
Petang menjelang, Sammuel sudah duduk gelisah di atas kursi kebangsaannya. Tatapan matanya kosong membayang menuju kejadian istrinya beberapa saat yang lalu. Ekspresi wajah dan gelagat itu, entah kenapa ia tak bisa melupakannya.
Menyesal? Tidak akan pernah ada kata menyesal dalam kamus hidupnya, yang ia lakukan sudah benar menurutnya, di mana ia menghindari istrinya agar tidak melukai wanita itu dengan bulanan gairahnya. Tapi kejadian tadi terus membekas pada pikirannya, ada dari bagian perasaannya yang terpengaruh akibat itu.
Lamunannya buyar ketika seseorang menghampirinya yang langsung duduk di atas kursi berseberangan dengannya. Itu adalah seorang pria yang jelas merupakan orang yang dekat dengannya.
"Sam, si Jack masih belum balik ke Indo?" sapa Hanson dengan pertanyaannya. Tak ada basa-basi atau candaan sebagai pembukaan.
"Hmm." Sammuel hanya berdengung seraya mengempaskan napas kasarnya. Memberikan jawaban yang terlalu singkat.
"Lo coba bujuk dia biar balik dulu deh, suruh ngurusin saham mantan bininya."
"Ga usah buru-buru lah, lo udah ngatasi itu kan?" Sammuel tersenyum seraya menatap wajah kakaknya. "Oh ya, penyidikannya gimana?" topik segera berganti setelah pertanyaan itu terlontar.
Hansonlah yang kini mengempaskan napas kasar dalam lirihannya. "Bukan bokap gue."
"Lo yakin?" tanya Sammuel dengan bibir yang menyeringai menyerukan rasa leganya.
"Hmm." Lirihnya tersengal dalam hati yang bergejolak enggan melanjutkan perbincangan itu. "Si Jack balik tar kita bahas di rumah bokap lo."
"Oke." Sammuel lagi-lagi membalas singkat dengan tegasnya.
"Satu lagi, gue minta bantuan lo lagi, mau selidiki cewek yang di karaoke waktu itu."
Sammuel tersenyum menyertai kemenangannya, ini adalah tanda jika dia berhasil melahap mangsanya, namun sebisa mungkin ia berpura tidak mengetahuinya, jangan merayakannya terlalu dini. "Buat apaan?" Ia memicingkan matanya, berharap mendapat jawabannya dalam kepuasannya.
"Dia sodara tiri si Vira."
Sudah tahu memang Sammuel tentang ini, namun kini rencana selanjutnya akan lebih mudah untuk diatasinya. "Oh ya?" tanyanya yang masih ia bertingkah seolah tidak tahu. Ekspresi wajah dan nada suaranya meyakinkan hal itu.
"Tar gue kasih datanya deh sama lo." Hanson bangkit dari duduknya, sepertinya dia ingin menyudahi percakapan ini. "Sekalian gue minta bodyguard kembar lo buat buntutin dia."
"Buntutin apanya?" tanyanya, tampak jika Sammuel ingin menolaknya.
"Pengen tau gerak-geriknya dulu, ada kaitannya juga sama si Triana." Kabar inilah yang tidak pernah didapati Sammuel. Bagaimana bisa detail yang ini sampai terlewatkan dan tak melengkapi berkas berisi rincian data wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya?
__ADS_1
"Oke, lo bisa ambil mereka besok." Akhirnya, hanya itu saja yang bisa dikatakan oleh Sammuel.
"Oke, thanks." Hanson berlalu tanpa pamit dari hadapan atasan sekaligus adik kandungnya. Rasanya sudah cukup dengan apa-apa saja yang hendak dia sampaikan.
Rupanya ia menuju ruang kebangsaannya. Sesampainya di sana, Hanson segera menghampiri asisten wanitanya, terlihat jika wanita itu tengah menyibukkan diri dengan setumpuk laporan yang berada di hadapannya.
"Salin data diri Art Tara sekarang juga." Dalam keadaan berdiri, Hanson mengucap katanya dengan dinginnya. Jelas itu adalah kalimat perintah yang tak mau menerima bantahan dan penolakan.
Fiona menghentikan kegiatannya sejenak untuk memandangi wajah lelaki di hadapannya. "Kamu masih belum puas sama dia?"
"Belum, kenapa?" ketus Hanson membuat Fiona mendengus keras.
"Oke maaf, aku cuma asal ngomong." Fiona tersenyum di akhir kalimatnya, berusaha menyembunyikan kepedihannya.
"Awas lo macem-macem sama dia." Telunjuk jenjang itu mengacung di hadapan wajah Fiona. "Gue jamin lo...."
"Ga akan!" sela wanita itu dengan tegasnya, tampak sudah mulai jengah dengan sikap tunangannya yang selalu sama menganggap dirinya manusia paling busuk di dunia. "Aku janji asal kamu janji ga ungkit lagi masalah aku yang dulu."
