Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 199


__ADS_3

Malam itu ....


Kabar duka telah hinggap ditelinga, tiada hal paling mengerikan selain satu kata yang terucap dari mulut ahli medis sore tadi. Tubuh bergetar hebat, ketika ucapan itu terngiang kembali di telinga. Dua jam yang lalu setelah menerima hasil tes darah, seorang dokter menyatakan jika diri tidak dapat memiliki keturunan seumur hidup.


'Ini ga adil.' Berkali-kali batin Triana mengulang kalimat itu.


Hingga diri kehilangan kendali ketika mengingat-ingat nasib yang telah menimpa. Bukan hanya kehilangan kehormatan setelah mendapat musibah di luar negri bersama Sammuel, kini harapan pun telah enyah darinya.


Pikiran buruk berkumandang di dalam angan, ia tidak menginginkan hidup jika tidak dapat melahirkan darah dagingnya sendiri. Maka dari itu, ia berlari menuju meja rias yang tersedia di dalam ruang tidurnya. Kemudian, di raihnya sebuah gunting dari dalam sana.


Cermin di hadapan menampakan bayangan wajah sembab akibat meluapkan tangisan selama tiga puluh menit. Sejenak ia melekatkan telapak tangan di sana, melihat gambar diri yang begitu semberaut.


"Selamat tinggal ...." ungkapnya di sela senyum kepedihan untuk dirinya sendiri.


Tangan dari balik cermin itu bergerak, memegang gunting dalam genggaman tangan yang lainnya. Perlahan ia meluncurkan menuju dada, akan tetapi ....


Brak! Pintu ruang terbuka lebar, sebelah kaki Sammuel mendobraknya setelah mengetahui tiada sambutan selama lima menit ia memanggil penghuni di dalamnya.


Kelopak mata terbuka lebar, melihat pemandangan tragis di sana. Ia pun berlari menghampiri wanita itu, tak lantas merebut paksa gunting dari tangan sang wanita.


Plak! Tamparan keras Sammuel berikan pada pipi Triana. Bukan emosi sebagai pemicunya, melainkan untuk menyadarkan pikiran wanita itu.


"Apa-apaan sih lo?" Pekikan nada bicara menggiring usaha, Sammuel kembali mencari cara ketika wanita itu hanya terdiam di sana.


"Ga usah ikut campur." Seringai miris terukir di balik wajah Triana, beserta tatapan kosong ke arah depannya.


"Lo udah ga mau hidup? Apa gue penyebabnya?"


"Kamu tau apa?" Tak kalah lantang nada bicara itu berseru, Triana telah sepenuhnya kehilangan kendali diri. Ia melampiaskan amarah pada siapa pun yang berada di sana.

__ADS_1


Sammuel terdiam seribu bahasa, mengingat-ingat jika diri telah berlaku kejam terhadap kepolosan wanita itu. Setelah merobek selaput dara beberapa minggu lalu, tak putus ia menghujam batin wanita itu dengan menjadikan bahan pelampiasan emosinya.


Tiada yang mengetahui, setelah kepergian Tara saat lalu, setiap malam Sammuel selalu mengoyak tubuh itu dengan hujaman kenikmatan. Namun semua ia lakukan di luar batas kesadaran, sehingga tiada pernah diri merasa melakukan kesalahan.


Terdiamnya Sammuel di sana memberi kesempatan Triana untuk merah gunting yang tergeletak diatas lantai, akan tetapi pergerakan terlihat ujung mata Sammuel.


Plak! Kembali Sammuel mendaratkan tamparan pada pipi itu, membuat gunting itu terlepas dari tangan Triana.


"Lagi," ujar Triana seolah menantang, sorot mata menatap dendam wajah tampan di hadapan. "Lakukan lagi selama aku masih bernyawa, biar kamu puas."


"Tri—"


"Belum cukup kah kalian mempermainkan aku? Bukan cuma kamu, tapi ... papa, nasib pun udah mempermainkan aku." Begitu nyaring nada bicara itu, Triana melepas emosi di sela ucap kata.


Batin Sammuel mengumpat frustasi, ia kewalahan untuk melerai situasi. Sehingga, ia hanya menanggapi dengan bungkaman mulutnya.


