
"Bukan itu kadal," sahut Sammuel mencoba mengumpulkan keberanian untuk segera memberitahukan sesuatu kepada adiknya.
Namun sebelum berhasil ia membuka suaranya, sang istri memenggal ucapannya.
"Sam bentar foto dulu!" pinta Tara merajuk hingga menggenggam lengan suaminya membuat sang suami tersenyum gemas menerima tingkahnya.
Tanpa penolakan, Sammuel bergegas kembali mengambil posisinya seperti semula di mana mereka menginginkan bergaya sedang mencium pipi si gadis cilik.
Beruntunglah kali ini semua berjalan lancar sesuai keinginan si gadis cilik, mereka berpose dengan mengecup pipi kiri kanan Queena membuat Tara tersenyum penuh riang.
Namun, senyuman itu menjadi janggalan bagi Devand. "Mom kamu jangan bilang selingkuh sama cowo breng*ek ini!" Telunjuk jenjang itu mengacung di depan dada Sammuel membuat empunya meraih telunjuk itu hingga larut dalam genggamannya.
"Bukan gue yang selingkuh, tapi si Jack!" balas Sammuel berseru tegas, setegas keinginannya untuk mengucapkan secepatnya keinginannya yang telah terbengkalai saat lalu.
"Dia cewe abang lo kadal!" kesal sudah Devand di buatnya lantaran tidak memahami arti ucapan kakaknya hingga ia menghempas keras telunjuknya dari genggaman kakaknya tanpa perasaan.
"Tapi dia bini gue!"
Teg!
Jantung Devand berdentum kejut mendapat pernyataan kakaknya hingga ia terperangah dalam matanya yang terbuka lebar.
Tidak lain dengan Devand, Tara pun mendapat kejutannya hingga membuat bibirnya kelu akibat napasnya yang terpenggal di sela tenggorokannya. Ia tidak mengira jika sang suami akan berani mengumbar status hubungannya tanpa acuh kepada adik iparnya.
"Sam_" ucap Tara terpenggal kala tatapannya beralih kepada adik iparnya. "Dev, cukup kamu sama mami kamu aja yang tau ini ya!" Ia memelas, merajuk dengan nadanya yang melirih.
Devand tersenyum membalas rajukan itu, tak lantas mengangguk menyambut ucapannya. "Mom kamu tega, kamu nolak aku biar bisa kawin sama dia?"
"Hmm, aku ga suka sama kamu, umur kamu jauh di bawah aku," ujar Tara membuat suaminya tersenyum lega di sana.
Devand membalasnya dengan menyiratkan tawa ledeknya. "Kamu pikir suami kamu umurnya di atas kamu? Dia masih umur dua enam taun, beda tiga taun sama kamu."
"Tapi dia dewasa, ga keliatan umurnya di bawah aku," tepis Tara kembali membuat sang suami tersenyum di sampingnya.
"Lah dia mirip sama aku, aku juga ga keliatan dong. Lagian kalo aku ga mirip juga kamu pantes sama aku, muka sama badan kamu masih keliatan kaya umur dua puluhan," sahut Devand berprotes ria.
"Sikapnya dodol bukan mukanya," balas Tara tidak terima.
"Heh gue revisi, umur gue dua tujuh taun bukan dua enam!" ujar Sammuel meluruskan.
"Masih dua bulan lagi juga." Devand meledek dengan gaya imutnya.
Perang mulut itu tersenggal kala suara langkah kaki dari samping mereka berkumandang mengisi pendengaran ke tiga insan di sana.
Rupanya Celia yang datang menghadap mereka.
"Tara kamu ga ke Bandung?" seru Celia penuh ceria hingga ia melangkahkan kakinya penuh semangat menghampiri cucu serta menantunya.
"Ada urusan di sini mih," ujar Tara menyahut.
"Baguslah, aku bisa bawa kamu besok ke acara arisan." Akhirnya Celia meraih Queena dalam pangkuannya.
