
Wajah mentari masih terlihat ceria walau hari sudah memasuki petang. Sungguh, rona jingga di atas sana begitu menyegarkan. Membuat lengkungan di bibir Jackson tertarik ke atas, menyambut suasana sore dengan senyum riang.
Meskipun sisa-sisa udara beringsang masih terasa, tetapi ia kembali menjumpai kedai kopi di samping bangunan tempat menuntut ilmu itu. Demi usaha menggapai tujuan, sekaligus menepis rasa cemburu setelah mengetahui suami dari wanita pujaan telah kembali. Lantas, ia berusaha meredam suasana kacau di hati dengan menemui anak berwajah serupa dengannya.
Ia mengetahui dengan pasti, bahwa Tara akan menghabiskan waktu bersama suaminya. Maka, tidak akan ada kesempatan untuknya melepas suka cita bersama wanita itu lagi.
Di tengah kejenuhan akan menunggu bocah remaja itu menyelesaikan tugas, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Rasa terkejut membuatnya refleks memengalihkan pandangan. Sehingga sepasang mata menangkap sosok sang ayah di hadapan.
"Kamu datang ke sini untuk menemui anakmu?" Erick menyapa tanpa senyuman, ketika diri membawa tubuh pada kursi besebrangan dengan anaknya.
"Ya," balas Jackson singkat kata, menerka dengan pasti siapa orang yang di sebutkan ayahnya. Mengingat ucapan dari mantan gurunya saat lalu, jika ayahnya kerap menemui Alev di situ.
"Akhirnya ... kamu mengakuinya juga." Erick berucap lega, akan tetapi dengusan tiba-tiba menyahut ucapan tersebut.
Jackson mengira ungkapan itu sebagai olokan, yang mana ia di haruskan menerima nasib bila harus memiliki seorang anak tiri.
"Aku nolak Tara bukan karna anak itu, seandainya dulu aku tau dia udah punya anak, aku pun ga akan cepat jadikan dia istri." Jackson berdalih menyahutnya. Sesungguhnya, batin menerima kebenaran akan ucapan sang ayah.
"Benarkah?" Erick dapat menerka perasaan sang anak, sehingga pancingan terlontar dari kernyitan dahinya.
"Bukan cuma itu, aku kesulitan bujuk bocah itu."
Seringai manis terukir di balik wajah Erick, mengakui usaha keras anak sulungnya itu. Raut kemenangan menggambarkan keceriaan, mengira Jackson telah mengetahui siapa Alev sebenarnya.
"Apa kamu ga berencana membawa anakmu ke rumahmu?" tanya Erick berbuah dengusan lirih dari hadapannya.
Batin Jackson meringis pedih mengingat status sang buat hati. Lagi dan lagi ia digrogoti perasaan cemburu yang kian menembus batas angan.
"Belum jadi anakku," ujar Jackson menyahut sakit, menggiring luka di balik nada lemahnya.
Separuh sudut bibir tertarik miris, menyikapi pernyataan di luar dugaan. Jiwa ksatria Erick hadir menghunjam suasana, ketika memahami bahwa Tara belum memberitahukan jati diri Alev kepada ayahnya. Secercah kesempatan datang menghampiri, jika Jackson telah menemukan sosok anak itu maka tiada ragu ia akan mengungkap kebenaran.
"Apa seorang anak akan mendapat pengakuan jika ayah kandungnya bersatu dengan ibunya?" tutur Erick disambut picingan mata dari lawan bicara.
"Anak kandung? Apa–"
"Dia anak kandungmu, Jack."
Jackson terhentak dalam kejutan mendengar kenyataan terucap dari penjelasan ayahnya. Batin belum dapat mempercayai, sehingga kelopak mata terbuka lebar dalam bungkaman mulutnya.
"Dia–" Setelah beberapa menit berlalu, Jackson baru menyadari ungkap kejujuran itu. Pertanyaan terlontar mendapat pencegahan, di kala lawan bicara menerka isi dalam kepala.
"Alev, dia anak kandungmu." Kian meperjelas maksud dari ucapan, Erick memberikan wajah keseriusan di sela kata yang terucap.
"Dari mana kau tau itu?" Tiada dapat menyembunyikan rasa tidak percaya, Jackson mengungkap kejanggalan untuk memastikan.
"Hasil tes DNA bisa kamu bawa ke rumahku." Erick mengungkap kebenaran, akan tetapi berbalas senyum cibiran.
Jackson mengira jika ucap kata itu hanya untuk menghibur hati semata. Ia menerka suatu makna bahwa bukti yang tertuju memiliki kepalsuan belaka.
"Inikah caramu menjodohkan aku sama wanita itu?" ujar Jackson mengolok pria yang telah asik menikmati batang rokoknya di sana.
Erick tersenyum simpul sebelum membuka suaranya, sudah dapat dipastikan jika sang anak tidak akan dapat dengan mudah menerima kenyataan. Terlampau lama kabar gembira terpendam begitu dalam, ia pun meyakini berita itu akan membawa kejutan kepada siapa pun penerimanya.
"Jika kamu ingin membuktikannya, kamu tanyakan pada wanita itu." Dagu Erick bergerak menunjuk objek yang berada di hadapannya.
Jackson tidak menyahut dengan ucapan, ia memutar tubuh ke arah belakang. Terlihat olehnya calon kakak ipar telah duduk manis di atas kursi yang terdapat di sudut ruangan. Lantas, tanpa mengucap pamit ia berlalu dari hadapan sang ayah.
Langkahnya kemudian menepi di hadapan wanita yang telah mendongkak menatap wajah prihatinnya, mengungkap pertanyaan hanya dengan mimik wajah penuh kejanggalan.
"Hai, Jack." Jasmeen menyapa seiring senyum manis mengembang, lalu di sambut Jackson dengan gerakan mata memicing. "Mau jemput anakmu kah?"
__ADS_1
“Hmm.” Hanya dengung kerancuan mewakilkan jawaban, kemudian Jackson menumpukan tubuh di atas kursi yang tersedia.
"Kamu ga kaget dengar aku bilang dia anakmu?" tanya Jasmeen mengungkap kejanggalan, melihat gelagat acuh dari sang empunya.
"Alev bukan yang kamu maksud?"
Jasmeen mengangguk lepas, memberikan keseriusan pada bahasa tubuh itu. "Kamu udah tau siapa dia?"
"Ya, baru tadi," balas Jackson menyahut lirih di saat batin tiada mampu menghempas emosi terhadap kenyataan hidup. Bukan tidak ingin mengakui belahan jiwa, ia hanya menyesali diri telah mengabaikan keberadaan darah dagingnya tanpa mencari tau dahulu.
Terlambat sudah untuknya mempersalahkan takdir, yang ia inginkan kali ini mencari celah agar sang hati dapat menerima keputusan pahit dari ibu anak itu.
Jasmeen memberi penghiburan, mengumbar senyum ceria meski berbalas raut duka dari hadapannya.
"Apa dari awal kamu tau tentang anakku?" Tiada mampu menahan rasa penasaran, Jackson mengucap harapan akan jawaban. Terlihat dari sorot mata tajam menatap wajah jelita di hadapannya.
"Apa kamu akan marah jika tau selama ini aku ikut menyembunyikan anakmu itu?" jawaban dalam sebaris kalimat tanya memberi makna mendalam bagi pria yang tertunduk di sana.
Duar!
Serasa petir menggelegar menyambar tanpa adanya hujan, hati Jackson bak tertusuk sembilu. Ia menyesali diri yang tiada pernah mengetahui kenyataan indah itu. Tubuh terkujur kaku tatkala pikiran melayang menuju masa lalu. Seharusnya ia dapat mengetahui sedari dulu, jika saja menghitung rentang usia anaknya dengan tragedi memilukan saat dahulu.
Kini benih duka perlahan menyayat ke dalam kalbu, saat rasa sesal tak urung berlalu. Dengusan pilu membungkam bibir menjadi bisu. Adakah rindu 'kan segera menyatu?
Jasmeen turut menyesali perbuatan mengerikan itu, sehingga mata tak kunjung urung menatap beban pikiran di hadapannya. Belah bibir tiada ingin terbuka, suara pun terpendam di dalam asa. Ia hanya menunggu enyahnya duka dalam lamunan tajamnya.
