Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 177


__ADS_3

Sudut bibir terangkat jauh, sejauh mata memandangi seorang wanita yang berdiri di dalam ruang berdinding kaca. Senyum menawan tergambar di balik wajah rupawan, menggiring sebaran rasa kagum pada wanita yang tengah mengenakan gaun pengantin di dalam sana.


Di tengah tugas yang sedang terlaksana, Hanson tidak sengaja menemukan mantan kekasihnya. Tidak banyak berpikir, ia meluangkan waktu untuk memberikan pelipur lara. Tanpa keraguan, kakinya melangkah memasuki tempat penjualan busana pengantin itu.


Saat kaki berpijak di dalam ruang, tepat saat setelah berhadapan dengan Fiona. Sambutan miris di dapati, ketika delikan mata terlontar dari wanita itu.


"Ngapain lo ke sini?" Fiona menutupi kerancuan, mengumandangkan nada jengah di balik kata yang terucap. Sesungguhnya, ia tidak menginginkan keadaannya kini di ketahui Hanson, yang di yakininya akan membuat pria itu menyerah akan usaha menggait hatinya kembali.


Tiada sahutan yang terucap dari mulut Hanson, di saat pasang matanya berpusat pada tubuh yang terbalut gaun putih itu. Aura yang terpancar begitu mempesona, membuat pandangan enggan berpaling sedikit pun. Fiona kesulitan menepis pandangan itu, sehingga ia kembali menghadap cermin di belakangnya.


"Cantik." Hanson mengumbar pujian, menilik wajah yang tergambar di balik cermin.


Fiona melenguh frustasi, ungkapan itu membuat rona wajah tergambar dengan jelasnya. Menyambut gerakan kikuk tercipta begitu saja.


Hanson gemas di buatnya, tawa kecil terlontar berbumbu ceria. Namun, kebahagiaan sirna begitu saja, membayang wanita yang di inginkan sang hati akan menjadi milik orang lain.


"Lo yakin mau nikah sama dia?" tanya Hanson penuh waspada, tidak ingin pencegahan itu terlihat begitu nyata.


Namun, Fiona sudah dapat memastikan, jika pria yang berdiri di belakangnya telah membuka hati untuk dirinya. Sehingga berusaha meyakinkan diri, agar ia tidak menjadi milik orang lain.


Sudut bibirnya terangkat manis, mengumbar suka cita atas perlakuan yang selalu di inginkan. Namun, tidak sudi ia berbagi keceriaan, sehingga ia memutar kembali tubuhnya, setelah mendengar lenguhan pilu dari arah belakangnya. Agar mampu memperlihatkan tatapan kejam untuk menyembunyikan kebahagiaan itu.


Namun, Fiona terjerat permainannya sendiri, ketika mata saling memandang, mencari kebenaran di balik tatapan. Hanson mengakhiri lebih utama, ketika batin tak kuasa menahan rasa cemburunya.


"Yakin lah! Udah sampai sini, kenapa harus ga yakin?" cetus Fiona menyahut ucapan saat lalu. Tanpa acuh ia mengabaikan wajah yang tertunduk di hadapannya.


Pedih ....


Ungkapan tanpa dosa itu, begitu menyayat batin. Baru kali ini Hanson mengetahui jika rasa cemburu itu begitu menyakitkan.


"Dia ga cinta sama lo, Fi." Hanson kian berusaha, membuka mata serta hati wanita itu agar kembali terjerumus dalam lembah cintanya. Namun,


"Udah biasa cinta gue ga terbalaskan."


Deg! Jantung berdenyut nyeri, menanggapi sindiran tajam tanpa perasaan. Hanson meratap, menatap wajah lugu di hadapannya. Kebesaran hati dari Fiona, berhasil mendobrak rasa ibanya. Lantas, ia bertekad diri, mengucap janji akan memberikan kebahagiaan untuknya, bagaimana pun itu caranya.


"Lo ga mau cinta lo terbalaskan?" tanya Hanson mengungkap perasaan dengan ucapan misteri, berbalas senyuman miris di balik wajah jelita.


"Siapa yang ga mau?" Fiona menimpali sebal, menganggap ucapan itu sebagai penolakan.


Tanpa harus Hanson bersusah payah menolaknya, ia pun sudah menyadari jika dirinya tidak dapat menerobos masuk ke dalam palung hati pria itu.


"Gue bisa kabulkan yang lo mau-"

__ADS_1


"Lo ga mau kasih restu pernikahan gue sama kaka lo apa?" Fiona memotong ucapan, sehingga ia memenggal baris kata yang akan membuatnya bahagia.


Hanson kehabisan cara, pada akhirnya ia berpasrah diri, menunggu wanita itu menyerahkan hati tanpa harus di paksakan.


"Selamat," ucap Hanson beriring senyum ratapan di akhir kalimat, membuat wanita di hadapannya memandang penuh kejanggalan.


"Lo suka kalau kisah cinta gue kaya gini?" Fiona mengungkap terkaan buruk. Bendungan air mata terobarak-abrik, membuat pasang matanya bergenang air payau.


"Lo yang mau, Fi."


Tak kuasa memendam keinginan, Hanson menarik tubuh itu hingga larut dalam dekapan. Sontak membuat Fiona kehilangan kendali diri, tangannya mengulur cepat, memberikan tamparan keras pada pipi lesung itu.


Hanson hanya berdiam diri, membiarkan wanita yang masih berada dalam rangkulan kedua tangannya mengumbar emosi. Berharap pelampiasan dapat menebus dosa atas apa yang di lakukan dahulu kala.


"Lepasin, Hans!" Fiona meronta, berusaha melepas kedua tangan itu dari tubuhnya. Namun, tiada membuahkan hasil sedikit pun, membuat emosi kian menjalar hingga menembus batas kesabaran. Tatapan murka tergambar di balik wajahnya, di sambut senyuman luka oleh pria itu.


"Fiona-" Hanson menarik sebelah tangan dari tubuh itu, menggantikan tempat menuju dagu Fiona. Ia sengaja membiarkan pasang matanya menilik tajam wajah itu, mengumbar cinta kasih dalam tatapan agar Fiona mengetahui ketulusan hatinya.


Sejenak Fiona menahan tatapan, melepas rindu pada wajah yang selalu membayang di setiap waktu. Namun, lekas ia menyadarkan diri, mengingat dirinya tiada dapat kembali pada genggaman cinta pria itu.


"Calon laki gue bentar lagi datang." Fiona menolak keras, akan tetapi wajah duka terpampang begitu nyata. Ucap kata yang terlontar, sesungguhnya tidak lain berbeda dengan isi hatinya.


Hanson membalas tatapan itu dengan senyum kepedihan, tak ayal tatapan luka berpusat pada wajah yang melirih di hadapannya. Pengakuan Fiona terhadap kakaknya, di sambut sang hati dengan kekecewaan.


"Hans ... bisa ga sih lo sedikit hargai gue? Dulu lo seenak hati mainin perasaan gue, sekarang apa lo belum cukup puas?" Tidak mampu berontak dengan tindakan, Fiona terpaksa mengungkap sisi kegelapan.


Baris kalimat dusta itu, berhasil melepas rangkulan pada tubuh Fiona. Meski lega hati di rasakan, akan tetapi Fiona melenguh pilu ketika melihat kekecewan yang terpampang dari wajah Hanson di sana.


Perlakuan Fiona saat ini, membuat kesadaran diri Hanson kian tersentuh. Terbesit bayangan silam, ketika ia masih menjalin hubungan dengan calon kakak iparnya. Sering kali ia menusuk batin Fiona dengan ribuan perlakuan yang lebih keji dari apa yang di lakukan Fiona saat ini.


Sesal kian mendera, mengumbar lenguh kepedihan dalam kerancuan. Batin bergemuruh rancu, mencari cara bagaimana kah ia harus menebus segala kesalahan pada wanita itu.


Suasana menjadi canggung, kedua belah pihak saling membungkam diri. Merenungi segala apa yang telah terjadi saat ini, akan tetapi tiada yang ingin mengungkap perasaan, sehingga kesalah pahaman tak kunjung enyah dari ingatan.


Langkah kaki menepi di hadapan mereka, mencabik suasana canggung tanpa jeda. Hanson serta Fiona mengarahkan pandangan pada seorang pria yang telah berhasil berdiri di sekitar mereka, tak ayal senyum sapaan terlontar kepadanya.


Jackson memberikan balasan senyum lelucon, setelah menyaksikan pertikaian manis saat lalu. Rasa ingin menggoda menyentuh asa, membuat kedua tangannya mengulur, memberikan pelukan pada tubuh Fiona. Seolah menginginkan dekapan itu menjadi nyata, Fiona membalas dengan senyum kepalsuan.


"Cocok kah bajunya Nyonya Jordan?" ungkap Jackson mengumbar sisi kelembutan di balik nada bicaranya, berbuah lengkungan manis dari bibir Fiona.


Meski senyum membalas perlakuan itu, rasa janggal terpendam di dalam kalbu. Fiona merasa heran, tidak biasanya Jackson memberikan perlakuan manis terhadap dirinya. Namun, ia tidak ingin mempersulit pikiran, di kala sang hati bergeming dengan riang.


Lain dengan Hanson, menyambut ucapan itu dengan dengusan frustasi. Api cemburu kian berkobar, menjalar pada setiap urat nadinya. Amarah tak lagi dapat terpendam, Hanson menarik tubuh Fiona hingga terlepas dari dekapan itu.

__ADS_1


Plak! Untuk kedua kalinya, Fiona memberikan kesan murka dengan tamparan kerasnya.


"Apa-apaan sih lo?" ungkap Fiona berseru dendam, membubuhkan lentingan suara pada setiap katanya.


Jackson menyeringai, mengumandangkan kemenangan dalam senyuman sinis. Cara yang di lakukan, berhasil memberikan jawaban kejanggalan. Kini, ia memahami, jika sang adik telah kembali menginginkan calon pengantinnya.


Tatapan keji terlontar menyahut tindakan itu, menggiring hawa nafsu yang terpicu dari rasa cemburu. Hanson menyorot dendam wajah kakaknya, bahkan memberikan tepukan keras pada bahu sang kakak sebagai pelengkap amarah.


"Kalau lo ga bisa bikin dia bahagia-" Telunjuk jenjang Hanson mengacung di hadapan wajah Jackson, berbalas pungutan hingga jari itu larut dalam genggaman tangan Jackson.


"Lo mau bunuh gue?" tanya Jackson menyambung ungkap yang terpenggal saat lalu. Senyum sinis kembali tersirat di balik wajah, memberikan kesan murka di dalamnya.


"Tentu!" Sahut Hanson berbuah tatapan kejut dari wajah jelita.


"Apa gue bisa bunuh lo sekarang?" Jackson kian mencibir, mengingatkan perlakuan adiknya dahulu kala.


Hanson membungkam diri, membuka mata hati setelah mengingat jika dirinya lah yang lebih banyak menyakiti calon kakak iparnya. Paham dengan maksud hati sang kakak, anggukan kepala mewakili jawaban membenarkan.


Tak kuasa menghadapi kenyataan, bahkan tidak ingin melihat kegiatan romantis di sana. Hanson mengangkat kaki, berlalu tanpa mengucap pamit terlebih dahulu.


Tiada lagi pengacau di sekitar, batin Fiona menggema lega. Embusan napas tenang memghempas suasana canggung yang sudah ingin di hindari sejak saat lalu.


"Ah iya, Jack-" Fiona memenggal ucapan, di saat wajahnya tertunduk, menunjukkan busana yang di kenakan dengan lentangan kedua tangannya. "Yang ini bagus ga?"


"Lo pikir sendiri lah!" Baru saja kelembutan beriring di balik nada bicara saat tadi, kini berganti begitu cepatnya. Jackson tidak ingin menyambut suasana, sehingga nada jengah mewakili perasaannya.


"Tadi lo yang nanya, makanya gue nanya lagi." Fiona menimpal kesal, menanggapi tingkah yang berubah dengan mudahnya itu.


"Buat gue sih ... mau pake apapun ga ada pantesnya buat lo mah," ujar Jackson menenangkan rahang yang mengerat di sampinnya. Namun, balasan keji di dapatinya, ketika Fiona menepuk keras lengan kirinya.


Tiada lagi kata yang terucap dari mulut Fiona, Jackson melambaikan tangan. "Udah kan? Lo cuma mau ngasih lihat baju ini doang?" ujarnya beriring dengan tunjukan dari telunjuknya pada gaun yang di kenakan Fiona.


Fiona melenguh pasrah, sudah dapat di pastikan jika kehadiran Jackson tidak akan berlangsung lama. Sehingga ia hanya menganggukan kepala, mewakili jawabannya.


Mendapat sahutan akan pengertian maksud dari ucapan, Jackson berundur diri. Menghilang tanpa kembali mengucap pamit pada wanita yang hanya dapat menatap punggungnya itu.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2