"MAMI!" bentak Tara tidak terima membuat sang mertua terkekeh gemas.
"Iya iya becanda kok." Dan Celia berdiri tegak membawa si gadis cilik dalam pangkuannya. "Queen sayang, mami bawa es kim."
"Mau!" sahut Queena penuh antusias hingga menaparkan wajah cerianya pada wanita yang masih membawanya dalam pangkuannya.
Tanpa kata, Celia pun berlalu dari hadapan mereka bahkan tanpa pamit membawa Queena menuju tempatnya menyantap makanan.
Seperginya Celia, rupanya kehadiran Erick serta seorang lelaki paruh baya menggantikan penyenggal suasana itu. Sammuel, Tara serta Devand segera bangkit dari duduknya menyambut tamu itu.
"Om," sambut Devand mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Dwikipun menyambut uluran tangan itu. "Kamu_" Matanya memicing, mencari jawabannya di sana. "Sammuel?"
"Aku Devand om, masih aja salah kenal," protes Devand bergeming sebal hingga melepas jabatan tangannya sesegera mungkin.
__ADS_1
Dwiki terkekeh menanggapi tingkah itu, lantas mengedarkan pandangannya menuju arah Sammuel. "Jadi yang ini Sammuel yang asli?"
Sammuel mengangguk seraya mengulurkan tangannya dalam senyuman menawannya. "Keliatannya om lagi bahagia," ucapnya berbasa-basi.
"Justru om lagi bersedih karna kakakmu Hanson," balas Dwiki melirih hingga menbuat uluran tangan itu terlepas dengan mudahnya.
Sesungguhnya, Dwiki mengetahui nasib anaknya yang telah menjadi bulanan cinta tanpa sambutan dari pria bernama Hanson Mike Charington. Maka dari itu, ia berusaha mencari jalan keluar melalui sahabatnya yang bernama Erick Liu.
"Dia emang keterlaluan," jawab Sammuel menyeleneh membuat sang istri menepuk manja lengan kanannya.
Kini tatapan Dwiki menuju wajah Tara. "Dia pemegang saham terbesar ZhanaZ bukan?" Lantas mengalihkannya pada wajah Erick.
Tarapun mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya secara resmi. "Saya cuma pemegang tender ultranium pak."
"Kamu menantuku Art, ga usah sungkan sama dia," tepis Erick memotong, ia menepuk bahu sahabatnya memberikan kesan akrab di dalamnya.
Uluran tangan itupun terlepas sudah dalam anggukan Tara yang membenarkan perkataan mertuanya.
"Ga enak juga ngobrol sambil berdiri," imbuh Erick berseru ajakan paksa hingga beranjak dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang tersedia.
Begitupun Dwiki yang berhasil mendaratkan tubuhnya di samping Erick. Sedang Devand serta Sammuel duduk di sebrang mereka menghimpit kiri kanan wanita satu-satunya yang berada di sekitar.
"Art, om Dwiki ini pemegang saham tertinggi kedua di ZhanaZ untuk tender ultranium, kamu pernah lihat dia waktu meeting penanggulangan," ucap Erick memperkenalkan sahabatnya.
Sejenak Tara memutar ingatannya menuju waktu yang di katakan ayah mertuanya. "Oh ia aku inget, pantes wajahnya serasa familiar."
Perbincangan kembali terlerai kala Celia menghampiri mereka menuntun langkah pembantu rumah tangga yang menghidangkan jamuan untuk mereka.
"Om, maaf tadi macet." Jackson yang berjalan tergesa langsung menyeret tangan Devand hingga terhempas dari sofa, dan ia menggantikannya duduk di samping kiri kekasihnya.
Erick menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang memiliki sikap begitu serupa dengannya, sedang Devand mencari tempat lain yang tersedia.
"Inikah sapaan kamu Jackson?" ucap Dwiki menyahut ledek.