Menit demi menit di lalui dengan renungan, Jackson akhirnya mengangkat wajahnya. Setelahnya telapak tangan menyapu kasar puncak kepala, jika berkenan ia ingin menghantam bagian tubuh itu dengan pukulan keras.
Tiada pernah menduga, hal terpenting dalam hidup telah hilang sekian lamanya membuat amarah kian bergejolak menembus batas kesabaran. Lantas, tiada mengetahui kepada siapa ia harus melampiaskan, sehingga diri terpaksa menerima kenyataan.
"Selama aku ga ada di sisinya, apa anakku baik-baik aja?" ungkap Jackson penuh kecemasan. Namun, suara tawa menggangu pendengarannya, tatkala ia menangkapnya bagaikan sebuah cibiran.
Hal serupa tersirat di balik rasa kagum dari Jackson, setelah bertemu hanya beberapa kali dengan anaknya, ia pun mengakui jika didikan sang ibu angkat tiada dapat diragukan.
Perlahan rasa khawatir kian mengikis dari hatinya. Saat hasrat kemudian beralih pada keinginan mempertanyakan secara langsung pada ibu dari anaknya.
"Thanks, Jas." Jackson memberikan senyum menawan sebagai pelengkap rasa syukur akan hasil memuaskan kepada calon kakak iparnya.
"Buat?"
"Semuanya." Setelah mengucap satu kata, Jackson bangkit dan berdiri di tempat untuk sesaat. Sebelum akhirmya kaki melangkah membawa diri menjauh dari sana, ia berkata "Dari mulai mau menjaga anakku sampai mengurus ibunya."
"Udah seharusnya," sahut Jasmeen berseru manis, akan tetapi terabaikan karena pikiran pria itu kini kalang kabut.
Kepala Jackson tiada dapat menerima ungkap hiburan sebab angan berlalu-lalang mengatur perlakuan. Ia dilema memastikan, kepada siapa ia harus mempertanyakan hal itu terlebih dahulu, Alev ataukah Tara.
"Aku harus pergi." Jackson melambaikan tangan, berbalas anggukan pemberian restu.
"Lekaslah temui dia, setelah itu ... kamu bisa berkumpul sama anakmu." Jasmeen memberikan wejangan, kali ini berhasil membuat senyum ceria tersirat di balik wajah tampan itu.
Selepas Jackson berlalu dari hadapan, Jasmeen menghela napas dalam mewakilkan rasa lega akan tercurahnya kisah yang selalu terpendam.
Tidak lama dari hilangnya dua pria yang memiliki hubungan kerabat dengan calon suaminya dari sana, wanita yang menjadi objek dalam perbincangan sesaat lalu telah tiba menghadap dirnya.
"Tara–" Kata tercabik tatapan heran, Jasmeen memandang janggal wajah rancu dari wanita yang berdiri di hadapannya.
Deru napas memburu menusuk indra pendengaran, meyakini jika wanita yang terpanggil namanya telah berlari untuk dapat menghampiri.
"Di–di mana a–anakku?" tanya Tara terengah-engah, sebelum dapat melepas lelah yang membuat ucapannya terbata-bata.
"Masih di kelas." Jasmeen menyahut lantang, meski picingan mata terlontar sebagai rasa janggalnya.
__ADS_1
"Kapan selesai–" Ucapan terhenti seketika, di saat sepasang mata melihat sosok yang di pertanyakan telah berjalan menghampiri.
"Mama." Alev menyambut kehadiran sang ibu dengan wajah berbinar, tak luput senyum ceria menyertainya. Namun, gelagat cemas sang ibu membuat rasa bahagia itu sirna tanpa bisa dicegahnya.
"Al, kapan kalian berangkat ke luar negri?" tanya Tara terhadap pria remaja yang berdiri di sampingnya.
"Setelah aku siap-siap," jawab Alev.
"Maafin mama, Al." Tara tertunduk layu sebelum mengungkap keinginan. "Mama harap kamu batalkan kepergianmu, mama butuh bantuan kamu," imbuhnya memaksakan hati lantaran merasa pencegahan kepergian itu akan menyebabkan sang anak bersedih hati.