"Pegang janji lo." Lantas Hanson memutar tubuhnya, berlanjut melangkahkan kakinya menuju luar ruangan lantaran enggan menyambut hari-hari yang dilaluinya bersama sang tunangan yang sama sekali tidak dicintainya.
Kembali Fiona mendapat perlakuan yang membuat hatinya selalu teriris hingga membuat matanya mulai berkaca-kaca.
***
Malam yang begitu indah dihiasi bintang bertaburan di atas langit nan gelap. Sammuel tengah mendapat keputusannya setelah berpikir selama 5 jam ke belakang untuk menampakkan dirinya di hadapan istrinya lagi.
Sayang sungguh sayang, kini pada pukul sepuluh malam Tara sudah terlelap dalam tidurnya yang sebiasanya ia bekerja hingga larut, namun kini ia tidak mampu menahan kantuknya setelah jam sembilan lewat.
Sammuel melihat istrinya yang tidur meringkuk dengan sebuah guling dalam dekapannya, pemandangan itu membuatnya tersenyum gemas.
Ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya, merasa gejolak hasratnya tidak akan tergugah setelah beberapa saat mendapatkan penawarnya dari seseorang yang menjadi pelampiasannya, ia yakin sang istri tidak akan menjadi bulanan hasratnya.
Atas keyakinannya, ia mendekap erat tubuh istrinya dengan sebelah tangannya dari samping. Lantas mengecup kening wanita itu dengan lembut mengungkap kata maaf dengan bahasa tubuhnya.
Pergerakan Sammuel membuat Tara membuka matanya dengan tergesa, hingga mengulurkan tangannya berusaha mendaratkan sebuah pukulan pada suaminya, meski apa yang dilakukannya tidak membuahkan hasil lantaran Sammuel yang mampu menangkisnya.
__ADS_1
"Lo mau nonjok gue?!" tanya Sammuel penuh kejutan, tangannya masih menggenggam tangan istrinya. Siapa sangka jika di dalam kamar dan ranjang itu, dia mendapat serangan kejutan. Bersyukurlah karena refleksnya bagus sehingga tak ada pertumpahan darah.
"Maaf, aku kira bukan kamu." Tara menyiratkan senyuman di akhir kalimatnya sebagai penebus rasa bersalahnya. Perbuatan sebelumnya adalah tindakan refleks dari sikap pertahanannya.
"Kalo bukan gue, terus lo ngarep siapa?" Sejenak Sammuel membisu, ia melepas genggamannya lantas kembali ia merangkul tubuh istrinya. "Lo tau salah lo apa?"
"Iya tau, itu pertama kalinya dan buat terakhir kalinya. Ga akan lagi kaya gitu." Tara merajuk, ia membenamkan kepalanya pada dada suaminya. Bisa dibilang ini mungkin sikap manjanya atau gelagat agar pria itu menurunkan kepanasan jiwa dan pikirannya.
"Baguslah kalo lo sadar." Lega rasa pada diri Sammuel, namun kini dekapan pada tubuh istrinya kian merekat. "Gue ga yakin lo bisa nepatin janji lo."
Tara membisu seraya meresapi dekapannya yang mampu membuat hatinya menghangat seketika. "Aku janji," ungkapnya yang terabaikan oleh suaminya.
"Ada apa sama kejadian tadi siang?" Sammuel mengungkap rasa sesalnya dengan mengelus puncak kepala istrinya. Agak penasaran juga dengan apa yang wanita ini alami, mungkin saat ini adalah saatnya untuk menanyakan hal itu.
"Aku ketemu sama rentenir yang belum aku lunasin, ga sadar aku kabur." Tara kian membenamkan wajahnya pada dada suaminya, meresapi curahan rasa rindunya. Dia mengungkapkan dengan jujur.
"Kok kabur? Apa duit yang gue kasih belum cukup?" tanyanya dengan keheranan. Sammuel menatap wajah istrinya yang masih terbenam di dadanya.
"Aku belum bilang sama kamu, tar malah aku ketiban sial lagi," ucap Tara mencibir.
Sammuel hanya terkekeh menyikapi perkataan istrinya.
"Besok aku mau cari mereka, mau aku beresin semuanya, tapi aku butuh pengacara. Apa bisa aku panggil pengacara?" rajuk Tara, ia memberanikan diri mendongkak menatap harap suaminya menebar kembali rayuannya.
"Selama lo bilang sebelumnya gue ga akan larang, toh kalo ketauan selingkuh bukannya lo yang rugi?" ancam Sammuel penuh penekanan.
"Karena aku ga suka di rugiin dan ga mau rugi makanya kamu ga usah khawatir."
"Siapa yang khawatir, gue cuma ngingetin!" Sammuel menekankan nada bicara dari kata terakhirnya menolak ucapan istrinya sebelumnya.
Tara tersenyum riang mendapati kemenangannya. Sedang Sammuel semakin mempererat dekapannya, membawa istrinya dalam kehangatan hingga larut di dalam alam mimpinya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc