Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 32


__ADS_3

Pagi menjelang, Tara melepas reaktan kelopak mata meninggalkan alam mimpinya. Ia mengerjapkan mata dan menguap, sesuatu yang ditangkap oleh penglihatan matanya pertama kali bukan langit-langit kamar atau suasana kamar seperti biasanya yang dia dapati setiap harinya, melainkan sosok wajah tampan yang masih memejamkan mata di hadapan.


Kekagetan merayap dalam benaknya, apa ini? Biasanya dia tak memiliki pria di atas ranjangnya. Seketika emosi dan kemarahan merangkak menuju benaknya, tapi belum sempat dia mengeluarkan suara untuk berteriak, suaranya tertahan di tenggorokan ketika otaknya memberi respons dan mengatakan jika Tara mengenalinya, segera saja semua yang terjadi sebelumnya terlintas dalam benaknya.


Benar, ini adalah hari pertama yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, yang tidur dengannya dalam satu ranjang yang sama adalah sosok pria yang telah berstatus menjadi suaminya, beberapa jam yang lalu, bisa dibilang sehari yang lalu.


Setelah emosinya mereda, ia segera beranjak dari sana, meninggalkan tempat tubuhnya beristirahat untuk membersihkan dirinya, berlanjut dengan menyiapkan sebuah hidangan untuk makanan pagi suami serta dirinya sendiri.


Hari baru, kegiatan baru, kehidupan baru, hal-hal yang tak dilakukannya pada hari-hari lalu, kini ia melakukannya, dengan inisiatif sendiri tentunya. Bekerja dalam keheningan dan melakukan semuanya dengan baik, memiliki kemampuan sebagai Ibu rumah tangga, hal semacam ini bukan sesuatu yang sulit dan sukar untuk dia kerjakan.


Tepat ketika ia berhasil mempersiapkan santapannya, Sammuel yang sepertinya baru saja bangun dari tidurnya segera mendaratkan tubuhnya pada kursi di dekat meja makan, menguap tertahan dan menyaksikan sesuatu yang sudah tersedia di sana. Sesuatu yang jelas dibuat oleh wanita itu sejak terjaga dari mimpinya.


"Lo yang bikin ini?" tanya Sammuel. Sorotan matanya menatap heran piring berisikan spageti yang terhidang di atas meja makan itu. Tampak sangat menggugah selera, meski sederhana, tapi itu membuat perut makin keroncongan.


"Tukang bubur!" ketus Tara melengos dalam kekehannya, melontarkan candaan yang langsung membuat suaminya kian terheran-heran. Apa hubungannya antara tukang bubur dan spageti?


"Kenapa bisa tukang bubur bikin spageti?" gumamnya dengan heran, Sammuel tak acuh ketika pikirannya berpusat pada kegiatannya yang telah berhasil duduk di atas kursi. Otaknya tampak sangat lambat mencerna dan menyadari segalanya.


Tara kian terkekeh menanggapinya, ia menatap konyol wajah suaminya. "Makanya kenapa bisa tukang bubur, kalo bukan aku terus siapa lagi?" Tara menggeleng, siapa lagi di dalam bangunan ini yang akan membuat makanan memangnya? Kecuali ada pengirim khusus makanan atau ada pelayan, jelas dia satu-satunya.


"Setan imut ini ...." Sammuel tersenyum gemas dibuatnya, namun hanya sejenak ia segera menyuapi dirinya dengan santapan yang telah dipersiapkan istrinya.


Dalam suasana canggung yang merundung keheningan, mereka kini menyantap makanan pagi masing-masing. Tak ada percakapan khusus di antara mereka. Tak ada komentar yang dilontarkan dari mulit sammuel, entah pujian atau hinaan, hanya menikmati sarapan saja yang ia lakukan. Padahal Tara ingin tahu apakah hasil tangannya sesuai atau tidak dengan selera pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Sayangnya, dari awal sampai akhir sarapan, tak ada kata atau kalimat yang terlontar dari mereka.


Seusainya, Sammuel beranjak meninggalkan tempat itu, pergerakannya segera dibuntuti sang istri di belakangnya.


Sammuel rupanya mengganti pakaiannya dengan pakaian tempurnya dibantu oleh sang istri yang memasangkan dasi untuknya. Tampak kegiatan yang benar-benar seperti pasangan suami-istri yang bahagia, pasangan yang berasal dari pernikahan pasangan saling mencintai. Tapi bukan itu alasannya, Tara merasa perlu melakukan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang wanita yang sudah menikah, itu saja.


"Udah lihai juga pasang dasi, apa belajar dari mantan lo yang bikin lo nyium gue pas pertama kita ketemu itu?" ujar Sammuel penuh ledekan.

__ADS_1


Tara berdecak ringan membalasnya, ia enggan membicarakan mantan gilanya itu. Kenapa juga harus menyinggung rumah tangga terakhirnya segala? Pria ini benar-benar menyebalkan.


"Makasih pujiannya!" sahut Tara ketus, meluapkan emosinya dengan aksinya yang mengencangkan ikatan dasi pada leher suaminya hingga sang suami meringis menahan sakit. "Udah aku bilang jangan bahas dia lag ...,” imbuhnya yang segera terhenti ketika ia melihat wajah suaminya yang telah memerah. Sepertinya jika lebih dari ini, kehangatan suhu tubuh beserta jiwanya akan segera terangkat dari raga tersebut.