Sementara pria di hadapan meresapi setiap baris kata yang terucap dengan nada nyalang itu, ia baru memahami jika selama ini wanita ini menginginkan kasih sayang. Hendaklah diri berlapang dada, membawa tubuh semampai dalam dekapan kedua tangannya. Begitu pula ia memberi pelengkap dengan elusan pada puncak kepala.


"Maafin gue, Tri." Rasa sesal kian mendalam, akan tetapi sang hati belum dapat menerima wanita ini sebagai belahan jiwa. "Sebaiknya lo tenangin diri dulu."


Kepuasan tidak didapati Triana, terlihat dari gerakan tangan meraih gunting yang tergeletak di belakang tubuh sang pria. Setelah mendapatkan benda itu, ia mendorong keras tubuh Sammuel. Sammuel menyadari hal itu, ia bergerak lebih gesit dari wanita itu.


Plak! Untuk ketiga kalinya Sammuel menghantam pipi setengah gembul itu dengan tamparan tangan kanannya, akan tetapi tak kunjung membuat niat wanita itu urung.


Triana memberontak dengan kedua tangan, meski tidak membuahkan hasil sedikit pun lantaran tenaga Sammuel lebih besar dari emosinya.


"Pergi!" Hingga pada akhirnya, Triana mengucap kata usiran sebagai akhir dari usaha.


Plak! Tidak bosan Sammuel menyadarkan pikiran kalut itu. Namun, untuk kali ini sebuah kepalan tangan berhasil menghantam punggungnya. Ia pun menoleh ke arah belakang di mana pemilik tangan itu berada.

__ADS_1


"Jack." Beserta rasa kejut, Sammuel melepas dekapan pada tubuh itu.


Belum sempat Sammuel menyapa tamu tanpa di undang itu, Jackson telah menyingkirkan tubuh dari hadapan sang wanita. Sammuel paham akan gelagat khawatir kakaknya, sehingga tanpa mengucap kata ia meninggalkan ruang beserta penghuni di dalamnya.


Di sela langkah kaki, membawa tubuh menuju ruang tempat menyimpan ratusan macam minuman pereda stress. Ia membawa berjuta pertanyaan yang belum sempat terucap. Ia tidak mengetahui sama sekali sebab akibat yang membuat wanita itu melakukan tindak mengerikan. Hanya menerka jika hadirnya emosi itu akibat diri yang tak pernah membalas cinta kasih wanita itu. Renungan berakhir ketika kaki berpijak di dalam ruang tanpa cahaya.


Seperti hari-hari sebelumnya, wajah cantik di balik kertas bergambar menyambut kehadiran. Hanya bingkai foto itu mendapat cahaya dari alat penerangan, agar yang terlihat hanya gambar itu saja.


Dalam kehampaan yang mendalam, terbesit kejadian memilukan beberapa saat lalu. Hal itu memicu emosi hingga melampiaskan pada benda-benda seisi ruang. Jerit batin menyertai gerakan kaki, menendang sofa berwarna putih di sana. Belum cukup puas melampiaskan amarah, kedua tangan menyingkirkan vas bunga dari atas meja.


Detak jantung sudah tak beraturan, napas pun berembus tanpa jeda. Lekas ia menumpukan tubuh di atas meja, melepas kepedihan melalui deraian air mata. Ia tertunduk, menahan kepala dengan kedua telapak tangan, saat itu lah renungan kembali menyayat ingatan.


Perasaan cinta terabaikan, sehingga rindu sulit tercurah. Hal itu membuat malam-malam yang di lalui begitu berat terasa, bahkan merubuhkan semangat di dalam jiwa.


"Art Tara ...."


Sebuah nama terucap dari mulutnya, hanya itu lah cara untuk melepas kerinduan. Kemudian arah tatap kembali tertuju pada foto berbingkai di sampingnya, menyerukan sebuah kalimat yang selalu ingin ia ucapkan kepada pemilik nama itu.


Setelah senyum kepedihan terukir di balik wajah kemerahan, ia merintih kemudian berkata ....


"I love you."





Tbc

__ADS_1


__ADS_2