Jackson terkekeh seraya bangkit dari duduknya lantas mengulurkan tangannya menyambut ucapan lawan bicaranya. Namun naas, Dwiki tidak membalasnya. "Yah om mau ngerjain aku apa?"
Teg!
Jantung Tara berdenyut kaget mendengar pernyataan Dwiki. Selain mengetahui siapa Dwiki sebenarnya, iapun mengetahui bahwa hubungan Hanson dengan Fiona tengah terancam perpisahan.
"Urusan anak kita sebaiknya kita ga usah ikut campur," ujar Erick menepis tindakan yang akan di lakukan sahabatnya.
"Yang akan aku campuri untuk saham, dia boleh batalkan tunangannya akan tetapi untuk saham aku akan membiarkannya," seru Dwiki menjabarkan alasannya, lantas meraih gelas kopinya hingga menjeda kalimatnya. "Untuk saham biarkan saja sebagai tanda terima kasih buatmu."
Erick hanya tertawa geli menyikapinya seraya menatap lirih wajah sahabatnya.
"Enak banget! Cabut aja sahamnya om," ujar Jackson berprotes sewot.
"Jack urusan saham bukan permainan yang mudah di pasang cabut," tutur Dwiki.
"Gampang-gampang aja sih kalo aku yang urus, om serahin aja sama aku." Jackson menyeringai membuat ayah serta sahabat ayahnya menggeleng keras.
"Apa kamu akan mengambil saham itu agar anakku menjadi tunanganmu?" tanya Dwiky meledek membuat Jackson menatapnya penuh kejutan.
"What? Tunangan sama cewe rese kaya dia?" Tak acuh Jackson tertawa ledek begitu berani di hadapan Dwiki setelah mengucap hinaan untuk anak pria itu. "Engga banget!"
Tara mencubit keras pinggang Jackson membuat sang empunya meringis seraya menghapus jejaknya. "Kamu ngatain anak orang di depan bapaknya?"
"Lah kenapa? Bapaknya aja ngakuin anaknya rese."
"Sinting!" sambut Tara berucap lemah membuat seluruh penghuni menertawakannya kecuali Sammuel yang merasa gemas terhadap tingkahnya.
Sementara Jackson meraih bungkusan rokoknya dari dalam saku celananya, di ambilnya sebatang lantas menyodorkannya kepada ayahnya memberikan jamuannya. "Aku serius om, mending om cabut saham itu."
Erick menyambut tawaran itu tanpa melirikkan arah pandangnya pada anak sulungnya lantaran pandangan itu berpusat pada wajah Sammuel yang masih menatap kagum wajah istrinya. Yakin sudah Erick terhadap terkaannya, yakni mereka saling berhubungan erat satu sama lain.
"Kamu khawatir hartaku atau anakku?" gurau Dwiki terhadap Jackson membuat pria itu tertawa kecil menyikapinya.
__ADS_1
"Ga ada kaitannya sama anak om, yang jelas aku bisa bantu om sampe ade aku itu sadar."
"Kamu sendiri kurang waras, bagaimana bisa buat adikmu sadar?" cibir Dwiki tanpa perasaan membuat seluruh penghuni menertawai ucapannya.
"Lah om, aku ga waras dari dulu! Tapi urusan bantu membantu aku ahlinya." Dengan santainya Jackson menghisap batang rokoknya membuat sang ayah menggeleng menyikapinya. "Masukin saham itu ke tender premium, terserah mau masuk aku atau Sammuel."
"Bukannya itu sama saja kamu terima anakku?" ucap Dwiki penuh pancingan.
"Aku cuma mau ngasih saran terbaik buat om, anak ini nanti yang megang tendernya." Tunjuk Jackson dengan dagunya menuju wanita yang duduk di sampingnya.
"Aku belum putusin Jack, liat prospeknya aja belum," tepis Tara menolak secara halus namun matanya menyorot tajam wajah kekasihnya menyemburkan rasa jengahnya.
