Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 105


__ADS_3

Sayup-sayup angin berhembus, menepis gerangnya udara sore hari itu.


Sebuah universitas ternama di pusat kota itu telah menghening, tersisa Tara seorang diri menanti jemputan pribadi di hadapan gerbang universitas tempatnya menuntut ilmu itu.


Namun..


Ferrari Portofino marun bernomor B 1 TR mendarat di hadapannya, pintu pengemudi yang berada di hadapannya itu terbuka, menampakan seorang pria tampan turun dari kendaraan itu.


Tara menyiratkan senyum lebarnya kala sang pria berdiri di hadapannya menyambut senyum manisnya dengan senyum menawannya.


"Jack, kamu udah pulang?" Sapa Tara menyerukan keceriaannya menyambut pria itu dengan merekatkan jarak tubuhnya pada sang pria yang masih menyiratkan senyum menawannya.


"Yes sweaty, kamu harus ikut aku hari ini." Ajak Jackson penuh rajukan tat kala sang tangan berhasil mengusap puncak kepala wanita yang telah mendongkak menatapnya.


"Siap!" Tara menyahut tegas. Tanpa arahan dari pria yang telah menatapnya penuh gemas itu, ia berjalan menuju pintu penumpang kendaraan mewah itu.


Sedang Jackson kembali masuk ke dalam kendaraannya tanpa membantu membukakan pintu untuk kekasihnya.


Kendaraan raja jalanan itupun melaju menyusuri lantai berbalut aspal di tengah ibu kota petang itu.


Selama di perjalanan mereka membisu, pasalnya entah mengapa Tara yang selalu terganggu tidurnya dengan pikiran-pikiran buruknya pada suaminya kini pikiran itu melega hingga membuatnya tertidur pulas di dalam ruang yang hanya mampu menampung dua orang saja itu.


Akhirnya sang kendaraan menepi di halaman luas rumah mewah seorang pemimpin tertinggi perusahaan nomor satu dalam negri itu.


Jackson tidak tega jika harus mengganggu tidur sang wanita, hingga ia segera meraih tubuh itu, membawanya dalam pangkuannya untuk menggapai tujuannya.


Di tengah perjalanannya, di tiliknya wajah polos itu yang ingin sekali menjadi buruan sentuhan tangannya. Namun apalah daya hasratpun binasa kala kedua tangannya tidak mampu menggapainya lantaran tubuh itu menumpu di atasnya.


Akhirnya langkah Jackson menepi di dalam ruang tidurnya. Tepat kala ia berdiri di samping tempat tidur yang tersedia, iapun melepas tubuh itu dari pangkuannya. Merebahkannya di atas tempat tidur pribadinya itu penuh waspada.


Hingga saat tubuh itu terbaring di sana, sekilas ia mengecup keningnya tak lantas melirik wajah anggun itu yang tertidur mengerutkan dahinya.


"Masalah apa yang bikin kamu ngerutin jidat waktu tidur gini?" Serunya menjanggal dalam senyuman gemasnya di iringi uluran tangannya yang berhasil mengusap pipi cubby penyempurna kecantikan wanita itu membuat kerutan dahi itu seketika sirna.


Melihat itu, ia memaparkan senyum leganya, mengharap sang wanita telah mendapat ketenangan batinnya hingga ia mengunci tatapannya pada wajah yang kini berseri itu meyakinkan sang hati jika saja kerutan dahi itu terpampang lagi.


Setelah merasa puas, iapun keluar dari kamar itu menuju ruangnya untuk melakukan pekerjaannya.


3 jam kemudian, Tara sudah kembali dari alam mimpinya. Melihat keadaan sekitar yang nampak asing baginya, dengan tergesa ia beranjak bahkan mengayunkan kakinya memburu untuk mencari tau di mana kini ia berada sebenarnya.


Tepat kala kakinya mengayun di atas anak tangga, senyuman tersirat dari wajahnya tat kala melihat seorang pria yang di akui sebagai kekasihnya telah terbaring di atas sofa di samping anak tangga itu.


“Jack.” Panggil Tara di sambut segera oleh sang pemilik nama dengan melepas rebahannya hingga duduk pada sofa di sana.


"Udah bangun?" Sahut Jackson berseru gemas melihat wajah yang masih kusut itu terlihat berbeda dari biasanya.


"Sorry, aku tidur lama ya?" Sesal Tara di sela langkah kakinya yang masih mengayun menghampiri pria yang telah menggelengkan kepalanya di sana tak lantas sang pria melirik alat pengukur waktu yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.


"3 jam 10 menit 12 detik." Jawab Jackson di sambut tepukan ringan pada tangannya kala wanita itu berhasil duduk di sampingnya.


"Harus gitu selengkap itu?" Cibir Tara terabaikan kala sang pria tertawa kecil menyikapi kerucutan bibirnya.