Lirihan batin terungkap pada nada bicara, membuat dua insan yang berada di sekitar merapatkan belah bibirnya.
"Dan juga ... Jas, aku pinjam villamu sementara waktu." Tara kembali berucap ketika lawan bicara hanya membungkam diri saja.
"Baiklah." Jasmeen segera mengabulkan permintaan, tanpa ingin bertanya sebab akibat yang membuat wanita itu ingin melarikan diri pada tempat yang tidak pernah di ketahui orang lain selain ibu dari anak angkatnya itu.
Begitupun dengan Alev, ia membuka hati. Menerima segala permintaan yang terucap dari mulut ibunya.
******
Jackson melenguh frustasi setelah mengunjungi ruang manager umum yang terdapat di dalam perusahaan milik ibunya. Tiada melihat kehidupan di dalam ruang itu membuat pikiran keliru memberi makna. Ia menerka jika sepasang insan itu telah melarikan diri menuju tempat indah yang hanya di miliki mereka berdua.
Tinggi harapan untuk segera mengungkap kejanggalan telah terjatuh begitu saja. Ia berpasrah diri untuk membungkam, sementara kesempatan belum hadir menjemput.
Lantas, ia membawa kekecewaan menuju ruang kebangsaan, berharap secercah hiburan ia dapatkan di sana. Tentu, sebelum dapat menggapai tujuan, rasa frustasi tidak akan enyah dari gelagat gelisahnya.
Hal itu terlihat oleh Kelvin yang selalu setia mengisi ruang milik president direktur setiap harinya. Seperti sedia kala, rasa janggal tidak akan ia suarakan jika tidak sang empunya mengutarakan.
"Si Sam ke mana?" tanya Jackson ketika tubuh berhasil terhempas pada sofa yang terdapat di tengah ruang.
"Gue lihat lagi kejar-kejaran sama si Tri." Kelvin menyahut tanpa menatap lawan bicara, pikiran masih berpusat pada pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.
"Sama si Tri?" Pekikan nada suara terlontar mewakilkan kejanggalan. Seharusnya sang adik telah menikmati kisah romansa bersama sang istri, akan tetapi rasa heran terkubur kembali di kala terngiang ungkap kenyataan dari sang ayah saat lalu.
Bergegaslah ....
"Dia anak kandung gue, Vin." Pengakuan kepada sahabatnya memberi sedikit kenyamanan akan sang hati. Lega yang di dapati tidak seluruhnya melerai kerancuan, sehingga lenguhan pilu berseru begitu lantang.
"Siapa?" Tak acuh Kelvin memberi seringai olokan, menerka jika sang pria telah menodai seorang wanita.
"Anak yang mirip sama gue."
Kini baru menyadari, ungkap pemberi kejutan itu menjadikan diri tak berkutik sama sekali. Kelvin tak mampu berkata-kata, hanya hentakan tubuh mewakilkan perasaan.
"Bokap gue bilang dia udah test DNA anak itu, hasilnya ada di tempat dia." Jackson berimbuh ucapan, menyerukan rasa penasaran pada siapa pun yang sudi mendengarkan. "Tapi ... gue takut hasil itu bukan asli, cuma akal-akalan bokap gue aja biar gue terima si Tara."
"Lo bisa lakukan sendiri, ‘kan?"
Sahutan secepat kilat itu berbalas seringai kemenangan dari lawan bicara. Jackson menggelengkan kepala, risalah yang telah menerpa membuat diri tiada dapat berpikir jernih. Seharusnya, tidak ada yang mampu menandingi kecerdasannya.
Bekal siasat yang di dapat meraup rasa lega tanpa batas, akhirnya ia dapat berdiri tegak untuk segera mengembalikan semangat juang hidup. Siasat demi siasat tersusun rapih dengan mudahnya, setelah kekacauan terhempas dari dalam dirinya.
Maka, hanya tersisa pelaksanaan untuk segera melakukan tindakan. Meski meyakini pencapaian tidak akan cepat ia dapatkan, tetapi ia akan tetap melakukan sesuai tahapan.
•
•
•
Tbc
__ADS_1