Lantas ia segera menghentikan aksinya dengan memperbaiki lipatan dasi pada suaminya. Dia melepaskan hingga tangannya bergerak berlebihan karena kekesalannya.


"Tega lo ya, bunuh suami sendiri,” ringis Sammuel, ia mengeluh hingga mengelus lehernya yang terasa sakit akibat ulah istrinya.


"Kapan?" Tara melotot dendam. Rasa sebalnya belum luntur.


"Barusan!"


"Belum mati kan?" tanyanya dengan sarkastis.


Sammuel mengabaikannya, ia memalingkan arah pandangnya ke sampingnya saat hidungnya merasakan gatal di sekitar dalam sana, maka tak lama kemudian ....


Setelah melepaskan rasa gatalnya, Sammuel mengusap hidungnya sebagai penyempurna luapan bersinnya saat lalu.


"Kamu flu?" tanya Tara ketika melihat itu.


"Dikit."


Tanpa diketahui Tara, sesungguhnya semalam tadi Sammuel terbangun di tengah malam hanya untuk melepas hasratnya sendiri hingga merendam tubuhnya di dalam air dingin. Itulah alasan dari apa yang saat ini ia alami.


"Mana ada flu dikit, kamu mau aku beliin obat dulu?" ujar Tara cemas. Kini punggung tangannya menyentuh kening suaminya memastikan suhu tubuh suaminya tidak terasa ada keanehan, tampak jika wanita itu memberikan perhatian yang semestinya.


"Ga usahlah,” tolak pria itu, merasa jika ini bukan apa-apa. Maka Tara memutuskan tak perlu ambil pusing.


"Ya udahlah aku yakin kamu bukan cowok lemah," ucap Tara yang terasa ambigu bagi suaminya.

__ADS_1


Sammuel hanya tertawa menyikapinya, segera ia beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Tara termenung dalam batinnya yang teriris, lagi dan lagi ia tidak akan mendapat sebuah kecupan dari pasangannya seusai melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Ini terasa tak lengkap karena tak ada balasan dari sang suami, padahal dia sudah melakukan hal yang semestinya.


Tapi semua itu segera ia lupakan, Tara tak terlalu memedulikan akan hal itu, ia ingat jika ini bukan pernikahan yang dilakukan oleh pasangan saling mencintai, tapi anggap saja ini pernikahan kontrak, harusnya hal-hal yang seperti ini sudah wajar terjadi. Tak mau ambil pusing, Tara segera bergegas mempersiapkan dirinya untuk menuju sebuah tempat di mana ia akan melakukan aksinya bersama 5 adik angkatnya.


Baru saja Tara akan membuka pintu ruang tersebut, pintu itu telah terbuka dari arah luarnya.


Nampak Sammuel di baliknya sudah berdiri tegak dengan tangan mengulur memberikan sebuah benda kepada istrinya.


"BMW coklat, B 8 SNL , basemen lantai GF baris C, sementara lo pake mobil gue dulu. Password apartemen 080880." Penjabaran Sammuel mencerocos membuat Tara mengabaikan kalimat awalnya dan hanya mengingat kalimat akhirnya.


Meski demikian, Tara meraih benda tersebut dari tangan suaminya. "Thanks." Lagi dan lagi senyuman tergambar dari wajahnya hanya untuk pelengkap sandiwaranya semata.


Sammuel menarik lengan istrinya dengan kedua tangannya, didaratkannya sebuah kecupan pada kening istrinya dengan singkat.


Akhirnya Tara tersenyum riang mendapat apa yang selalu dimimpikannya, sungguh perlakuan itu membuat jiwanya menghangat seketika hingga tanpa sadar ia menitikkan air matanya. Dugaannya salah, ternyata ia juga dapat menerima apa yang diterima oleh seorang istri dari suami sahnya.


Sammuel enggan melakukan hal lebih yang akan merendahkan gengsi dari sikap dingin serta arogannya, bahkan akan menyulut api gairahnya kembali, ia segera melangkahkan kakinya menjauhi istrinya di sana, mengabaikan reaksi yang wanita itu tampakkan dari perbuatan yang baru saja dia lakukan.


Tara tidak peduli dengan betapa cuek sikap itu yang selalu didapatinya dari mantannya dahulu kala, hingga ia sudah terbiasa menerimanya, bahkan kini dari suaminya sendiri.


Tanpa kata atau gelagat lain, Tara segera beranjak dari tempat tinggal barunya untuk menggapai tujuannya, di mana ia akan melantunkan suara dalam nyanyiannya pada sebuah tempat yang disebut sebagai studio musik. Hanya sedikit hari yang tersisa sebelum dia mulai bekerja di tempat baru, mungkin hari-hari luang yang selama ini dijalaninya akan segera berakhir. Bekerja di kantor tentu akan menyita waktunya, maka dari itu, selama masih ada waktu yang tersisa, dia akan memanfaatkannya sebagai mungkin.




__ADS_1


__ADS_2