"Aku mau bawa kamu ke suatu tempat, mau mandi dulu?" Tanya Jackson merajuk hingga mengusap puncak kepala kekasihnya dengan mesranya seolah meluapkan rasa rindunya pada wanita yang telah menatapnya penuh janggalan.


"Ke mana?" Sahut Tara menatap mata yang memancarkan aura indahnya. Begitu lembut, hingga sejenak ia mengunci tatapannya pada wajah tampan itu.


"Tempat makan, kamu lapar kan? Aku udah pesen tempat makan special buat kamu." Balas Jackson menjabarkan tujuannya dalam tatapan rayuannya membalas tatapan kagum wanita itu hingga ia tidak mau kalah menyebar kasih dari telapak tangannya yang tak henti mengusap puncak kepala itu. “Kamu siap-siap aja dulu.”


"Aku udah cuci muka, cuma_" ungkap Tara terpenggal kala ia menatap tubuhnya seraya merabanya. "Aku ga bawa baju ganti."


"Di dekat tempat makan itu ada mall." Sahut Jackson berseru merajuk pada kalimatnya kala tangannya telah terlepas dari puncak kepala itu.


"Ribet deh."


"Yakin mau pake baju gini?" Jackson menatap tubuh wanita itu, melirik busananya yang mengenakan rok selutut serta kemeja bervariasi pita itu membuatnya terperosok dalam imajinasi liarnya.

__ADS_1


"Aku udah lapar, ga bisa mampir ke mana-mana dulu kayanya." Balas Tara menyahut tegas kala sang perut berseru meminta asupan gizi membuat pria di sampingnya tertawa kecil mengikapinya bahkan mengangguk faham mengakhiri leluconnya itu.


"Ada baju kamu bekas dari rumah sakit waktu itu, di lemari kamar tadi. Kamu bisa ambil sendiri kan?" Seru Jackson di balas gerakan wanita di sampingnya yang telah tersenyum lega tak lantas bangkit berdiri di hadapannya.


"Tunggu bentar ya." Pamit Tara tanpa menunggu jawaban ia bergegas memburu langkahnya.


Begitupun dengan Jackson, ia menuju tempat lain untuknya mengganti busananya.


*******


Hari mulai gelap, senja menyusut berganti rembulan, dinginnya udara berhembus menyapu wajah Tara yang telah memijakkan kakinya di atas lantai bangunan restaurant ternama di pusat kota itu.


Langkah mereka mengayun di iringi kesan romantis tat kala jemari mereka saling terpaut memancarkan kerinduan yang terpendam selama delapan hari itu. Bukan Tara yang merindu, melainkan seorang pria yang telah menuntun langkah wanitanya hingga terhenti di balik pintu ruang khusus yang terdapat di sana.


Perlahan pintu ruang terbuka namun membuat air payau mengalir tanpa pelantara dari ujung mata indah sang wanita kala menelusuri pandangannya pada ruang yang telah berhias itu.


Pandangan mata indah sang wanita mengedar dan terhenti pada ratusan bunga mawar ungu membentuk sebuah kalimat dengan tulisan ucapan selamat yang melekat pada dinding di hadapannya.


Hanya sesaat, kembali pandangannya mengedar pada hidangan yang sudah tertata rapih di atas meja yang tersedia di sana lengkap dengan lilin putihnya.


Bahkan ada sebotol Wine tersedia di sana lengkap dengan topingannya. Namun yang begitu menarik perhatiannya adalah sebuah kue tart berlilin angka 3o tersusun di tengah lingkaran lilin putih itu.


"Happy birthday sweaty." Tutur Jackson menyerukan ucapannya dengan tangannya yang mengulur menyerahkan sebuah kotak merah kepada wanita yang masih meluncurkan air payaunya di hadapannya.


"Thanks Jack." Sahut Tara diniringi senyuman harunya tanpa meraih benda yang masih bertengger di atas telapak tangan pria yang telah di rangkulnya dengan eratnya.


Jackson menyeringai ceria mendapat ungkapan kasih dari rangkulan pada lehernya itu hingga ia sudi membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang wanita itu.


Dalam lehernya yang masih di rangkul sang wanita, Jackson membuka lipatan kotak merah itu. Di raihnya isinya lantas ia melepas lembut tangan yang mengalung pada lehernya, di sematkannya cincin berlian itu pada jemari sang wanita.


Kali ini Tara merancu, perhiasan yang sudah menyemat pada jemarinya mengingatkannya pada pemberian sang suami saat lalu yang tidak sempat ia gunakan saat ini.