"Oke om setuju kalo nona ini yang pegang tendernya." Dwiki tersenyum lebar di akhir kalimatnya membuat Erick mengangguk di sana, bahkan membuat Devand terperangah dalam kejutannya yang baru menyadari batas kecerdasan wanita yang selalu di inginkan hatinya.
"Tara jangan lupain tender aku." Kini Celia menginterupsi dengan rajukannya, mengingatkan menantunya akan tugas darinya.
"Tenang aja itu prioritas utama aku," balas Tara menatap ledek wajah mertuanya.
"Bisakah kamu kasih prioritas ke dua kamu untuk bantu om agar pria di samping kamu itu mau tunangan dengan Fiona?" pinta Dwiki dengan lantangnya tanpa hambatan berbalas senyuman manis dari menantu sahabatnya.
Sayup-sayup suara dering phone cell milik Tara terdengar dari dalam saku celananya hingga melerai perbincangan sesaar. Iapun meraihnya dari dalam sana lantas melihat layarnya mencari tau siapakah yang telah menghubunginya.
"Panjang umur, anak om telpon." Tara memperlihatkan layar phone cellnya kepada Dwiki. Hanya sejenak, iapun melekatkannya pada telinganya setelah menekan tombol jawabnya.
"Kenapa Fi?" sapa Tara pada lawan bicaranya di balik alat medianya.
"Besok bisa ketemu gue di The Views ga?"
"Ada apa di sana?"
"Gue mau curhat sama lo soal si Hans."
"Oke! Besok jam berapa?" jawabnya secepat cahaya tanpa mengindahkan tatapan heran kedua pria yang mengimpit tubuhnya setelah mendengar cerita kisah lawan bicaranya saat lalu.
"Jam 8 malem."
"Oke gue bisa!" putus Tara sebagai penutup perbincangan.
Sementara Tara berceloteh dengan phone cellnya, Erick, Celia serta Dwiki tidak mendengarnya di karnakan sibuk dengan perbincangannya. Lain dengan Sammuel, Jackson serta Devand yang memperhatikan perbincangannya.
"Kenapa dia?" "Ada apa?" ucap Sammuel serta Jackson bersamaan.
Tara melirik ke kiri dan kekanannya bergantian lantas melepas pandangannya lurus ke depannya. "Dia ngajak ketemu di The Views besok malem jam 8."
"Kamu udah lama ga dapet hiburan kan?" rayu Jackson mengusap puncak kepala kekasihnya membuat Sammuel mengeratkan rahangnya. "Besok aku bisa anter kamu ke sana." Kesempatan Jackson untuk melancarkan siasatnya hingga ia berusaha keras memaksa kekasihnya.
"Lo ga takut dia ketemu mantan-mantannya Jack?" senggal Sammuel menepis tidak terima dalam nadanya yang mulai menjengah membuat elusan pada puncak kepala itupun terlepas begitu saja.
"Engga lah! Ngapain juga takut, toh dia udah jadi milik gue," tutur Jackson kian memancing membuat emosi Sammuel kian tersulut dari dalam angannya.
"Lo ada jadwal nge Dj besok di sana kan?" tanya Sammuel.
"Hmm!" balas Jackson mengangguk pekat. "Ultah si Steve pengen gue yang nge-Dj."
Sammuel memejamkan matanya mewakili kejengahannya menanggapi ucapan kakaknya, napasnya mulai memburu hingga ia bangkit dari duduknya. "Om aku masih ada urusan, kalian lanjut aja." Dan berlalu begitu saja dari hadapan penghuni ruangan bertajuk langit itu.
Jackson tersenyum meraih kemenangannya, lain dengan Tara yang menggundah.
'Apakah ia harus membatalkan janji temunya agar suaminya tidak mengumbar emosinya?'
Sudahlah ia memutuskan untuk menemui Fiona esok malam, urusan suaminya biar ia tebus dengan tubuhnya yang selalu berhasil membujuk suami keras kepalanya itu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc