sama kamu."


***


Duarrr! Batin Tara tersambar petir di dalam sana mendengar perkataan pria yang masih membenamkan wajahnya pada ceruk lehernya. Ia mengingat jika ucapan pria itu adalah ungkapan yang sempat di ucapkannya pada suaminya beberapa waktu yang lalu. Seolah mendapakan sebuah karma, ia mengutuk dirinya yang sudah memaksakan kehendak hati suaminya.


Ia begitu faham dengan perasaan itu yang tak lain telah menggores hatinya berulang kali kala perasaannya tidak di sambut sang pujaan hati.


Bagaimana bisa seorang pria hebat memendam perasaan itu terhadapnya? Tara membatin lirih hingga membuat rasa iba menyeruak dari dalam asanya.


Lirihan batin itu membuat air payau meluncur tanpa bisa di cegah membasahi pipinya seolah menyambut rasa haru dari ungkapan pria yang masih tertunduk berserah di hadapannya.


Rasa iba menelusup angannya membuat tangannya terulur begitu saja, mengusap lembut penuh kasih dan sayang punggung yang berada di bawah dagunya.


Helaan napas rancu sang pria membuat kedua tangannya mencengkram kemeja navy pembalut tubuh pria itu seolah mengisyaratkan jika batinnya berontak enggan menerima perlakuan itu.


Sudah tidak dapat di cegah lagi, tanpa perduli dengan sang hati yang telah tersentuh oleh dekapan erat dari pria itu, ia membalasnya dengan mengecup tepi kening yang terjangkau oleh bibirnya.


Sudah cukup ia memberikan isyarat sambutan itu, ia menarik wajah yang terbenam di balik ceruk lehernya agar mampu menatap wajah tampan yang sempat menjadi idaman hatinya.


"Jack sorry." Napasnya merancu hingga membuat kalimatnya tercabik di sela kerongkongannya. Kian deras air matanya mengalir mengungkap kata penyesalan yang begitu tulus itu membuat tangannya terhempas dari wajah yang telah memaparkan rasa kejutnya di hadapannya.

__ADS_1


"Aku ga apa-apa kalau kamu nolak." Balas Jackson penuh waspada enggan ucapannya kian meledakkan tangisan wanita yang telah menggeleng di sana.


"Bukan, aku__" Ucap Tara terpenggal kala Jackson mengulurkan tangannya, menghapus air matanya dengan telapak tangannya. "Ga gitu maksudnya hiks." Imbuhnya di sertai wajahnya yang tertunduk lemas akibat kepedihannya yang meluap.


Jackson berbinar mendengar ucapan itu, namun hatinya menjanggal. "Jadi maksudnya gimana?"


"Jack hiks." Sahutnya di iringi isak tangisnya seraya menatap lekat wajah tampan yang masih menjanggal itu. "Jangan lupain janji kamu hiks sama nyonya Jordanmu kalau Nyonya Jordanmu belum bisa hiks balas cinta kamu." Ucapnya terengah, tersendat oleh isak tangisnya.


Panggilan 'Nyonya Jordan' itu membuat Jackson tersenyum lebar memancarkan butiran binar di baliknya. "Makasih sayang." Sambutnya bergembira dalam kelegaan hatinya. Lantas ia mendekap erat tubuh wanita itu dengan kedua tangannya, meluapkan rasa terimakasih serta bahagianya dengan rangkulannya.


Hingga bermenit kedapan dekapan itu enggan terlepas membuat mereka saling meresapinya dalam perbedaan maknanya di mana Jackson mendekap sayang tubuh itu, sedang Tara berusaha menghentikan tangisannya.


"Jack kamu tau hiks? Aku ga bisa terima hati kamu hiks, tapi aku bisa terima status hubungan kita hiks." Tara memaksakan menyerukan kalimatnya meski isak tangisnya kian tersedu akibat deraian air mata yang kian meledak.


"Kamu bener-bener bego Jack hiks, kenapa ga nanti aja hiks bilang nya kalo gitu?" Balasnya mencoba menepis wajah yang masih merancu di hadapannya.


"Karna aku udah ga bisa nunggu lagi cewe ini ngakuin aku cowonya." Ungkap Jackson penuh harapan hingga ia menarik tungkak kepala kekasihnya, membenamkan di balik dadanya.


Dalam jarak telinga yang merekat pada dada Jackson, Tara dapat merasakan detak jantung itu yang sudah tidak beraturan seakan darahnya memompa emosinya yang meledak.


Ia menebak bahwa Jackson bersungguh mencintainya membuat isakan itu terhenti begitu saja, berganti dengan rasa bahagia yang mampu di rasakannya hanya sesaat.

__ADS_1


"Jack, kamu mau nginep di sini?" Tawar Tara teguh hati ketika meresapi sentuhan pada dada itu dengan telapak tangannya.


"Pastinya!" Balasnya bertekad diri. Memang hal inilah yang selalu di nanti sang hati.


Akhirnya tempurung otak itu terlepas dari dada yang masih mendetakkan jantungnya tanpa iramanya itu, namun telapak tangannya masih enggan meninggalkan dada itu.


"Sorry." Akhirnya Tara berucap mengiringi hatinya yang tidak dapat berdusta itu.


"Art, jangan terus bilang itu sebelum aku bener-bener kesinggung." Protes Jackson tersenyum lirih seraya menyentil kening Tara memberikan penghiburan untuk dirinya serta kekasihnya membuat tangan Tara yang masih merasakan jantung di balik dada Jackson itu kini beralih menghapus jejak sentilan pada keningnya.


"Oke oke, kalo gitu aku bisa tidur tenang sekarang." Sahutnya di balas usapan dari tangan kekasihnya pada puncak kepalanya.


"Oke kamu tidur aja, aku mau nyuruh orang dulu buat ngambil baju kamu sama baju aku juga."


Tara hanya mengangguk membalas ucapan itu hingga ia beringsut merebahkan tubuhnya di atas ranjang pasien itu. Sesungguhnya, ia hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang kusut di balik selimut yang kini telah di tariknya hingga menutupi setengah wajahnya. Namun rupanya membuat sang kekasih berseru gemas di sampingnya hingga sebelum ia beranjak meninggalkannya, Jackson mengecup sekilas kening itu.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2