Hati itupun meresah, mengumandangkan kegundahannya. Namun mengingat suaminya yang tengah melupakannya untuk ketiga kalinya, kegundahan itu berubah menjadi sebuah emosi yang membuatnya sudi menerima perlakuan pria yang telah menyorot tajam mata indahnya.


"Kamu pulang sekarang karna tau hari ini aku ultah ya?" Tanya Tara di sela kegiatannya yang telah menyentuh steak yang terhidang di hadapannya.


"Hmmm." Dengung Jackson sebagai jawaban pekatnya tanpa kata terucap kala sang mulut di penuhi santapannya.


"Masih inget juga sama hari ini." Sahut Tara menggeleng tidak percaya, ia tidak mengira jika pria yang masih menatapnya penuh kagum di hadapannya masih mengingat hari kelahirannya. Tidak seperti seseorang yang kini entah di mana berada, pria di hadapannya terlihat lebih perduli kepadanya.


Sangat jelas! Jackson akan mengingatnya, kejadian 12 tahun silam setelah Jackson menelusuri kehidupan wanitanya, ia mengetahui bahwa hari itu adalah hari kelahiran sang wanita.


"Aku pasti inget kamu, kamunya aja yang ga pernah mikirin aku." Sindir Jackson menyeleneh membuat sang wanita terkekeh geli.


"Kamu ga lupa kan sama janji kamu?" Sejenak Tara melirik wajah itu yang tengah tertunduk menatap santapannya.


"Masih." Sahut Jackson mengangkat wajahnya menyerukan kesungguhannya dalam tatapan cintanya. "Kamu juga ga lupa kan buat izinin aku cinta sama kamu?" Imbuhnya mengingatkan sang wanita namun mengapa batinnya yang malah tergores rasa kecewa.


"Kalau kamu inget aku juga inget." Balas Tara tak kalah melirih dari wajah pria yang kini telah tersenyum kepadanya membuatnya menghentikan kegiatan makannya kala sang santapan telah masuk setengahnya ke dalam perutnya.


"Steaknya ga enak ya?" Seru Jackson menjanggal dengan dengan gerakan tangan wanita itu yang menelungkupkan pisaunserta garpunya di atas piring hidangan.


"Enak kok!” Sahut Tara menepisntegas. “Cuma aku ga mau makan teralu banyak daging." Imbuhnya menepis kekecewaan yang terpampang dari wajah pria di hadapannya, ia meraih gelas lantas menuangkan Wine yang tersedia ke dalamnya.


"Nanti kan minum, ga akan menggumpal kok lemaknya." Rajuk Jackson dengan caranya yang salah agar wanita yang masih berpusat diri pada Winenya sudi melanjutkan santapannya.


"Minumnya harus setengah botol kalau gitu, baru ilang tuh lemak." Lengos Tara di balas senyuman oleh sang pria kala ia berhasil menyodorkan gelas berisi minuman itu kepada sang pria.


"Cari makanan lain aja kalo gitu, dari pada kamu harus minum banyak gitu." Protes Jackson menyerukan rasa khawatirnya dengan tatapan memelasnya membuat kekasihnya tersenyum untuk menghiburnya.


"Jack bisa ga izinin aku minum kali ini aja?" Tara merajuk dengan manjanya berusaha meminta agar sang pria yang melenguh di sana memberikan persetujuannya.


Sesungguhnya ia menginginkan kehilangan kesadarnnya untuk menepis rasa emosinya terhadap suaminya yang hingga kini masih belum dapat di temuinya.


Jackson mendengus keras. Bagaimana mampu ia menolak keinginan sang pujaan hati jika nada manja itu selalu membuat hatinya goyah. "Karna kamu ultah." Sambutnya menyerukan persetujuannya dengan mengangkat gelas yang terhidang untuknya itu. "Buat kali ini, aku izinin." Imbuhnya membuat sang kekasih melebarkan senyumnya.

__ADS_1


Tara sudah tidak asing dengan kelembutan itu, seperti biasanya Jackson selalu mengabulkan keinginannya. Lantas tanpa bersuara, ia segera menyulangkan gelasnya dengan gelas kekasihnya tak ayal meneguknya dalam satu kali tegukan hingga habis tak bersisa setetespun.


"Kamu ga mau minum?" Tanya Tara menjanggal kala melihat gelas milik sang kekasih masih terisi setengahnya. “Maksudku ga mau minum banyak?” Imbuhnya yang lantas mengusap bibirnya dengan punggung tangannya membuat hati sang kekasih menggemas hingga ingin menerkamnya.


"Kalau aku minum banyak, siapa yang jagain cewe nakal ini?" Sindir Jackson menyeleneh dalam senyuman ledeknya di akhir kalimatnya.


Tara membisu, membungkam mulutnya dengan sisa steak yang tersedia. Kini habislah sudah steak itu, dan ia meraih botol Wine itu lantas meneguknya hingga isinya hilang separuhnya.


"Sesuai janji." Seru Tara seusai menyingkirkan botol minuman itu dari mulutnya hingga mengangkat botol itu memperlihatkan kepada sang pria yang telah menggelengkan kepalanya.


"Oke kalo gitu_" Jackson meraih botol minuman itu, lantas menaruhnya di bawah kakinya, memastikan agar wanita di hadapannya tidak mengingkari janjinya. "Ga usah minum lagi kan?"


Hilang sudah kekokohan anggota tubuh Tara, ia tersenyum dalam matanya yang tinggal separuhnya terbuka.


Jackson kembali menghembuskan napas kasarnya mewakili rasa cemasnya pada wajah yang telah memerah itu. Lantas ia bangkit, menarik kursinya menuju samping kekasihnya berjaga jika saja tubuh itu ambruk seketika.


Di dekapnya tubuh itu yang mulai melunglai hingga menumpukan wajahnya di atas meja.


"Art Tara, bisa ga jangan bikin aku khawatir terus?" Lirih Jackson mendapat balasan senyuman menyeramkan dari wanita yang telah kehilangan kesadaran separuhnya itu. "Aku ga mau lihat kamu gini, kamu lupa aku cowo kamu?"


"Kamu harusnya larang dia, bukan larang aku." Lengosnya yang membuat sang kekasih tercengang mengartikan jika kata ‘dia’ adalah seseorang yang selalu berebut kasih dengannya.


“Iya nanti aku larang dia.” Sahut Jackson tak acuh dengan terkaannya hingga ia membalasnya hanya untuk menenangkan batin wanita di sampingnya yang telah mencurahkan emosinya dengan luapan air matanya.


“Jahattttt.” Seru Tara melenting lirih membuat sang kekasih menggeleng dalam janggalannya.


Jackson menerka jika sang kekasih hati memiliki risalah dengan keluarganya yang telah di ketahuinya bagaimana kelurga wanita itu memperlakukannya.


Jeritan batin pemicu deraian air mata wanita itu, membuat Jackson mendekap erat tubuh yang sudah melunglai itu.


****


"Ke apartement sekarang."


Pukul 19:30 Sammuel mengirim sebuah pesan kepada istrinya.


Sepuluh menit berlalu, ia masih menatap layar alat medianya setelah mengirim pesan singkat itu, hingga setengah jam kemudian ia masih tidak mendapat jawaban.


Iapun bertekad melakukan panggilannya yang sesungguhnya enggan sekali ia melakukannya lantaran sang gengsi masih belum enyah dari sikapnya. Namun naas, panggilannya terabaikan kala sebuah keterangan menyatakan tidak dapat terhubung membuat rasa frustasi mengepul di atas kepalanya.


Ia mencengkram kuat rambutnya mewakili rasa frustasinya, setelah setengah jam kemudian ia baru menyadari bahwa pada hari kelahiran wanita itu, sang kakak sebagai kekasihnya akan mengambil alih istrinya. Tidak pernah di ketahuinya jika sang kakak sempat pergi meninggalkan istrinya.


Iapun mencari taunya dari asisstant kakaknya hanya untuk sekedar bertanya di mana keberadaan kakaknya saat ini. Setelah di dapatinya, iapun bergegas melangkahkan kakinya menuju di mana kendaraannya terparkir.


Lantas melajukan kendraannya mencahar jalanan malam itu menuju sebuah rumah makan bergengsi yang di sebutkan seseorang sesaat lalu.


Sesampainya ia menggapai tujuannya, ia tidak menampakkan dirinya di hadapan istrinya. Ia hanya memarkirkan kendaraannya di depan pintu masuk ruang itu untuk hanya sekedar melihat keadaan istrinya di balik ruang kendaraan itu.


Satu jam sudah ia menunggu di dalam kendaraan mewahnya hingga ia melihat istrinya berjalan sempoyongan dalam rangkulan kakaknya membuat rasa frustasi itu semakin membuncah.


Sementara keadaan Jackson, ia menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu masuk itu kala melihat sebuah Merci SL class putih bernomorkan B 54 M yang sangat di fahaminya siapa pemilik kendaraan tersebut.


Jackson menjanggal, namun ia mengabaikannya kala tubuh itu membutuhkan tuntunannya dalam langkahnya lantaran kaki sang wanita yang semakin goyang itu hingga ia tidak melepaskan tubuhnya dari rangkulannya tangannya.





Tbc


Hai para readers Asmara Jajar Genjang, setelah ini upload agak lambat ya karna sesuatu yang mendesak. Untuk waktunya tidak bisa di tentukan, semoga aja secepatnya bisa up lagi.


Tetap dukung cerita ini dengan like, komentar, dan rating 5 ya 😉

__ADS_1


__ADS_2