
Alam nampak tak bersahabat. Rintik hujan membasahi permukaan bumi. Petir menyambar menggelegar di atas bangunan rumah mewah milik seorang pria tersukses di dalam negri bernama Liu Xi Wen atau sering di sebut dengan panggilan Erick Liu.
Angin berhembus mengguncang pepohonan nan rindang di tengah musim dingin itu seolah menyambut sebuah acara pesta pertunangan dalam keadaan yang masih berduka.
Wajah Triana telah berpoles ringan untuk menutupi kulit yang terlihat pucat itu, tubuhnya telah berbalut gaun panjang berwarna putih. Nampaknya ia telah mempersiapkan diri untuk menjadi sang pemilik pesta.
Di atas sofa yang terletak di ruang tamu bertajuk langit itu Triana telah menumpukan tubuhnya di atasnya, di sampingnya Hanson duduk dengan gagahnya. Di sekeilingnya kakak serta adiknya telah menyambutnya dengan menghadiri acara pertunangannya.
Keluarga Hanson pun turut serta di dalamnya untuk menjadi saksi pengikat hati dua insan itu. Sesungguhnya, acara tunangan itu hanya simbol dari sebuah pengikat hubungan sebagai ancaman bagi Triana semata. Maka dari itu acara yang terselenggara tidaklah meriah bahkan tidak di anggap penting bagi kedua pemilik pesta.
Hanya beberapa orang saja yang menjadi saksi mereka, sementara dari pihak Hanson seluruh adik kakak serta kedua orang tuanya termasuk Celia yang telah sengaja kembali dari tempat berliburnya kala mendapat kabar duka dari calon menantunya. Atas kehadiran terpaksanya, ia dapat menyaksikan penyatuan hati anak tirinya.
Hanya pengucapan kesepakatan serta penyematan cincin pada jari tengah Triana yang mengisi acara tersebut, tidak tertera acara lainnya selain menyantap jamuan yang tersedia.
Kali ini mereka tengah berbincang dalam ruang berbeda, sementara para wanita di ruang keluarga, untuk para pria berbincang di dalam ruang tamu utama. Namun tidak termasuk Erick dan Celia yang sudah melarikan diri terlebih dahulu setelah acara itu usai di laksanakan.
Saat itu, keadaan wanita yang kini tengah mendaratkan tubuhnya di atas sofa dalam keadaan berbeda, di mana Triana merebah di atas sofa, Fiona bersila masih di atas sofa itu, Tara sendirilah yang berselonjor kaki di atas lantai dengan menggenggam sebuah dokumen pekerjaannya seolah ia menikmati keadaannya.
Namun rupanya Triana telah bergerak gelisah setelah terikirkan sesuatu atas terselenggaranya pertunangan dengan pria yang sempat menjadi kekasih hati wanita yang kini berada di sekitarnya.
Triana menatap lekat wajah Fiona membuat empunya membalasnya dengan picingan matanya penuh rasa heran.
"Fi.. sorry, sebenernya gue ga suka sama si Hans, cuma karna gue banyak utang budi sama dia_" Triana melirih membendung rasa bersalahnya yang tercurah dengan nada bicaranya yang melemah.
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Fiona telah memotongnya lantaran tak sudi mendengar permintaan maaf dari orang yang tidak bersalah sedikitpun.
"Udahlah Tri, nasib kita sama." sahut Fiona memotong, ia melirik ke arah Tara yang masih bersibuk ria dengan pekerjaannya. "Kecuali lo ya Tara?" tanyanya di sertai tawa kecil sebagai ledekannya membuat tatapan Tara berpaling sejenak menuju wajahnya.
Tara tertawa kecil menyikapinya. "Gue sendiri masih ga yakin sama perasaan gue."
"Lo ga cinta sama laki lo?" ujar Fiona berseru penuh janggalan yang terasa Tara seperti sedang memancingnya.
"Cinta.. cuma ada yang lain selain cinta,” balas Tara penuh keraguan saat sang hati berkata lain hingga ia menyembunyikan dustanya dengan kembali menatap lembaran kertas yang berada dalam genggamannya.
"Siapa?" tanya Fiona penasaran.
"Ga usah tau lah!” ungkap Tara penuh misteri di sertai tatapan kelamnya menuju wajah Fiona yang bermakna jika ucapannya enggan berlanjut. "Yang jelas yang lebih br*ngsek ya tiga cowo itu lah yang udah bikin kita berantakan gini."
