Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 123


__ADS_3

Malam begitu mencekam berhias bintang bertaburan di atas langit, cahaya bintang bersinar terang menutup hari di jam dua belas malam itu.


Hanson kini sudah duduk gelisah di atas sofa ruang tamu kediaman Triana setelah beberapa jam lalu kembali dari sebuah club di mana ia menyaksikan perkelahian kakak serta adik kandungnya.


"Sorry Tri aku jadi ganggu kamu,” seru Hanson penuh penyesalan tak ayal seraya menatap lirih wajah Triana yang berdiri di hadapannya.


"Salah aku juga udah ajak kamu ke sana," balas Triana tidak enak hati.


Ia menyerahkan kaleng minuman soda itu kepada Hanson untuk jamuannya yang di sambut langsung oleh sang tamu dengan meraihnya.


"Sumpah aku prihatin sama kamu Tri." Hanson tersenyum seolah meledek wanita yang telah mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang berada di samping sofa tempat menumpu tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Triana.


"Baru juga keluar malah dapet masalah," ujar Hanson berbalas tawa kecil dari Triana.


"Ada untungnya juga aku keluar malem ini, kamu jadi tau sipat asli tunangan kamu kan?" balas Triana mendapat anggukan ringan dari pria yang membungkam mulutnya.


Sejenak hening melanda kala mereka saling menenangkan diri dengan minuman yang di teguknya perlahan.


"Itu sih untung buat aku bukan buat kamu." Hanson terkekeh seraya meraih bungkusan rokok dari dalam saku kemejanya.


"Anggap aja buat bayaran aku sama kamu."


Hanson membungkam mulutnya lantaran tengah menyulut batang rokoknya, lantas memberikannya pada wanita di hadapannya. "Aku ga akan lama di sini, kasian mama kamu keganggu."


"Keganggu apa, dia tidur udah kelamaan, sampe setaun lebih ga bangun-bangun." Dengus Triana seolah kesal dengan keadaan yang sudah tidak mampu mengharap ibunya akan terbangun.


Sudah lelah ia memanjatkan do'anya untuk ibunya. Bukan menyerah, hanya saja ia merasa kisah buruk darinya lah yang membawa nasib naas pada ibunya.


Hanson terkekeh menanggapi ucapan itu lantas menatap lekat bibir tipis yang terangkat menyiratkan senyumannya. "Tetep aja aku ga bisa lama di sini."


"Kamu yakin ga butuh hiburan dari aku?" ucap Triana meminta.


"Kamu sendiri butuh hiburan malah sok ngehibur orang lain,” balas Hanson dalam senyuman tak ayal tatapannya masih menyorot pada wajah itu.


"Aku sih udah biasa kali." Triana berusaha tersenyum meski hatinya melirih membuat Hanson beranjak hingga duduk tepat di sampingnya.


"Kamu kalo mau bahagia, ga usah sok jadi cewe baik." Rasa iba yang merangkak dari dalam asma Hanson, membuat tangannya terulur memberikan usapan pada puncak kepala sang wanita.


"Lo malah yang nakal Hans, ngapain deket-deket?" protes Triana di sertai tatapan sinisnya pada tampan yang telah memberikan tawa kecilnya.


"Biar bisa gini." Hanson merangkulkan tangannya pada pinggang Triana di tepis empunya dengan rontaan ringannya.

__ADS_1


"Pelecehan ini namanya." Triana gelisah hingga bergerak kikuk tat kala sang hati merespon tindakan lelaki itu namun mulutnya berkata lain.


"Triana." Kini tangan Hanson meraih dagu sang wanita agar menatapnya. Sejenak tatapan mereka saling bertemu, berpadu meresapinya satu sama lain. "Mata kamu ga bisa bohong, kamu lagi sedih Tri."


Pyuhhhh.. Triana menghempas asap rokoknya menuju wajah Hanson.


Hanson terlambat menutup matanya, asap itu membuat matanya berkaca-kaca membuat sang wanita tidak enak hati atas ulahnya.


"Sorry,” ucap Triana penuh penyesalan hingga mengusap mata itu dengan telapak jarinya tanpa berpikir lebih. "Kamu ngagetin sih."


"Hidup aku lebih ngagetin,” ujar Hanson terpenggal kala jemari tangan itu terlepas dari matanya. "Aku baru lihat ada orang sesabar kamu," imbuhnya kembali terpenggal kala ia memiringkan tubuhnya, menapakkan sebelah telapak tangannya pada penyandar sofa. "Aku kagum sama kamu, dari kecil kamu udah kehilangan kebebasan hidup, tapi kamu masih bisa senyum kaya gini."


"Ga usah ungkit cerita hidup aku deh, aku baru aja tau yang namanya ikhlas, jangan bikin aku kaya dulu lagi,” ucap Triana membuat sang pria kian berempatik terhadap dirinya.


"Kamu tau, sikap kamu kalo kaya gini bikin aku keinget si Tara." Hanson terkekeh di akhir kalimatnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Yaelah kamu ini, aku udah seneng kamu puji, ujung-ujungnya berkat orang lain," protes Triana hanya sebagai penghibur semata. Namun entah mengapa batinnya meringis pedih membawa rasa kecewanya jika pujian itu tidak tertuju untuk dirinya.


Hanson tersenyum sebelum membuka suaranya. "Tapi beneran aku jujur sama kamu, yang bikin aku kesengsem sama dia tuh karna sikap dewasanya kaya kamu tadi."


"Maksud kamu, kamu ga suka sama si Fiona karna dia manja?" seru Triana seolah memancing.