Triana tertawa sadis menyikapinya, begitupun dengan Fiona yang menertawai ucapan penuh kebenaran itu.
Kini Tara mulai membuka perbincangan seriusnya, berawal dari mengeratkan pandangannya pada lembar kertas yang masih berada dalam genggamannya. "Tri, gue liat di sini ada nama lo jadi pemegang saham Tender Platinum, cuma belom di setujui, apa lo tau soal itu?"
"Hadiah buat gue dari si Hans kali,” jawab Triana dengan datarnya tanpa menghiraukan keberadaan Fiona yang telah mendengus sebal di sana.
"Enak banget kalian berdua di kasih saham, lah gue sendiri malah harus ngasih," seru Fiona bersungut-sungut kesal, ia menyalahkan nasib diri yang di rasanya tidak seberuntung dua sahabat wanitanya.
"Bukan salah gue kali, salah nasib lo aja yang jelek,” sahut Tara menghibur dengan gelak tawanya membuat kedua wanita itu tertawa kecil menyambutnya.
Perbincangan terlerai kala indra pendengaran mereka menangkap suara langkah kaki yang kian bergeming nyaring menghampirinya. Rupanya tiga pria telah datang menemui pasangannya setelah mereka usai mengantar kepulangan tamunya.
Tepat saat Sammuel melihat sosok istrinya dari jarak dua meternya, ia terperangah hingga membelalakan bola matanya kala melihat sang istri berselonjor kaki di bawah lantai marmer tanpa alas itu.
Tanpa bicara yang akan menyita waktunya, ia segera melangkahkan kakinya hingga menepi di hadapan istrinya dan langsung saja ia meraih tubuh istrinya ke dalam pangkuannya.
"Kyaaa!” jerit Tara memekik nyaring saat gerakan kasar itu merenggut rasa kejut serta takut akan terjatuh mengelilingi perasaannya. “Ngapain sih lo?" imbuhnya kian memekik tat kala ia baru menyadari jika lembaran kertas dari genggamannya berserakan tanpa aturan ke atas lantai.
"Ngapain lo duduk di bawah gitu, kaya pengemis aja,” ujar Sammuel penuh emosi membuat mata istrinya menyorot dendam wajah tampannya. Rasa asing yang terpancar dari aura kelam itu berhasil membuatnya melepas tubuh istrinya dari pangkuannya untuk mendudukkannya di atas sofa yang tersedia, tepatnya di samping Fiona.
Jackson yang menyaksikan kegiatan pertengkaran namun romantis itu, ia menggelengkan kepalanya untuk menepis rasa iri dari dalam sanubarinya hingga membuatnya menghempas tubuhnya ke atas sofa yang hanya menampung satu orang saja itu dengan gaya kasarnya.
"Panas tau!" ucap Tara mengumpat kesal seraya merapihkan kaosnya yang sedikit menyingkap hingga batas perutnya.
Sesungguhnya rasa canggung telah menyelimuti angan Tara kala ia mengetahui pasang mata dari insan yang berada di sekitarnya telah menatapnya dalam ledekan.
"Ya nyalain lah AC nya,” jawab Sammuel tanpa acuh mengabaikan gerakan kikuk istrinya. Ia mulai mendaratkan tubuhnya di atas sofa berdampingan dengan istrinya.
__ADS_1
"Udah, cuma mereka kedinginan kalo di turunin suhunya.” Tara mulai emosi meski tidak mengetahui penyebabnya dengan pasti.
Sammuel hanya melenguh membalasnya saat dirinya menyibukan diri dengan meraih tubuh sang istri hingga larut dalam dekapan sebelah tangannya.
Hanson kini yang beraksi, ia menyerahkan sebotol minuman soda kepada tunangannya yang di sambut sang tunangan dengan segera meraihnya.
“Thanks,” seru Triana berbalas senyuman penuh kasih dari tunangannya.
“Masih aja canggung,” balas Hanson tidak terima jika sang tunangan masih menganggap dirinya sebagai orang asing hingga ia menatap wajah sang kekasih dengan tatapan tajamnya.
Triana membisu seribu bahasa, ia mengira jika ucapannya telah menyinggung batin sang kekasih hati membuat Hanson memahami jika wanitanya enggan melanjutkan perbincangannya. Dengan sengaja ia pun melepas pandangannya dari wajah sang kekasih menuju adik iparnya.
"Tara, kamu udah liat prospeknya?" tanya Hanson.
Tara mengangguk seraya beranjak meraih dokumen yang berserakan akibat ulah suaminya saat lalu, sedang Sammuel merasa janggal dengan ucapan kakaknya.
"Prospek apaan?" tanya Sammuel terheran-heran yang terpampang dari wajahnya yang memberengut.
"Tender Premium,” jawab Tara singkat, namun penuh dengan kebenarannya.
"Lo mau ngambil_"
"Gue yang nyuruh,” ucap Hanson memotong dengan datarnya tanpa mau tau jika hal itu akan membuat murka adik pertamanya. "Gue titip saham atas nama cewe gue buat lo, tapi masuk di Tender Premium."
"Ya terus apa hubungannya sama bini gue?" Jengah sudah Sammuel dibuatnya hingga ia menatap kelam wajah kakak ketiganya.
"Gue cuma percaya sama dia Sam,” jawab Hanson penuh rayuan.
"Percaya sih percaya, lo mau bunuh dia apa?Tendernya udah banyak kadal." Jengahnya Sammuel kini terdengar dari nada bicaranya yang memekik membuat Tara mendaratkan tubuhnya di sampingnya untuk meredakan emosinya dengan menepuk manja lengannya.
"Tender Platinum ga jadi kan?" ujar Jackson menginterupsi memecah pertengkaran adik-adiknya yang belum terjadi itu.
"Mentang-mentang itu ga jadi kalian seenaknya_" Kembali Emosi Sammuel meningkat hingga ia enggan sudah untuk melanjutkan kalimatnya.
Baru kali ini Tara merasakan hawa emosi yang terpicu dari rasa khawatir itu yang dapat di terimanya dengan senang hati.
Sammuel masih tidak terima dengan keputusan sang istri hingga ia menatap lekat wajah istrinya yang telah tersenyum kagum di sampingnya. "Lo yakin?"
"Seratus persen!” jawab Tara bertegas diri saat kesungguhan menyertainya.
"Mau cepet kaya lo?" ucap Sammuel menyindir istrinya.
"Siapa yang ga mau?" balas Tara tanpa berpikir panjang hingga kalimat itu terlontar dengan terrgesa.
"Kalian ini bocah b*ngke semua." Jackson sudah tidak sanggup melihat aksi sepasang insan di hadapannya yang selalu membuat rasa cemburu bergeming lantang di dalam angannya. "Bikin gue cemburu aja."
Tara membalas ucapan Jackson dengan senyum simpul penuh siasatnya, ia sengaja menggoda pria itu dengan bertingkah manja terhadap suaminya. Kini ia mendaratkan dagunya di atas bahu suaminya di sertai tangannya yang melingkar pada perut sang suami .
Sammuel melirik ke sampingnya di mana wajah istrinya terbenam di atas bahunya. "Masih ada satu tender di Bandung Art, lo jangan lupa."
"Aku ga lupa Sam, dan aku juga udah perhitungkan itu,” balas Tara penuh rayuan tak luput menyertakan senyuman manisnya membuat sang suami membalasnya penuh cinta. "Udah jam tujuh Sam, kamu mau nginep di sini?"
"Lo mau balik, yakin ga mau nemenin sobat lo?"
"Ada cowonya ini,” balas Tara sebagai pancingan, ia menatap ledek wajah Hanson yang berbalas senyuman persetujuan dari empunya.
Triana hanya terkekeh geli mendengar status dirinya yang di sebutkan sahabatnya. Ia masih belum menerima cinta itu, yang ia pikirkan kini hanya untuk membalas jasa saja. "Gue juga balik, ga mungkin kan lama-lama di sini?"
Mendengar itu, Fiona menatap harap wajah Jackson untuk mengajaknya jua, namun yang ia dapatkan hanyalah kekecewaannya.
"Sehari lagi lah Sam gue nginep di rumah lo,” ucap Jackson membuat Fiona tertegun bahkan Hanson melirih menatap wajah anggun itu yang sudah tertunduk kaku.
"Lo s*nting Jack, rumah lo cuma lima kilo meter dari rumah si Sam, pake nginep-nginep segala." Hanson mencoba melakukan sesuatu untuk Fiona agar bisa menebus kesalahannya secara perlahan dengan cara memaksa sang kakak untuk menemani calon istrinya.
"Lagian dia mau keluar kota juga besok, biar bininya ada yang anter jemput,” sahut Jackson mengabaikan siasat Hanson dan membuat emosi Sammuel kembali tersulut.
__ADS_1
Sementara Tara menatap janggal wajah suaminya, ia tidah pernah mengetahui sebelumnya ke mana suaminya akan pergi hingga perkataan Jackson saat lalu membuatnya mengerti jika sang suami telah kembali menyembunyikan kepergiannya.
Sammuel menghembuskan napas kasarnya setelah melihat tatapan istrinya. "S*alan lo Jack." Ia tersenyum pada istrinya untuk meredakan tatapan itu. "Besok gue ke Bali ngurusin gawean, si Nicky juga ikut."
"Berapa hari?" tanya Tara.
"Jum'at kayanya baru balik,” balas Sammuel.
"Kamu harusnya seneng suami kamunpergi, kan jadi bisa kencan sama cowo kamu Art,” seru Jackson membuat Tara melemparnya dengan bantal sofa.
"Brisik kamu, ngomong lagi aku sumpel melati tuh mulut.” Tara bersungut penuh dendam saat menerka jika kakak iparnya akan menggunakan kesempatan pada dirinya.
Jackson serta Sammuel terbahak, lain dengan sisanya yang hanya merasa janggal mendengar kata melati yang terucap dari mulut Tara itu.
"Ya udahlah gue cabut." Sammuel bangkit seraya membawa tangan istrinya dalam genggamannya.
"Tri, gue balik, lo baik baik ya." Tara berucap penuh kelembutan saat menatap wajah Triana dengan tatapan penuh rayuannya.
"Pasti!" jawab Triana penuh semangat.
"Gue juga balik ya Tri." Fiona pun ikut bangkit seraya menatap Triana sebagai pelengkap ungkapan pamitnya.
"Oke,” jawab Triana di sertai senyumannya.
"Lo ga nganter Jack?" tanya Hanson yang rupanya ia masih berusaha keras agar mantan kekasihnya mendapatkan cinta kasih dari calon suaminya.
"Udah gede ini ngapain di anter? Lagian dia bawa mobil sendiri.” Jackson mulai geram, namun menyembunyikannya di balik ucapan gurauannya.
Hanson kembali melirih meratapi nasib mantan kekasihnya, kini napasnya mulai berhembus dengan kasarnya. "Lo sadis Jack, kasian kan_"
"Segini lo bilang gue sadis, dulu lo kemana aja?" Jackson kian geram dengan kesadaran diri sang adik yang telah sirna di telan bumi itu. Ia bangkit berdiri untuk segera menghindari pertemuan pembawa murkanya.
Hanson hanya mampu menarik napas dalamnya kembali lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan batinnya yang sesungguhnya ingin sekali memukul keras kepala kakaknya agar isi kepalanya sedikit menjadi lurus.
Sedang Tara serta Sammuel saling menatap berlanjut saling merangkulkan sebelah tangannya. Mereka merasakan jika hubungan mereka kian membaik setelah meresapi keadaan Jackson dengan Fiona yang masih berseteru hati itu.
"Bener lo Jack, gue bawa mobil, pasti ribet kan?" ucap Fiona menghibur diri yang malah membuat Hanson kian melirih.
"Fi, lo nginep di rumah si Hans aja.” Seolah memahami batin sang tunangan, Triana berucap penuh kesungguhan hati.
"Ah ogah, pengen gue jadi obat nyamuk apa?" tepis Fiona menolak keras dalam senyuman penuh kepalsuan.
"Aihhhh kalian, Jack kamu kalo ga mau ngater dia kamu ga usah nginep di rumah adik kamu!” Tara mengancam di sertai telunjuknya yang melenting mengacung menuju arah di mana Jackson berada.
"Ya udah ga usah, aku juga punya rumah sendiri." Jackson menimpal tanpa hambatan membuat Fiona kembali tertegun di sana.
"Segitu ga maunya lo nganter dia?" tanya Sammuel yang membuat Jackson menatapnya penuh dendam.
"Lo mikir deh, emang harus gue nganter dia pake mobil dia abis itu dia anterin gue lagi pake mobil dia, sampe bangkotan juga ga nyampe-nyampe,” ujar Jackson menjabarkan alasannya.
Rupanya alasan Jackson membuat seluruh insan melepas tawa riangnya.
"Ya udah lah gue cabut duluan Hans,” pamit Sammuel di pertegas dengan menepuk bahu kakaknya.
"Ya ga duluan, gue juga balik." Hanson pun bangkit berdiri di buntuti Triana.
Ucapan saling berpamit itu berakhir kala kaki mereka mulai melangkah menuju luar ruang untuk menggapai kendaraannya masing-masing.
•
•
•
Tbc
__ADS_1