"Ga cuma manja tapi juga jahat, pake licik lagi,” sahut Hanson berseru tanpa arah kala sorot matanya menatap lekat wajah anggun yang di rasanya menarik perhatiannya.


"Paket hemat tuh, harusnya cocok sama kamu, udah breng*ek, sengklek, bi*dab pula," gurau Triana membuat Hanson kembali terkekeh gemas.


Benarkah selama ini ia mengagumi seorang wanita hanya mencari pelampiasan semata seperti layaknya pada kekasihnya yang telah meninggalkannya untuk selama-lamanya lantaran suaranya yang mirip dengan ibunya hingga ia sudi memperlakukannya sebagai wanita berharga di hatinya.


Setelahnya, ia memiliki hasrat lebih terhadap Tara lantaran suara serta tubuh wanita itu yang serupa dengan mantan kekasihnya bahkan kini mendapat bonus dari sikap serta wajah yang menyerupai mendiang ibunya.


Kini kembali ia mencari pelampiasan dari penolakan Tara terhadap Triana yang memiliki sipat serupa dengannya.


"Sorry aku udah bikin kamu jadi bahan pelampiasan." Kini Hanson kembali mengelus puncak kepala wanita yang masihs etia duduk di amsampingnya.


"Aku murahan ga sih, cuma dapet perlakuan manis dikit gini udah baper?" sindir Triana seraya menatap miris wajah pria yang kembali tersenyum gemas menanggapi ucapannya.


"Ga apa-apa murahan asal jangan diskonan," ujar Hanson menghibur tanpa melepas tangan itu dari atas puncak kepala sang wanita.


"Oke kamu menang Hans." Kini Triana merebahkan punggungnya pada penyandar sofa membuat elusan itu terhempas dengan mudahnya.


Hanson tersenyum menyertai kemenangannya menanggapi ucapan itu. "Aku janji pasti akan bikin kamu bebas dari sini."


"Udah keseringan kamu ngomong kaya gitu, tapi sampe sakarang udah sebulan ga ada hasil.”

__ADS_1


Hanson melepas posisinya, kini bersejajar dengan Triana di iringi helaan napas rancunya. "Kali ini pasti berhasil!” ujarnya berteguh diri hingga melempar tatapan kesungguhannya.


"Ada cara yang ga kamu pake selama ini?" Triana menatap lekat wajah Hanson, menunggu jawaban yang di inginkannya.


"Hmm, aku masih ragu sama kamu." Hanson membalas tatapan itu tak kalah lekatnya membuat empunya enggan menepis pandangannya. "Kalo aja kamu berkhianat, aku pasti ancur tanpa bisa bangkit lagi."


"Ya udah ga usah kalo gitu, aku juga ga yakin kalo aku ga berhianat!" ujar Triana bersungut sebal dalam sindirannya di iringi senyum manisnya membuat Hanson menahan pandangannya sejenak.


Hanson menilik wajah jelita itu, mulai dari mata bulatnya, bulu mata lentiknya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, pipi cubby nya, rambut hitam sepinggang berwarna hitamnya hingga berakhir pada dagu berumpaknya membuat jantungnya berdetak berkumandang dengan riangnya.


Sayang sungguh aayang, tubuhnya lebih berisi dari pada Tara yang lebih ramping, bukan berarti Triana lebih gemuk, melainkan inilah ukuran pas tubuhnya yang memiliki tinggi 171 senti meter, sedang Tara yang memiliki tinggi 174 senti meter memiliki berat badan di bawah rata-rata.


Begitupula dengan Triana yang menilik wajah rupawan itu, mulai dari mata sipit namun genitnya, hidung mancung yang sempurna, pipi ovalnya, dagu lancipnya, dan berakhir pada bibir tipis berwarna merah kehitamannya membuat rasa ingin menyentuhnya bergejolak dari dalam asmanya.


"Enn kamu katanya ga mau lama di sini?" Triana mengalihkan pandangannya pada jam yang bertengger di dinding itu tat kala jantungnya mulai berdentum tanpa iramanya.


"Oke, aku balik lagi ke sini kalo ada kabar baik,” ujar Hanson bangkit dari duduknya menyambut usiran halus saat lalu.


"Bisa kan di telpon aja?" Tianapun turut bangkit menghadap pria itu untuk mengantar kepergiannya.


"Segitunya lo mau ngehindar dari aku?" ucap Hanson.


"Aku ga mau repotin kamu terlalu banyak," balas Triana penuh penyesalan.


"Aku ga ngerasa di repotin kok."


"Akunya yang ga enak dodol."


"Udahlah ga usah basa-basi lagi." Dan Hansonpun melangkahkan kakinya di buntuti sang pemilik rumah di belakangnya hingga menepi di hadapan pintu ruang itu.


"Soal bikin kamu keluar dari sini, aku harus pikirin mateng-mateng,” seru Hanson penuh harapan hingga meminta bantuan kepada sang wanita dengan mengusap kembali puncak kepalanya.


"Aku ga ngarep juga, yang penting aku selamet dulu," balas Triana mulai belingsatan menerima perlakuan hangat itu.


"Oke kalo gitu aku cabut." Hanson melambaikan tangannya yang di balas senyuman oleh Triana.


Akhirnya mereka terpisah meski sang hati dari keduanya berseru enggan.


Tidak mereka pungkiri jika mereka bertemu satu sama lain dapat menyembuhkan luka hati serta rasa penat yang mereka dapati setiap harinya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2